Now: 360-Degree Videos on YouTube - MLDSPOT
  • Hobby
  • Now: 360-Degree Videos on YouTube

Now: 360-Degree Videos on YouTube

Wed, 01 July 2015

Para videografer pasti mengerti betapa sulitnya menentukan satu atau beberapa titik sudut pandang dalam suatu video. Pemilihan arah kamera yang salah bisa menyebabkan hilangnya kesempatan kamera untuk merekam moment-moment berharga. Namun, bagaimana kalau semua sudut pandang menawarkan moment yang sama berharganya? Misalnya, saat merekam sebuah konser musik yang megah, ke mana lo akan mengarahkan kamera? Apakah ke arah pemusik yang sedang beraksi, ke arah para penonton yang sedang menjerit histeris, atau justru ke arah dekorasi lampu yang fantastis pada langit-langit?

But, you haven’t to worry longer because you can share your 360-degree videos on YouTube, now! Kalau dulu YouTube hanya bisa menampilkan video dari satu sudut pandang, sekarang YouTube bisa menampilkan video dari berbagai sudut pandang. Fitur ini baru bisa dinikmati oleh para pengguna Google Chrome dan YouTube Android app. Kalau lo menggunakan Chrome, lo bebas memilih sudut pandang video yang lo inginkan dengan melakukan “tap-and-drag”. Tapi, kalau lo menggunakan YouTube Android app, lo cukup menggerakkan smartphone untuk mengeksplorasi semua sudut pandang dalam video.

Masalahnya, nggak semua 360-degree cameras cocok dengan platform YouTube. Beberapa 360-degree cameras yang bisa digunakan saat ini adalah Ricoh Theta, Kodak SP360, Giroptic 360cam, dan IC Real Tech Allie. Selain menggunakan keempat macam kamera tersebut, lo juga bisa membuat 360-degree videos dengan bantuan software, seperti Kolor Autopano.

Nah, setelah selesai membuat 360-degree videos, lo nggak bisa meng-upload-nya begitu aja ke YouTube. Lo tetap harus melakukan penyesuaian dengan Python script. Untuk melakukan penyesuaian ini, lo memerlukan Python yang udah terinstal dan script yang dijalankan dengan command tertentu. Tapi, kalau menginginkan cara yang lebih mudah, lo bisa meng-upload 360-degree videos dengan bantuan 360 Video Metadata app. Kedua tipe penyesuaian ini bisa dilakukan di perangkat Mac, maupun Windows.

Walau terbilang sangat inovatif, namun kemampuan 360-degree videos pada YouTube ini masih terbatas. Untuk ke depannya, pihak YouTube menjanjikan beberapa perbaikan agar para pengguna perangkat iOS dan pengguna 360-degree cameras lainnya turut bisa menikmati fitur ini.

Well, we wait for the good news, YouTube!

Source : gizmodo.com, www.wired.com, support.google.com 

 

 

Kualitas Video Masih Rendah
360-degree videos pada YouTube belum bisa menunjukkan kualitas terbaiknya karena 360-degree videos yang bisa di-upload hanyalah 360-degree videos dengan 24, 25, atau 30 frames per second. Untuk meng-upload 360-degree videos ke YouTube juga memakan waktu yang cukup lama.

Fitur Tambahan dari Google
Nggak hanya YouTube yang ingin menyempurnakan performa 360-degree videos ini, Google pun memiliki keinginan yang sama. Pihak Google menyampaikan bahwa mereka akan menambahkan beberapa fitur, seperti auto-detecting saat 360-degree videos telah berhasil di-upload dan penambahan filters.

Giroptic 360cam
Giroptic 360cam telah memproklamirkan dirinya sebagai “the world’s first true 360 HD camera”. Kamera yang dilengkapi dengan tiga optik dan tiga sensor ini mampu merekam 3600 equirectangular video dengan resolusi sebesar 2K (2048 x 1024) dan 4K (2096 x 2048).

Bukan Jenis Genre, Ini Arti dari Band Indie Indonesia yang Sebenarnya!

Wed, 17 March 2021
Band Indie Indonesia

Gaya musik sekarang ini emang beragam banget, kalo kemarin sempet ngebahas Indonesian City Pop sama Irama Nusantara dan genre Lo-Fi yang sekarang juga banyak peminatnya, ada satu genre – yang sebenarnya juga bukan genre, yang saat ini banyak diminati, yaitu Indie!

Semakin banyaknya muncul band indie Indonesia membuat para penikmat musik awam menganggap bahwa indie merupakan sebuah genre. Nyatanya, indie bukan genre ataupun gaya musik, bro!

