Cowok Jago Masak, Why Not? - MLDSPOT
  • Hobby
  • Cowok Jago Masak, Why Not?

Cowok Jago Masak, Why Not?

Mon, 05 January 2015

Cowok hobi masak? Kenapa nggak? Sepertinya di dunia ini memang nggak ada yang nggak bisa dilakukan cowok. Termasuk memasak!

Cowok entah itu metroseksual atau macho, belakangan ini udah nggak malu lagi masuk ke dalam dapur. Jika dulu cowok dianggap hanya mengacak-acak isi dapur dan alergi memasak, sekarang sudah bukan zamannya lagi.

Nggak percaya? Lihat aja Chef Juna. Di balik tampang garangnya dan tatto yang mentereng di sekujur tangan (mungkin juga badan), ternyata dia adalah cowok yang jago masak. Ya, namanya juga chef, masa sih jago main sulap?

Popularitas Chef Juna menanjak sering makin ngetopnya program Masterchef Indonesia. Bisa dibilang popularitas cowok kelahiran Manado ini setingkat dengan selebriti lokal sejak terlibat sebagai juri di acara tersebut. Nggak mengherankan dia sampai pernah digosipkan berpacaran dengan salah satu artis ternama. Seperti biasa, ketika seseorang  ngetop memang nggak bisa luput dari gosip.

Sementara itu di belahan dunia yang lebih luas lagi, ada Gordon Ramsay, chef galak yang ngetop berkat acara Masterchef dan Hell’s Kitchen. Kesuksesan acara ini tidak cuma membuat nama koki asal Inggris mendunia, tetapi juga program tersebut diadopsi di beberapa negara, termasuk Indonesia yang telah membesarkan nama Juna. Mereka berdua adalah contoh bagaimana bidang memasak juga bisa dipopulerkan kaum cowok.

Nah, memangnya apa salahnya sih cowok memasak? Ya, selain untuk membuktikan diri lebih mandiri, memasak juga bisa membuat cowok memiliki kemampuan lebih selain sekedar berani menggertak preman, merayu cewek, dan menaklukkan calon mertua.

Tapi, di balik itu ada juga anggapan cowok yang jago masak itu lebih seksi di mata cewek. Nggak mengherankan ada semacam pepatah aneh di luar sana yang mengatakan cowok yang jago masak itu lebih mudah mendapatkan ciuman dari cewek dibandingkan cowok yang jago balapan. Buat Urbaners yang cewek, siapa sih yang nggak suka sama Chef Juna? Nggak heran, sekarang banyak terbit chef-chef cowok yang langsung jadi idola kaum cewek.

Aditya Bal, chef ngetop di India--kalau di Indonesia mungkin popularitasnya sekelas Chef Juna--mengatakan setiap pria harus bisa masak. Kenapa? Menurutnya, memasak itu adalah salah satu perbuatan maskulin yang membuat cowok itu lebih gentle karena memasak bukan cuma sekedar mengontrol rasa, tetapi juga sebagai upaya menyentuh perasaan orang lain.

Selain itu, banyak chef yang yakin kalau memasak itu bisa membuat cowok lebih sociable. Dengan jago masak, seorang cowok bisa menguasai hal-hal yang berkaitan dengan makanan. Secara manusia nggak bisa lepas dari makanan, jadi cowok yang bisa masak udah pasti juga nggak bakalan dilepaskan begitu saja dari pergaulan.

Nah, yang terpenting lagi, memasak juga bisa membuat cowok tahan banting dan lebih mandiri. Di saat berada jauh di dalam lembah hutan terdalam, cowok yang jago masak bisa bertahan hidup karena tahu apa yang bisa dimasak dari flora yang ada di sekitarnya. Dengan sedikit bakat berburu, dia juga bisa menciptakan steak yang enak, entah itu steak ular, atau steak babi hutan. Who knows?

 

 

MasterChef
Disiarkan pertama kali di Amerika Serikat pada 27 Juli 2010 silam, MasterChef merupakan program adaptasi dari serial berjudul sama yang ditayangkan di BBC. Program reality show yang memperlombakan para koki amatir dan rumahan ini berhasil mengangkat nama Gordon Ramsey sebagai chef celebrity dan telah memasuki season ke-5 dengan rekor tertinggi sebanyak 5,7 juta penonton di penayangan perdana.

Soc-ces was His Big Dream
Sebelum memulai karir sebagai koki, Gordon Ramsey bercita-cita menjadi pesepakbola. Sayangnya, karir yang dirintisnya sejak kecil itu kandas karena cedera lutut yang menghancurkan tulang rawannya ketika latihan. Sejak itu, di usia 19 tahun dia langsung memfokuskan dirinya pada dunia masak dan sekolah di North Oxfordshire Technical College.

Restaurant Gordon Ramsay
Koki asal Skotlandia kelahiran Inggris ini memiliki restoran yang bernama Restaurant Gordon Ramsay di Chelsea, Inggris, yang telah mendapatkan penghargaan bintang Michelin sebanyak 15 kali sejak tahun 2001. Michelin adalah majalah bergengsi yang menjadi referensi gaya hidup dan kuliner di Eropa.

Bukan Jenis Genre, Ini Arti dari Band Indie Indonesia yang Sebenarnya!

