• Buzz
  • 6 Tokoh Ini Dapat Gelar Pahlawan Nasional 2019

6 Tokoh Ini Dapat Gelar Pahlawan Nasional 2019

Fri, 22 November 2019
Presiden Joko Widodo berdiri di depan foto-foto para Pahlawan Nasional.

Dalam rangka Hari Pahlawan 2019 yang jatuh pada tanggal 10 November, Presiden Joko Widodo memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada 6 tokoh. Hal ini dilakukan berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 120 TK 2019 yang ditandatangani pada 7 November 2019. Gelar Pahlawan Nasional diberikan kepada ahli waris di Istana Negara, Jakarta Pusat.

 

Roehana Koeddoes

Sosok Roehana Koeddoes, memakai semacam bandana di kepala

Sepupu dari H. Agus Salim ini merupakan pendiri dari surat kabar Sunting Melayu. Sebelumnya, beliau menekuni bidang jurnalistik melalui surat kabar Poetri Hindia. Roehana Koeddoes memiliki keinginan agar wanita di daerahnya memiliki pengetahuan dan pengalaman lebih. Itulah kenapa jajaran direksi dan penulis di Sunting Melayu berasal dari kaum wanita.

 

A.A. Maramis

A.A Maramis berpose formal dengan mengenakan jas dan dasi kupu-kupu.

Sebagai Menteri Keuangan Indonesia yang kedua, A.A. Maramis berperan penting dalam perkembangan dan percetakan uang kertas yang pertama di Indonesia. Tanda tangan beliau bahkan tertera pada uang kertas tersebut. Nggak cuma itu, pria kelahiran 20 Juni 1897 ini juga merupakan anggota dari Panitia Lima yang dibentuk oleh Soeharto, presiden kedua Indonesia, untuk mendokumentasikan rumusan Pancasila.

 

Sarjito

Sardjito mengenakan jas berwarna hitam

Pria asal Magetan ini sangat berjasa dalam menciptakan vaksin untuk kolera, typus, dan disentri. Sarjito juga cukup aktif dalam organisasi Budi Utomo di Jakarta. Bersama dengan dokter Sanusmo, Prof. Sutarman, dan dokter Pudjodarmohusodo, Sarjito mendirikan Fakultas Kedokteran Republik Indonesia di Solo dan Klaten pada 5 Maret 1946. Saat ini, fakultas tersebut telah berkembang dan menjadi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

 

K.H. Masjkur

Ilustrasi sosok K.H. Masjkur, yang mengenakan kacamata dan pakaian berwarna cokelat.

Perjuangan K.H. Masjkur dalam kemerdekaan Indonesia dilakukan beliau dengan bergabung menjadi anggota Pembela Tanah Air (PETA). Selain itu, beliau juga mengumpulkan pemuda Islam dalam laskar khusus untuk ikut turun seiring perobekan bendera di Hotel Yamato, Surabaya. Laskar ini jugalah yang turut melawan tentara Inggris yang marah setelah Mayor Jenderal Mallaby tewas.

 

Abdul Kahar Mudzakkir

Ilustrasi sosok Abdul Kahar Mudzakkir, sedang memakai kacamata dan pakaian berwarna abu-abu.

Sempat menempuh pendidikan di Kairo, Mesir, Abdul Kahar Mudzakkir turut mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia di Timur Tengah. Melalui tulisan-tulisan di sejumlah surat kabar, pria asal Yogyakarta ini juga membawa nama Indonesia. Di samping itu, beliau juga terlibat dalam perumusan bentuk negara bersama sejumlah tokoh Islam.     

 

Sultan Himayatuddin

Gambar dari Sultan Himayatuddin, memiliki brewok, dan memakai semacam bandana.

Sultan Himayatuddin adalah seorang sultan dari kerajaan Buton, Sulawesi Tenggara. Beliau berperan dalam memutuskan untuk mengakhiri perjanjian antara Kesultanan Buton dan VOC. Bersama dengan rakyatnya, Sultan Himayatuddin merancang strategi di dalam hutan untuk melawan VOC. Perjuangan tersebut berhasil membuat VOC akhirnya keluar dari Buton.

