• Buzz
  • Work Hard, Play Harder: Tips Bagi Waktu Antara Kerja dan Main

Work Hard, Play Harder: Tips Bagi Waktu Antara Kerja dan Main

Wed, 10 February 2016

Pernah nggak sih lo merasa capek dan cepat banget jenuh? Nah, bisa jadi itu disebabkan karena lo bermasalah dalam mengatur antara kerja dan main. Meski pun weekday ada lima hari dan weekend cuma dua, Senin ke Jumat butuh waktu empat hari, tapi Jumat ke Senin butuhnya tiga, lo bisa kok tetap fresh dengan menyeimbangkan waktu kerja dan main lo. Malah, lebih bagus lagi kalau lo bisa kerja sambil main, Urbaners. Coba lo simak tips membagi waktu kerja dan main di bawah ini.

 

Buat Target

Mendahulukan kewajiban daripada hak, sudah kita pelajari dari SD dong ya, Urbaners? Ini penting banget buat diterapkan di masa produktif. Nggak perlu total semuanya harus selesai dalam waktu singkat, tapi lo perlu bikin target untuk diri lo sendiri dalam menuntaskan pekerjaan. Target itu juga harus masuk akal dan sesuai dengan kemampuan lo. Target bukan cuma soal pekerjaan, tapi lo juga buat pas lo main. Bikin target berapa lama waktu lo main, dan saat itu lo sudah bisa melakukan apa saja. Sekalian bisa melatih disiplin, Urbaners.

 

Bedakan Penggunaan Komputer

Di abad 21 ini, lo pasti banyak kerja pakai komputer, Urbaners. Setidak-tidaknya, kerjaan lo pasti perlu pakai komputer. Masalahnya, komputer itu banyak ngasih distraksi, mulai dari sosial media versi desktop, game online, bahkan sesederhana main Minesweeper. Usahain lo bedain user buat kerja dan main, Urbaners. Selain karena nanti lo bakal males harus log out-log in, lo bisa lebih fokus menuntaskan pekerjaan lo dulu. Setelah selesai, bisa aja jadinya lo keburu muak sama layar komputer dan pergi main dengan cara yang lain. Lebih aktif, sehat, dan sekalian cuci mata.

 

Jangan Lupa Tidur dan Makan

Pikiran lo nggak bakal jalan baik kalau lo kurang tidur dan kurang nutrisi. Setidak-tidaknya, orang dewasa itu perlu tidur 6 jam, Urbaners. Kalau kurang tidur di malam hari, coba sejenak tidur siang setengah jam. Terus, jangan ketinggalan buat makan-makanan sehat. Hindari kopi instan dan mi instan buat jadi makanan sehari-hari lo, karena itu bikin badan lo terasa tambah berat.

Work Hard, Play Harder: Tips Bagi Waktu Antara Kerja dan Main

 

Kurangi Mengeluh

Semua orang pasti pernah ngeluh. Masalahnya, beberapa orang kadang kelamaan ngeluhnya daripada kerja atau pun main. Akibatnya, waktu berlalu gitu saja tanpa kerjanya kelar atau dapat mainnya. Biar lo bisa mengurangi ngeluh, lo harus jaga pikiran lo tetap positif dengan cara memelihara gaya hidup sehat.

Mengikuti jadwal itu rasanya memang susah sih, Urbaners. Makanya, lo harus paham benar soal kebutuhan-kebutuhan lo biar bisa ngimbangin antara kerja dan main. Main melulu dan nggak produktif, bikin lo bisa stres karena merasa useless. Kerja melulu dan nggak ada hiburan bisa bikin lo gila. Semoga tipsnya bisa bantu lo ya, Urbaners! Siapa tau lo nanti bisa produktif dan kreatif seperti Nadiem Makarim .

 

Source:

www.unr.edu, www.dav.idmorgan.com, www.lifehacker.com

6 Tokoh Ini Dapat Gelar Pahlawan Nasional 2019

Friday, November 22, 2019 - 13:15
Presiden Joko Widodo berdiri di depan foto-foto para Pahlawan Nasional.

