Ali Vikry Ketagihan Potret Bumi dari Angkasa

Hi, Urbaners! Lo pasti udah nggak asing dengan aerial photography atau fotografi udara, yakni teknik mengambil gambar dari udara. Teknik fotografi udara pertama kali diperkenalkan oleh Felix Tournachon di tahun 1858. Saat itu, fotografer asal Prancis tersebut mengambil gambar melalui balon udara. Di tahun-tahun berikutnya, beberapa fotografer mencoba untuk mengambil gambar dari udara menggunakan burung merpati, pesawat, helikopter, helicam, hingga yang terbaru menggunakan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau seringkali disebut dengan drone.

Nah, di tangan Ali Vikry, pilot drone yang hobi fotografi, drone menjadi perangkat yang bisa menghasilkan foto yang fantastis! Yuk, simak di sini proses kreatifnya!

 

Membidik Bumi dari Angkasa

Foto Candi Borobudur yang diambil menggunakan drone

Sebelum menggeluti Drone Aerial Photography, Ali Vikry memang sudah memiliki hobi fotografi. Untuk menjalankan hobinya, Ali biasa memotret objek menggunakan Digital Single Lens Reflex atau biasa dikenal dengan DSLR. Kurang puas dengan hasil jepretan DSLR, Ali mencari cara memotret lain, salah satunya membidik objek foto menggunakan bantuan drone.

Saat itu, masih belum banyak yang mengetahui tentang Drone Aerial Photography di Indonesia, sehingga Ali hanya bisa mempelajari teknik-tekniknya melalui YouTube. Setelah melihat beberapa foto hasil jepretan dari drone, ia semakin tertarik untuk menggeluti fotografi udara. Sejak tiga tahun lalu, ia pun mulai belajar menjadi pilot drone. 

Awalnya, Ali menggunakan drone mainan untuk mengenal tombol standar dan latihan mengendalikan drone dengan baik. Ia membutuhkan waktu sekitar satu bulan untuk mempelajari dasar mengendalikan drone. Dimulai dari menerbangkan drone, membuat drone bergerak, hingga menurunkan drone. Setelah merasa mampu mengendalikan drone mainan, ia naik tingkat ke drone semi profesional. Tiga bulan kemudian, ia baru benar-benar berani menggunakan drone profesional yang biasa digunakan untuk fotografi udara.

Latihan panjang mengendalikan drone ternyata membuahkan hasil yang memuaskan bagi Ali sekaligus penikmat hasil bidikannya. Saat lo melihat foto karya Ali, lo bakal merasa melihat bumi dari sudut pandang seekor burung. Menggunakan DJI Mavic 2 Pro dan DJI Mavic 2 Zoom Ali berhasil membidik objek foto yang lebih luas dan mengesankan dari angkasa. Hasil bidikan pun beragam, mulai dari objek wisata yang lekat dengan pemandangan alamnya, keramaian jalanan Jakarta, arsitektur kota, hingga arsitektur sebuah bangunan yang diabadikan dari ketinggian.

Ali butuh latihan bertahun-tahun sampai mahir mengendalikan drone

Nggak hanya mendapat apresiasi dari pengikut sosial medianya, beberapa hasil bidikan Ali pun beberapa kali dinobatkan menjadi foto terfavorit dan memenangkan perlombaan. Foto Ali yang mengabadikan akses menuju New Port Container Terminal 1 Tanjung Priok berhasil menjadi juara pertama dalam kompetisi foto infrastruktur cepat di tahun 2019. Selain itu, Ali juga berhasil menjadi juara 2 dalam lomba Drone Photography Bekasi Cyber Park dan juara pertama dalam lomba Fotografi Jakarta Garden City Property Expo kategori arsitektural.

 

Tantangan Memotret dengan Drone

Meskipun sudah menjadi pilot drone yang profesional, ada saatnya membidik bumi dari angkasa menjadi hal yang sulit dilakukan oleh Ali. Hingga sekarang, cuaca dan kecepatan angin menjadi kendala utama dan tantangan berat bagi Ali. “Terlalu banyak angin biasanya bikin hasil foto nggak jernih dan kurang maksimal untuk memperlihatkan efek dramatis,” ungkapnya.

Fotografi udara New Port Container Terminal 1 Tanjung Priok yang memenangkan lomba Infrastruktur Cepat tahun 2019 (Sumber gambar: instagram @alivikry)

Selain faktor cuaca dan angin, lo yang ingin mencoba menggeluti Drone Aerial Photography juga harus bisa mengatasi beberapa kendala lain. Pertama, lo harus mengetahui zona-zona yang terkait dengan izin drone. Lo harus tahu di mana zona bebas menerbangkan drone, zona bebas menerbangkan drone dengan ketinggian tertentu, dan zona drone dilarang terbang. “Ini penting banget, supaya drone kita tetap dalam kondisi aman dan nggak membahayakan atau mengganggu orang lain,” kata Ali.

Hal penting yang kedua, lo harus menguasai sekeliling objek bidikan untuk menentukan sudut paling menarik dan pencahayaan yang tepat. Untuk mendapatkan pencahayaan yang bagus, lo bisa memotret di siang atau sore hari. Kalau lo pengen memotret di malam hari, lo bisa memilih objek yang memiliki banyak lampu, seperti gedung pencakar langit atau taman yang dihiasi dengan lampu-lampu.

Terakhir, karena drone memiliki keterbatasan waktu hidup, lo harus bisa mengatur waktu mulai dari drone take off, menentukan lokasi untuk membidik, hingga membuat drone landing dengan selamat sebelum kehabisan daya. Tentunya, sebelum hunting foto, jangan lupa untuk selalu mengecek baterai/daya drone dalam keadaan penuh.

Fotografi udara Pos 3 Merbabu dengan pemandangan Gunung Merapi (Sumber gambar: instagram @alivikry)

Buat lo yang suka fotografi dan penasaran untuk coba Drone Aerial Photography, Ali menekankan pentingnya belajar drone secara bertahap. Seperti yang ia lakukan, sebaiknya lo belajar mengendalikan drone mainan yang harganya lebih terjangkau. Jika sudah percaya diri, baru naikkan tingkat latihan ke drone semi profesional. Berikan waktu sampai lo benar-benar terbiasa, sebelum akhirnya mencoba mengutak-atik drone profesional. Soalnya, drone profesional punya harga yang lebih tinggi, sayang kalau nantinya malah hilang atau nyasar, kan?

“Semakin sering latihan memotret pakai drone, pasti akan semakin tahu teknik yang terbaik untuk mengambil angle. Kalau merasa gambar yang dihasilkan belum maksimal, menurut saya, cobalah berlatih di tempat yang anginnya nggak terlalu kencang,” saran Ali.

Nah, untuk menambah inspirasi dan mengetahui sudut yang bagus buat foto, lo bisa melihat hasil bidikan Ali di Instagram-nya @alivikry. Selamat mencoba Drone Aerial Photography!