War for the Planet of The Apes, Jadi Film Pamungkas? - MLDSPOT
  • Movie
  • War for the Planet of The Apes, Jadi Film Pamungkas?

War for the Planet of The Apes, Jadi Film Pamungkas?

Fri, 28 July 2017

Setelah sukses dengan dua prekuelnya, Rise of The Planet of The Apes dan Dawn of The Planet of Apes, kini sang sutradara kembali memanjakan penggemarnya dengan seri ketiganya, War for The Planet of The Apes. Film ini disutradarai oleh Matt Reeves dengan skenario yang ditulis oleh Mark Bomback dan Reeves.

 

Peperangan antara Manusia dan Kera yang Tak Berujung

Peperangan antara bangsa kera dan manusia seakan nggak bakal menemui titik akhir. Cerita War for The Planet Apes pun juga melanjutkan hal yang sama bahkan makin sengit. Cerita bermula ketika Caesar (Andy Serkis) yang merupakan pemimpin dari bangsa kera, berhasil membawa pasukannya kembali ke markas mereka. Nahas, di sana Caesar melihat seorang tentara manusia membunuh anak sulung dan istrinya.

Melihat hal ini tentu saja Caesar nggak bisa tinggal diam. Ia pun berniat membalaskan dendam kematian orang terdekatnya dengan mendatangi markas lawan. Peperangan pun dimulai. Jangan dibayangkan para kera ini bakal melawan manusia bersenjata dengan tangan kosong. Di sini lo bakal lihat betapa mahirnya para kera tersebut menenteng dan menggunakan senjata api layaknya tentara perang berpengalaman.

Dengan Caesar yang memimpin pasukan kera, di pasukan koloni manusia ada sang kolonel sadis yang diperankan oleh Woody Harrelson.

 

Siap Mengaduk Emosi Penonton

Digadang-gadang, seri ketiga film ini bakal siap mengaduk emosi penonton. Di sini penonton akan melihat bahwa koloni kera lah yang punya sisi kemanusiaan lebih dibandingkan koloni manusianya sendiri.

Di film ini digambarkan bahwa manusia terus berusaha buat membasmi eksistensi kera dan sebaliknya, bangsa kera akan melakukan segala cara untuk melakukan perlawanan agar bisa bertahan. Ditambah dengan alunan musik bawaan Michael Giacchino, jalan cerita yang seru akan semakin membuat emosi penontonnya campur aduk.  

Kabar baiknya, lo nggak perlu nunggu lebih lama lagi lagi buat bisa menyaksikan serunya perang antara kedua koloni ini karena filmnya sudah diputar di seluruh bioskop Indonesia sejak 14 Juli kemarin. Tunggu apa lagi Urbaners, yuk segera beli tiket nonton lo sekarang!

 

 

Source: kompas.com

Sebelum Nonton Yang Baru: Ini 5 Film Pertama Produksi Indonesia Pada Masanya

Mon, 12 April 2021
FIlm Indonesia Terbaru

Sebelum bisa menikmati industri hiburan hingga saat ini, berdekade-dekade ke belakang Indonesia sempat mengalami masa sulit untuk mengembangkan industri ini. Untuk menonton televisi atau sekedar produksi musik, semua butuh perjuangannya sendiri.

Emang sih produksi industri hiburan zaman dulu nggak sekuat sekarang, tapi uniknya film-film masa zaman dulu ini banyak menceritakan soal patriotik, perang kemerdekaan, dan juga percintaan klasik di masa penjajahan. Tentunya, campur tangan kolonial masih ada di sana.

Melihat perkembangan soal film nasional boleh dibilang tumbuh pesat dengan hadirnya sutradara-sutradara besar Indonesia saat ini serta pemain Indonesia yang memiliki karakter yang kuat, akhirnya film Indonesia bisa berdiri secara mandiri dengan kualitas yang bisa dianggap sangat baik.

Penasaran sama film Indonesia yang pertama kali di produksi? Langsung aja simak 5 film pertama yang diproduksi di Indonesia di bawah ini!

Loetoeng Kasaroeng (1926)

FIlm Indonesia Terbaru

Credit image – Hai Grid

Film pertama yang ada di Indonesia ini bernama Loetoeng Kasaroeng yang dirilis pada tahun 1926. Film yang diangkat dari legenda masyarakat dari Parahyangan, yang sering ditampilkan dalam seni pantun Sunda. Film yang diproduksi saat Indonesia masih bernama Hindia Belanda ini saat itu masih masuk ke era film bisu dan hitam putih.

