• Buzz
  • Buku Lokal yang Harus Lo Baca Tahun Ini

Buku Lokal yang Harus Lo Baca Tahun Ini

Thu, 30 June 2016

Minat baca di Indonesia cukup rendah, menurut UNESCO, di Indonesia minat bacanya hanya sebesar 0,01 persen. Itu berarti dari 10 ribu orang di Indonesia, hanya 1 yang memiliki minat membaca. Jumlah tersebut sangat jauh jika dibandingkan Malaysia ataupun Singapura. Nah, memang Hari Buku sedunia sudah lewat pada tanggal 23 April 2016 kemarin. Tetapi nggak ada salahnya nih kita membahas beberapa buku di Indonesia yang terbit di tahun 2016 yang sedang naik daun banget.

 

Tidak Ada New York Hari Ini oleh Aan Mansyur

Buku yang merupakan merupakan puisi yang dibacakan oleh Rangga di film Ada Apa Dengan Cinta 2 ini adalah salah satu buku terbaik yang bisa lo baca di tahun 2016. Buku yang diciptakan oleh Aan Mansyur merupakan sekumpulan puisi cinta yang membingungkan. Kata sebagian orang, membaca buku ini 100% akan baper lho Urbaners.

 

O oleh Eka Kurniawan

Kalau bilang siapa penulis sastra dari Indonesia yang sedang naik daun sekarang, jawabannya adalah Eka Kurniawan. Dari puluhan bukunya yang terbit, novel berjudul O ini adalah salah satu yang terbaik. Kisah percintaan tentang monyet betina yang jatuh cinta kepada kaisar dangdut bernama Entang Kosasih ini sangat apik. Buku ini adalah buku nomor 2 yang wajib lo koleksi Urbaners.

 

Kun Anta oleh Negeri Akhirat

Buku selanjutnya adalah Kun Anta ciptaan dari Negeri Akhirat. Walaupun menulis buku dengna nama anonim, ternyata buku ini mendapatkan respon yang sanat bagus. Buku yang bercerita tentang kisah-kisah wanita luar biasa yang ada di seluruh dunia, sangat menginspirasi semua orang yang membacanya. Tuhan tidak akan melihat kecantikan luar, tetapi Tuhan akan melihat keikhlasan hatimu, petikan dari buku Kun Anta ini.

 

Inteligensi Embun Pagi oleh Dee Lestari

Ini adalah buku keenam dari penulis buku fenomenal Dee Lestari. Buku terakhir dari seri Supernova ini adalah pamungkas dari ke semua bukunya. Berjudul Inteligensi Embun Pagi, Dee Lestari berusaha menggabungkan seluruh karakter dari seri buku Supernova. Penasaran dengan buku ini, kita rekomendasiin kalau lo baca dulu bukunya Supernova ini dari awal Urbaners

Nah itulah keempat buku Indonesia terbaik keluaran tahun 2016. Kalau lo lagi punya waktu senggang banyak, baca buku atau pergi ke toko buku yuk.

 

Source : theflatredshoes.weebly.com, huffingtonpost.com

6 Tokoh Ini Dapat Gelar Pahlawan Nasional 2019

Friday, November 22, 2019 - 13:15
Presiden Joko Widodo berdiri di depan foto-foto para Pahlawan Nasional.

Dalam rangka Hari Pahlawan 2019 yang jatuh pada tanggal 10 November, Presiden Joko Widodo memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada 6 tokoh. Hal ini dilakukan berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 120 TK 2019 yang ditandatangani pada 7 November 2019. Gelar Pahlawan Nasional diberikan kepada ahli waris di Istana Negara, Jakarta Pusat.

 

Roehana Koeddoes

Sosok Roehana Koeddoes, memakai semacam bandana di kepala

Sepupu dari H. Agus Salim ini merupakan pendiri dari surat kabar Sunting Melayu. Sebelumnya, beliau menekuni bidang jurnalistik melalui surat kabar Poetri Hindia. Roehana Koeddoes memiliki keinginan agar wanita di daerahnya memiliki pengetahuan dan pengalaman lebih. Itulah kenapa jajaran direksi dan penulis di Sunting Melayu berasal dari kaum wanita.

 

A.A. Maramis

A.A Maramis berpose formal dengan mengenakan jas dan dasi kupu-kupu.

Sebagai Menteri Keuangan Indonesia yang kedua, A.A. Maramis berperan penting dalam perkembangan dan percetakan uang kertas yang pertama di Indonesia. Tanda tangan beliau bahkan tertera pada uang kertas tersebut. Nggak cuma itu, pria kelahiran 20 Juni 1897 ini juga merupakan anggota dari Panitia Lima yang dibentuk oleh Soeharto, presiden kedua Indonesia, untuk mendokumentasikan rumusan Pancasila.

 

Sarjito

Sardjito mengenakan jas berwarna hitam

Pria asal Magetan ini sangat berjasa dalam menciptakan vaksin untuk kolera, typus, dan disentri. Sarjito juga cukup aktif dalam organisasi Budi Utomo di Jakarta. Bersama dengan dokter Sanusmo, Prof. Sutarman, dan dokter Pudjodarmohusodo, Sarjito mendirikan Fakultas Kedokteran Republik Indonesia di Solo dan Klaten pada 5 Maret 1946. Saat ini, fakultas tersebut telah berkembang dan menjadi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

 

K.H. Masjkur

Ilustrasi sosok K.H. Masjkur, yang mengenakan kacamata dan pakaian berwarna cokelat.

Perjuangan K.H. Masjkur dalam kemerdekaan Indonesia dilakukan beliau dengan bergabung menjadi anggota Pembela Tanah Air (PETA). Selain itu, beliau juga mengumpulkan pemuda Islam dalam laskar khusus untuk ikut turun seiring perobekan bendera di Hotel Yamato, Surabaya. Laskar ini jugalah yang turut melawan tentara Inggris yang marah setelah Mayor Jenderal Mallaby tewas.

 

Abdul Kahar Mudzakkir

Ilustrasi sosok Abdul Kahar Mudzakkir, sedang memakai kacamata dan pakaian berwarna abu-abu.

Sempat menempuh pendidikan di Kairo, Mesir, Abdul Kahar Mudzakkir turut mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia di Timur Tengah. Melalui tulisan-tulisan di sejumlah surat kabar, pria asal Yogyakarta ini juga membawa nama Indonesia. Di samping itu, beliau juga terlibat dalam perumusan bentuk negara bersama sejumlah tokoh Islam.     

 

Sultan Himayatuddin

Gambar dari Sultan Himayatuddin, memiliki brewok, dan memakai semacam bandana.

Sultan Himayatuddin adalah seorang sultan dari kerajaan Buton, Sulawesi Tenggara. Beliau berperan dalam memutuskan untuk mengakhiri perjanjian antara Kesultanan Buton dan VOC. Bersama dengan rakyatnya, Sultan Himayatuddin merancang strategi di dalam hutan untuk melawan VOC. Perjuangan tersebut berhasil membuat VOC akhirnya keluar dari Buton.

 

Melalui caranya masing-masing, keenam sosok tersebut sudah berjasa dalam kemerdekaan Indonesia. Ikut senang rasanya melihat mereka mendapat gelar Pahlawan Nasional!