Dalam rangka Hari Pahlawan 2019 yang jatuh pada tanggal 10 November, Presiden Joko Widodo memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada 6 tokoh. Hal ini dilakukan berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 120 TK 2019 yang ditandatangani pada 7 November 2019. Gelar Pahlawan Nasional diberikan kepada ahli waris di Istana Negara, Jakarta Pusat.

 

Roehana Koeddoes

Sosok Roehana Koeddoes, memakai semacam bandana di kepala

Sepupu dari H. Agus Salim ini merupakan pendiri dari surat kabar Sunting Melayu. Sebelumnya, beliau menekuni bidang jurnalistik melalui surat kabar Poetri Hindia. Roehana Koeddoes memiliki keinginan agar wanita di daerahnya memiliki pengetahuan dan pengalaman lebih. Itulah kenapa jajaran direksi dan penulis di Sunting Melayu berasal dari kaum wanita.

 

A.A. Maramis

A.A Maramis berpose formal dengan mengenakan jas dan dasi kupu-kupu.

Sebagai Menteri Keuangan Indonesia yang kedua, A.A. Maramis berperan penting dalam perkembangan dan percetakan uang kertas yang pertama di Indonesia. Tanda tangan beliau bahkan tertera pada uang kertas tersebut. Nggak cuma itu, pria kelahiran 20 Juni 1897 ini juga merupakan anggota dari Panitia Lima yang dibentuk oleh Soeharto, presiden kedua Indonesia, untuk mendokumentasikan rumusan Pancasila.

 

Sarjito

Sardjito mengenakan jas berwarna hitam

Pria asal Magetan ini sangat berjasa dalam menciptakan vaksin untuk kolera, typus, dan disentri. Sarjito juga cukup aktif dalam organisasi Budi Utomo di Jakarta. Bersama dengan dokter Sanusmo, Prof. Sutarman, dan dokter Pudjodarmohusodo, Sarjito mendirikan Fakultas Kedokteran Republik Indonesia di Solo dan Klaten pada 5 Maret 1946. Saat ini, fakultas tersebut telah berkembang dan menjadi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

 

K.H. Masjkur

Ilustrasi sosok K.H. Masjkur, yang mengenakan kacamata dan pakaian berwarna cokelat.

Perjuangan K.H. Masjkur dalam kemerdekaan Indonesia dilakukan beliau dengan bergabung menjadi anggota Pembela Tanah Air (PETA). Selain itu, beliau juga mengumpulkan pemuda Islam dalam laskar khusus untuk ikut turun seiring perobekan bendera di Hotel Yamato, Surabaya. Laskar ini jugalah yang turut melawan tentara Inggris yang marah setelah Mayor Jenderal Mallaby tewas.

 

Abdul Kahar Mudzakkir

Ilustrasi sosok Abdul Kahar Mudzakkir, sedang memakai kacamata dan pakaian berwarna abu-abu.

Sempat menempuh pendidikan di Kairo, Mesir, Abdul Kahar Mudzakkir turut mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia di Timur Tengah. Melalui tulisan-tulisan di sejumlah surat kabar, pria asal Yogyakarta ini juga membawa nama Indonesia. Di samping itu, beliau juga terlibat dalam perumusan bentuk negara bersama sejumlah tokoh Islam.     

 

Sultan Himayatuddin

Gambar dari Sultan Himayatuddin, memiliki brewok, dan memakai semacam bandana.

Sultan Himayatuddin adalah seorang sultan dari kerajaan Buton, Sulawesi Tenggara. Beliau berperan dalam memutuskan untuk mengakhiri perjanjian antara Kesultanan Buton dan VOC. Bersama dengan rakyatnya, Sultan Himayatuddin merancang strategi di dalam hutan untuk melawan VOC. Perjuangan tersebut berhasil membuat VOC akhirnya keluar dari Buton.

 

Melalui caranya masing-masing, keenam sosok tersebut sudah berjasa dalam kemerdekaan Indonesia. Ikut senang rasanya melihat mereka mendapat gelar Pahlawan Nasional!