• Movie
  • Fakta Desmond Doss di Balik Film Hacksaw Ridge

Fakta Desmond Doss di Balik Film Hacksaw Ridge

Wed, 15 March 2017

“While everybody is taking life I’m going to be saving it”

Buat Urbaners yang sudah nonton film Hackssaw Ridge tentu hapal dengan nama Desmond Thomas Doss. Dia adalah tentara angkatan bersenjata Amerika Serikat divisi medis yang bertugas saat Perang Dunia II dan ditempatkan dalam Perang Pasifik.

Sekilas tak ada yang istimewa dari Desmond Doss. Seorang paramedis biasa yang berada di garis depan bersama tentara lain. Satu hal yang membedakan dengan tentara lainnya, Doss menolak membawa senjata meski dalam perang sekalipun karena itu bertentangan dengan keyakinannya.

Penolakan Doss terhadap senjata sempat memicu konflik saat pelatihan di kamp tentara. Doss diperlakukan semena-mena bahkan mengalami bullying. Namun Doss menjawab semua penilaian buruk itu. "Jangan pernah meragukan nyali dan tekad ku, karena aku akan selalu berada di sisimu menyelamatkan nyawa ketika kau mengambil nyawa".

Dan ucapan itu dibuktikan dalam pertempuran di Maeda Escarpment atau dikenal dengan Hacksaw Ridge. Doss menyelamatkan puluhan prajurit di tengah-tengah pertempuran sengit. Atas keberaniannya itu, Pemerintah Amerika Serikat menganugerahkan bintang kehormatan Medal of Honor. Medali kehormatan tertinggi untuk seorang prajurit.

Tapi tahukan Urbaners, ada beberapa fakta yang tak diungkap dalam film Hacksaw Ridge karya Mel Gibson tersebut. Berikut di antaranya:

 

Jumlah Korban

Sebenarnya ada tiga versi mengenai jumlah orang yang diselamatkan dalam medan pertempuran Maeda Escarpment. Doss mengingat hanya menyelamatkan sekitar 50 orang. Beberapa tentara yang ikut menangani korban menghitung lebih dari 100 tentara. Sementara versi yang dirilis US Army mencapai 75 orang.

 

Medali Kehormatan

Desmond Doss tidak hanya bertugas di Okinawa. Doss sebelumnya bertugas dalam pertempuran di Guam dan Leyte. Di dua lokasi tersebut, Doss juga menunjukkan keberaniannya menerjang tembakan peluru dan ledakan granat untuk menyelamatkan prajurit yang terluka.

Atas jasa dan kegigihannya itu, Doss diganjar dua Bronze Star Medal of Valor. Jadi saat tiba di Hacksaw Ridge, Doss sudah mendapat dua medali penghargaan berkat keteguhannya bekerja sebagai paramedis di medan perang.

 

Love at First Sight

Doss pertama kali bertemu dengan pasangannya Dorothy Pauline Schutte di gereja. Saat itu Dorothy belum menjadi seorang perawat. Dorothy baru menjadi perawat setelah perang usai. Saat itu, Dorothy bekerja untuk menopang kehidupan keluarga karena Doss terluka parah saat kembali dari peperangan dan harus menjalani perawatan serius karena penyakit tuberculosis.

 

Luka Dalam Perang

Di film diceritakan Doss terluka di bagian kaki karena granat dan langsung dievakuasi ke tempat perawatan. Memang benar, Doss terluka akibat granat. Tapi sehabis terkena granat, dia tak langsung diberi pertolongan. Doss bahkan sempat memberi pertolongan kepada orang lain. Bahkan keesokan harinya ketika dia akan ditandu turun dari bukit, Doss melihat temannya yang tertembak di kepala dan memerintahkan pembawa tandu untuk membawa prajurit tersebut terlebih dahulu.

Usai menyuruh pembawa tandu mengevakuasi temannya yang lebih kritis, Doss bertemu dengan seorang tentara yang menawarkan bantuan untuk memopongnya ke daerah aman. Dan saat itu, Doss terkena tembakan sniper musuh. Peluru tembus dari lengan kirinya hingga ke bagian bahu.

 

Wafat

Penyakit TBC yang diderita sepulang dari Perang Pasifik memaksa Doss menghabiskan sebagian besar enam tahun hidupnya di rumah sakit. Dingin, basah, malam tanpa tidur, menggigil dalam lubang perlindungan berlumpur di pulau-pulau di Pasifik, merenggut kesehatan Doss. Akibatnya, paru kiri Doss harus diangkat bersama dengan lima tulang rusuknya. Doss bertahan dengan paru-paru tunggal selama sisa hidupnya.

