• Music News
  • Dea Dalila: Piawai Berkarya dalam Musik dan Seni Visual

Dea Dalila: Piawai Berkarya dalam Musik dan Seni Visual

Mon, 08 June 2020
Dea Dalila yang hobi mengeksplor jenis musik

Dalila Azkadiputri atau yang lebih dikenal sebagai Dea Dalila bukanlah orang baru di industri musik Tanah Air. Setelah memutuskan berpisah dari grup musik HIVI!, Dea, sapaan akrabnya, mulai mencoba untuk mengeksplorasi dan berkarya dalam dua bidang yang sangat berbeda; musik dan visual. Jenis musik yang dieksplorasinya pun kini lebih beragam. Ia mengaku ingin mencoba semua genre musik untuk mendapatkan banyak pengalaman baru.

Bagi Dea, musik adalah suara untuk dirinya sendiri. Namun, seperti halnya kebanyakan orang, nggak semua suara dalam kepala bisa diungkapkan dengan lantang. Beruntung, Dea punya caranya tersendiri, yaitu melalui seni visual. Penasaran bagaimana Dea Dalila yang multitalenta menciptakan karya-karyanya, Bro? Simak cerita lengkapnya, ya!

Melalui dalilektra, Dea menjajal genre musik elektronik

 

Eksplorasi Musik melalui Dalilektra

Musik mempunyai arti tersendiri bagi seorang Dea Dalila. Musik juga telah menjadi salah satu bagian paling penting di hidupnya. Menurutnya, musik itu menyuarakan proses ia tumbuh sebagai manusia. Musik awalnya merupakan sesuatu yang kosong dan harus diberi “nyawa”. Karena inilah, ia membuat musik dari nol, “Sekarang gue lagi rajin ngulik-ngulik musik dan bereksperimen, produksi di studio,” ungkap Dea.

Dea pun mencoba lebih kreatif dan broad dengan proyek musiknya sekarang yang bernama ‘dalilektra’. Nama tersebut diambil dari singkatan ‘dalila electronic’, sesuai dengan genre yang disajikan. Meskipun terdengar sebagai proyek solo, Dea nggak melulu ingin mengaitkan dalilektra dengan dirinya. “Dalilektra nggak mesti figur gue atau dalam bentuk orang, bisa aja dalam bentuk digital. Jadi memang lebih ke musik yang gue buat,” aku Dea.

Diakui Dea, hobinya dalam eksplorasi musik juga disebabkan karena ia tumbuh dengan mendengarkan berbagai genre musik, dari alternatif seperti Placebo, Nine Inch Nails, Thom Yorke, sampai Britney Spears yang nge-pop abis.

Ia mendeskripsikan musiknya kini sebagai musik new age, “Musik gue ngegabungin semua yang gue suka, contohnya soundtrack. Dari anime, tema cyberpunk, dystopian sampai Interstellar dan The Last Emperor pun ada,” ujar Dea yang mengidolakan karya-karya dari Hans Zimmer ini.

Dalam waktu dekat, bakal ada dua proyek musik yang siap Dea rilis dengan genre yang berbeda dari musik dalilektra sebelumnya. Jadi nggak sabar ya, bro!

Nomadic Existence: Astral Bodies, buku seri kedua karya Dea

 

Mengungkapkan Isi Hati dengan Seni Visual

Selain bermusik, Dea Dalila ternyata juga aktif dalam seni visual. Ide akan seni visual ini berasal dari banyaknya pemikiran Dea yang nggak bisa diungkapkan ke orang lain. Hal-hal yang dipendam inilah yang kemudian dituangkan Dea melalui media seni dalam seri buku trilogi berilustrasi abstrak, “Nomadic Existence”. Sejauh ini, sudah ada dua buku yang telah diluncurkan, yaitu “Star Theory” dan “Astral Bodies”. Buku terakhir, yang judulnya belum dipublikasikan, juga akan diluncurkan dalam waktu dekat.

Dalam buku Astral Bodies yang dirilis Februari 2020 lalu, lo bisa menemukan beberapa unsur, salah satunya aksara buatan Dea yang dinamakan SCHMEW CODE. Kode-kode ini terdiri dari bentuk kotak dan lingkaran yang menggambarkan simbol kehidupan, “Selain doodling, astral bodies yang gue bikin sendiri, buku ini memadukan sesuatu yang terbatas dan nggak terbatas,” jelasnya.

Ilustrasi SCHMEW CODE yang terdiri dari kotak, titik, dan lingkaran

Pada SCHMEW CODE, bentuk kotak menggambarkan sesuatu yang terbatas dengan adanya sudut berjumlah empat. Lalu, bentuk lingkaran justru menggambarkan sesuatu yang nggak terbatas alias nggak terhingga karena tidak ada satu pun sudut yang membatasinya. Kalau diperhatikan baik-baik, di antara kedua bentuk ini terdapat bentuk lain, yaitu titik. Bentuk ini merupakan simbol dari kebijaksanaan. Di titik tengah ini pula manusia bisa menemukan ketenangan, kebahagiaan, dan kebijaksanaan yang sesungguhnya. Filosofis sekali, ya!

