• Buzz
  • Chat Pagi Hari Dengan Pacar, Perlukah?

Chat Pagi Hari Dengan Pacar, Perlukah?

Fri, 29 January 2016

Ada banyak perempuan yang merasa senang bila pacarnya mengirim chat tiap kali dia membuka matanya, tapi ada juga yang sangat sebal dengan perlakuan seperti itu. Jadi sebaiknya, pagi hari itu baiknya nge-chat atau nggak ya, Urbaners?

 

Pelajari Sifat Cewek Lo Dulu

Nggak semua merasa perlu dengan chat di pagi hari, tetapi, nggak semua cewek merasa tenang kalau nggak di chat tiap pagi. Nah, lo di sini harus coba cari tahu sebenarnya apakah dia suka di chat apa nggak. Karena kalau lo terlalu cuek, bisa-bisa dia malah kabur dari lo dan nempel ke cowok lain. Lo nggak mau kan? Nah, coba deh lo iseng chat dia pagi hari, terus lihat reaksinya, kalau dia terlihat antusias, lakuin terus, kalau nggak, lakuin seminggu sekali aja.

 

Membantu Memperlancar Hubungan

Kalau lo habis marah-marahan sama si doi, coba untuk meminta maaf di pagi hari. Setelah tidur, biasanya amarah akan reda, dan bakal lebih mudah untuk menerima permintaan maafmu besok pagi. Jadi, nggak selamanya chat di pagi hari itu nyebelin, lo bisa nyelametin hubungan lo sama pacar yang hampir putus dengan chat di pagi hari. Tapi lo ngechatnya jangan asal, Urbaners, perlu perencanaan yang baik dan juga bahasa yang enak dibaca pula sama si cewek adalah hal yang penting untuk diterimanya permintaan maaf lo sama si cewek. Oh ya, setelahnya, lo juga harus manjain dia sehari aja biar dia merasa lo emang merasa bersalah dan memang sayang sama dia.

Ya, jadi memang chat di pagi hari itu ada perlunya Urbaners, tapi nggak usah lo lakuin tiap hari kalau emang cewek lo nggak suka. Tapi nih, kalau lo sendiri nggak nyaman dengan kirim chat tiap pagi, lo bisa kok bicara sama si doi agar doi juga pengertian dengan keadaan lo yang nggak demen chat pagi-pagi setiap hari. Apalagi kalau semalaman habis main online game, pasti masih ngantuk banget paginya.

 

Source: Collegegloss.com

6 Tokoh Ini Dapat Gelar Pahlawan Nasional 2019

Friday, November 22, 2019 - 13:15
Presiden Joko Widodo berdiri di depan foto-foto para Pahlawan Nasional.

Dalam rangka Hari Pahlawan 2019 yang jatuh pada tanggal 10 November, Presiden Joko Widodo memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada 6 tokoh. Hal ini dilakukan berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 120 TK 2019 yang ditandatangani pada 7 November 2019. Gelar Pahlawan Nasional diberikan kepada ahli waris di Istana Negara, Jakarta Pusat.

 

Roehana Koeddoes

Sosok Roehana Koeddoes, memakai semacam bandana di kepala

Sepupu dari H. Agus Salim ini merupakan pendiri dari surat kabar Sunting Melayu. Sebelumnya, beliau menekuni bidang jurnalistik melalui surat kabar Poetri Hindia. Roehana Koeddoes memiliki keinginan agar wanita di daerahnya memiliki pengetahuan dan pengalaman lebih. Itulah kenapa jajaran direksi dan penulis di Sunting Melayu berasal dari kaum wanita.

 

A.A. Maramis

A.A Maramis berpose formal dengan mengenakan jas dan dasi kupu-kupu.

Sebagai Menteri Keuangan Indonesia yang kedua, A.A. Maramis berperan penting dalam perkembangan dan percetakan uang kertas yang pertama di Indonesia. Tanda tangan beliau bahkan tertera pada uang kertas tersebut. Nggak cuma itu, pria kelahiran 20 Juni 1897 ini juga merupakan anggota dari Panitia Lima yang dibentuk oleh Soeharto, presiden kedua Indonesia, untuk mendokumentasikan rumusan Pancasila.

 

Sarjito

Sardjito mengenakan jas berwarna hitam

Pria asal Magetan ini sangat berjasa dalam menciptakan vaksin untuk kolera, typus, dan disentri. Sarjito juga cukup aktif dalam organisasi Budi Utomo di Jakarta. Bersama dengan dokter Sanusmo, Prof. Sutarman, dan dokter Pudjodarmohusodo, Sarjito mendirikan Fakultas Kedokteran Republik Indonesia di Solo dan Klaten pada 5 Maret 1946. Saat ini, fakultas tersebut telah berkembang dan menjadi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

 

K.H. Masjkur

Ilustrasi sosok K.H. Masjkur, yang mengenakan kacamata dan pakaian berwarna cokelat.

Perjuangan K.H. Masjkur dalam kemerdekaan Indonesia dilakukan beliau dengan bergabung menjadi anggota Pembela Tanah Air (PETA). Selain itu, beliau juga mengumpulkan pemuda Islam dalam laskar khusus untuk ikut turun seiring perobekan bendera di Hotel Yamato, Surabaya. Laskar ini jugalah yang turut melawan tentara Inggris yang marah setelah Mayor Jenderal Mallaby tewas.

 

Abdul Kahar Mudzakkir

Ilustrasi sosok Abdul Kahar Mudzakkir, sedang memakai kacamata dan pakaian berwarna abu-abu.

Sempat menempuh pendidikan di Kairo, Mesir, Abdul Kahar Mudzakkir turut mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia di Timur Tengah. Melalui tulisan-tulisan di sejumlah surat kabar, pria asal Yogyakarta ini juga membawa nama Indonesia. Di samping itu, beliau juga terlibat dalam perumusan bentuk negara bersama sejumlah tokoh Islam.     

 

Sultan Himayatuddin

Gambar dari Sultan Himayatuddin, memiliki brewok, dan memakai semacam bandana.

Sultan Himayatuddin adalah seorang sultan dari kerajaan Buton, Sulawesi Tenggara. Beliau berperan dalam memutuskan untuk mengakhiri perjanjian antara Kesultanan Buton dan VOC. Bersama dengan rakyatnya, Sultan Himayatuddin merancang strategi di dalam hutan untuk melawan VOC. Perjuangan tersebut berhasil membuat VOC akhirnya keluar dari Buton.

 

Melalui caranya masing-masing, keenam sosok tersebut sudah berjasa dalam kemerdekaan Indonesia. Ikut senang rasanya melihat mereka mendapat gelar Pahlawan Nasional!