 

Melalui caranya masing-masing, keenam sosok tersebut sudah berjasa dalam kemerdekaan Indonesia. Ikut senang rasanya melihat mereka mendapat gelar Pahlawan Nasional!

Kontribusi Indonesia dalam Penghargaan Nobel 2019

Thursday, October 24, 2019 - 18:27
Pasangan suami-istri Abhijit Banerjee dan Esther Duflo menjadi dua pakar ekonomi yang meraih penghargaan Nobel 2019.

Mendengar penghargaan Nobel mungkin sudah nggak lagi asing buat lo. Penghargaan bergengsi ini biasanya diberikan kepada peneliti yang sukses menemukan teknik, peralatan baru, atau memberi kontribusi besar terhadap masyarakat dunia. Bisa dibilang mereka yang menerima penghargaan Nobel adalah orang-orang berjasa terhadap dunia. Urbaners, di tahun 2019 ini ternyata Indonesia kembali dijadikan objek penelitian dari para penerima Nobel di bidang ekonomi. Seperti apa, ya?

 

Tiga Pakar Ekonomi Raih Penghargaan Nobel 2019

: Sosok Michael Kremer profesor terbaik di Harvard University pakar ekonomi dunia yang juga bawa pulang penghargaan Nobel 2019

Di antara beberapa nama penerima penghargaan Nobel, terdapat tiga pakar ekonomi dunia yang berhasil melakukan penelitian demi mengurangi tingkat kemiskinan secara global. Ketiganya adalah Michael Kremer serta pasangan suami-istri Abhijit Banerjee dan Esther Duflo. Meski melakukan penelitian yang berbeda-beda, ternyata Indonesia menjadi negara yang menjadi objek penelitian mereka.

 

Keterjangkauan Asuransi Kesehatan Bagi Penduduk Lokal

Masih menjadi objek penelitian, Indonesia kembali dilirik sebagai negara berkembang yang memiliki sistem asuransi kesehatan secara menyeluruh bagi penduduk lokal. Penelitian ini dilakukan oleh Abhijit Banerjee di awal tahun 2019 kemarin. Menariknya, hasil penelitian yang dilakukan oleh Abhijit ini menunjukkan bahwa asuransi kesehatan melalui BPJS jauh lebih terjangkau bagi masyarakat di kalangan bawah. Penduduk lokal yang memiliki keterbatasan pendapatan juga tetap bisa mendapatkan jaminan kesehatan dengan biaya yang terjangkau.

 

Pendidikan di Indonesia Berpengaruh Terhadap Perekonomian Bangsa

Esther Duflo menjadi wanita termuda pertama yang berhasil dinobatkan sebagai pakar ekonomi penerima penghargaan Nobel 2019.

 

Urbaners, jauh sebelum menerima penghargaan Nobel 2019, Esther Duflo yang merupakan profesor di Massachusetts Institute of Technology melakukan penelitian terhadap peran pendidikan dalam mengentaskan kemiskinan di Indonesia. Penelitian tersebut berbasis pada kondisi pendidikan di era Orde Baru, yaitu sekitar tahun 1973 hingga 1978. Tercatat dalam rentang waktu tersebut ada lebih dari 61.000 unit Sekolah Dasar yang dibangun supaya nggak ada lagi yang putus sekolah. Sebagai dampaknya, perekonomian bangsa tumbuh hingga 10.6%.

 

Hadiah Diberikan Langsung Oleh Raja Carl XVI Gustaf

Urbaners, penghargaan Nobel 2019 rencananya bakal secara langsung disampaikan oleh Raja Carl XVI Gustaf pada 10 Desember mendatang. Upacara formal penobatan piala Nobel sendiri diadakan di Stockholm. Selain mendapat pengakuan secara mendunian, ketiga pakar ekonomi tadi juga berhak menerima hadiah uang tunai senilai US$914.000 atau setara dengan Rp12,7 miliar!

 

Gimana menurut lo, Urbaners?

 

 

Source: goodnewsfromindonesia.id