Wed, 17 March 2021
Band Indie Indonesia

Gaya musik sekarang ini emang beragam banget, kalo kemarin sempet ngebahas Indonesian City Pop sama Irama Nusantara dan genre Lo-Fi yang sekarang juga banyak peminatnya, ada satu genre – yang sebenarnya juga bukan genre, yang saat ini banyak diminati, yaitu Indie!

Semakin banyaknya muncul band indie Indonesia membuat para penikmat musik awam menganggap bahwa indie merupakan sebuah genre. Nyatanya, indie bukan genre ataupun gaya musik, bro!

Identik dengan musik dan lagu yang easy listening dan memiliki lirik yang kreatif, musik Indie memnghadirkan Terus kenapa kehadiran band indie Indonesia bisa membawa pemahaman kalau Indie merupakan sebuah genre? Langsung aja simak ulasan selengkapnya di bawah ini, bro!

Mengenal Arti Indie yang Sebenarnya

Band Indie Indonesia

Credit image – Careers in Music

Sebelum dikenal sebagai sebuah genre, Indie sebenarnya memiliki arti independen – atau sesuatu yang bersifat mandiri, bebas, atau bahkan ‘merdeka’. Indie dalam musik digambarkan sebagai sesuatu yang dilakukan sendiri, bebas, tanpa ada gangguan dari pihak lain yang mencoba mengatur proses produksi.

Hal ini dilakukan oleh seorang musisi atau band indie Indonesia biasanya memilih jalan ini untuk berkarya dengan bebas tanpa adanya label yang menaungi. Para musisi indie biasanya membiayai semua pengeluaran secara independen – mulai dari biaya produksi, pemasaran sampai distribusinya.

Sebutan indie  awalnya digunakan untuk membedakan antara musisi independen dengan musisi lain yang terikat label. Hal itu dilakukan untuk menekan bahwa musisi indie berada di label rekaman independennya sendiri dan lebih bebas mengekspresikan gaya musiknya ataupun dalam membuat suatu karya. 

Indie Bukan Genre, Bro!

Band Indie Indonesia

Credit image - Spotify

Pemahaman bahwa genre merupakan sebuah genre masih banyak dinilai salah oleh banyak orang. Seperti yang udah disebutkan di atas – jelas indie bukan sebuah genre, melainkan gerakan mandiri dari musisi untuk menciptakan karyanya.

Namun kata indie dapat menjadi tambahan deskriptif untuk sebuah genre, misalnya memberikan pemahaman dari perbedaan antara aspek musik dan aspek bisnis dalam musik. Misalnya: indie-rock, indie-pop, indie-rap, dan sebagainya. Tambahan deskriptif ini juga digunakan oleh platform musik Spotify untuk membuat playlist dari musisi-musisi Indie Indonesia – dengan judul IndieNesia.

Nggak heran lagu-lagu karya musisi indie terbilang unik dan beda dengan lagu kebanyakan – atau lagu-lagu yang biasa ada di peringkat Top 40. Hal inilah yang juga mendorong sebagian orang menganggap indie sebagai sebuah genre musik.

Idealisme Musisi dan Band Indie Indonesia

Tren musisi indie di Indonesia udah berkembang sejak era 80-an. Saat itu kemunculannya identik dengan musik punk-rock yang bergerak tanpa ada bantuan dari major label dan memproduksi musik dan karyanya sendiri tanpa terikat regulasi yang ada saat itu.

Hingga pada era 90-an, istilah indie berkembang menggantikan istilah underground. Saat ini, cukup banyak band-band indie bermunculan, menggambarkan bahwa indie memang terus berkembang di Indonesia. Seperti Sore, The S.I.G.I.T, Danilla Riyadi, dan lain-lain yang musiknya pasti udah sering lo denger.

Pastinya untuk bertahan di industri musik dengan cara yang mandiri ini terbilang susah-susah-gampang, karena biasanya hasil karya yang dipublikasikan akan lewat teman terdekat terlebih dulu dan melakukan konser sederhana ke kota-kota di Indonesia.

Tapi fenomena banyaknya musisi indie saat ini berhasil menghadirkan warna baru dalam industri musik Indonesia dan membuktikan bahwa dengan produksi dan promosi mandiri dapat bertahan di Industri musik.

Pergeseran Makna dari ‘Indie’

Band Indie Indonesia

Credit image – Outfit Styles

Pergeseran makna indie sendiri semakin jauh – nggak cuma dalam hal musik, tapi juga ke dalam gaya hidup. Seperti banyaknya orang yang menjadikan indie sebagai fashion. Pasti lo juga pernah denger kan kata-kata yang bilang; “style lo Indie banget, bro!”

Hal ini berangkat dari stigma musik indie merupakan sebuah genre dan identik dengan sore, senja, kopi, dan hal sebagainya. Padahal, indie nggak ada hubungannya dengan hal-hal tersebut!

Semua hanya menjadi stigma di masyarakat dan menganggap indie sebagai sesuatu yang menunjukan eksistensi diri – padahal sebenarnya nggak paham apa indie yang sebenarnya.

Sekarang lo udah paham kan – kalau indie itu bukan genre lagu, cuman emang gaya musik yang ditampilkan sama musisi indie emang berbeda dari musik-musik dari genre musik kebanyakan.

Kalau lo lebih suka denger yang mana nih, bro? mengingat lo lagi berkunjung ke MLDSPOT, udah jelas kalau lo penikmat jazz, kan?

 

Feature image – BlackXperience