Tektok Team Bawa Pendakian Gunung to The Next Level

Naik gunung kemudian camping 2-3 hari mungkin udah jadi hal yang biasa. Tapi, pernah nggak lo kepikiran untuk naik turun gunung dalam satu waktu alias tektok? Nah, komunitas Tektok Team punya ambisi itu. Mereka mempopulerkan konsep tektok, di mana lo bisa mendaki gunung dan turun kembali tanpa perlu menginap sama sekali.

“Kerja di Jakarta kadang bikin gue nggak punya banyak waktu untuk mendaki gunung, kecuali weekend. Pendakian konvensional butuh waktu minimal 2 hari 1 malam, belum termasuk perjalanan dari Jakarta, makanya gue kepikiran untuk tektok saja,” terang Sulham, founder dari Tektok Team.

 

Semeru Pendakian Tektok Pertama

Sulham bercerita, tanggal 9 September 2014 adalah tanggal berdirinya Tektok Team. Pada hari itu, Tektok Team merayakan pendakian tektok pertama mereka, yaitu di Gunung Semeru. Walaupun sempat nggak direkomendasikan oleh teman-temannya, tapi tim Sulham menjalani riset mendalam, mulai dari persiapan, prosedur keselamatan, hingga akhirnya mereka berhasil melakukan tektok gunung dengan selamat. “Pas pendakian pertama itu timnya 8 orang, cukup gila dan punya mental baja untuk tektokkan Semeru, secara Semeru atapnya Pulau Jawa dan masuk salah satu dari seven summits,” cerita Sulham.

Prinsip Tektok dalam pendakian, boleh istirahat tapi nggak boleh berleha-leha karena ada waktu yang dikejar

Kalau lo masih bingung pendakian tektok itu seperti apa, penjelasan gampangnya adalah pendakian tanpa camping dan tidur pun dilakukan dengan power nap di trek. Pendakian ini butuh persiapan yang sedikit berbeda dengan pendakian mainstream lainnya. Ada persiapan fisik (latihan fisik rutin), perlengkapan yang lebih ringan dan taktis, serta pola pergerakan khusus di trek.

 

Belum Ada Standar untuk Tektok

Menurut Sulham, tantangan melakukan pendakian tektok adalah belum adanya standar yang bisa jadi pedoman, sehingga setiap pendakian mau nggak mau jadi ajang uji standar dan riset untuk pengalaman berikutnya. Dari riset-riset ini kemudian mereka menyusun SOP untuk pendakian-pendakian di gunung lain.

Tantangan lainnya adalah mental pendaki. Dalam pendakian tektok, lo dituntut memiliki stamina fisik yang gahar banget. Kalau nggak, lo bakal sangat drop dan kelelahan, hal ini bisa berbahaya di tengah pendakian. “Makanya dalam setiap persiapan pendakian, para leader akan terus membentuk mental anggota-anggotanya agar bisa bertarung melawan kelelahan dan membangun pola pikir yang positif untuk bisa mengalahkan rasa lelah dan energi negatif di masa-masa kritis,” cerita Sulham.

Hakikat naik gunung menurut Tektok Team adalah untuk menghilangkan stres dan racun media sosial. Kembali ke alam.

Bercerita soal kenikmatan dari pendakian tektok, Sulham menekankan pada kepuasan pertarungan melawan diri sendiri. Di saat fisik lelah maksimal, otak sudah memberikan perintah untuk berhenti, di saat tenaga terkuras, lo terus bergerak dengan modal mental dan motivasi positif dari diri sendiri dan tim. “Batas fisik anggota berbeda, jadi pertarungannya juga ada di level yang beragam,” tambahnya. 

Selain kenikmatan yang disebutkan tadi, Sulham juga nggak meluputkan esensi sejati dari pendakian gunung tektok, yaitu menyatu kembali dengan alam. Walaupun ada batasan waktu, tapi Sulham dan teman-temannya tetap meluangkan waktu untuk beristirahat, menikmati keindahan gunung, serta mengambil beberapa memento berupa foto.

 

Dari Gunung ke Gunung

Mulai melakukan tektok sejak tahun 2014, Tektok Team kemudian beranjak mendaki gunung-gunung lain, terutama di Pulau Jawa. Gunung Raung, Salak, Sindoro, Sumbing, Kerinci, Gede, Pangrango, dan Argopuro adalah sedikit di antara sekian banyak gunung yang sudah berhasil ditaklukkan oleh komunitas ini. Tanpa menginap, mereka berhasil naik-turun dengan selamat.

