• Movie
  • Joss Whedon: Perbedaan Besar Antara Film Buatan DC dan Marvel

Joss Whedon: Perbedaan Besar Antara Film Buatan DC dan Marvel

Thu, 03 November 2016

DC dan Marvel Comics adalah dua perusahaan raksasa yang telah menciptakan berbagai macam tokoh superhero yang melegenda. Nggak heran kalau dua perusahaan tersebut seolah-olah bersaing untuk menarik hati para penggemarnya dengan berbagai tokoh dan film yang dibuatnya. Dua perusahaan komik besar Amerika itu seperti punya dunia sendiri-sendiri. Marvel membangun Marvel Cinematic Universe lewat karakter-karakter dan film-filmnya. Sementara DC Comics, lewat pahlawan-pahlawan supernya juga membentuk dunia yang berbeda dengan Marvel.

Menariknya, secara bergantian bahkan dalam kurun waktu hampir bersamaan, kedua perusahaan tersebut memproduksi film yang diangkat dari kisah komik-komik terdahulunya. Persaingan pun jelas terasa nggak hanya dalam penciptaan tokoh-tokoh superhero tetapi juga segi komersial. Namun, Joss Whedon justru melihat kalau antara DC dan Marvel keduanya seimbang, nggak ada yang lebih baik dari salah satunya. Dari sudut pandangnya, ia melihat jika DC dan Marvel memiliki tujuan yang berbeda dalam film-film mereka. Kira-kira lo tahu nggak apa perbedaan besar antara film buatan DC dan Marvel?

 

Sistematik vs. Sinematik

“Saya tidak melihat Suicide Squad. Saya melihat Batman vs Superman. Semua orang punya metode sendiri. Saya pikir Marvel lebih sukses secara sistematik, sedangkan DC cenderung lebih sinematik.” Ungkap Joss Wedhon pada sebuah wawancara.

Ia juga beranggapan bahwa sang presiden rumah produksi Marvel adalah seorang pendongeng yang baik karena mampu membuat kisah secara koheren dan sistematik. Film produksi Marvel selalu mencoba membangun alam semesta yang koheren untuk semua karakter dalam film mereka dengan cara yang sama pada buku komik.

Di sisi lain, DC, ingin menciptakan pengalaman komik ke dalam sebuah film. Hal ini berarti bahwa adegan-adegan dalam film dimaksudkan untuk membangkitkan perasaan yang digambarkan lebih dulu melalui komik. Namun, sejauh ini Joss Wedhon belum melihat adanya kohesi pada rumah produksi DC seperti yang dimiliki oleh Marvel.

Sebagai penggemar komik DC atau Marvel, bagaimana tanggapan lo? Apa bener kalau DC dan Marvel sama bagusnya? Atau mana yang lebih baik menurut lo?

 

Source:  cinemablend.com

Tambah Wawasan dengan 5 Dokumenter Terbaik di Netflix Ini

Wed, 08 July 2020
Seorang profesor sedang memaparkan Cambridge Analytica dalam dokumenter The Great Hack

Biar tontonan lo nggak itu-itu aja, weekend nanti lo bisa mengisi tontonan dengan beberapa rekomendasi dokumenter Netflix ini. Dokumenter ini terdiri dari berbagai tema, mulai dari kriminal, sejarah, hingga teknologi. #MumpungLagiDirumah juga, kan?

 

Conversations with a Killer: The Ted Bundy Tapes

Potret hitam putih Ted Bundy dan kekasihnya

Dokumenter garapan Joe Berlinger ini menampilkan profil pembunuh berantai yang cukup terkenal, Ted Bundy. Yang menarik, Bundy yang tercatat telah melakukan sekitar 30 pembunuhan wanita ini diakhir masa-masa interograsinya justru mengaku nggak bertanggung jawab atas kejahatan tersebut.

Kasus kejahatan Bundy ini terjadi di awal tahun 1980-an di Amerika Serikat. Di akhir proses kasusnya, penyidik hanya dapat membuktikan Bundy bertanggung jawab untuk dua pembunuhan saja. Bundy lalu dieksekusi di tahun 1989 dengan menggunakan kursi listrik.

 

The Great Hack

Britanny Kaiser dalam salah satu still cut The Great Hack

Facebook pernah dihadapkan pada tuduhan bahwa telah menggunakan data pribadi yang diambil secara illegal dari penggunanya untuk kepentingan bisnis. Dalam dokumenter berjudul “The Great Hack” ini, sutradara Karim Amer dan Jehane Noujaim melakukan wawancara investigatif dengan seorang narasumber dari Cambridge Analytica, Brittany Kaiser.

Film dokumenter ini bakal menyajikan informasi yang akan buat lo paham mengapa data sekarang jadi sumber daya yang sangat berharga. Bagaimana data-data pribadi tersebut digunakan untuk membidik pengguna dengan iklan yang sesuai dengan preferensi mereka, sampai memengaruhi pemilihan umum di Amerika Serikat akan dijelaskan di The Great Hack.

 

Icarus

Salah satu scene Icarus bersetting laboratorium dengan seorang pria memakai masker

Awalnya sutradara Bryan Fogel hanya berencana menggarap dokumenter tentang produksi dan distribusi doping di dunia. Namun setelah Fogel mulai mengontak salah satu narasumber utama dari Rusia, diskusi mereka justru mengantar Fogel ke ide cerita yang lain.

“Icarus” bercerita mulai dari cerita produksi doping, uji coba, distribusi sampai deretan kasus skandal atlet yang menggunakan doping. Experience menonton Icarus akan membawa lo seperti sedang menonton film science fiction. Dalam dokumenter ini, Fogel juga menceritakan dalang dibalik kasus doping Olimpiade Sochi di Rusia tahun 2014 lalu.

 

Five Came Back

Steven Spielberg dalam salah satu interview di dokumenter Five Came Back

Dokumenter garapan Laurent Bouzereau ini diadaptasi dari buku dengan judul yang sama yang ditulis oleh Mark Harris. “Five Came Back” adalah dokumenter yang memotret sudut pandang lima sutradara film dalam melihat Perang Dunia II. Kelima sutradara ini adalah George Stevens, Frank Capra, John Huston, William Wyler, dan John Ford.

Lo bakal mendengarkan suara khas milik Meryl Streep membawakan narasi dalam dokumenter ini. Selain kelima sutradara, interview juga melibatkan sosok penggarap cerita berlatar Perang Dunia II seperti Guillermo del Toro dan Steven Spielberg.

 

The Vietnam War

Tampilan poster The Vietnam War yang menampilkan tentara AS dan petani Vietnam 

Rekomendasi dokumenter terakhir ini masih bertema perang, “The Vietnam War”. Digarap oleh Ken Burns dan Lynn Novick, ini menjadi salah satu dokumenter yang paling penting karena menyingkap banyak momen krusial di perjalanan sejarah Amerika Serikat.

Burns dan Novick mengemas dokumenter ini dengan sederetan wawancara emosional dengan para veteran perang. Para narasumber menampilkan cerita dengan sudut pandang masing-masing, termasuk menyampaikan kesalahan-kesalahan perang yang dilakukan para veteran ini di masa lalu untuk mengingatkan para penonton saat ini untuk nggak mengulangi kesalahan yang sama.

 

 

Sources: Collider, Wired UK, Esquire