• Movie
  • Haruskan Anak 90an Nonton Jumanji: Welcome to the Jungle?

Haruskan Anak 90an Nonton Jumanji: Welcome to the Jungle?

Fri, 08 December 2017

Jumanji. Mendengar judul film yang satu ini, Urbaners generasi 90-an pastinya ingin bernostalgia untuk menontonnya lagi, kan? Gimana enggak. Petualangan seru yang dialami oleh Alan, Sarah, dan Judy bisa membuat kita para penontonnya juga ikut berdebar-debar. Nah, apa jadinya kalau Jumanji ini di-reboot dan disesuaikan dengan teknologi yang ada? Buat lo anak 90-an wajib lihat lho, Urbaners. Ini alasannya.

 

Beda sutradara, beda cerita

Pertama yang harus lo tahu nih Urbaners, sutradara Jumanji yang dulu berbeda lho dengan sekarang. Kalau dulu disutradarai oleh Joe Johnston, maka Jumanji: Back to The Jungle ini bakal disutradarai oleh Jake Kasdan. Tapi untuk produsernya, masih tetap mengandalkan William Teitler. Dari sutradara yang berbeda, maka tentu saja jalan ceritanya juga berbeda. Memang sama-sama petualangan, tapi untuk detilnya, lo lihat saja sendiri saat film ini rilis ya, Urbaners.

 

Pemain serba baru

Karena Jumanji yang sebelumnya dirilis lebih dari dua dekade lalu, tentu saja nggak mungkin kalau bakal menghadirkan pemain lama. Inilah alasan kenapa lo harus nonton Jumanji: Back To The Jungle. Di sini lo bakal melihat aksi seru Dwayne Johnson sebagai pemeran utama, Jack Balck, Kevin Hart, dan Karen Gillan. Mereka bakal melakukan petualangan di hutan belantara dan siap menghibur akhir pekan kalian.

 

Medianya juga berbeda

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, Jumanji: Back To The Jungle ini dibuat menyesuaikan dengan kemajuan teknologi. Para pemainnya “tersedot” bukan melalui papan permainan, tapi konsol video game. Jadi, keempat sekawan tersebut menemukan sebuah konsol video game tua saat mereka membersihkan salah satu ruangan di sekolah mereka dan memainkannya. Lalu mereka “tersedot” ke dunia permainan dan memulai petualangan di sana.

Kalau lo ingin tahu bedanya, lo bisa melihat trailernya langsung yang sudah dirilis di YouTube. Lo harus buruan nonton nih, Urbaners! Jumanji: Back To The Jungle bakal dirilis dalam waktu dekat, 20 Desember mendatang. Jadi, siap-siap ya!

 

Source: hollywoodreporter.com

6 Serial Kartun Dewasa Penuh dengan Dark Humour

Thu, 13 August 2020
Seorang pria memegang remote tv sambil memegang semangkuk snack

Siapa bilang kalau kartun hanya bisa ditonton anak kecil? Nyatanya, sekarang ini genre kartun semakin populer di kalangan orang dewasa. Ada yang menyukai kartun tipe anime, ada juga yang menyukai kartun yang penuh dengan dark humour. Nah buat lo penyuka dark humour, ini dia 6 serial kartun dengan penyampaian dark humour paling baik tanpa membuat penonton merasa nggak nyaman.

 

BoJack Horseman

Karakter kuda BoJack Horseman sedang memarahi dua orang wanita dan satu karakter ayam putih

Jangan tertipu dengan konsep karakter manusia dan binatang yang hidup berdampingan. Memang terlihat lucu, tapi lo juga akan mengikuti segala masalah yang timbul dari sifat narsis dan impulsif BoJack, seorang aktor yang sudah nggak terlalu populer. Lewat referensi pop culture serta isu-isu kesehatan mental yang dikemas dalam bentuk komedi, lo bisa tertawa dan merenung dalam waktu bersamaan sambil berpikir “Am I BoJack?”

 

Rick and Morty

Karakter Rick and Morty dalam pusaran hijau sedang menjelajah waktu

Salah satu komedi paling absurd yang pernah ada. Serial kartun ini menceritakan perjalanan waktu yang dilakukan oleh seorang ilmuwan alkoholik dengan cucunya yang naif. Jangan nonton serial kartun ini tanpa konteks, lo nggak akan paham karena banyaknya adegan-adegan imajinatif namun berkesinambungan kalau lo teliti lebih lanjut. Serial kartun ini memang dibuat untuk audiens dewasa karena mengusung komedi seputar existential crisis dan humor-humor jorok.

 

Futurama

Seorang pria dengan seorang wanita bermata satu dan satu robot dalam kartun Futurama

Satu lagi nih serial kartun yang mengangkat konsep perjalanan waktu. Kalau lo suka film sci-fi, bisa dipastikan lo akan menikmati serial kartun “Futurama”. Futurama bercerita tentang seorang pengantar pizza di tahun 2000 yang membeku dan baru bangun di tahun 3000.

Selain harus beradaptasi sebagai manusia “purba” dan bertemu dengan karakter-karakter manusia yang sudah menyerupai alien, lo akan melihat bagaimana manusia-manusia modern ini ternyata tetap saja melakukan kesalahan yang sudah pernah terjadi di tahun 2000. Futurama sukses menggabungkan unsur storytelling dengan komedi sebagai kritik sosial.

 

South Park

Empat karakter utama dari serial kartun South Park mengenakan pakaian dingin di tengah jalanan bersalju

Bertahan selama 20 tahun dan tetap dicintai penontonnya, “South Park” adalah contoh nyata dari serial kartun yang sukses sebagai modern satire. Tetapi, South Park juga seringkali tersandung kontroversi karena humornya yang dianggap terlalu offensive dan nggak cukup sensitif terhadap isu-isu nyata yang terjadi sekarang ini. Take it with a grain of salt, ikuti kisah Cartman, Kyle, Stan, dan Kenny yang suka ngomong kasar namun memiliki opini-opini anti mainstream soal pop culture dan selebriti Hollywood.

 

Family Guy

Griffin sedang di depan garasi

Serial kartun ini dibuat oleh Seth MacFarlane dan sudah beberapa kali mendapat nominasi Emmy Award. “Family Guy” khusus dibuat sebagai sindiran keras untuk orang-orang yang mengharapkan tontonan dengan pesan moral sesuai dengan nilai-nilai kekeluargaan di Amerika Serikat.

Melalui cerita sebuah keluarga disfungsional dengan dua anak remaja yang awkward, satu balita yang jahat dan jenius, dan satu anjing yang bisa berbicara dan bijak, lo bisa melihat komedi slapstick dan humor dewasa. Family Guy akan membawa lo ke perasaan antara lucu dan menjijikkan. 

 

Big Mouth

Seorang murid SMP di serial kartun Big Mouth bersama Hormone Monster miliknya

Setiap orang dewasa punya pengalaman puber yang memalukan, inilah konsep yang diangkat dalam serial kartun “Big Mouth”. Alasan mengapa serial kartun ini nggak cocok ditonton oleh anak kecil adalah karena humor seputar seks yang terlampau dewasa.

Dalam Big Mouth, lo akan melihat sekelompok murid SMP yang memasuki puber dan mulai penasaran dengan seksualitas mereka. Masing-masing memiliki Hormone Monster yang memberikan mereka arahan selama puber, walau sebetulnya arahan itulah yang menjerumuskan remaja-remaja ini ke jurang masalah.

 

 

 

Sources: IGN, Man of Many, Collider