Identik dengan musik dan lagu yang easy listening dan memiliki lirik yang kreatif, musik Indie memnghadirkan Terus kenapa kehadiran band indie Indonesia bisa membawa pemahaman kalau Indie merupakan sebuah genre? Langsung aja simak ulasan selengkapnya di bawah ini, bro!

Mengenal Arti Indie yang Sebenarnya

Band Indie Indonesia

Credit image – Careers in Music

Sebelum dikenal sebagai sebuah genre, Indie sebenarnya memiliki arti independen – atau sesuatu yang bersifat mandiri, bebas, atau bahkan ‘merdeka’. Indie dalam musik digambarkan sebagai sesuatu yang dilakukan sendiri, bebas, tanpa ada gangguan dari pihak lain yang mencoba mengatur proses produksi.

Hal ini dilakukan oleh seorang musisi atau band indie Indonesia biasanya memilih jalan ini untuk berkarya dengan bebas tanpa adanya label yang menaungi. Para musisi indie biasanya membiayai semua pengeluaran secara independen – mulai dari biaya produksi, pemasaran sampai distribusinya.

Sebutan indie  awalnya digunakan untuk membedakan antara musisi independen dengan musisi lain yang terikat label. Hal itu dilakukan untuk menekan bahwa musisi indie berada di label rekaman independennya sendiri dan lebih bebas mengekspresikan gaya musiknya ataupun dalam membuat suatu karya. 

Indie Bukan Genre, Bro!

Band Indie Indonesia

Credit image - Spotify

Pemahaman bahwa genre merupakan sebuah genre masih banyak dinilai salah oleh banyak orang. Seperti yang udah disebutkan di atas – jelas indie bukan sebuah genre, melainkan gerakan mandiri dari musisi untuk menciptakan karyanya.

Namun kata indie dapat menjadi tambahan deskriptif untuk sebuah genre, misalnya memberikan pemahaman dari perbedaan antara aspek musik dan aspek bisnis dalam musik. Misalnya: indie-rock, indie-pop, indie-rap, dan sebagainya. Tambahan deskriptif ini juga digunakan oleh platform musik Spotify untuk membuat playlist dari musisi-musisi Indie Indonesia – dengan judul IndieNesia.

Nggak heran lagu-lagu karya musisi indie terbilang unik dan beda dengan lagu kebanyakan – atau lagu-lagu yang biasa ada di peringkat Top 40. Hal inilah yang juga mendorong sebagian orang menganggap indie sebagai sebuah genre musik.

Idealisme Musisi dan Band Indie Indonesia

Tren musisi indie di Indonesia udah berkembang sejak era 80-an. Saat itu kemunculannya identik dengan musik punk-rock yang bergerak tanpa ada bantuan dari major label dan memproduksi musik dan karyanya sendiri tanpa terikat regulasi yang ada saat itu.

Hingga pada era 90-an, istilah indie berkembang menggantikan istilah underground. Saat ini, cukup banyak band-band indie bermunculan, menggambarkan bahwa indie memang terus berkembang di Indonesia. Seperti Sore, The S.I.G.I.T, Danilla Riyadi, dan lain-lain yang musiknya pasti udah sering lo denger.

Pastinya untuk bertahan di industri musik dengan cara yang mandiri ini terbilang susah-susah-gampang, karena biasanya hasil karya yang dipublikasikan akan lewat teman terdekat terlebih dulu dan melakukan konser sederhana ke kota-kota di Indonesia.

Tapi fenomena banyaknya musisi indie saat ini berhasil menghadirkan warna baru dalam industri musik Indonesia dan membuktikan bahwa dengan produksi dan promosi mandiri dapat bertahan di Industri musik.

Pergeseran Makna dari ‘Indie’

Band Indie Indonesia

Credit image – Outfit Styles

Pergeseran makna indie sendiri semakin jauh – nggak cuma dalam hal musik, tapi juga ke dalam gaya hidup. Seperti banyaknya orang yang menjadikan indie sebagai fashion. Pasti lo juga pernah denger kan kata-kata yang bilang; “style lo Indie banget, bro!”

Hal ini berangkat dari stigma musik indie merupakan sebuah genre dan identik dengan sore, senja, kopi, dan hal sebagainya. Padahal, indie nggak ada hubungannya dengan hal-hal tersebut!

Semua hanya menjadi stigma di masyarakat dan menganggap indie sebagai sesuatu yang menunjukan eksistensi diri – padahal sebenarnya nggak paham apa indie yang sebenarnya.

Sekarang lo udah paham kan – kalau indie itu bukan genre lagu, cuman emang gaya musik yang ditampilkan sama musisi indie emang berbeda dari musik-musik dari genre musik kebanyakan.

Kalau lo lebih suka denger yang mana nih, bro? mengingat lo lagi berkunjung ke MLDSPOT, udah jelas kalau lo penikmat jazz, kan?

 

Feature image – BlackXperience