Di momen-momen nasionalis mereka juga kerap mengadakan upacara bendera saat mencapai puncak

Menurut pengakuan Sulham, Gunung Raung menjadi pengalaman pendakian tektok yang paling sulit. Selain memang mendapatkan predikat gunung terekstrim di Pulau Jawa, mendaki Gunung Raung membutuhkan keahlian climbing di atas rata-rata. Fisik juga harus prima supaya nggak kehilangan konsentrasi pada saat menempuh jalur-jalur berbahaya.

“Kalau hilang konsentrasi sepersekian detik saja, akibatnya bisa fatal,” tambah Sulham lagi. Karena itulah, persiapan pendakian tektok Raung nggak main-main. Tektok Team butuh waktu hingga dua bulan untuk latihan fisik dan climbing di wall beberapa kali sebelum keberangkatan.

Dari semua gunung, masing-masing anggota pastinya punya kesan sendiri. “Kalau buat gue, Salak adalah gunung yang paling sering didaki karena selain dekat, aksesnya juga mudah. Saking seringnya ke Salak, gue dan tim udah summit di 7 dari 11 puncak di sana. Masa-masa kami mengeksplorasi Salak waktu itu masih minim informasi, hanya dengan modal peta dan jam sport,” terang Sulham.

Tentu saja kedekatan bukan menjadi satu-satunya alasan. Gunung Salak menjadi spesial karena eksplorasi maksimal memungkinkan Tektok Team untuk menjadikannya obyek riset utama. Karena seringnya mereka melakukan pendakian tektok ke Gunung Salak, mereka bisa menyempurnakan pedoman dan SOP dalam bertektok ria.

Bagi Sulham, pendakian tektok jadi lebih seru karena butuh persiapan ekstra dan nggak banyak memakan waktu. Ada kepuasan tersendiri saat mereka berhasil mematahkan common sense; nggak mungkin mendaki gunung—terutama seven summit Indonesia, dengan cara tektok. “Tapi ternyata bisa kok. Gunung Kerinci, Rinjani, Latimojong, dan Semeru adalah empat dari seven summit Indonesia yang bisa dijajal dengan tektok. Sama halnya seperti Argopuro yang merupakan trek terpanjang di Pulau Jawa dengan pendakian normal 5 hari 4 malam,” cerita Sulham lagi.

 

Jangan Mendaki karena Konten

Masing-masing anggota Tektok punya gunung favoritnya sendiri, salah satu pertimbangannya juga pas mendaki dengan tim yang mana

Ada dua filosofi pendakian di Tektok Team. Pertama, “Kalau Ragu, Pulang Saja”. Karena naik gunung bukan untuk coba-coba, persiapkan diri semaksimal mungkin. Kedua, “It’s all about conquering yourself”. “Bukan gunung yang kita taklukkan, tapi diri sendiri,” tegas Sulham.

Bertolak-belakang dengan filosofi Tektok Team, ada tren latah di mana banyak orang mendaki gunung demi eksis. Sebagian pendaki ingin membuat konten menarik, ikut-ikutan teman, atau karena melihat postingan medsos tentang gunung. “Bahayanya adalah, banyak dari mereka nggak mengerti tentang prosedur keamanan dalam pendakian. Bahkan mereka nggak memiliki peralatan pribadi yang diperlukan dalam pendakian, sehingga memperbesar potensi kecelakaan atau jatuh korban di gunung,” komentar Sulham.

Karena itu, Sulham dan Tektok Team memberi saran, sebelum melakukan pendakian, lo harus meluruskan mindset terhadap pendakian. Mendaki gunung itu bukan rekreasi atau liburan, tapi olahraga ekstrim, jadi yang harus disiapkan juga untuk olahraga, bukan rekreasi. “Jadilah pendaki mandiri yang bergantung hanya pada diri sendiri. Karena pendakian itu sangat dinamis, ada kemungkinan lo bisa terpisah dari rombongan,” pungkas Sulham.

Tertarik untuk melakukan pendakian? Sulham merekomendasikan Gunung Papandayan, Guntur, Sanggarbuana, Kencana, Bongkok, Parang, Lembu, dan Andong kalau lo ingin mencoba tektok pertama kali. Tapi, sebelum itu, jangan lupa konsultasi dan tanya-tanya soal tips pendakian tektok di akun Instagram @tektok_team!