Kopral Desmond Thomas Doss meninggal di usia 87 tahun pada 23 Maret 2006 setelah dirawat di rumah sakit karena kesulitan bernapas. Doss dimakamkan di Pemakaman Nasional Chattanooga, Tennessee. Perjuangan Doss kembali dikenang dalam film Hacksaw Ridge yang memenangkan Piala Oscar untuk kategori Best Film Editing.

 

 

Source: Kaskus.co.id desmonddoss.com

Cerita Baru The Raid Akan Diberi Judul baru

Thursday, February 20, 2020 - 14:05
Adegan dalam film The Raid yang memperlihatkan seni bela diri silat

Sebagian besar pencinta film sudah pasti tahu dengan The Raid. Kesuksesannya menembus pasar film global membuatnya diproduksi dengan sekuel yang mempromosikan seni bela diri Indonesia: pencak silat. Yang terbaru, The Raid akan dibuat dengan sentuhan Hollywood, tapi dengan judul berbeda. Selain judul yang berbeda, judul terbaru berdiri sendiri tanpa mendapat pengaruh dari fim sebelumnya.

Bukan Lagi Remake

Frank Grillo, sutradara baru The Raid yang mengubah judul film menjadi Zeno

Pada 2017 lalu, Frank Grillo dan Joe Carnahan melontarkan sebuah pernyataan yang menggembirakan banyak fans, yaitu akan memproduksi remake dari film The Raid. Namun, seiring berjalannya waktu, kabar itu hilang dengan sendirinya. Tapi pada April 2019, muncul sebuah update bahwa judul baru bukan merupakan remake dari film sebelumnya.

Dalam sebuah wawancara, Grillo dan Carnahan memberikan statement, mereka telah ‘berpisah’ dari XYZ film, yang sebelumnya mempunyai hak cipta dari The Raid. Dengan begitu, cerita dan penokohannya akan berbeda dengan film sebelumnya. Begitu juga aktor dan aktris yang akan terlibat dalam proyek baru.

Berjudul Zeno

Nggak lagi mengusung nama The Raid, Grillo dan Carnahan mengumumkan bahwa film terbaru mereka akan berjudul Zeno, yang juga merupakan tokoh utama pada film. Saat ini, pihaknya sedang melakukan negosiasi dan perbincangan dengan sejumlah aktor ternama untuk membintangi film ini.

Zeno akan memiliki jalan cerita yang berbeda dengan The Raid. Pada garapan Gareth Evans 2011 silam, dikisahkan pasukan polisi menyerbu sebuah gedung di Jakarta dengan tujuan utama menaklukkan komplotan bandit. Aktor-aktor kenamaan Indonesia terlibat di dalamnya, seperti Iko Uwais dan Donny Alamsyah. Namun, pada versi Carnahan, polisi akan menangkap penjahat, tapi nggak di gedung seperti yang diceritakan The Raid.

Alasan dibuatnya Zeno

Zeno, meskipun diceritakan dengan karakter dan alur yang berbeda, tapi tetap memiliki premis yang relatif sama dengan sekuel The Raid sebelumnya. Sebelum diberi judul berbeda, Grillo mengaku sangat tertarik untuk membuat kelanjutan cerita dari The Raid, tapi dengan versi Hollywood.

Ketertarikan Grillo dalam membuat Zeno salah satunya karena memiliki kedekatan dengan Iko Uwais. Mereka pernah menjalani proses syuting bersama untuk Beyond Skyline di Batam. Grillo juga mengagumi Iko lewat film action-nya. Keputusan Grillo dalam membuat sekuel The Raid, sebelum diubah judul menjadi Zeno, diumumkan lewat akun Twitter-nya. Pada tweet-nya, Grillo menyatakan sudah mengantongi persetujuan dari Gareth Evans, sutradara sebelumnya.

Ketenaran The Raid

 

Lahirnya Zeno nggak luput dari kesuksesan The Raid, film Indonesia yang pertama kali dapat tayang di Toronto International Film Festival. Bisa dibilang, The Raid adalah film action pertama asal Indonesia yang bisa menembus pasar mancanegara. Antusiasme dan euforia yang tercipta benar-benar menyebar di banyak tempat.

Di Festival film Toronto, The Raid mendulang banyak pujian dari para kritikus film. Nggak hanya itu, The Raid juga berhasil menggondol penghargaan The Cardillac People’s Choice Midnight Madness Award di ajang yang sama. Nggak sampai di situ, The Raid juga diputar di beberapa festival serupa seperti Festival Film Sundance Amerika, Festival Film Internasional Dublin Jameson Irlandia, dan Festival Film Busan.

Kesuksesan The Raid itu lah yang membuat Grillo tertarik untuk membuat adaptasinya, meski dengan judul yang berbeda. Jadi, sudah siap untuk nonton Zeno?