Papermoon Puppet Beri Jiwa Pada Obyek Biasa

Selama ini, kalau dengar soal boneka, hal yang pertama terlintas mungkin mainan anak-anak. Namun, bagi Papermoon Puppet, hal itu diperluas lebih jauh. Kini, boneka bisa dijadikan medium bercerita, berkarya, dan berkesenian. Melalui instalasi seni visual, Papermoon Puppet mengeksplorasi identitas dan nilai-nilai dalam masyarakat.

“Buat gue dan tim Papermoon Puppet, boneka adalah media yang bisa menyampaikan pesan yang dengan mudah diterima oleh semua kalangan. Kenapa anak-anak senang dengan boneka? Karena boneka bisa ‘bercerita’ dan ternyata perasaan ini nggak terbatas pada anak-anak tapi juga orang dewasa,” jelas Iwan Effendi, Co-Artistic Director dari Papermoon membuka cerita.

 

Teater Boneka Kontemporer yang Mendunia

Suasana di Rumah Papermoon Puppet di Yogyakarta

Papermoon Puppet didirikan pada 2006 di Yogyakarta oleh Maria Tri Sulistyani yang kemudian dikembangkan bersama Iwan Effendi, serta kolaborator-kolaborator lain, seperti Anton Fajri, Pambo Priyojati, dan Beni Sanjaya. Lebih kurang sudah 20-an pertunjukan yang diisi oleh Papermoon Puppet di lebih dari 10 negara. Sejak 2008, Papermoon Puppet menghelat pesta boneka internasional yang diadakan dua tahun sekali. “Tujuannya nggak lain untuk saling berbagi karya di seluruh komunitas seniman boneka di seluruh dunia,” tambah Iwan.

Sudah 14 tahun Papermoon Puppet berdiri, sejauh ini lingkup pekerjaan yang dilakukan Iwan dan teman-teman adalah menciptakan pertunjukan boneka dengan tema kontemporer, menggelar pameran instalasi, serta terlibat proyek kolaborasi lintas disiplin. “Gue dan tim juga kerap menjadi pembicara atau pemberi materi workshop terkait boneka dan pembuatan boneka,” tambah Iwan lagi.

 

Boneka Baru untuk Setiap Cerita

Studio pembuatan boneka Papermoon Puppet

Ternyata nih Urbaners, setiap boneka merepresentasikan sebuah cerita dalam suatu pertunjukan. Jadi, hampir nggak pernah Papermoon Puppet menggunakan boneka yang sama untuk beberapa cerita. Satu seri boneka memang dikhususkan untuk merepresentasikan naskah pertunjukan.

Misalnya saja pertunjukan dengan judul “Noda Lelaki di Dada Mona” yang pertama kali dipentaskan di tahun 2008. Naskah ini bercerita tentang seorang pemilik binatu yang jatuh cinta dengan pelanggannya. Kemudian ada juga “Mwathirika” yang mengambil latar peristiwa 1965 dengan konsep emosional dan storytelling.

Buat lo yang penasaran material apa yang digunakan tim Papermoon Puppet untuk membuat boneka-bonekanya, jawabannya adalah macam-macam. Mulai dari kertas rotan, kayu, koran, dan lain-lain. Iwan bercerita kalau material dari boneka-boneka Papermoon mudah didapat, pertimbangan ini dilakukan supaya kalau rusak, bisa dengan cepat diperbaiki. Sejauh ini sudah ada 100-an koleksi boneka Papermoon Puppet. Soal perawatan, nggak ada yang terlalu signifikan, hanya saja boneka yang rentan dimasukkan ke lemari kaca.

 

Dari Yogyakarta untuk Dunia

Bisa dibilang teater boneka di Indonesia masih jarang, apalagi dengan konsep kontemporer seperti yang dilakukan oleh Papermoon Puppet. Pembeda lainnya adalah dalam pertunjukannya, orang yang menggerakkan boneka dapat terlihat di panggung, bahkan juga menggunakan kostum, dan menunjukkan mimik seperti yang dilakukan boneka. Unik banget kan?

Konsep Papermoon berbeda dengan pertunjukan boneka lainnya. Pada Papermoon, orang yang mengendalikan boneka juga terlihat.

Keunikan dan konsep nggak biasa inilah yang membuat Iwan dan teman-teman melanglang buana keliling dunia. Seperti awal Maret lalu, tim Papermoon Puppet mengisi pertunjukan di Wakabacho Wharf di Yokohama Jepang. Nggak hanya melakukan performance, tim Papermoon Puppet juga kerap menjalani residensi ke luar negeri. Residensi dilakukan untuk saling bertukar ilmu, kebudayaan, dan karya yang pada akhirnya memberikan inspirasi untuk menghasilkan karya-karya yang lebih andalan lagi. Beberapa lokasi residensi mereka adalah University of New Hampshire, The Museum of Art Kochi Jepang, Manila Contemporary, Koganecho Area Management Center, dan sentra-sentra kesenian dunia lainnya.

 

Merasakan Emosi Penonton

Pengendali boneka harus memberikan “nyawa” kepada boneka untuk keutuhan penyampaian cerita

Setiap pertunjukan yang dilakukan pasti meninggalkan kesan dan cerita yang mendalam. Namun, bagi Iwan, hal yang paling ia sukai dari setiap pertunjukannya adalah menyaksikan langsung bagaimana emosi dan keterlibatan penonton. “Pertunjukan Papermoon Puppet begitu mengaduk-aduk perasaan, terkadang membuat gue terkenang masa kecil, dan menyindir rasa kemanusiaan,” kata Intan salah seorang penonton yang pernah menyaksikan salah satu karya Papermoon, “Letters to the Sky”.

Keunikan atau daya tarik Papermoon Puppet memang dari penyajian pertunjukan visual yang tanpa dialog. Gerakan yang mendetail dan tema-tema sederhana nan membumi yang membuat penonton sangat dekat dengan tontonan tersebut. Dalam pembuatan karyanya, Papemoon Puppet memang sangat maksimal, Urbaners! Prosesnya panjang banget, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, setiap naskah memiliki cerita yang berbeda. Dan dalam penggarapan naskah tersebut dilakukan riset yang mendalam, baik wawancara maupun riset tertulis. Barulah ketika naskah selesai, akan dilakukan pembuatan boneka, latihan pemain, pembentukan setting dan kelengkapan-kelengkapan lainnya.

Riset sangat penting dalam setiap penggarapan naskah. Riset jugalah yang nantinya menyatukan cerita, profil boneka, dan yang mengendalikan boneka.

Setidaknya butuh waktu 6 bulan untuk mempersiapkan karya baru sedangkan karya lama setidaknya sebulan. Karya lama pun walaupun sudah dipentaskan berulang kali tetap butuh waktu untuk perenungan untuk memperbaiki apa yang perlu diperbaiki. “Modifikasi karya lama itu penting, supaya walaupun pengulangan feel-nya tetap maksimal,” terang Iwan lagi.

Sebelum menutup perbincangan, Iwan sempat menghaturkan perasaan mengenai passion-nya di pertunjukan teater boneka. Ini terutama perasaan bahagia ketika emosi yang ingin disampaikan benar-benar tersampaikan. “Setiap kali pertunjukan, gue dan teman-teman selalu beranggapan kalau kami adalah satu kesatuan dengan boneka, dan emosi inilah yang kami tekankan. Jangan sampai perhatian penonton jadi terpecah,” tutup Iwan.

Penasaran dengan Papermoon Puppet? Lo bisa cari tahu lebih banyak mengenai kegiatan dan jadwal pertunjukan mereka di @papermoonpuppet!