• Food
  • 4 Restoran yang Harus Lo Coba di Amerika Selatan

4 Restoran yang Harus Lo Coba di Amerika Selatan

Tue, 22 March 2016

Punya hobi buat ikutan wisata kuliner? Katanya, empat restoran ini sukses bikin orang berdatangan ke Amerika Selatan, Urbaners. Jangan kepikiran sepak bola aja kalau dengar soal Amerika Selatan, soalnya di sana ada berbagai macam restoran yang harus lo coba, Urbaners! Penasaran apa aja empat restoran itu, dan apa sih yang mereka tawarin sampai bikin orang jauh-jauh ke Amerika Selatan buat makan?

Siete Fuegos – Tunuyan, Argentina

Di urutan pertama, ada Siete Fuegos yang berlokasi di Tunuyan, Argentina. Ini adalah restoran yang didedikasikan khusus buat masakan Argentina, Urbaners. Adalah Francis Mallman, chef dari Patagon yang membuat restoran ini. Ibarat teppanyaki, di sini lo juga bisa lihat langsung proses bakar-bakaran makanan Argentina, Urbaners. Lebih sempurna lagi, kalau lo makan di sini sambil minum anggur Argentina.

Restaurante Casa Santa Clara – Bogota, Colombia

Mau ngerasain makan siang di ketinggian 3,152 meter di atas laut? Sambil ngerasain awan yang lewat gitu, Urbaners. Nah, Casa Santa Clara ini cocok banget buat lo. Restoran ini ada di puncak gunug Monserrate yang ada di Bogota, Colombia. Casa Santa Clara nyajiin makanan klasik Colombia dengan harga yang nggak mahal sama sekali loh, Urbaners. Mau siang atau malam, pasti keren pemandangannya.

Churrascaria Vento Haragano – Sao Paulo, Brazil

Pecinta daging? Coba deh makan di Churrascaria Vento Haragano, Urbaners! Rasain gimana gokilnya steak ala Brazil di restoran satu ini, Urbaners. Ada berbagai pilihan daging dan potongan yang bisa lo pilih buat makan. Ini adalah rumah steak terbaik deh, pokoknya! Melihat foto restorannya saja sudah bikin ngiler kan tuh..

Baca Juga : 4 Tips Jitu Dalam Cara Membuat Steak Daging dan Saus Steak

 

Barra Mar – Lima, Peru

Yang terakhir tapi tetap menggugah selera adalah Barra Mar di Lima, Peru. Spesialis restoran ini adalah hidangan laut, Urbaners. Tentu saja dengan sentuhan klasik asal Peru, yang bikin makanan di sini terasa unik. Dan tahukah lo apa yang lebih keren lagi? Buat rasa dan jumlahnya, harga yang dipatok di sini terhitung murah, Urbaners! Wah, lengkap sudah alasan buat coba datang ke sini.

Lo lapar nggak setelah lihat foto-foto di atas, Urbaners? Atau mungkin, di antara lo ada yang malah sudah cari-cari harga tiket ke Amerika Selatan? Jangan lupa tulis ulasannya kalau lo pernah makan di salah satu restoran ini, Urbaners. Ambil foto yang keren juga, biar teman-teman lo sirik. Bisa makan di sini itu suatu kebanggaan loh, Urbaners!

 

Sumber: www.huffingtonpost.com

Filosofi Sosok Muhammad Aga dalam Meracik Secangkir Kopi

Tue, 07 July 2020
Muhammad Aga sedang memegang secangkir kopi

Kopi sudah jadi minuman wajib orang Indonesia. Mungkin lo juga salah satu tipe orang yang nggak bisa senyum sebelum menenggak secangkir kopi di pagi hari. Dalam dunia kopi, nama Muhammad Aga sudah nggak asing lagi di telinga, apalagi di mata. Nggak heran Bro, Aga sendiri sudah lama berkiprah sebagai barista dan pernah membintangi film “Filosofi Kopi”. Ayo kenalan dengan Muhammad Aga dan tentang filosofinya dalam mencintai kopi #MumpungLagiDirumah.

