• Hobby
  • Fotografer Difabel Asal Indonesia yang Mendunia dengan Karyanya

Fotografer Difabel Asal Indonesia yang Mendunia dengan Karyanya

Mon, 18 December 2017
Fotografer Difabel Asal Indonesia

Pada September 2017, media besar internasional Al Jazeera mengeluarkan video berdurasi empat menit yang menyorot orang Indonesia bernama Achmad Zulkarnain. Bang Dzoel, panggilan akrab dari pria asal Banyuwangi tersebut, adalah seorang fotografer yang sekarang menjadi sorotan. Jika dilihat dari hasil jepretannya, enggak ada ciri khas khusus dibanding fotografer lain. Yang menjadi pembeda besar adalah kondisi Bang Dzoel sebagai seorang difabel, yang sejak lahir enggak punya tangan dan kaki.

Bermula dari Warnet

difabel

Kisah Bang Dzoel bermula ketika menjadi operator warung internet (warnet) di Banyuwangi. Keadaan difabel Bang Dzoel menjadikan pilihan lapangan pekerjaan lebih terbatas. Beruntung, ketika menjadi operator warnet, Bang Dzoel mendapatkan pengalaman yang cukup luar biasa. Dirinya bisa belajar untuk mengedit foto.

Enggak lama setelah andal mengedit foto, tangan Bang Dzoel gatal untuk mencoba fotografi. Selama satu tahun, Bang Dzoel menjadi fotografer rumahan dengan kamera sewaan. Baru setelah mendapatkan dukungan dari kerabat dan teman-teman sesama komunitas, Bang Dzoel memberanikan diri untuk membeli kamera DSLR secara kredit.

 

Lebih dari Sekadar Penyandang Difabel

Pada interview yang dilakukan oleh Al Jazeera, Bang Dzoel mengatakan sangat benci ketika dirinya disebut sebagai penyandang difabel. Menurut Bang Dzoel sendiri, dirinya ingin disamakan dengan orang lain, enggak perlu mendapatkan perlakuan khusus. Bahkan untuk menjepret kamera, Bang Dzoel enggak pernah menggunakan tripod sama sekali seumur hidupnya.

Untuk urusan foto, Bang Dzoel juga ingin semua orang enggak melihat siapa dirinya atau kalau dirinya cacat. Bang Dzoel mengatakan bahwa dirinya ingin agar karyanyalah yang dilihat oleh orang.

Sekarang, Bang Dzoel sudah terkenal dan mendunia. Hari-hari Bang Dzoel tetap sibuk sebagai operator warnet dan tukang foto. Selain itu, Bang Dzoel juga mengadakan workshop kamera di Banyuwangi kepada warga atau siapa pun yang ingin bergabung.

Baca Juga : Komunitas Fotografi Jakarta untuk Para Pemula

 

Source: goodnewsfromindonesia.com

Inilah Game Terbaik di Tahun 2019, Sekiro: Shadows Die Twice

Tuesday, December 31, 2019 - 15:20
Tokoh di Sekiro: Shadows Die Twice sedang melompat melemparkan senjata

Nggak sulit untuk memilih game terbaik tahun 2019. Predikat ini jatuh ke tangan Sekiro: Shadows Die Twice, game besutan FromSoftware yang juga berada di balik pembuatan Bloodborne dan DarkSouls. Ada cukup banyak alasan kenapa Sekiro: Shadows Die Twice berhak mendapatkan predikat game terbaik tahun 2019. Beberapa di antaranya bisa lo cek di bawah ini, Urbaners.

 

Cerita yang Nggak Biasa, Tapi Mudah Dipahami

Tokoh dalam Sekiro: Shadows Die Twice sedang melawan salah satu musuh menggunakan pedang

Bagi yang sering memainkan Soul Series, lo mungkin sudah terbiasa dengan jalan cerita game yang cukup sulit sehingga mengharuskan buat berpikir agak keras. Lo dituntut memberikan perhatian kepada setiap dialog dan item yang ditemukan demi bisa memahami cerita secara utuh.

Nah, hal tersebut nggak bakal lo temukan di Sekiro: Shadows Die Twice. FromSoftware justru memberikan cerita yang cukup mudah dipahami, tapi tetap menarik buat diikuti. Pada game ini, lo bakal menjadi seorang shinobi bernama Sekiro, yang berencana balas dendam ke seorang samurai karena menculik majikannya.

 

Gameplay Dinamis yang Cukup Menantang

Berbeda dari Soul Series yang juga dibuat oleh FromSoftware, Sekiro: Shadows Die Twice nggak menghadirkan sistem role-playing dan character creation. Sebagai gantinya, game berkonsep third-person action ini menggunakan sistem skill-set untuk peningkatan level karakter, yang baru bisa lo buka kalau bisa mengalahkan sejumlah musuh.

Namun, walaupun skill-set bertambah, bukan berarti lo bisa mengalahkan musuh dengan lebih mudah. Ini karena lo harus menghadapi musuh dengan strategi yang berbeda. Lo bisa dikalahkan oleh musuh dalam waktu cepat kalau lengah sedikit saja. Perubahan secara keseluruhan ini pun membuat gameplay dari Sekiro: Shadows Die Twice jadi lebih menantang.

 

Visual Grafis Memukau dengan Tampilan Khas Jepang

Dua tokoh dalam Sekiro: Shadows Die Twice saling berhadapan, dengan setting tempat khas Jepang, masing-masing membawa pedang

Sejak awal, Sekiro: Shadows Die Twice sudah tampil memukau dengan kualitas visual grafisnya yang luar biasa. Dengan tone warna yang didominasi abu-abu dan cokelat, nuansa Jepang era abad ke-16 di Sekiro: Shadows Die Twice jadi lebih terasa.

Bahkan saat setting malam hari, visual seperti hutam bambu masih terlihat cukup jelas. Nggak ketinggalan visual kastil yang terlihat begitu megah berdiri di atas lembah. Bagi yang cukup “rewel” soal visual grafis saat main game, sepertinya Sekiro: Shadows Die Twice nggak bakal mengecewakan lo.

 

Sekiro: Shadows Die Twice sudah dirilis sejak Maret 2019 lalu. Nggak ada kata terlambat buat ikut main game tersebut. Lo bisa memainkannya di Xbox One, PlayStation 4, atau platform Microsoft Windows!

 

 

Sources: media.skyegrid.id, gamebrott.com