• Food
  • 6 Fakta Tentang Koki Terbaik di Amerika Serikat, Mario Batali

6 Fakta Tentang Koki Terbaik di Amerika Serikat, Mario Batali

Tue, 15 March 2016

Lahir dari keluarga yang jago memasak, mengolah makanan menjadi hal yang paling penting buat koki terbaik di Amerika Serikat, Mario Batali. Pemilik restoran Eataly di New York City yang sudah melanglang buana di dunia masak-memasak sejak dulu ini adalah orang yang sangat tekun. Selain itu, ternyata Mario Batali juga punya banyak fakta menarik tentang dirinya yang bakal bikin Urbaners jadi suka, atau semakin suka sama koki dengan ginger hair yang satu ini.

Lahir di Seattle Namun Bersekolah di Madrid

Kalau dari namanya, lo pasti berpikir kalau koki ini lahir di Eropa. Tapi ternyata, Mario Batali ini orang Amerika yag lahir di Seattle. Lalu ia akhirnya bersekolah di Madrid, tetapi bukan buat jadi koki, melainkan untuk menempuh pendidikan SMA.

Penggemar Merek Crocs Before It was Cool

Sebagai sebuah brand sepatu, Crocs adalah brand yang cukup elit. Harganya nggak bisa dibilang murah dan bahannya juga kualitas tinggi. Ternyata nih, Mario Batali adalah orang yang menggemari merek ini sebelum populer. Sebagai seorang cowok, Mario Batali mementingkan kenyamanan ketika ia berkutat di dapur, jadi nggak heran kalau Mario Batali pilih Crocs buat nemenin dia masak seharian.

Pernah Memiliki Cita-cita Sebagai Seorang Pemain American Football

Mario Batali mengaku bahwa ia memiliki cita-cita untuk menjadi pemain American Football saat ia masih kecil. Tetapi sesuatu terjadi padanya saat ia berumur 11 tahun, dan akhirnya Mario Batali memutuskan bahwa dia dan American Football itu nggak jodoh.

Menganggap Bahwa bacon Adalah Makanan yang Overrated

Bacon adalah makanan yang sangat populer di negaranya, tetapi bagi Mario Batali, tidak perlu semua makanan diberi bacon. Mario Batali sendiri suka dengan bacon, tapi baginya makanan ini overrated.

Memiliki Anak-anak yang Nggak Pilih-pilih Makanan

Ya, anak-anak dari Mario Batali nggak ada yang rewel soal makanan. Ia mengajari anaknya untuk memasak dari kecil sehingga tidak ada yang tumbuh menjadi anak yang suka pilih-pilih.

Nggak Bisa Hidup Tanpa Spaghetti

Kalau orang kita nggak bisa hidup tanpa nasi, Mario Batali nggak bisa hidup tanpa pasta bentuk mie, Spaghetti. Pribadi yang menarik dan makanan yang lezat, kombinasi yang pas banget yang Urbaners untuk jadi cowok idaman para wanita.

 

Sumber:
www.popsugar.com

Filosofi Sosok Muhammad Aga dalam Meracik Secangkir Kopi

Tue, 07 July 2020
Muhammad Aga sedang memegang secangkir kopi

Kopi sudah jadi minuman wajib orang Indonesia. Mungkin lo juga salah satu tipe orang yang nggak bisa senyum sebelum menenggak secangkir kopi di pagi hari. Dalam dunia kopi, nama Muhammad Aga sudah nggak asing lagi di telinga, apalagi di mata. Nggak heran Bro, Aga sendiri sudah lama berkiprah sebagai barista dan pernah membintangi film “Filosofi Kopi”. Ayo kenalan dengan Muhammad Aga dan tentang filosofinya dalam mencintai kopi #MumpungLagiDirumah.

 

Dari Musik ke Biji Kopi

Muhammad Aga mengenakan setelan jas hitam dengan topi hitam

Siapa yang sangka kalau barista unggulan Indonesia ini lulusan jurusan musik di Institut Kesenian Jakarta? Sebelum akhirnya jatuh cinta dengan dunia barista, Aga benar-benar fokus dalam mengembangkan karir band Rockabilly miliknya, bahkan sudah beberapa kali manggung di luar Jakarta. Justru dari komitmennya dalam menghidupi band tersebut, Aga akhirnya bekerja paruh waktu sebagai barista di Dante Coffee Kelapa Gading.

