• Movie
  • Teriakan yang Diulang di 500 Judul Film

Teriakan yang Diulang di 500 Judul Film

Tue, 18 November 2014

Film tanpa dukungan berbagai efek suara bakalan jadi film yang paling membosankan di seluruh dunia. Untuk penggila film action, efek suara lingkungan, ledakan dan teriakan menjadi hal yang wajib ada. Khusus untuk efek suara teriakan, ada satu yang paling terkenal. Efek teriakan ini sering disebut dengan “Wilhelm Scream”. Efek yang sering terdengar saat adegan jatuh atau terluka ini bukan “pendatang baru” di dunia film. Wilhelm scream ternyata sudah direkam sejak puluhan tahun lalu dan digunakan di 500 judul film yang berbeda.

Awalnya, pada tahun 1951, Warner Bros memproduksi sebuah film berjudul Distant Drums. Film ini disutradarai oleh Raoul Walsh dan dibintangi Gary Cooper. Dalam film ini, terdapat adegan seorang prajurit yang berteriak karena digigit dan diseret oleh buaya. Teriakan tersebut diulang kembali oleh tokoh bernama “Wilhelm” dalam film The Charge at Feather River. Sejak saat itu, teriakan khas tersebut dikenal sebagai “Wilhelm Scream”.

Banyak orang yang bertanya-tanya, siapa orang di balik Wilhelm Scream itu? Pertanyaan ini sangat wajar, mengingat nggak pernah ditemukan dokumen otentik yang menghubungan teriakan tersebut dengan satu orang. Hingga akhirnya, muncul seseorang bernama Ben Burtt yang melakukan penelitan terkait Wilhelm Scream. Dia melakukan penelitian saat mengerjakan sound effect untuk film Star Wars. Setelah mendengarkan ulang suara teriakan dan membaca list nama dalam cast film Distant Druma, ia menemukan satu orang yang terhubung dengan Wilhelm Scream. Pikirannya merujuk pada Sheb Wooley.

Sheb Wooley adalah seorang musisi yang menciptakan lagu Purple People Eater. Lagu ini cukup laris, albumnya terjual hingga 6 juta copy dalam waktu 3 minggu saja. Sheb memainkan uncredited role dalam film Distant Drums dan merupakan salah satu dari sedikit aktor yang dimintai untuk merekan suara jeritan seorang pria yang digigit oleh buaya. Sheb Wooley sendiri meninggal dunia pada usia 82 tahun akibat menderita penyakit leukimia. Meskipun nggak ada yang mengonfirmasi tentang kebenarannya, namun istri Sheb Wooley, Linda Dotson-Wooley, mengatakan bahwa Sheb gemar mengatakan betapa berbakatnya dia dalam mengisi suara orang tertawa, teriak kesakitan, atau teriakan kematian. So, he is the man, that “screaming” in many movies.

Setelah film Star Wars berakhir, Ben Burtt sempat mengatakan bahwa dia nggak akan menggunakan efek suara Wilhelm Scream lagi. Namum, ternyata hal itu nggak memberhentikan perjalanan panjang dari Wilhelm Scream. Sampai saat ini, Wilhelm Scream sudah digunakan di lebih dari 500 film dan tetap digunakan di film-film baru. Well, legends will never die. Wilhelm Scream proves it.

 

 

Tentang Ben Burtt
Ben Burtt adalah seorang  sound designer, film editor, director, screenwriter, dan voice actor. Ia telah bekerja sebagai sound designer di beberapa film seperti Star Wars, Indiana Jones, Invasion of the Body Snatchers, E.T. the Extra-Terrestrial, dan WALL-E.

Wilhelm Scream di Disney
Nggak hanya terbatas pada film-film produksi Warner Bros., Wilhelm juga sempat digunakan di berbagai kartun Disney. Dalam film Beauty and the Beast, Wilhelm Scream terdengar ketika rakyat yang marah terlempar keluar kastil. Selain itu, sound effect legendaris ini juga terdengar dalam film UP dan Aladdin.

The Charge at Feather River
The Charge at Feather River yang lahir pada tahun 1953 ini diarahkan oleh Gordon Douglas. Film ini dirilis dalam bentuk 3D dengan banyak panah, tombak, dan senjata-senjata lainnya yang “melayang” ke arah para penonton. Berkat salah satu tokoh Pvt. Wilhelm yang diperankan oleh Ralph Brooks, film ini jadi populer dengan Wilhelm Scream.

