Suwito Harsono, Kolektor Pengabadi Prangko Zaman Doeloe

Mengoleksi prangko di zaman digital seperti saat ini, apakah menurut lo masuk akal? Kalau dulu prangko digunakan sebagai alat untuk membayar pengiriman surat menyurat, era sekarang prangko telah tergantikan dengan email dan layanan mengirim pesan di sosial media.

Meskipun terjadi perubahan yang signifikan, buat Suwito Harsono, prangko adalah identitas bangsa, sebagai medium memperkenalkan Indonesia ke seluruh dunia. “Fungsi prangko bisa saja telah berubah tetapi eksistensinya tetap ada,” kata kolektor prangko ini. Simak perjalanan Suwito Harsono sebagai pengabadi prangko zaman doeloe serta kisah inspiratif dibalik kegemarannya menyimpan prangko jadul di sini!

 

Dimulai Sejak SD

Ternyata kegemaran Suwito Harsono terhadap prangko dimulai sejak kecil, Urbaners. “Gue mengoleksi prangko sejak kelas 2 SD, waktu itu gue dikasih sama tante sekotak prangko isinya prangko Indonesia dan dari mancanegara,” kenang Suwito.

Buat Suwito prangko telah membuatnya bertemu dengan orang-orang baru dari negara seberang

Ternyata kesenangan masa kecil ini berlanjut dan semakin diseriusi. Diawali dari pemberian, Suwito melakukan pencariannya sendiri. Prangko-prangko yang diperoleh dari surat-menyurat dikumpulkan. Nggak hanya mengandalkan surat, Suwito mulai aktif membeli di toko buku. Hobi ini mulai menjadi lebih spesifik, ketika akhirnya ketertarikannya akan prangko lebih mengarah pada prangko-prangko zaman revolusi dan zaman Jepang di Indonesia.

“Jenis prangko zaman Jepang dan revolusi ini adalah prangko yang diberi cetak tindih di atas prangko sebelumnya. Ternyata ada banyak terjadi pemalsuan terkait prangko jenis ini dan justru membuat gue tertantang untuk semakin mempelajarinya,” terang Suwito.

 

Menjadi Juri Filateli Internasional

Hobi ataupun kesenangan masa kecil yang diseriusi akhirnya nggak hanya membawa Suwito sebagai kolektor biasa tetapi juga menjadi profesi. Suwito sudah menjadi juri Filateli Internasional selama 24 tahun. Aktivitas filateli ini membuatnya semakin dalam menekuni prangko.

Di pameran filateli di Gouda 2019, Netherlands

Menurutnya, prangko bisa membawa kita ke mancanegara dan persahabatan internasional. Beberapa pameran sudah pernah dijalani Suwito, beberapa lokasinya mulai dari Luxembourg, New York, Yokohama, Melbourne, Seoul, Taipei, dan masih banyak lagi.

Dia bercerita, ada beberapa kriteria yang menjadi penilaian dalam pameran filateli yaitu seberapa penting judul koleksi, bagaimana alur cerita koleksinya, sedalam apa penelitiannya, nilai kelangkaan, kondisi materi, serta penyusunan di kertas pameran.

 

Mengajarkan untuk Tekun

Ketika ditanyakan apa yang membuatnya senang mengabadikan prangko, Suwito menjawab kalau mengoleksi prangko mengajarkan ketekunan, kecerdasan, dan menempa supaya emosi nggak gampang temperamental.

Belum lagi cerita di balik setiap prangko yang mau nggak mau harus membuat lo menilik kembali ke belakang, mencari tahu apa yang terjadi di masa itu, bagaimana perkembangan dan perubahan suatu era menandai lahirnya zaman baru.

Mengoleksi prangko nggak berhenti di aktivitas ‘mengumpulkan’ saja tetapi juga menciptakan kembali proses pembuatan prangko, desain dan produksinya, serta ide-ide yang tersimpan dalam setiap ilustrasinya.

Desain prangko Raja Willem 3, 1868. Hanya ditemukan empat lembar, perkiraan harga Rp 85 juta.

Semangat dan filosofi dari prangko inilah yang menurut Suwito sangat dibutuhkan di era kekinian sekarang ini. Ketika anak-anak muda lebih doyan segala sesuatu serba instan dan cepat, prangko mengajarkan penikmatnya untuk sabar dan setia.

Coba deh lo bayangkan, bagaimana sistem pengiriman pesan zaman dulu yang harus menunggu lama. Dua sampai tiga hari atau bahkan berminggu untuk berbalas pesan. Beda banget dengan zaman sekarang ketika bilang ‘rindu’ saja lo tinggal kirim pesan via WhatsApp dan nggak berapa lama pesan sudah dibalas.

 

Tentang Koleksi Favorit

Sebagai seorang kolektor pastilah ada beberapa koleksi yang menjadi favorit, demikian juga Suwito. “Koleksi yang paling gue suka adalah prangko seri Willem 3, terbitan tahun 1870.  Gue juga suka banget dengan kartu pos-kartu pos yang diterbitkan pada masa perjuangan bangsa 1945-1949 di Pulau Sumatera,” jelasnya.

Sejauh ini Suwito mengaku kerap menjualbelikan koleksi prangko-prangkonya. Tetapi tentunya nggak semua, koleksi-koleksi tertentu nggak dijual, “Atau belum dijual,” imbuhnya. Menurutnya, prangko bisa dianggap sebagai salah satu investasi jangka panjang yang cukup menjanjikan untuk dilakoni. Apalagi prangko punya kecenderungan mengalami peningkatan nilai dari tahun ke tahun.

Prangko pendudukan Jepang di Sumatera. Cetak tindih 5 karakter kanji, “Dai Ho Yu Bin”, artinya prangko Jepang Raya.

Pastinya, kalau Suwito pribadi nggak hanya menjadikan materi sebagai latar belakang penggalian dan ketertarikannya pada dunia prangko. Kenikmatan mempelajari sejarah, cerita masa lalu, perjuangan sebuah negara, dan nilai-nilai moral dan ketekunan mentalitas adalah hal-hal yang membuat Suwito setia menekuni prangko bertahun-tahun.

Prangko zaman pemberontakan PRRI PERMESTA, dicap di Inobonto tanggal 10.8.59.

“Gue berharap semakin banyak orang menekuni prangko dan mau mengoleksi prangko,” dia menghaturkan harapan. Sebelum menutup perbincangan Suwito sempat menyelipkan tips merawat perangko.

Prangko harus disimpan di dalam plastic opp supaya bisa tahan lama dan benar-benar terjaga penyimpanannya.  Kemudian jangan lupa untuk menyimpannya di tempat yang nggak lembap, prangko yang belum terpakai dan masih ada lemnya harus dikasih pelapis plastik agar nggak menguning.

Tertarik mengulik lebih dalam mengenai dunia prangko? Lo bisa cek aktivitas pegiat prangko jadul Suwito Harsono di sini Suwito Harsono- Filatelis!