4 Film Terbaik Sundance Film Festival 2016 - MLDSPOT
  • Movie
  • 4 Film Terbaik Sundance Film Festival 2016

4 Film Terbaik Sundance Film Festival 2016

Tue, 16 February 2016

Selain film-film blockbuster, industri film internasional nggak bakal rame tanpa kehadiran karya-karya dari Sundance Film Festival. Tahun ini, acara yang didedikasikan untuk pembuat dan penikmat film-film independen tersebut diadakan pada tanggal 21-31 Januari 2016. Dari banyaknya genre yang diputar dan penghargaan-penghargaan yang dibagikan, berikut adalah beberapa film terbaik yang bisa lo temukan di Sundance Film Festival 2016.

 

Dark Night

Sebagai sutradara dari film ini, Tim Sutton rupanya ingin menyinggung tentang budaya kepemilikan senjata di Amerika. Lo tentu tahu bahwa di sana cukup sering terjadi penembakan masal. Dark Knight bercerita tentang penembakan di sebuah mall. Uniknya, film ini dibuka dengan kondisi setelah penembakan berlangsung, jadi lo bakal diajak untuk flashback dan menyelami karakter masing-masing pemain sambil menebak-nebak siapa pelaku penembakan tersebut.

 

Kiki

LGBT masih menjadi salah satu topik yang selalu menarik untuk dibahas. Disutradarai oleh Sara Jordano, film Kiki mengangkat topik tersebut. Meski Amerika telah melegalkan pernikahan sesama jenis, LGBT masih termasuk dalam kaum minoritas di dunia. Dan mereka bakal makin dipandang sebelah mata jika mereka memiliki kulit hitam. Itulah sisi lain yang coba diangkat oleh Kiki. Jordano mencoba untuk menunjukkan bahwa ada kaum LGBT yang nasibnya nggak seberuntung orang-orang lain.

 

Manchester by the Sea

Film yang disutradarai dan ditulis oleh Kenneth Lonergan ini bercerita tentang Lee Chandler, seorang penyendiri yang bekerja sebagai tukang untuk apartemen di Boston. Suatu hari, ia mendapat panggilan dari kampung halamannya, yang memberi tahu bahwa saudara laki-lakinya meninggal. Ia pun mendadak harus menjadi wali resmi dari keponakannya. Kembalinya ia ke kampung halaman membuatnya harus berhadapan dengan masa lalunya yang penuh tragedi.

 

The Lure

The Lure mengambil setting waktu tahun 1980-an dengan tema musikal. Ceritanya berkutat pada sepasang saudara perempuan yang direkrut untuk menyanyi di sebuah klub malam. Film ini merupakan karya debut dari Agnieszka Smoczyñska, yang merupakan seorang penggemar dari film horor Jepang tahun 1960-an. Jadi, jangan heran jika lo menemui unsur-unsur erotis, kekerasan, dan musikal yang bergabung jadi satu. Justru itulah yang membuat The Lure sangat menarik untuk ditonton.

Jadi, jika lo tertarik untuk menonton film-film dari Sundance Film Festival 2016, lo bisa mulai dari keempat judul di atas. Beragamnya tema dan topik yang diangkat bakal bikin lo ketagihan untuk menonton judul-judul lainnya. Happy watching, Urbaners!

 

 

Source: theverge.com, hollywoodreporter.com, imdb.com

Videografi dan Sinematografi: Ternyata Nggak Sama, Bro!

Thu, 04 March 2021
Videografi

Dalam memproduksi sebuah film emang nggak bisa terhindar dari teknik-teknik yang membuat film itu sendiri hidup. Baik dalam pengambilan gambar, cara menggunakan alatnya, sampai teknik ke dalam bagaimana film itu dikemas.

Dalam sebuah film, nggak cuma ada sinematografi – tapi juga ada videografi. Sinematografi dan videografi emang sering disalah artikan ataupun dianggap sama, tapi yang perlu lo ketahui – kedua hal ini berbeda, bro!

Beberapa minggu lalu MLDSPOT udah sempat ngebahas mengenai sinematografi dan teknik yang perlu diketahui, nah tapi sebenarnya apa sih makna sinematografi dalam film sebenarnya? Dan apakah benar berbeda dengan videografi?

Dari pada bertanya-tanya sendiri dan penasaran, lebih baik langsung aja simak artikel selengkapnya di bawah ini.

Pahami Arti Sinematografi

Videografi

Credit image – Creative Planet Network

Sebelum masuk ke dalam sinematografi itu sendiri, lebih baik luruskan dulu pemahaman lo mengenai film dan video – sinematografi lebih sering digunakan untuk istilah dalam film, sebenarnya video pun bisa, tapi hanya video yang memiliki jalan cerita atau makna yang ingin disampaikan. Jadi, nggak semua video bisa dilihat sinematografinya ya!

Dari segi penilaian, sinematografi emang identik dengan pengambilan kamera. Tapi dalam hal ini bukan cuma bagaimana kamera mengambil sebuah gambar, tapi juga pemaknaan yang diberikan dalam sebuah gambar ketika diambil dan berkaitan dengan scene dari sebuah film atau video.

Nggak cuma kamera aja, efek dari film dan video, lighting, hingga color palette yang digunakan dalam film pun akan menjadi makna berbeda dalam sinematografi. Salah satu hal yang paling terlihat dalam sebuah sinematografi adalah bagaimana para penonton bisa memahami film yang ditontonnya yang dibalut dalam sebuah sinematografi yang baik sebagai penunjangnya.

Lalu, Apa Videografi Sendiri?

Nah kalau selama ini lo merasa sinematografi adalah teknik gimana cara mengambil sebuah gambar yang baik, tanpa shaking, dan lain sebagainya – hal itulah yang disebut dengan videografi.

Videografi hanya sekedar gimana sebuah film dan video diambil, gimana menarik perhatian penonton dari setiap scene-nya dari sebuah gambar. Hal ini nggak kalah penting dari sinematografi – cuma untuk kegunaan, videografi hanya mementingkan estetika aja.

Seorang videografer dalam membuat film atau video dengan videografi yang baik adalah dengan membuat gambar yang diambil menjadi lebih nyata. Pernah nggak sih – lo nonton sebuah film atau video, saking bagusnya lo berasa ada di suasana film itu?

Kalau pernah, itu artinya lo sudah pernah merasakan menonton film atau video yang videografinya bagus.

Jadi, Bedanya Apa?

Videografi

Credit image - FStoppers

Setelah membaca kedua hal yang ternyata berbeda ini, pasti lo sudah memahami kalau sinematografi lebih berfokus pada pengambilan gambar yang juga berpengaruh pada bagaimana sebuah pesan dalam film atau video disampaikan, berbeda dengan videografi yang memfokuskan estetika dalam pengambilan gambar.

Ibaratnya – sinematografi memberikan gambaran bahwa sebuah film dapat terlihat menjadi sebuah cerita, videografi memberikan gambaran bagaimana sebuah film dikemas dan membuat visual semenarik mungkin.

Meskipun kedua hal ini berbeda, tapi yang harus lo ketahui adalah – bahwa kedua hal ini berjalan secara beririsan, alias nggak bisa jalan sendiri-sendiri. Sebuah film atau video nggak akan maksimal hasilnya kalau hanya menerapkan sinematografi aja tanpa ada videografi yang matang, begitu juga sebaliknya.

Jadi, setelah membaca ini – pastikan ketika menonton sebuah film atau video dengan pengemasan visual yang bagus dan jalan cerita yang menarik, itu adalah hasil dari kesinambungan antara sinematografi dan videografi.

 

Feature image – Olerte Maure