• Food
  • Penjual Daging Termahal di Dunia

Penjual Daging Termahal di Dunia

Thu, 07 January 2016

Umumnya, kita nggak bakal mengkonsumsi daging sapi yang usianya udah berhari-hari. Tapi, seorang pria asal Perancis berhasil mengubah persepsi tersebut dengan membuat daging super lezat dari sapi yang telah dipotong bertahun-tahun lalu. Tentu aja harga yang harus dibayar pun nggak murah. Salah satu dagingnya yang diolah menjadi rib steak dipatok dengan harga $3,200. Siapa, sih, pria yang dimaksud?

 

Usaha Turun-Temurun Keluarga

Daging termahal di dunia bisa lo temukan di St. Germain des Pres, Paris. Usaha tempat pemotongan daging tersebut dijalankan oleh Alexandre Polmard, generasi keenam tukang daging yang produknya telah dikenal sejak 1846 karena memiliki kualitas tinggi. Popularitas bisnis tersebut mulai meningkat pada tahun 1990-an setelah kakek dan ayah Polmard mengenalkan dan mengembangkan teknik penanganan baru terhadap daging-daging mereka.

 

Disimpan dalam Suhu Super Dingin

Mereka menyebut teknik tersebut sebagai “hibernation” dan dilakukan di dalam ruangan bersuhu -43 derajat celcius. Daging-daging disimpan di sana dan dihadapkan pada udara dingin yang berhembus dengan kecepatan 75 km/jam. Menurut Polmard, daging yang melalui proses hibernation nggak akan pernah mengalami penurunan kualitas. Mayoritas daging yang dijual oleh Polmard berusia 28-56 hari. Ia terinspirasi dari pembuatan wine yang rasanya semakin enak apabila disimpan lebih lama.

 

Menjauhkan Hewan dari Kondisi Stres

Demi menjaga kualitas daging, Polmard selalu menjaga sapi-sapinya agar terhindar dari stres. Sapi yang mengalami stres akan memproduksi glikogen dan asam laktat yang dapat memicu ketegangan dan keasaman pada otot-otot mereka. Hal tersebut tidak mampu menghasikan daging sapi yang enak dan lembut. Untuk menjaga kondisi sapi, Polmard membiarkan mereka hidup di alam terbuka. Ia juga secara rutin berbicara dengan sapi-sapi untuk memastikan bahwa mereka nyaman dan rileks.

Polmard bangga banget dengan daging sapi berkualitasnya tersebut. Maka dari itu, ia menawarkannya cuma kepada beberapa chef terpilih di penjuru dunia. Sebelumnya, ia juga selalu mengobrol secara personal tentang kelebihan daging sapinya. Kalau lo penasaran dengan rasanya, lo bisa mencoba menu Polmard’s Rare Millesime Cote de Boeuf, Vintage 2000 yang dibandrol seharga $700 di Four Seasons Hotel, Hong Kong.

 

Source: nextshark.com

Filosofi Sosok Muhammad Aga dalam Meracik Secangkir Kopi

Tue, 07 July 2020
Muhammad Aga sedang memegang secangkir kopi

Kopi sudah jadi minuman wajib orang Indonesia. Mungkin lo juga salah satu tipe orang yang nggak bisa senyum sebelum menenggak secangkir kopi di pagi hari. Dalam dunia kopi, nama Muhammad Aga sudah nggak asing lagi di telinga, apalagi di mata. Nggak heran Bro, Aga sendiri sudah lama berkiprah sebagai barista dan pernah membintangi film “Filosofi Kopi”. Ayo kenalan dengan Muhammad Aga dan tentang filosofinya dalam mencintai kopi #MumpungLagiDirumah.

 

Dari Musik ke Biji Kopi

Muhammad Aga mengenakan setelan jas hitam dengan topi hitam

Siapa yang sangka kalau barista unggulan Indonesia ini lulusan jurusan musik di Institut Kesenian Jakarta? Sebelum akhirnya jatuh cinta dengan dunia barista, Aga benar-benar fokus dalam mengembangkan karir band Rockabilly miliknya, bahkan sudah beberapa kali manggung di luar Jakarta. Justru dari komitmennya dalam menghidupi band tersebut, Aga akhirnya bekerja paruh waktu sebagai barista di Dante Coffee Kelapa Gading.

