Cerita Dicky Senda Wujudkan Ekonomi Kreatif di Mollo, Nusa Tenggara Timur

Merantau dari kampung halaman untuk kembali ke kampung halaman. Itulah yang dilakukan Dicky Senda, seorang sastrawan, guru,  dan sociopreneur kreatif yang merintis komunitas bernama Lakoat.Kujawas di Desa Taiftob, Pegunungan Mollo, Nusa Tenggara Timur. Ada beragam aktivitas dilakukan komunitas ini, mulai dari membuka perpustakaan warga, ruang kesenian anak, ruang arsip seni budaya dan sejarah Mollo, produksi olahan hasil pertanian, jasa ekowisata, hingga model kewirausahaan sosial. Yuk, simak di sini cerita lengkapnya!

 

Membangun Kampung Halaman

Lakoat.Kujawas mengadakan ragam kegiatan salah satunya adalah mengolah sumber daya kuliner lokal dan memperkenalkannya secara luas

“Jujur saya merasa berjarak dengan kampung halaman saya sendiri,” Dicky membuka percakapan. Menurut Dicky, ada banyak pengetahuan dan informasi terkait sejarah budaya dan kesenian Mollo yang hilang atau terputus di satu generasi, sehingga nggak bisa diteruskan kepada generasi baru.

Pendidikan formal di sekolah juga nggak membantu sama sekali. “Saya dan teman-teman di kampung halaman belajar banyak hal dari luar, menguasai pengetahuan tentang berbagai tempat di luar sana, tapi kami sebenarnya buta sama sekali dengan sesuatu yang menjadi tempat dan asal kami, termasuk budaya dan identitas,” kata alumni Psikologi Mercu Buana Yogyakarta ini.

Ternyata Dicky nggak sendiri, Bro. Banyak kawan-kawan dari generasi muda Timor Barat hari ini yang mengalami jarak atau gagap ketika berbicara identitas diri dan kebudayaan mereka. Identitas kampung kosong sama sekali, identitas baru dari luar juga hanya tempelan atau di permukaan saja. Di momen inilah, akhirnya Dicky memutuskan untuk kembali ke kampung halaman dan berbuat sesuatu.

 

Misi Membangun Manusia

Lakoat.Kujawas kerap kedatangan relawan anak muda yang membantu aktivitas edukasi

Dicky kemudian mendirikan proyek Lakoat.Kujawas untuk misi yang sederhana, yaitu menjadi jembatan bagi generasi muda Timor (khususnya di Mollo) untuk berjumpa dengan realitas sejarah, kebudayaan, dan kesenian kampung halamannya. Ada banyak ruang dan kesempatan yang sebenarnya hilang dari peradaban orang Mollo hari ini, mulai dari ruang budaya, pesta adat, festival, sekolah adat, tradisi tutur, dan lain-lain.

Karena itulah, Lakoat.Kujawas bermimpi bisa merevitalisasi hal-hal tersebut. Dicky ingin menghidupkan kembali ruang dan tradisi sehingga ada alasan bagi generasi muda untuk tahu, belajar, bangga dan merasa memiliki terhadap tanah kelahirannya. “Yang ditumbuhkan di Lakoat.Kujawas adalah semangat kerja kolaborasi dan solidaritas antar warga aktif (active citizens). Ini dilakukan dengan melibatkan elemen-elemen penting di kampung, mulai dari gereja, sekolah, pemerintah desa, tokoh adat, kelompok tani, perempuan, kamu disabilitas, orang muda, dengan anak sebagai titik tengah,” papar Dicky.

Sejatinya nih, fokus Lakoat.Kujawas memang lebih banyak ke anak-anak, perempuan dan disabilitas. Lakoat.Kujawas punya semangat membangun manusia yang lebih inklusif dengan berbagai gerakan kreatif dalam bidang seni budaya dan ekonomi kreatif, usaha sosial produk-produk pertanian, dan jasa ekowisata.

 

Perjalanan Panjang Lakoat.Kujawas

Lakoat.Kujawas kerap kedatangan peneliti, penulis, ataupun pekerja kreatif lainnya

Berdiri sejak 10 Juni 2016, sejauh ini sudah ada banyak inisiatif yang dilakukan oleh Lakoat.Kujawas. Program awalnya adalah adalah perpustakaan warga. Saat itu Dicky baru pulang dari Yogyakarta dan Kupang dengan membawa banyak koleksi buku bacaan. Memanfaatkan ruang-ruang kosong di rumahnya, Dicky pun mulai membuka perpustakaan.

