Home Movie Mahakarya yang lahir dari Ketidakpuasan

Mahakarya yang lahir dari Ketidakpuasan

Monday, August 25, 2014 - 10:09
Bagikan
Facebook Twitter Email

Setiap manusia pasti pernah dikecewakan, tapi tidak ada yang bisa mengalahkan kebesaran hati para pecinta video game yang terus-menerus dikecewakan saat judul game favorit mereka diadaptasi dalam bentuk film. Ya, entah berapa kali para fans ini mengelus dada menyaksikan karakter game kesukaan mereka "dihancurkan" oleh sang movie maker, belum lagi jalan cerita yang dijungkir balikkan sesuka hati. Memang, ada beberapa kondisi tertentu di mana sebuah film bisa disebut gagal. Namun percayalah, yang kami maksud di sini adalah film yang gagal dalam setiap aspek. Film jenis ini biasanya hanya memasukkan judul dari sebuah game, kemudian digarap asal-asalan tanpa mementingkan konsep wardrobe, alur cerita hingga kesesuaian karakter yang dimunculkan.  

Salah satu pelopor perusakan hasil adaptasi video game yang akan kita kenang sepanjang zaman adalah film: Street Fighter The Movie. Meskipun diperankan oleh aktor laga sekelas Jean Claude Van Damme dan penyanyi serba bisa Kylie Minogue, film ini tetap tidak terselamatkan. Street Fighter The Movie bahkan pernah mendapat predikat sebagai The Greatest Bad Movies Ever oleh salah satu majalah game di Amerika. Bukan berarti film ini tidak menarik, film ini cukup menghibur karena adegan-adegannya yang lucu. Permasalahannya, Street Fighter tidak seharusnya lucu.

Sayangnya, list film adaptasi game yang masuk kategori gagal tidak berhenti sampai di sini. Masih ada judul-judul lain seperti: Street Fighter Legend of Chun-li, The King Of Fighters hingga Tekken. Kalau lo belum sempat menyaksikan film-film yang kami sebutkan barusan, coba tanyakan kepada teman atau saudara lo yang kebetulan suka main video game. Jangan kaget kalo mereka langsung terdiam dan tiba-tiba meneteskan air mata.

Fenomena kegagalan berulang ini menimbulkan reaksi yang beragam dari para fans. Banyak yang mencaci, tapi beberapa yang kreatif berusaha berbuat sesuatu. Mereka mengumpulkan orang-orang kreatif lain dan bergerak bersama-sama untuk me-remake film yang mereka anggap gagal. Kini, dengan teknologi yang semakin “ramah” dalam pembuatan film, fan made movie menjadi sesuatu yang masiv. Pada beberapa judul, kualitasnya bahkan berhasil melampaui film aslinya. Tidak hanya me-remake film yang sudah ada, beberapa indie movie makers juga memproduksi film adaptasi video game yang belum pernah dibuat, seperti Harvest Moon dan Dora the Explorer.

Masalah utama dari para indie movie makers ini jelas masalah dana. Untuk membuat sebuah film utuh dengan durasi satu sampai dua jam, pastinya dibutuhkan tenaga dan uang yang tidak sedikit. Karena itulah, kebanyakan fan made film dirilis dalam bentuk trailer singkat dan disebarkan lewat youtube. Meski begitu, kebanyakan fans lain biasanya langsung antusias dan memberikan tanggapan yang positif. Ini dikarenakan sebagian dari movie makers ini memang seorang ahli di bidangnya, bahkan beberapa di antaranya bisa dibilang sudah profesional.

Salah satu karya fan made fenomenal besutan sutradara ternama ini adalah Street Fighter: Legacy. Trailer berdurasi tiga menit yang dirilis tahun 2010 ini disutradarai oleh Joey Ansah, seorang aktor beladiri serba bisa asal Inggris yang namanya mulai dikenal saat ia bermain dalam film The Bourne Ultimatum. Aksi pertarungan Ryu dan Ken yang digambarkan dengan sangat baik dalam Street Fighter: Legacy inilah yang akhirnya membuat CAPCOM sebagai perusahaan pemegang lisensi Street Fighter memberikan "restu" pada Joey Ansah untuk meneruskan film ini. Hasilnya adalah sebuah web-series memukau dengan judul Street Fighter: Assasin’s Fist yang akhirnya bisa mengobati rasa rindu para penggemar Stret Fighter di seluruh dunia.

Fanmade movie semacam ini akhirnya membalikkan stigma bahwa yang orisinal pasti selalu lebih baik. Akan selalu ada para indie movie makers yang bekerja keras mengorbankan waktu, tenaga dan uang karena tidak rela karakter-karakter pujaannya dibuat dengan asal-asalan. Kelak, ketidakpuasan mereka akan menjelma menjadi sebuah karya film yang bahkan lebih dipuja daripada film aslinya. Jadi jangan mengeluh dengan sinetron Indonesia yang begitu-begitu saja, kalo perlu lo harus bikin versi lo sendiri yang lebih keren!