Cerita Baru The Raid Akan Diberi Judul baru

Thursday, February 20, 2020 - 14:05
Adegan dalam film The Raid yang memperlihatkan seni bela diri silat

Sebagian besar pencinta film sudah pasti tahu dengan The Raid. Kesuksesannya menembus pasar film global membuatnya diproduksi dengan sekuel yang mempromosikan seni bela diri Indonesia: pencak silat. Yang terbaru, The Raid akan dibuat dengan sentuhan Hollywood, tapi dengan judul berbeda. Selain judul yang berbeda, judul terbaru berdiri sendiri tanpa mendapat pengaruh dari fim sebelumnya.

Bukan Lagi Remake

Frank Grillo, sutradara baru The Raid yang mengubah judul film menjadi Zeno

Pada 2017 lalu, Frank Grillo dan Joe Carnahan melontarkan sebuah pernyataan yang menggembirakan banyak fans, yaitu akan memproduksi remake dari film The Raid. Namun, seiring berjalannya waktu, kabar itu hilang dengan sendirinya. Tapi pada April 2019, muncul sebuah update bahwa judul baru bukan merupakan remake dari film sebelumnya.

Dalam sebuah wawancara, Grillo dan Carnahan memberikan statement, mereka telah ‘berpisah’ dari XYZ film, yang sebelumnya mempunyai hak cipta dari The Raid. Dengan begitu, cerita dan penokohannya akan berbeda dengan film sebelumnya. Begitu juga aktor dan aktris yang akan terlibat dalam proyek baru.

Berjudul Zeno

Nggak lagi mengusung nama The Raid, Grillo dan Carnahan mengumumkan bahwa film terbaru mereka akan berjudul Zeno, yang juga merupakan tokoh utama pada film. Saat ini, pihaknya sedang melakukan negosiasi dan perbincangan dengan sejumlah aktor ternama untuk membintangi film ini.

Zeno akan memiliki jalan cerita yang berbeda dengan The Raid. Pada garapan Gareth Evans 2011 silam, dikisahkan pasukan polisi menyerbu sebuah gedung di Jakarta dengan tujuan utama menaklukkan komplotan bandit. Aktor-aktor kenamaan Indonesia terlibat di dalamnya, seperti Iko Uwais dan Donny Alamsyah. Namun, pada versi Carnahan, polisi akan menangkap penjahat, tapi nggak di gedung seperti yang diceritakan The Raid.

Alasan dibuatnya Zeno

Zeno, meskipun diceritakan dengan karakter dan alur yang berbeda, tapi tetap memiliki premis yang relatif sama dengan sekuel The Raid sebelumnya. Sebelum diberi judul berbeda, Grillo mengaku sangat tertarik untuk membuat kelanjutan cerita dari The Raid, tapi dengan versi Hollywood.

Ketertarikan Grillo dalam membuat Zeno salah satunya karena memiliki kedekatan dengan Iko Uwais. Mereka pernah menjalani proses syuting bersama untuk Beyond Skyline di Batam. Grillo juga mengagumi Iko lewat film action-nya. Keputusan Grillo dalam membuat sekuel The Raid, sebelum diubah judul menjadi Zeno, diumumkan lewat akun Twitter-nya. Pada tweet-nya, Grillo menyatakan sudah mengantongi persetujuan dari Gareth Evans, sutradara sebelumnya.

Ketenaran The Raid

 

Lahirnya Zeno nggak luput dari kesuksesan The Raid, film Indonesia yang pertama kali dapat tayang di Toronto International Film Festival. Bisa dibilang, The Raid adalah film action pertama asal Indonesia yang bisa menembus pasar mancanegara. Antusiasme dan euforia yang tercipta benar-benar menyebar di banyak tempat.

Di Festival film Toronto, The Raid mendulang banyak pujian dari para kritikus film. Nggak hanya itu, The Raid juga berhasil menggondol penghargaan The Cardillac People’s Choice Midnight Madness Award di ajang yang sama. Nggak sampai di situ, The Raid juga diputar di beberapa festival serupa seperti Festival Film Sundance Amerika, Festival Film Internasional Dublin Jameson Irlandia, dan Festival Film Busan.

Kesuksesan The Raid itu lah yang membuat Grillo tertarik untuk membuat adaptasinya, meski dengan judul yang berbeda. Jadi, sudah siap untuk nonton Zeno?