Sepanjang tahun 2009 hingga 2012, Aga semakin mendalami teknik meracik kopi. Dimulai dengan belajar secara otodidak lewat internet, komunitas, dan workshop. Walau sekarang sibuk mengelola kedai kopi S.M.I.T.H dan Harapan Djaya, tetap saja Aga masih suka jamming session dengan teman-temanya, Bro.

 

Pentingnya Koneksi

Muhammad Aga sedang melakukan latte art dengan teknik pouring

Kalau lo bingung bagaimana caranya seorang barista bisa jadi eksis seperti Aga dan sampai masuk ke layar lebar, jawabannya adalah koneksi. Menurut Aga, kopi menghubungkannya dengan orang-orang influential yang berjasa dalam perjalanan karirnya.

Seperti pertemuannya dengan Hendri Kurniawan di sebuah kontes barista, di mana Hendri tertarik dengan kopi racikan Aga dan menjadi mentornya. “Doi adalah teman sharing gue dan yang merekomendasikan berbagai kafe ke gue. Makanya gue bisa sering pindah-pindah.”

Dari koneksinya dengan Hendri, Aga juga dipertemukan dengan Angga Dwimas Sasongko dan ikut bergabung ke proyek Filosofi Kopi. Terkesan nggak nyambung, tetapi perannya di Filosofi Kopi melambungkan nama Aga dan mempermulus karirnya. “Ujung-ujungnya proses bikin usaha sendiri bakal lebih mudah karena kenalan gue udah banyak.”

 

Mengharumkan Nama Indonesia di Jenjang Internasional

Muhammad Aga memegang piala dan seritifikat untuk partisipasinya dalam World Barista Championship 2018

Salah satu kehebatan Aga adalah prestasinya yang sudah berhasil menjadi juara berbagai kompetisi barista. Bermula sejak tahun 2012 ketika Aga menjadi juara satu Latte Art Throwdown Competition. Lanjut dengan Indonesian Barista Competition 2013 dengan posisi kelima dan memulai kiprah internasionalnya melalui ASEAN Barista Competition di posisi ketujuh.

Sampai di tahun 2018, Aga dipilih menjadi finalis dari Indonesia untuk maju dalam kompetisi World Barista Championship di Amsterdam. Bukan sekadar menyeduh kopi saja, Aga juga harus mempersiapkan setiap bahan yang dibutuhkan untuk meracik espresso, cappuccino, dan signature beverages.

Walau gagal untuk masuk ke semifinal, tetapi prestasi Aga masih sangat membanggakan untuk bisa memperlihatkan kemampuannya sebagai barista dan menunjukkan cita rasa luar biasa dari biji kopi lokal. “Tapi tidak apa-apa, setidaknya saya dapat pengalamannya, dapat ilmunya, dapat temannya, dapat banyak hal, lah.”

 

Lebih dari Secangkir Kopi

Muhammad Aga mengenakan kemeja putih sedang menuangkan kopi ke gelas

Teknik saja nggak cukup untuk bisa meracik secangkir kopi yang nikmat. Filosofi kopi dari Aga adalah untuk mengenal hingga ke akarnya. Seperti kebiasaan travelling Aga ke kebun kopi, di Indonesia dan luar negeri, sambil berbincang dengan petani kopi di sana. Dengan begitu, Aga bisa melihat permasalahan yang ada dan memberikan input-nya kepada petani kopi agar bisa memproduksi biji kopi seperti yang ia mau.

“Kopi itu, value-nya banyak, ya. Saya kenal banyak orang juga dari kopi, saya hidup dari situ.” Jadi, next time lo ngopi bareng, coba resapi pahitnya kopi dengan manisnya koneksi bersama teman-teman lo. It’s not just a cup of coffee!

 

 

 

Sources: Cleo, Kumparan, Genmuda.