Keresahan Strolling Bastard, Ungkap Perasaan Para Pesepeda di Jalanan

Seiring dengan himbauan untuk menghindari olahraga dengan massa besar, kini banyak orang beralih ke olahraga lari atau bersepeda untuk menjaga kesehatan. Meningkatnya minat bersepeda juga berbanding lurus dengan tumbuhnya komunitas pesepeda di setiap kota di Indonesia, termasuk salah satunya komunitas Strolling Bastard dari kota Malang. Yuk, kenalan lebih jauh sama komunitas penuh anak muda ini!

 

Resah Nggak Bisa Nongkrong

Berangkat dari keresahan yang sama, lima orang pencetus Strolling Bastard, yakni Emil, Brian, Wahyu, Gatranaya, dan Ali Topan sepakat untuk mengisi waktu dengan bersepeda bersama di tengah kesibukan masing-masing. Keresahan ini bermula dari ditutupnya beberapa tempat nongkrong yang bisa mereka datangi bersama.

"Setelah ngobrol di grup salah satu aplikasi messenger, kami memutuskan untuk bersepeda di hari Senin malam," ungkap Ali Topan. Dengan agenda bersepeda, mereka akhirnya masih bisa bertemu, meski bukan lagi untuk nongkrong. Malah dengan bersepeda, pertemuan mereka jadi bonus sehat, dan bikin pikiran refresh setelah penat beraktivitas.

Sebelum bersepeda jadi booming, Strolling Bastard pelan-pelan bertambah peminatnya

Sejak awal, Strolling Bastard memang nggak pernah berniat menjadikan kelompok ini komunitas olahraga. Menurut mereka, bersepeda itu adalah apa saja, termasuk gaya hidup, mode, sarana transportasi, cerminan pribadi, dan lain sebagainya.

"Ketika bersepeda, kami juga celometan atau istilahnya berkomentar dengan suara keras di sepanjang jalan. Karenanya kami memilih nama Strolling Bastard," ungkap Topan.

Bukan tanpa alasan mereka celometan. Di Malang memang ada banyak pasangan yang sering duduk dan bermesraan di bangku-bangku yang disediakan pemerintah kota untuk para pejalan kaki beristirahat. Strolling Bastard yang merasa jengah, beberapa kali menyindir pasangan-pasangan itu sambil lewat saat bersepeda.

 

Dari Kelompok Kecil Jadi Komunitas

Belum sampai satu tahun, peserta Strolling Bastard sudah membludak

Di pekan pertama, Strolling Bastard bersepeda hanya dengan lima kawan saja. Namun, seiring berjalannya waktu, tiap minggunya masing-masing dari mereka ada saja yang mengajak temannya untuk ikut bergabung. Jumlah kawanan Strolling Bastard pun bertambah banyak. "Dari 5, jadi 8, 15, 20, 25, 30 dan terus naik, hingga sempat suatu waktu kami gowes bareng dengan 200 pesepeda," kenang Topan.

Strolling Bastard sendiri bukan komunitas untuk salah satu jenis sepeda saja. Mereka nggak membatasi atau menetapkan aturan jenis sepeda yang boleh bergabung. Style masing-masing peserta pun nggak diatur. Pakaian dan sepatu untuk bersepeda adalah hak masing-masing orang untuk memilih sendiri.

"Kami ingin mereka yang ikut gowes bisa menjaga keamanannya masing-masing, karena kita semua ‘kan sudah dewasa. Kalau di Strolling Bastard, yang selalu kami wajibkan adalah sepeda harus dilengkapi lampu belakang. Karena kami bersepeda di malam hari, lampu belakang ini sangat penting, agar orang di belakang kita tahu keberadaan kita," papar Topan.

 

Keresahan Para Pesepeda di Kota Malang

Para pesepeda Strolling Bastard saat sedang berkunjung ke rumah Wakil Walikota Malang

Makin maraknya kegiatan bersepeda, makin sering pula terdengar selentingan tak menyenangkan dari pihak lain. Strolling Bastard pun pernah kena sindir di media sosial karena dianggap mengganggu lalu lintas.