 

Dari Musik ke Biji Kopi

Muhammad Aga mengenakan setelan jas hitam dengan topi hitam

Siapa yang sangka kalau barista unggulan Indonesia ini lulusan jurusan musik di Institut Kesenian Jakarta? Sebelum akhirnya jatuh cinta dengan dunia barista, Aga benar-benar fokus dalam mengembangkan karir band Rockabilly miliknya, bahkan sudah beberapa kali manggung di luar Jakarta. Justru dari komitmennya dalam menghidupi band tersebut, Aga akhirnya bekerja paruh waktu sebagai barista di Dante Coffee Kelapa Gading.

Sepanjang tahun 2009 hingga 2012, Aga semakin mendalami teknik meracik kopi. Dimulai dengan belajar secara otodidak lewat internet, komunitas, dan workshop. Walau sekarang sibuk mengelola kedai kopi S.M.I.T.H dan Harapan Djaya, tetap saja Aga masih suka jamming session dengan teman-temanya, Bro.

 

Pentingnya Koneksi

Muhammad Aga sedang melakukan latte art dengan teknik pouring

Kalau lo bingung bagaimana caranya seorang barista bisa jadi eksis seperti Aga dan sampai masuk ke layar lebar, jawabannya adalah koneksi. Menurut Aga, kopi menghubungkannya dengan orang-orang influential yang berjasa dalam perjalanan karirnya.

Seperti pertemuannya dengan Hendri Kurniawan di sebuah kontes barista, di mana Hendri tertarik dengan kopi racikan Aga dan menjadi mentornya. “Doi adalah teman sharing gue dan yang merekomendasikan berbagai kafe ke gue. Makanya gue bisa sering pindah-pindah.”

Dari koneksinya dengan Hendri, Aga juga dipertemukan dengan Angga Dwimas Sasongko dan ikut bergabung ke proyek Filosofi Kopi. Terkesan nggak nyambung, tetapi perannya di Filosofi Kopi melambungkan nama Aga dan mempermulus karirnya. “Ujung-ujungnya proses bikin usaha sendiri bakal lebih mudah karena kenalan gue udah banyak.”

 

Mengharumkan Nama Indonesia di Jenjang Internasional

Muhammad Aga memegang piala dan seritifikat untuk partisipasinya dalam World Barista Championship 2018

Salah satu kehebatan Aga adalah prestasinya yang sudah berhasil menjadi juara berbagai kompetisi barista. Bermula sejak tahun 2012 ketika Aga menjadi juara satu Latte Art Throwdown Competition. Lanjut dengan Indonesian Barista Competition 2013 dengan posisi kelima dan memulai kiprah internasionalnya melalui ASEAN Barista Competition di posisi ketujuh.

Sampai di tahun 2018, Aga dipilih menjadi finalis dari Indonesia untuk maju dalam kompetisi World Barista Championship di Amsterdam. Bukan sekadar menyeduh kopi saja, Aga juga harus mempersiapkan setiap bahan yang dibutuhkan untuk meracik espresso, cappuccino, dan signature beverages.

Walau gagal untuk masuk ke semifinal, tetapi prestasi Aga masih sangat membanggakan untuk bisa memperlihatkan kemampuannya sebagai barista dan menunjukkan cita rasa luar biasa dari biji kopi lokal. “Tapi tidak apa-apa, setidaknya saya dapat pengalamannya, dapat ilmunya, dapat temannya, dapat banyak hal, lah.”

 

Lebih dari Secangkir Kopi

Muhammad Aga mengenakan kemeja putih sedang menuangkan kopi ke gelas

Teknik saja nggak cukup untuk bisa meracik secangkir kopi yang nikmat. Filosofi kopi dari Aga adalah untuk mengenal hingga ke akarnya. Seperti kebiasaan travelling Aga ke kebun kopi, di Indonesia dan luar negeri, sambil berbincang dengan petani kopi di sana. Dengan begitu, Aga bisa melihat permasalahan yang ada dan memberikan input-nya kepada petani kopi agar bisa memproduksi biji kopi seperti yang ia mau.

“Kopi itu, value-nya banyak, ya. Saya kenal banyak orang juga dari kopi, saya hidup dari situ.” Jadi, next time lo ngopi bareng, coba resapi pahitnya kopi dengan manisnya koneksi bersama teman-teman lo. It’s not just a cup of coffee!

 

 

 

Sources: Cleo, Kumparan, Genmuda.