• Buzz
  • Yuk Kunjungi 3 Wisata Ramadan yang Indonesia Banget

Yuk Kunjungi 3 Wisata Ramadan yang Indonesia Banget

Wed, 30 May 2018

Ramadan sudah memasuki setengah jalan, jalanan sore di hampir kota besar di Indonesia sudah mulai dipenuhi oleh jajanan khas masing-masing daerah. Nggak hanya itu Urbaners, beberapa tempat di Indonesia ternyata memiliki wisata Ramadan yang Indonesia banget. Misalnya, ada beberapa festival seperti Kuliner Ramadan di Tangerang dan Festival Hadrah di Banyuwangi.

Sekarang lo bakal kami ajak buat keliling Indonesia untuk melihat tiga wisata Ramadan yang Indonesia banget. Menariknya, wisata ini nggak akan lo temukan di tempat lain. Apakah lo siap, Urbaners?

Wisata makam Islam kuno di Sumatera

Di lansir dari cnnindonesia.com, Menteri Pariwisata Indonesia Arief Yahya meluncurkan program Pesona Wisata Ramadan untuk mendongkrak turis asing dan wisatawan lokal. Salah satu program tersebut adalah menggenjot lagi wisata makam Islam kuno di Sumatera. Mulai dari Aceh hingga pantai timur Sumatera akan dikonsep dengan baik. Salah satu wisata andalan makam Islam kuno di Sumatera adalah batu nisan yang sangat unik dan jarang ditemui di tempat lain.

Ziarah Wali Songo

Jika di Sumatera ada makam Islam kuno, maka di Pulau Jawa ada makam Wali Songo yang sangat terkenal. Makam Wali Songo ini tersebar dari Jawa Barat ke Jawa Timur, dan menariknya setiap makam pasti mempunyai budaya yang berbeda-beda. Misalnya, ketika lo mengunjungi Sunan Gunung Jati di Cirebon, lo akan melihat makam khas Keraton. Sedangkan di Surabaya, Makam Sunan Ampel bisa lo temui di tengah-tengah rumah penduduk.

Festival di Seluruh kota di Indonesia

Sekarang saatnya belanja dan menjajal kuliner khas daerah di Indonesia. Lo bisa mengunjungi Festival Hadrah (Banyuwangi, 26-27 Mei 2018), Festival Patrol (Banyuwangi, 28-29 Mei 2018), Pekan Tilawah Quran (Sumenep, 26-31 Mei 2018), Kuliner Ramadan (Tangerang, 15 Mei-8 Juni 2018), Ramadhan Ceria Pesantren Wisata Cinta Al-Quran (2 Juni 2018), serta Gelar Adat Penyerahan Zakat Fitrah Keluarga Keraton (Sumenep, 11 Juni 2018). Lengkap, kan?

Itulah ketiga wisata Ramadan yang bisa lo kunjungi di sisa bulan Puasa ini. Selamat berpuasa, Urbaners!

 

 

Source: cnnindonesia.com

6 Tokoh Ini Dapat Gelar Pahlawan Nasional 2019

Friday, November 22, 2019 - 13:15
Presiden Joko Widodo berdiri di depan foto-foto para Pahlawan Nasional.

Dalam rangka Hari Pahlawan 2019 yang jatuh pada tanggal 10 November, Presiden Joko Widodo memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada 6 tokoh. Hal ini dilakukan berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 120 TK 2019 yang ditandatangani pada 7 November 2019. Gelar Pahlawan Nasional diberikan kepada ahli waris di Istana Negara, Jakarta Pusat.

 

Roehana Koeddoes

Sosok Roehana Koeddoes, memakai semacam bandana di kepala

Sepupu dari H. Agus Salim ini merupakan pendiri dari surat kabar Sunting Melayu. Sebelumnya, beliau menekuni bidang jurnalistik melalui surat kabar Poetri Hindia. Roehana Koeddoes memiliki keinginan agar wanita di daerahnya memiliki pengetahuan dan pengalaman lebih. Itulah kenapa jajaran direksi dan penulis di Sunting Melayu berasal dari kaum wanita.

 

A.A. Maramis

A.A Maramis berpose formal dengan mengenakan jas dan dasi kupu-kupu.

Sebagai Menteri Keuangan Indonesia yang kedua, A.A. Maramis berperan penting dalam perkembangan dan percetakan uang kertas yang pertama di Indonesia. Tanda tangan beliau bahkan tertera pada uang kertas tersebut. Nggak cuma itu, pria kelahiran 20 Juni 1897 ini juga merupakan anggota dari Panitia Lima yang dibentuk oleh Soeharto, presiden kedua Indonesia, untuk mendokumentasikan rumusan Pancasila.

 

Sarjito

Sardjito mengenakan jas berwarna hitam

Pria asal Magetan ini sangat berjasa dalam menciptakan vaksin untuk kolera, typus, dan disentri. Sarjito juga cukup aktif dalam organisasi Budi Utomo di Jakarta. Bersama dengan dokter Sanusmo, Prof. Sutarman, dan dokter Pudjodarmohusodo, Sarjito mendirikan Fakultas Kedokteran Republik Indonesia di Solo dan Klaten pada 5 Maret 1946. Saat ini, fakultas tersebut telah berkembang dan menjadi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

 

K.H. Masjkur

Ilustrasi sosok K.H. Masjkur, yang mengenakan kacamata dan pakaian berwarna cokelat.

Perjuangan K.H. Masjkur dalam kemerdekaan Indonesia dilakukan beliau dengan bergabung menjadi anggota Pembela Tanah Air (PETA). Selain itu, beliau juga mengumpulkan pemuda Islam dalam laskar khusus untuk ikut turun seiring perobekan bendera di Hotel Yamato, Surabaya. Laskar ini jugalah yang turut melawan tentara Inggris yang marah setelah Mayor Jenderal Mallaby tewas.

 

Abdul Kahar Mudzakkir

Ilustrasi sosok Abdul Kahar Mudzakkir, sedang memakai kacamata dan pakaian berwarna abu-abu.

Sempat menempuh pendidikan di Kairo, Mesir, Abdul Kahar Mudzakkir turut mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia di Timur Tengah. Melalui tulisan-tulisan di sejumlah surat kabar, pria asal Yogyakarta ini juga membawa nama Indonesia. Di samping itu, beliau juga terlibat dalam perumusan bentuk negara bersama sejumlah tokoh Islam.     

 

Sultan Himayatuddin

Gambar dari Sultan Himayatuddin, memiliki brewok, dan memakai semacam bandana.

Sultan Himayatuddin adalah seorang sultan dari kerajaan Buton, Sulawesi Tenggara. Beliau berperan dalam memutuskan untuk mengakhiri perjanjian antara Kesultanan Buton dan VOC. Bersama dengan rakyatnya, Sultan Himayatuddin merancang strategi di dalam hutan untuk melawan VOC. Perjuangan tersebut berhasil membuat VOC akhirnya keluar dari Buton.

 

Melalui caranya masing-masing, keenam sosok tersebut sudah berjasa dalam kemerdekaan Indonesia. Ikut senang rasanya melihat mereka mendapat gelar Pahlawan Nasional!