Sepanjang tahun 2009 hingga 2012, Aga semakin mendalami teknik meracik kopi. Dimulai dengan belajar secara otodidak lewat internet, komunitas, dan workshop. Walau sekarang sibuk mengelola kedai kopi S.M.I.T.H dan Harapan Djaya, tetap saja Aga masih suka jamming session dengan teman-temanya, Bro.

 

Pentingnya Koneksi

Muhammad Aga sedang melakukan latte art dengan teknik pouring

Kalau lo bingung bagaimana caranya seorang barista bisa jadi eksis seperti Aga dan sampai masuk ke layar lebar, jawabannya adalah koneksi. Menurut Aga, kopi menghubungkannya dengan orang-orang influential yang berjasa dalam perjalanan karirnya.

Seperti pertemuannya dengan Hendri Kurniawan di sebuah kontes barista, di mana Hendri tertarik dengan kopi racikan Aga dan menjadi mentornya. “Doi adalah teman sharing gue dan yang merekomendasikan berbagai kafe ke gue. Makanya gue bisa sering pindah-pindah.”

Dari koneksinya dengan Hendri, Aga juga dipertemukan dengan Angga Dwimas Sasongko dan ikut bergabung ke proyek Filosofi Kopi. Terkesan nggak nyambung, tetapi perannya di Filosofi Kopi melambungkan nama Aga dan mempermulus karirnya. “Ujung-ujungnya proses bikin usaha sendiri bakal lebih mudah karena kenalan gue udah banyak.”

 

Mengharumkan Nama Indonesia di Jenjang Internasional

Muhammad Aga memegang piala dan seritifikat untuk partisipasinya dalam World Barista Championship 2018

Salah satu kehebatan Aga adalah prestasinya yang sudah berhasil menjadi juara berbagai kompetisi barista. Bermula sejak tahun 2012 ketika Aga menjadi juara satu Latte Art Throwdown Competition. Lanjut dengan Indonesian Barista Competition 2013 dengan posisi kelima dan memulai kiprah internasionalnya melalui ASEAN Barista Competition di posisi ketujuh.

Sampai di tahun 2018, Aga dipilih menjadi finalis dari Indonesia untuk maju dalam kompetisi World Barista Championship di Amsterdam. Bukan sekadar menyeduh kopi saja, Aga juga harus mempersiapkan setiap bahan yang dibutuhkan untuk meracik espresso, cappuccino, dan signature beverages.

Walau gagal untuk masuk ke semifinal, tetapi prestasi Aga masih sangat membanggakan untuk bisa memperlihatkan kemampuannya sebagai barista dan menunjukkan cita rasa luar biasa dari biji kopi lokal. “Tapi tidak apa-apa, setidaknya saya dapat pengalamannya, dapat ilmunya, dapat temannya, dapat banyak hal, lah.”

 

Lebih dari Secangkir Kopi

Muhammad Aga mengenakan kemeja putih sedang menuangkan kopi ke gelas

Teknik saja nggak cukup untuk bisa meracik secangkir kopi yang nikmat. Filosofi kopi dari Aga adalah untuk mengenal hingga ke akarnya. Seperti kebiasaan travelling Aga ke kebun kopi, di Indonesia dan luar negeri, sambil berbincang dengan petani kopi di sana. Dengan begitu, Aga bisa melihat permasalahan yang ada dan memberikan input-nya kepada petani kopi agar bisa memproduksi biji kopi seperti yang ia mau.

“Kopi itu, value-nya banyak, ya. Saya kenal banyak orang juga dari kopi, saya hidup dari situ.” Jadi, next time lo ngopi bareng, coba resapi pahitnya kopi dengan manisnya koneksi bersama teman-teman lo. It’s not just a cup of coffee!

 

 

 

Sources: Cleo, Kumparan, Genmuda.