Cancel Culture: Gerakan Masif Dari Publik Sosial Media yang Bikin Trending Topic! - MLDSPOT
  • Buzz
  • Cancel Culture: Gerakan Masif Dari Publik Sosial Media yang Bikin Trending Topic!

Cancel Culture: Gerakan Masif Dari Publik Sosial Media yang Bikin Trending Topic!

Thu, 19 November 2020
Apakah dari lo ada yang menjadi partisipan dari cancel culture?

Disadari atau nggak bro kalau sekarang ini sesuatu yang viral berasal dari suatu gerakan yang masif, sehingga hal tersebut muncul ke permukaan, dan tidak heran juga untuk menjadi trending topic – terlebih di sosial media.

Apakah lo mengikuti pola seperti itu? Mengikuti hal yang viral, atau bahkan juga ikut berpartisipasi untuk membuat hal tersebut menjadi trending topic? Kalau iya berarti lo adalah salah satu orang dibalik tren yang istilahnya mulai populer sekarang-sekarang ini: Cancel Culture.

Mungkin di antara lo semua yang membaca artikel ini, pasti mempertanyakan hal yang sama, apa itu cancel culture. Secara harfiah, belum ada definisi yang mutlak atau absolut dari istilah yang satu ini. Bahkan, Urban Dictionary sampai New York Times memaknai cancel culture dengan berbeda-beda.

Lalu apa sebenarnya cancel culture? Apakah hal ini adalah sebuah tren dibalik beberapa hal yang viral atau trending topic di sosial media? Daripada lo menebak-nebak sendiri, sila simak bahasan kali ini untuk mengetahui selengkapnya ya!

 

Siapa yang Benar di Cancel Culture?

Apakah dari lo ada yang menjadi partisipan dari cancel culture?

Credit Image: time.com

Dilansir dari situs insitu.id – cancel culture dinilai sebagai aksi kolektif publik untuk memboikot atau menghilangkan pengaruh seseorang di ruang digital ataupun nyata. Aksi ini bakal mudah banget lo lihat ketika ada figur publik yang melakukan kesalahan, baik secara verbal atau aksi.

Misalnya, perkataan yang bersifat ofensif dan memperkeruh suasana, sampai ke aksi kekerasan seksual dan perilaku rasisme – cancel culture bisa dengan mudah terjadi di sana. Lalu bagaimana aksi ini dimulai?

Biasanya aksi ini diawali oleh komentar beberapa orang terhadap perilaku publik figur tersebut. Dari komentar-komentar yang ada, pasti ada saja yang menuntut untuk mempertanggungjawabkan apa yang publik figur itu lakukan.

Lama-kelamaan, komentar dengan isi yang ‘menghakimi’ sampai yang meminta tanggung jawab serta tuntutan lainnya – akan berjumlah besar. Semakin banyak orang yang mungkin tadinya tidak tahu ada kejadian apa – lalu ikutan untuk memberikan komentar dengan nada yang sama.

Dengan sistem yang seperti ini, tidak heran kalau hal tersebut bisa dengan mudah jadi trending topic di sosial media. Lalu apa dampaknya untuk si publik figur? Banyak bro, mulai dari stress karena tekanan dari mana-mana – sampai ke karir sang publik figur tersebut bisa terancam.

Jika dari seluruh komentar yang dilontarkan sudah bernada sama – lalu ada komentar yang bernada sebaliknya – jangan kaget kalau komentar tersebut bakal diserang juga oleh mereka yang sudah masif dan besar jumlahnya.

Hal ini menjadikan grey area tersendiri ketika lo bertanya lalu siapa yang benar di cancel culture. Mereka yang bergerak secara masif, belum tentu benar juga – tapi publik yang dituntut terkadang memang sudah ketangkap basah melakukan kesalahan.

 

Tapi Apakah Dihakimi Begitu Saja?

Apakah dari lo ada yang menjadi partisipan dari cancel culture?

Credit Image: gulfnews.com

Dengan hal seperti ini, publik dengan mudah bisa menyaring siapa yang bisa dijadikan panutan. Cancel culture tidak hanya untuk mereka yang berbuat salah, lho. Mereka yang punya prestasi, mereka yang punya sisi positif yang kuat, bisa saja kena cancel culture – tapi dalam hal yang berbeda, mereka yang seperti itu biasanya dipuja habis-habisan.

Memang sih bro – sesuatu hal yang berlebihan pasti kurang baik – namun, hal ini jadi salah satu cara untuk viral, jadi trending topic dan dibicarakan oleh banyak kalangan. Meskipun konteks ini sebenarnya sah-sah saja, tapi cancel culture bisa berakibat fatal untuk seseorang yang menerimanya bro.

Praktik ini bisa saja menciptakan blunder untuk mereka yang dihakimi tanpa diberikan kesempatan untuk memberikan bukti. Sangat mungkin terjadi kalau mereka salah menghakimi karena perkataan komentar yang tidak bisa dibuktikan juga kebenarannya.

Termakan oleh hoaks – sangat bisa terjadi di cancel culture. Dan yang bakal jadi korban adalah publik figur yang sudah disalah-salahkan. Karir, hubungan keluarga dan apapun itu – bisa saja selesai dengan begitu saja karena gerakan yang masif tersebut.

Terkait dengan hal-hal seperti ini, menurut lo bagaimana bro? Apakah memang fine-fine saja seperti itu? Atau menurut lo ada hal yang bisa dilakukan selain mengikuti cancel culture ini?

 

Feature Image – theweek.com

UI/UX Writer jadi Posisi yang Fundamental di Era Industri Digital!