"Sebisa mungkin, Strolling Bastard bersepeda sesuai aturan di jalanan. Jika ada yang ternyata tidak mematuhinya, mungkin dia jauh dari pantauan teman-teman pengawas. Jumlah yang membludak kadang bikin kewalahan untuk mengatur," ungkap Topan.

Pada teorinya, Strolling Bastard selalu memberikan pengarahan terlebih dahulu sebelum rombongan berangkat. Mereka juga dibekali dengan aturan standar bersepeda di jalanan. Bahkan di bagian depan, tengah, sampai belakang, ada pengawas yang biasanya adalah anggota lama.

"Kami sempat bersilaturahmi ke kediaman bapak Wakil Walikota Malang dan disambut baik. Beliau bahkan sempat ikut kami bersepeda sebelum akhirnya finish di rumahnya. Kami sempat membahas tentang jalur khusus pesepeda yang sebenarnya sudah ada petanya sejak periode kepemimpinan sebelumnya," tutur Topan.

Meski hingga hari ini pemerintah kota masih belum juga menunjukkan tanda-tanda akan mewujudkan jalur pesepeda itu, tapi teman-teman Strolling Bastard nggak pernah lelah untuk mengingatkan, karena ini merupakan keresahan bersama para pesepeda di kota Malang.

 

Tetap Strolling di Tengah Pandemi

Pandemi nggak menyurutkan semangat Strolling Bastard, hanya jumlah peserta dan protokol saja yang berubah

Pandemi COVID-19 membuat Strolling Bastard terpaksa harus menghentikan kegiatan rutin mereka di setiap Senin malam. Namun, mereka tetap menyemangati para anggota untuk bersepeda demi menjaga kesehatan dan tetap fit. Meski nggak bisa bersama-sama, anggota komunitas Strolling Bastard tetap bersepeda dalam kelompok kecil, atau bahkan sendirian.

"Kami mengadakan kompetisi Strava Art. Dengan begitu, bersepeda tetap seru meskipun nggak beramai-ramai. Maksimal ada 5 orang dalam satu kelompok yang ikut tantangan ini," ungkap Topan. Strava Art sendiri bukan hal yang mudah dilakukan. Itulah kenapa bersepeda jadi tetap seru, bahkan meski sendirian. Tiap orang harus bisa membuat gambar dari jalur sepeda yang mereka lewati. Mereka juga punya hadiah untuk pesepeda dengan jalur yang paling unik.

"Ada tema di setiap tantangan Strava Art. Tapi memang agak ribet dilakukan, karena selama pandemi ini ada banyak jalan ditutup, sehingga sebelum menentukan jalur hingga membentuk sebuah gambar, tiap pesepeda haru melakukan survei dulu, apakah jalur yang mereka pilih itu bisa dilewati," papar Topan.

 

Cita-Cita Mulia Strolling Bastard

Berharap pandemi segera berlalu, Strolling Bastard siap mengayuh sepeda bersama lagi

Dengan bersepeda, selain sebagai sarana transportasi, gaya hidup, dan juga kesehatan, kita jadi bisa lebih menaruh perhatian pada kondisi di sekeliling kota. Sepeda yang lebih lambat ketimbang kendaraan bermotor, membuat pengendaranya punya banyak waktu melihat kanan kiri.

"Suatu ketika, kami bertemu dengan bapak pedagang tua yang berjualan dengan sepeda. Kami melihat sepeda yang dipakainya tampak sudah aus dan susah dipakai menanjak. Nah, dari situ muncul ide untuk bikin semacam 'pimp my ride' gitu," ungkap Topan. Mereka ingin berbagi kebaikan dengan memperbaiki sepeda para pedagang yang sudah tak layak pakai, agar lebih aman dan nyaman dikendarai.

Nah, doakan saja cita-cita mulia Strolling Bastard ini bisa segera terwujud ya, Bro. Buat lo yang berada di daerah Malang, lo bisa langsung gabung dengan Strolling Bastard. Caranya, DM aja Instagram mereka di @strolling.bastard dan pantau terus keseruannya!