• Food
  • Aplikasi Jasa Antar Makanan Foodpanda Tutup

Aplikasi Jasa Antar Makanan Foodpanda Tutup

Wed, 12 October 2016

Foodpanda sempat menjadi salah satu aplikasi jasa antar makanan terbaik di Eropa. Bahkan ketika dibuka di Singapura, Foodpanda menjadi salah satu jasa antar makan yang cukup sukses. Foodpanda masuk ke Indonesia sejak tahun 2013, mendapatkan pendanaan dari Rocket Internet yang sudah sukses dengan investasi seperti Lazada dan Zalora.

Tetapi sayang ternyata perkembangan Foodpanda pun stagnan. Dengan restoran dan makanan yang cukup mahal akhirnya membuat perusahaan asal Jerman ini fokus kepada korporat/perusahaan dan para birokrat. Dan mulai Oktober 2016 kemarin, Foodpanda melayangkan keterangan pers kepada seluruh media Indonesia untuk mengumumkan bahwa layanan jasa antar makanan online Foodpanda Indonesia ini tutup.

 

Hanya tutup di Indonesia

Dibuka pada tahun 2012, Foodpanda sudah hadir di beberapa negara seluruh dunia. Bahkan kerja samanya sudah mencapai beberapa ribu restoran di seluruh dunia. Jadi ketika tutup ini, banyak yang mengira bahwa Foodpanda tutup secara keseluruhan. Ternyata nggak Urbaners, hanya Foodpanda Indonesia yang tutup, sedangkan di beberapa negara lain masih tetap beroperasi.

Khususnya di Eropa Timur dan Eropa Tengah, Foodpanda masih menjadi aplikasi jasa layanan antar makanan online yang sangat ramai. Bahkan terakhir Foodpanda mendapatkan total investasi mencapai 100 juta dolar.

 

Kalah bersaing dengan GO-Jek

GO-Jek muncul dengan ojek online dahulu, tetapi lama-kelamaan muncul GO-Food atau GO-Send yang bisa melayani jasa antar barang atau pesan makanan. Nggak seperti Foodpanda yang hanya melayani restoran-restoran tertentu, lewat GO-Jek lo bisa pesan makanan apa pun. Nah dari situlah muncul ternyata Foodpanda kalah bersaing dengan GO-Jek dan beberapa aplikasi jasa antar makanan.

Dengan tutupnya Foodpanda di Indonesia, menjadikan bahwa perusahaan startup ini nggak selalu bisa berjalan sesuai rencana.

 

Source: kompas.com

Filosofi Sosok Muhammad Aga dalam Meracik Secangkir Kopi

Tue, 07 July 2020
Muhammad Aga sedang memegang secangkir kopi

Kopi sudah jadi minuman wajib orang Indonesia. Mungkin lo juga salah satu tipe orang yang nggak bisa senyum sebelum menenggak secangkir kopi di pagi hari. Dalam dunia kopi, nama Muhammad Aga sudah nggak asing lagi di telinga, apalagi di mata. Nggak heran Bro, Aga sendiri sudah lama berkiprah sebagai barista dan pernah membintangi film “Filosofi Kopi”. Ayo kenalan dengan Muhammad Aga dan tentang filosofinya dalam mencintai kopi #MumpungLagiDirumah.

 

Dari Musik ke Biji Kopi

Muhammad Aga mengenakan setelan jas hitam dengan topi hitam

Siapa yang sangka kalau barista unggulan Indonesia ini lulusan jurusan musik di Institut Kesenian Jakarta? Sebelum akhirnya jatuh cinta dengan dunia barista, Aga benar-benar fokus dalam mengembangkan karir band Rockabilly miliknya, bahkan sudah beberapa kali manggung di luar Jakarta. Justru dari komitmennya dalam menghidupi band tersebut, Aga akhirnya bekerja paruh waktu sebagai barista di Dante Coffee Kelapa Gading.

Sepanjang tahun 2009 hingga 2012, Aga semakin mendalami teknik meracik kopi. Dimulai dengan belajar secara otodidak lewat internet, komunitas, dan workshop. Walau sekarang sibuk mengelola kedai kopi S.M.I.T.H dan Harapan Djaya, tetap saja Aga masih suka jamming session dengan teman-temanya, Bro.

 

Pentingnya Koneksi

Muhammad Aga sedang melakukan latte art dengan teknik pouring

Kalau lo bingung bagaimana caranya seorang barista bisa jadi eksis seperti Aga dan sampai masuk ke layar lebar, jawabannya adalah koneksi. Menurut Aga, kopi menghubungkannya dengan orang-orang influential yang berjasa dalam perjalanan karirnya.

Seperti pertemuannya dengan Hendri Kurniawan di sebuah kontes barista, di mana Hendri tertarik dengan kopi racikan Aga dan menjadi mentornya. “Doi adalah teman sharing gue dan yang merekomendasikan berbagai kafe ke gue. Makanya gue bisa sering pindah-pindah.”

Dari koneksinya dengan Hendri, Aga juga dipertemukan dengan Angga Dwimas Sasongko dan ikut bergabung ke proyek Filosofi Kopi. Terkesan nggak nyambung, tetapi perannya di Filosofi Kopi melambungkan nama Aga dan mempermulus karirnya. “Ujung-ujungnya proses bikin usaha sendiri bakal lebih mudah karena kenalan gue udah banyak.”

 

Mengharumkan Nama Indonesia di Jenjang Internasional

Muhammad Aga memegang piala dan seritifikat untuk partisipasinya dalam World Barista Championship 2018

Salah satu kehebatan Aga adalah prestasinya yang sudah berhasil menjadi juara berbagai kompetisi barista. Bermula sejak tahun 2012 ketika Aga menjadi juara satu Latte Art Throwdown Competition. Lanjut dengan Indonesian Barista Competition 2013 dengan posisi kelima dan memulai kiprah internasionalnya melalui ASEAN Barista Competition di posisi ketujuh.

Sampai di tahun 2018, Aga dipilih menjadi finalis dari Indonesia untuk maju dalam kompetisi World Barista Championship di Amsterdam. Bukan sekadar menyeduh kopi saja, Aga juga harus mempersiapkan setiap bahan yang dibutuhkan untuk meracik espresso, cappuccino, dan signature beverages.

Walau gagal untuk masuk ke semifinal, tetapi prestasi Aga masih sangat membanggakan untuk bisa memperlihatkan kemampuannya sebagai barista dan menunjukkan cita rasa luar biasa dari biji kopi lokal. “Tapi tidak apa-apa, setidaknya saya dapat pengalamannya, dapat ilmunya, dapat temannya, dapat banyak hal, lah.”

 

Lebih dari Secangkir Kopi

Muhammad Aga mengenakan kemeja putih sedang menuangkan kopi ke gelas

Teknik saja nggak cukup untuk bisa meracik secangkir kopi yang nikmat. Filosofi kopi dari Aga adalah untuk mengenal hingga ke akarnya. Seperti kebiasaan travelling Aga ke kebun kopi, di Indonesia dan luar negeri, sambil berbincang dengan petani kopi di sana. Dengan begitu, Aga bisa melihat permasalahan yang ada dan memberikan input-nya kepada petani kopi agar bisa memproduksi biji kopi seperti yang ia mau.

“Kopi itu, value-nya banyak, ya. Saya kenal banyak orang juga dari kopi, saya hidup dari situ.” Jadi, next time lo ngopi bareng, coba resapi pahitnya kopi dengan manisnya koneksi bersama teman-teman lo. It’s not just a cup of coffee!

 

 

 

Sources: Cleo, Kumparan, Genmuda.