Mon, 23 November 2020
ui/ux writer adalah seseorang yang mampu membuat konsumen nyaman di website yang ia masuki, terlebih sampai tujuan pebisnisnya tercapai, konsumen beli produk atau jasa yang ada di dalam website tersebut

Jika lo berkecimpung di dunia bisnis terlebih bisnis yang lo jalankan menggunakan sosial media bahkan sampai ke website, ada baiknya lo mempunyai tim yang mumpuni di masing-masing bidangnya bro. Industri bisnis 4.0 ini membuat diri lo bisa bersaing dengan siapapun dan apapun.

Terlebih jika model atau bentuk bisnis lo adalah sebuah start up. Bentukan bisnis seperti start up membutuhkan beberapa orang yang profesinya mungkin jika ditelisik, nggak semua orang akrab dengan profesinya, salah satunya adalah UI/UX Writer.

Betul bro, kata writer di profesi itu adalah memang bisa diartikan sebagai penulis. Namun bukan sembarang penulis. Jika sekarang lo malah bertanya pada diri lo apakah lo membutuhkan orang dengan profesi seperti itu, jelas jawabannya adalah butuh.

Kemajuan start up lo untuk bisa dikenal oleh banyak kalangan dan bisa mendapatkan kesempatan yang lebih besar lagi untuk berkembang bisa dipengaruhi oleh hasil karya dari seorang UI/UX writer. Memang profesi ini sebenarnya ngapain sih?

Di internet sendiri – masih banyak lho yang salah mengartikan siapa UI/UX writer ini. Tidak sedikit mereka di luar sana yang mengartikan profesi ini sama dengan seperti Content Strategist, Content Designer dan masih banyak istilah lainnya.

Padahal, semua istilah yang disebutkan tadi – cukup mempunyai perbedaan yang begitu siginifikan terkait dengan UI/UX writer. Lalu sebenarnya itu profesi yang seperti apa sih? Daripada lo penasaran sendiri, sekarang sila simak bahasan kali ini sampai habis buat mengetahui selengkapnya ya!

 

Kenalan Sama UI/UX Writer!

ui/ux writer adalah seseorang yang mampu membuat konsumen nyaman di website yang ia masuki, terlebih sampai tujuan pebisnisnya tercapai, konsumen beli produk atau jasa yang ada di dalam website tersebut

Credit Image: unsplash.com

 

ui/ux writer adalah seseorang yang mampu membuat konsumen nyaman di website yang ia masuki, terlebih sampai tujuan pebisnisnya tercapai, konsumen beli produk atau jasa yang ada di dalam website tersebut

Credit Image: facemweb.com

Sebelum lo tahu seperti apa profesi yang satu ini, hal fundamental yang perlu lo ketahui terlebih dahulu itu adalah apa itu UI/UX. Kalau dari singkatannya UI adalah User Interface dan kalau UX adalah User Experience.

Dua hal tersebut adalah hal yang bakal dilihat pertama kali oleh konsumen jika produk atau jasa yang lo tawarkan berada di internet, berbentuk konten website dan segala hal terkait lainnya. Berbagai elemen terkait dengan UI, seperti layar, layar sentuh, keyboard bahkan sampai output suara menjadi hal yang penting di tampilan tersebut.

Kalau user experience adalah hal-hal yang bisa dialami dan dirasakan oleh konsumen begitu mereka masuk ke dalam website, sampai mereka akhirnya memutuskan untuk membeli produk atau jasa yang lo tawarkan atau mereka keluar begitu saja dari website bisnis lo.

Nah, agar semua tujuannya tercapai, terlebih dari lo sebagai pebisnis, yang lo mau adalah pastinya konsumen dengan nyaman bisa berlama-lama di website yang lo punya, dan mereka sibuk memilih produk mana yang bakal dibeli, betulkan?

Supaya mereka, para konsumen lo nyaman, mudah mengerti apa yang ada di dalam website, UI/UX writer adalah orang yang bisa mengarahkan konsumen lo itu, mendapatkan kenyamanan tersebut dari kata-kata yang ia buat di dalam website.

Dibantu dengan visual yang mumpuni juga, seorang UI/UX writer punya tanggung jawab untuk membuat konsumen yang datang ke dalam website lo, mengerti apa yang lo jual baik produk atau jasa – dan akhirnya mereka membeli sesuatu di dalamnya.

Hal ini juga terkait dengan datangnya mereka kembali ke website lo karena mereka nyaman dengan segala apa yang mereka lihat dan yang mereka rasakan. This is what UI/UX writer do, bro. Membuat konsumen lo nyaman dan terus membeli produk atau jasa yang ada di dalam website tersebut.

Segala directions, baik yang ada di tombol, yang ada di banner utama, tulisan yang ada di menu utama – hampir semua elemen di dalam website yang menggunakan kata-kata – UI/UX writer lah yang bertanggung jawab.

Percaya atau nggak bro – dengan memberikan kata-kata yang tepat, pasti konsumen bakal semakin mudah mengerti dan nyaman di dalam website untuk melihat-lihat dan sampai membeli produk atau jasa yang lo tawarkan.

Memang sih UI/UX writer tidak bisa sendirian mengerjakan hal itu semua. Mesti ada designer yang membantunya menciptakan visual yang appealing juga bro. Jadi semuanya makin mudah dimengerti dan membuat siapapun yang datang ke website tersebut nyaman.

Coba refleksikan kepada diri lo sendiri, jika lo datang atau masuk ke dalam sebuah website, lalu kata-kata di dalam menu atau di manapun yang ada di website itu tidak jelas, pasti lo langsung membuang ketertarikan lo dan menutup halaman website tersebut kan?

Untuk menghindari hal tersebut, lo membutuhkan UI/UX writer yang mumpuni. So now do you get what I mean about this, hmm?

 

Feature Image – learn.g2.com