Berawal dari aktivitas baca dan pinjam buku, muncullah kelas-kelas kreatif seperti tari, musik, teater, dan bahasa Inggris di tahun pertama. Masuk tahun kedua, Dicky memulai kelas menulis kreatif To the Lighthouse yang berkolaborasi dengan ekosistem warga aktif, yaitu SMPK St. Yoseph Freinademetz. Program kolaborasi kelas menulis ini pun masuk dalam program ekstrakurikuler di sekolah. Dicky bercerita, sejak awal banyak sekali relawan muda dari kota terdekat yang terlibat sebagai relawan pengajar, dari Soe, Kapan, sampai Kupang. Setiap weekend, kawan-kawan relawan muda Timor datang membagi waktu, ilmu, dan berkontribusi pada komunitas.

Seiring berjalannya waktu, Dicky kemudian menggagas program residensi kesenian Apinat-Aklahat. Ini adalah sebuah program terbuka untuk seniman dalam dan luar Indonesia, baik yang bergelut di bidang musik, tari, teater, fotografi, film, arsitek, maupun penulis. “Belakangan dibuka juga kesempatan untuk petani, food activist, dan peneliti. Orangnya datang dengan biaya sendiri dan kami menanggung akomodasi selama di Mollo. Bisa seminggu hingga sebulan,” tambah Dicky.

Lewat program ini, diharapkan ada ruang dialog, kerja kolaborasi, pertukaran ide dan gagasan antara seniman tamu dengan seniman lokal atau pelajar dan warga pada umumnya. Sejauh ini Lakoat.Kujawas sudah kedatangan enam seniman dari Australia, UK, Makassar, Yogyakarta, Madura, dan Polandia.

 

Pengarsipan dan Heritage Trail

Lewat pengarsipan Dicky dan teman-teman menemukan warisan kuliner dan kerajinan dari kampung halamannya yang bisa dikembangkan

Di tahun 2017, Dicky bersama teman-teman komunitas aktif membangun ruang arsip dengan banyak melakukan aktivitas riset, pengarsipan, pemetaan berbagai hal terkait sejarah, budaya, seni, pertanian, dan kuliner Mollo. Dua tahun kemudian, ia mulai serius mengembangkan kewirausahaan sosial dengan memproduksi dan menjual produk tenun dan olahan hasil pertanian, juga jasa ekowisata. Ini adalah efek lanjutan dari kerja pengarsipan.

Dalam perjalanan pengarsipan, Dicky dan teman-teman menemukan berbagai resep kuliner dan kerajinan yang akhirnya diproduksi dan dijual. Beberapa produknya adalah sambal lu’at khas Mollo, jagung bose, kopi Mollo, madu hutan Mollo, syal tenun, manisan buah, dan minuman herbal.

Ini jugalah yang akhirnya membuat Lakoat.Kujawas membuka jasa ekowisata; Mnahat Fe’u Heritage Trail, sebuah konsep wisata edukasi yang mempertemukan kesenian, pangan dan ekologi di Mollo. “Aktivitasnya mulai dari tur ke kebun dan situs budaya/ekologi, serta workshop seni tradisi dan pangan lokal. Saya dan teman-teman mengembangkan koperasi untuk anggota dan menginvestasikan keuntungan penjualan produk untuk membiayai program kreatif di komunitas, seperti program kelas menulis dan kelas tenun untuk remaja,” Dicky menjelaskan. 

 

Bisa Sukses Meski Tinggal di Desa!

Maju dan sukses nggak harus di ibukota dan kota besar. Kita juga bisa sukses dengan membesarkan kampung sendiri.

Sebelum menutup percakapan, Dicky menghaturkan harapan semoga ruang-ruang ekonomi kreatif yang dibangunnya bersama teman-teman bisa memberi kontribusi finansial bagi warga. Ia juga berharap Lakoat.Kujawas bisa jadi contoh tentang bagaimana pembangunan bisa dimulai dari kampung/desa. “Orang muda di zaman ini bisa kok sukses, bertumbuh dari kampung,” tegasnya. 

Menurut Dicky, Lakoat.Kujawas harus jadi contoh bagi generasi muda Timor. “Kita bisa maju, berkembang, bisa ke mana-mana tanpa harus meninggalkan kampung. Apalagi di era teknologi internet, yang semakin terbuka, dunia semakin nggak terbatas. Hal yang paling penting untuk dimiliki adalah skill, kompetensi, rasa percaya diri, dan identitas yang harus diperkuat. Saya selalu berharap dan niscaya akan terjadi, generasi baru Mollo, generasi baru Timor Barat akan berdiri di depan, dengan percaya diri dan wajah terangkat, menunjukkan bahwa dia bisa, punya karakter kuat, dan dianggap penting oleh dunia,” tutupnya mantap.

Ada banyak kisah perjalanan dan pengalaman yang menarik digali dan dijadikan inspirasi dari sosok Dicky Senda dan Lakoat.Kujawas. Kalau lo mau mengulik lebih jauh, lo bisa cek Instagram Dicky di @dicky.senda, atau cek produk-produk Lakoat.Kujawas di @lkjws.co!