• Hobby
  • Rentan Diretas, Militer Amerika Serikat Kandangkan Drone DJI

Rentan Diretas, Militer Amerika Serikat Kandangkan Drone DJI

Wed, 16 August 2017

Pesawat nirawak atau biasa disebut drone memang tengah marak saat ini. Mulai dari mereka yang sekadar hobi hingga fotografer profesional yang memanfaatkan drone untuk estetika pengambilan foto maupun video. Beberapa merek drone banyak beredar di pasaran seperti Parrot, Hubsan, Syma atau DJI dengan range ratusan ribu hingga belasan juta rupiah.

Salah satu merek paling populer di kalangan penggemar drone adalah DJI. Produk buatan China ini banyak digunakan baik itu oleh perorangan, perusahaan swasta hingga kalangan pemerintah. Mungkin Urbaners yang suka drone juga akrab dengan merek DJI?

Namun, penggemar DJI kini mesti wanti-wanti. Bukan tanpa alasan, pasalnya, militer Amerika Serikat melalui pimpinan tertinggi angkatan daratnya memerintahkan semua direktorat dan sub-ordinat yang dinaunginya untuk tidak lagi menggunakan drone yang diproduksi perusahaan China, SZ DJI Technology Co Ltd.

Dalam memo US Army yang dilansir VOA awal Agustus silam, alasan keamanan menjadi pertimbangan. Militer AS menilai produk-produk DJI rentan serangan siber dari pihak yang tidak bertanggung jawab. Bahkan berpotensi menjadi ancaman militer bagi AS.

Pihak militer selanjutnya meng-grounded seluruh drone, sistem, komponen, maupun perangkat lunak buatan DJI. Tindakan ini juga termasuk menghapus aplikasi, mencopot baterai dan media penyimpanan serta mengamankan peralatan yang berhubungan dengan DJI.

Langkah ini sepertinya merujuk pada hasil penelitian Army Research Laboratory dan pihak Angkatan Laut AS terhadap sejumlah produk DJI pada Mei lalu. Kedua lembaga tersebut menemukan bahwa produk asal China itu rentan terhadap serangan siber.

Menanggapi hal ini, pihak DJI mengaku terkejut. Mereka juga kecewa karena militer AS tak melibatkan pihak DJI meneliti keamanan produk. "Kami akan menghubungi militer AS untuk mengonfirmasi memo tersebut dan untuk memahami apa yang secara khusus dimaksudkan dengan 'kerentanan siber', lanjut juru bicara DJI.

Isu keamanan drone DJI ini bukanlah pertama kali. Medio 2016 silam, SZ DJI Technology Co Ltd selaku produsen dituduh bersekongkol dengan Pemerintah China. Mereka dituding menyuplai informasi pengguna ke pemerintah.

Untuk Urbaners ketahui, DJI menguasai 70 persen pangsa pasar drone secara global, termasuk pasokan untuk pihak militer. Dalam analisa yang dirilis Goldman Sachs dan Oppenheimer itu, nilai transaksi DJI diperkirakan mencapai lebih dari US$ 100 miliar. Nilai yang cukup fantastis bukan.

 

Source: Okezone.com, voanews.com

Sadar Atau Nggak: Game FIFA Membentuk Selera Musik Anak Muda!

Thu, 10 September 2020
Game FIFA jadi salah satu penentu selera musik lo

Siapa yang nggak candu kalau sudah main FIFA? Game sepakbola yang ada di konsol seperti Playstation dan lainnya ini memang jadi game yang disenangi banyak kalangan. Wajar, sepak bola sudah jadi bahasan tersendiri bagi banyak kalangan di seluruh belahan dunia ini.

Buat lo yang bahkan sampai membanting controller karena kalah, tenang – lo tidak sendirian, mungkin banyak yang seperti lo ini. Tapi itu jadi cerita menarik tersendiri saat main game FIFA. Sedari dulu, mungkin sudah ada tipe yang menyalahkan controller kalau sedang kalah.

Selain game atau permainannya menarik, sebenarnya ada hal yang terbaca sederhana, tapi ini cukup menjadi hal yang berpengaruh terhadap diri lo, khususnya di selera musik. Percaya atau tidak, FIFA jadi salah satu game yang menentukan selera musik lo.

 

FIFA Jadi Penentu Selera Musik Lo

Game FIFA jadi salah satu penentu selera musik lo

Credit Image: ea.com

Kalau dilihat dari sejarah, nih – jika mundur kurang lebih 20 tahun ke belakang, lo bisa melihat bagaimana FIFA bisa membangkitkan semangat bermain dari soundtrack yang ada. Beberapa lagu bergenre grunge dan riff gitar yang bisa buat Joe Satriani minder – berhasil membuat lo semakin pede buat menang pertandingan, walau kadang nggak menang juga, sih.

Nah, maju setahun ketika seri atau edisi FIFA 98, beberapa soundtrack berganti sehingga mungkin pada saat itu lo jadi suka Blur karena lagu ‘woo-hoos’ yang terputar saat momen loading di FIFA 98 itu. Bentar-bentar, di sini ada yang pernah main sampai FIFA 98?

Mau satu tahun lagi ketika FIFA 99 rilis dengan cover Christian Vieri sebagai pahlawan timnas Italia, pada seri ini, genre trance-elektronika sedang oke-okenya di berbagai belahan dunia. Jadilah lo bisa dengar remix Dub Pistols Sick Junkie dari ‘Gotta Learn’ oleh Danmass.

Diikuti oleh ‘Naked and Ashamed’ dari Dyan Rhymes sampai akhirnya ke ‘The Rockafeller Skank’ dari Fatboy Slim yang super nge-beat. Deretan lagu tersebut menemani lo saat gameplay memilih pergantian kesebelasan.

Terus maju ke tahun millennial, FIFA 2000 mempertahankan sentuhan musik elektronik dari versi sebelumnya dengan adanya tambahan sentuhan pop di tahun-tahun berikutnya. Pas MTV masih jadi tontonan anak muda saat itu, lagu-lagi di chart Top of the Pops ikut mewarnai gameplay FIFA.

Seiring munculnya digital sharing platforms – lagu-lagu di FIFA terasa perubahannya. Pilihan lagu seperti ‘It’s Only Us’ dari Robbie Williams atau ‘Sell Out’ dari Reel Big Fish jadi warna tersendiri di game FIFA.

Gradasi ke musik pop ini bukan tanpa alasan dilakukan oleh developer FIFA. Hal ini terkait pesaing utama mereka, Konami yang mengeluarkan Winning Eleven untuk konsol Playstation. Tahun ke tahun, gradasi musik di FIFA semakin berwarna.

Pasalnya, di FIFA 2002, DJ Tiesto ikut andil dalam pengisian musik di game sepakbola ini. Mengagetkannya lagi ketika FIFA 2004, The Dandy Warhols, DJ Sensei, Termasuk Kings of Leon sampai Radiohead dengan lagunya ‘Myxomatosis’ ikut terisi di FIFA.

Sampai pada FIFA 2005 – perkembangan musik di dalam game tersebut cukup signifikan. Dari berbagai jenis lagu yang ada – akhirnya pilihan musik FIFA mengarah ke pop-rock, dan secara tegas meninggalkan genre elektronika yang bertahun-tahun menemani para pemainnya.

Wah bagaimana nih bro? Dari deretan perkembangan lagu yang sudah disebutkan di atas dan masuk ke dalam game FIFA, apakah lo berniat buat nostalgia lagi? Kalau iya, lo mesti berburu game dengan edisi tahun-tahun seperti itu lagi, nih!

 

Feature Image – tempo.co