Film yang ditayangkan di bioskop hanya berupa gambar bergerak tanpa ada suara sama sekali ini dirilis pada 1926 oleh NV Java Film Company, dengan dua sutradara asal Belanda – G Kruger dan L Heuveldrop. Meski disutradarai oleh orang Belanda, para pemain film atau aktor dan aktrisnya diambil orang pribumi dan jadi film pertama di Indonesia!

Eulis Atjih (1927)

FIlm Indonesia Terbaru

Credit image – Pop Bela

Setelah Loetoeng Kasaroeng, Java Film Co. kembali memproduksi film kedua mereka setelah satu tahun berikutnya dengan judul Eulis Atjih. Film yang disutradarai oleh G. Krugers ini merupakan film adaptasi pertama Indonesia yang diangkat dari novel karya Joehana. Pada tahun 1927, film yang dibintangi oleh aktor Indonesia Arsad dan Soekria ini sangat sukses di Hindia Belanda.

Film yang bercerita mengenai seorang pria Indonesia yang meninggalkan istrinya yang bernama Eulis Atjih dan anaknya demi berpesta. Dari sifatnya itu, keluarga mereka jatuh miskin dan membuat Eulis harus ikut bekerja keras demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tapi sayangnya, saat dibawa ke pasar luar negeri, film ini kurang diminati.

Lily Van Java (1928)

FIlm Indonesia Terbaru

Credit image – Jadi Berita

Melihat kesuksesan dua film perdana yang diproduksi di Indonesia dengan sutradara asal Belanda, seorang asli Tionghoa di Indonesia bernama Lily Van Java – yang dikenal juga dengan nama Melatie Van Java yang rilis pada tahun 1928.

Lily Van Java awalnya akan diproduksi oleh rumah produksi South Sea Film dengan sutradara asal Amerika, Len Roos. Namun, karena satu dan lain hal, Lily Van Java akhirnya jatuh ke tangan sutradara Nelson Wong. Di bawah naungan rumah produksi Wong's Halimoen Film, Lily Van Java jadi film panjang pertama yang diproduksi – meskipun filmnya nggak terlalu sukses.

Berkisah tentang perjodohan, Lily Van Java bercerita tentang seorang perempuan yang terlahir dari keluarga kaya dan terpaksa meninggalkan kekasihnya yang sangat ia cintai demi menikah dengan laki-laki pilihan keluarganya.

Resia Boroboedoer (1928)

FIlm Indonesia Terbaru

Credit image – JalanTikus

Resia Boroboedoer atau yang memiliki arti Secret of Borobudur ini bercerita tentang seorang perempuan bernama Young Pei Fen (Olive Young), yang pergi ke Jawa untuk mencari guci berisikan abu Buddha Gautama peninggalan sang ayah, Young Lun Fah. Guci tersebut berada di Candi Borobudur. Saat mencari guci tersebut, banyak halangan yang dihadapi Young Pei Fen. Termasuk, serangan ilmu hitam dari orang yang membencinya.

Resia Boroboedoer dianggap sebagai film yang buruk karena menampilkan hal yang nggak masuk akal. Penikmat film pada masa itu mempertanyakan – bagaimana caranya seorang Tionghoa yang berbahasa Mandarin bisa tinggal di Sumatra dan tiba-tiba ada di Pulau Jawa untuk mencari guci.

Setangan Berloemoer Darah (1928)

FIlm Indonesia Terbaru

Credit image – Wikipedia

Setangan Berloemoer Darah menjadi film adaptasi novel kedua setelah Eulis Atjih. Film bisu dengan gambar hitam putih ini diproduksi dan disutradari oleh Tan Boen Soan, wartawan Soeara Semarang. Film yang diangkat dari novel karya Tjoe Hong Bok ini menjadi film Indonesia pertama yang menyisipkan adegan laga.

Setangan Berloemoer Darah bercerita tentang pemuda bernama Tan Hian Beng yang berusaha mencari pembunuh ayahnya untuk balas dendam. Dendam yang dibawa dari kecil, membuat Tan Hian Beng menjadi sosok berdarah dingin.

Itulah 5 film pertama di Indonesia yang diproduksi sebelum akhirnya menjadi film Indonesia yang berkembang hingga saat ini. Apakah lo tertarik nonton film bisu, bro?

 

Feature image – Medium