• Movie
  • Mahakarya yang lahir dari Ketidakpuasan

Mahakarya yang lahir dari Ketidakpuasan

Mon, 25 August 2014

Setiap manusia pasti pernah dikecewakan, tapi tidak ada yang bisa mengalahkan kebesaran hati para pecinta video game yang terus-menerus dikecewakan saat judul game favorit mereka diadaptasi dalam bentuk film. Ya, entah berapa kali para fans ini mengelus dada menyaksikan karakter game kesukaan mereka "dihancurkan" oleh sang movie maker, belum lagi jalan cerita yang dijungkir balikkan sesuka hati. Memang, ada beberapa kondisi tertentu di mana sebuah film bisa disebut gagal. Namun percayalah, yang kami maksud di sini adalah film yang gagal dalam setiap aspek. Film jenis ini biasanya hanya memasukkan judul dari sebuah game, kemudian digarap asal-asalan tanpa mementingkan konsep wardrobe, alur cerita hingga kesesuaian karakter yang dimunculkan.  

Salah satu pelopor perusakan hasil adaptasi video game yang akan kita kenang sepanjang zaman adalah film: Street Fighter The Movie. Meskipun diperankan oleh aktor laga sekelas Jean Claude Van Damme dan penyanyi serba bisa Kylie Minogue, film ini tetap tidak terselamatkan. Street Fighter The Movie bahkan pernah mendapat predikat sebagai The Greatest Bad Movies Ever oleh salah satu majalah game di Amerika. Bukan berarti film ini tidak menarik, film ini cukup menghibur karena adegan-adegannya yang lucu. Permasalahannya, Street Fighter tidak seharusnya lucu.

Sayangnya, list film adaptasi game yang masuk kategori gagal tidak berhenti sampai di sini. Masih ada judul-judul lain seperti: Street Fighter Legend of Chun-li, The King Of Fighters hingga Tekken. Kalau lo belum sempat menyaksikan film-film yang kami sebutkan barusan, coba tanyakan kepada teman atau saudara lo yang kebetulan suka main video game. Jangan kaget kalo mereka langsung terdiam dan tiba-tiba meneteskan air mata.

Fenomena kegagalan berulang ini menimbulkan reaksi yang beragam dari para fans. Banyak yang mencaci, tapi beberapa yang kreatif berusaha berbuat sesuatu. Mereka mengumpulkan orang-orang kreatif lain dan bergerak bersama-sama untuk me-remake film yang mereka anggap gagal. Kini, dengan teknologi yang semakin “ramah” dalam pembuatan film, fan made movie menjadi sesuatu yang masiv. Pada beberapa judul, kualitasnya bahkan berhasil melampaui film aslinya. Tidak hanya me-remake film yang sudah ada, beberapa indie movie makers juga memproduksi film adaptasi video game yang belum pernah dibuat, seperti Harvest Moon dan Dora the Explorer.

Masalah utama dari para indie movie makers ini jelas masalah dana. Untuk membuat sebuah film utuh dengan durasi satu sampai dua jam, pastinya dibutuhkan tenaga dan uang yang tidak sedikit. Karena itulah, kebanyakan fan made film dirilis dalam bentuk trailer singkat dan disebarkan lewat youtube. Meski begitu, kebanyakan fans lain biasanya langsung antusias dan memberikan tanggapan yang positif. Ini dikarenakan sebagian dari movie makers ini memang seorang ahli di bidangnya, bahkan beberapa di antaranya bisa dibilang sudah profesional.

Salah satu karya fan made fenomenal besutan sutradara ternama ini adalah Street Fighter: Legacy. Trailer berdurasi tiga menit yang dirilis tahun 2010 ini disutradarai oleh Joey Ansah, seorang aktor beladiri serba bisa asal Inggris yang namanya mulai dikenal saat ia bermain dalam film The Bourne Ultimatum. Aksi pertarungan Ryu dan Ken yang digambarkan dengan sangat baik dalam Street Fighter: Legacy inilah yang akhirnya membuat CAPCOM sebagai perusahaan pemegang lisensi Street Fighter memberikan "restu" pada Joey Ansah untuk meneruskan film ini. Hasilnya adalah sebuah web-series memukau dengan judul Street Fighter: Assasin’s Fist yang akhirnya bisa mengobati rasa rindu para penggemar Stret Fighter di seluruh dunia.

Fanmade movie semacam ini akhirnya membalikkan stigma bahwa yang orisinal pasti selalu lebih baik. Akan selalu ada para indie movie makers yang bekerja keras mengorbankan waktu, tenaga dan uang karena tidak rela karakter-karakter pujaannya dibuat dengan asal-asalan. Kelak, ketidakpuasan mereka akan menjelma menjadi sebuah karya film yang bahkan lebih dipuja daripada film aslinya. Jadi jangan mengeluh dengan sinetron Indonesia yang begitu-begitu saja, kalo perlu lo harus bikin versi lo sendiri yang lebih keren!

 

 

Game Street Fighter Pertama
Street Fighter adalah game arcade atau ding-dong bertema fighting yang dirilis oleh CAPCOM pada tahun 1987. Kepopulerannya membuat game ini dimainkan jutaan orang di seluruh dunia dan terus berevolusi hingga saat ini. Di Indonesia, bisa jadi game ini adalah salah satu alasan lo bolos sekolah dulu smiley

Fan made Bukan Barang Baru
Fan made atau remake film yang dikerjakan secara indie bukanlah hal yang baru. Fanmade film yang pertama: Anderson Our Gang bahkan dibuat pada tahun 1926 dengan teknologi yang sangat sederhana, sebagai remake dari film seri Our Gang yang diproduksi pada tahun yang sama.

Tentang Capcom
CAPCOM adalah developer game asal Jepang yang berdiri pada 30 Mei 1979. Perusahaan ini terkenal karena sukses melahirkan belasan judul game yang meledak di pasaran. Selain seri Street Fighter, CAPCOM juga memproduksi seri-seri sukses lain seperti: Mega Man, Resident Evil dan Monster Hunter.

Tom Holland Dirumorkan Muncul di Venom 2

Tuesday, December 31, 2019 - 15:28
Tom Holland berperan sebagai Spider-Man dalam kostum merah-biru, berdiri di dekat kereta api

Berkat karakter Spider-Man yang dimainkannya, Tom Holland sukses menjadi salah satu fan favorite di Marvel Cinematic Universe (MCU). Untungnya Sony dan Marvel berhasil mencapai kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak, sehingga Spider-Man pun bakal tetap bisa muncul di film-film MCU berikutnya.

Tapi ternyata ada film lain yang rumornya juga bakal “didatangi” oleh Tom Holland, yaitu Venom 2. Saat ini, sekuel dari Venom tersebut memang sedang dalam masa produksi. Tom Holland dikabarkan bakal muncul sebagai cameo.

 

Bagian dari Kesepakatan Sony dan Marvel

Ilustrasi Spider-Man yang sedang melawan Venom. Tampak Venom sedang mencekik Spider-Man

Pada bulan Agustus 2019 lalu, Sony dan Marvel sempat mengalami konflik yang membuat fans Spider-Man cukup was-was. Mengingat pengembangan film Spider-Man versi 2012 dan 2014 yang dinilai kurang berhasil, Sony pun memutuskan buat “meminjamkan” Spider-Man kepada Marvel. Namun, karena isu pembagian keuntungan, deal tersebut pun sempat bermasalah.

Untungnya, sekitar dua bulan kemudian, telah dikonfirmasi bahwa Sony dan Marvel telah mencapai kesepakatan. Spider-Man pun bisa muncul di film-film Marvel berikutnya! Nah, sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, kabarnya Spider-Man bakal muncul di film Venom 2.

 

Masih dalam Tahap Awal Negosiasi

Dikutip dari situs Cinemags.co.id, kabarnya saat ini Tom Holland masih dalam tahap awal negosiasi untuk membahas kemunculannya di Venom 2. Jadi, belum bisa dipastikan 100% apakah pria asal Inggris tersebut bakal benar-benar menjadi cameo. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa kemungkinannya cukup besar. Apalagi saat ini memang Venom 2 masih memasuki tahap produksi dalam pengerjaannya. Everything can happen!

 

Belum Pasti Tom Holland Bakal Muncul Seperti Apa

Tom Holland sebagai Spider-Man, dalam kostum merah-biru, berjongkok di dekat pesawat

Walaupun kemungkinan Tom Holland muncul di Venom 2 cukup besar, belum diketahui juga secara pasti bentuk kemunculannya. Maksudnya, sampai sekarang pun belum ada bocoran apakah Tom Holland bakal muncul sebagai Spider-Man atau justru tanpa kostum. Tapi sepertinya fans nggak terlalu memperhatikan hal tersebut. Selama Sony nggak melepaskan ikatan antara Spider-Man dan Venom, kemungkinan besar fans bakal tetap happy.

 

Bagaimana menurut lo, Urbaners? Apakah lo termasuk tim yang excited menunggu kehadiran Tom Holland di film Venom 2 nanti?

 

 

Sources: media.skyegrid.id, hai.grid.id, cinemags.co.id