Ilustrasi gambarnya sendiri juga mempunyai filosofi. Dea menggambarkan Astral Bodies yang menyimbolkan tubuh sebagai sesuatu yang nggak abadi. Ilustrasi ini didominasi oleh warna merah yang melambangkan keberanian sekaligus kehancuran, “Gue menggambarkan ini sebagai sesuatu yang chaotic, perasaan yang berbenturan. Mirip kayak film-film apocalypse kali ya. Lucunya ilustrasi ini secara nggak sengaja bisa menggambarkan kondisi kita sekarang ini,” cerita Dea.

3 Kunci Mulai Berkarya dari Dea: Research, Cari Partner, Get to Know Yourself

 

Mulailah Berkarya

Kepiawaian Dea Dalila dalam berkarya di dua bidang, musik dan seni visual, memang perlu diacungi jempol. Dea mantap menjalani keduanya beriringan. Padahal, fokus menjalani satu bidang saja terkadang cukup sulit buat dilakukan. Nah, pastinya sebagian dari lo mungkin juga ingin mulai menciptakan suatu karya dan membagikannya pada orang lain. Namun, untuk memulainya terkadang lo dihadapkan dengan keraguan. Untuk membuat lo jadi makin mantap dan yakin, Dea Dalila punya beberapa tips yang bisa diaplikasikan.

Pertama, lo disarankan untuk rajin melakukan research. Semakin banyak research, semakin banyak pula inspirasi yang akan lo dapatkan. Pengetahuan lo akan topik tersebut pun akan lebih berkembang. Kalau lo ingin membawa karya lo ke ranah yang lebih luas, seperti publikasi, Dea menyarankan untuk memastikan diri lo untuk tahu apa yang lo lakukan, “Kalau udah tau what you’re doing, lo harus bisa mempertanggungjawabkan karya lo itu. Lalu cari partner kerja yang bisa membantu lo. Proses ini jarang banget bisa dilakukan sendiri, ikuti prosesnya, bangun apa pun yang bisa dibangun dari karya lo.”

Sudah memulai tapi menemukan kendala? No worries! Dea Dalila pun sempat berada di tahap itu saat menyelesaikan Nomadic Existence, “Gue sempat nggak pede dengan karya gue karena pendapat orang lain. Karya gue ini kan not everyone’s cup of tea ya, nggak semua orang suka dengan hal ini. Hanya karena gue berbeda bukan berarti itu nggak berguna dan nggak bisa bikin gue happy. Just start to get to know yourself yang paling penting,” tambah Dea.

Penasaran seperti apa karya seni Dea, baik musik dalilektra dan isi dari Nomadic Existence? Langsung cek Instagram Dea Dalila di @dea_dalila. Lo juga bisa pesan buku Nomadic Existence: Astral Bodies dengan mengirim Direct Message secara langsung ke Dea.

 

Konsep Retro, Vintage, dan Pesona Prancis di Setiap Melodi Vira Talisa

Tue, 14 July 2020
Vira Talisa dengan tampilan rambut updo sedang bercermin, mengenakan blouse putih dengan garis abu dan kuning

Cantik, unik, dan bertalenta, Vira Talisa membawa angin segar bagi musik Indonesia, terkhusus dalam musik indie. Dara kelahiran Jakarta yang satu ini ternyata merupakan lulusan Visual Art dari Universitas Rennes, Prancis.

Selama 4 tahun menimba ilmu di negara asing, selepasnya Vira memutuskan untuk fokus bermusik. Baru saja merilis album terbaru “Primavera”, Vira Talisa siap untuk memanjakan telinga pendengar #MumpungLagiDirumah dengan lantunan lagu retro-pop yang manis.

 

Berawal dari Visual Art hingga Bermusik

Vira Talisa menyanyi dengan mic, mengenakan kemeja biru dan topi berwarna orange

Seni dan bermusik merupakan dua hobi seorang Vira Talisa. Sempat terpikir untuk mengambil jurusan musik, namun niat tersebut diurungkan karena takut malah membuat musik jadi terasa seperti “pekerjaan” yang nggak lagi bisa dinikmati dengan santai.

Walau memang seni dan musik merupakan dua hal yang berbeda, Vira merasa justru pengalamannya saat berkuliah menjadi bekal untuk ia menjadi penyanyi, sekaligus mendorongnya untuk benar-benar menggeluti musik. Menggeluti seni secara akademis, dan musik di luar aktivitas akademisnya membuat Vira merasa kedua jalan hidupnya tersebut selaras.

 

Prancis dan Setiap Kenangan di Sana

Salah satu cover single Vira Talisa, mengenakan straw hat dan sarung tangan kulit berwarna hitam

Kalau berbicara soal negara Prancis, pasti yang ada di benak lo adalah suasana romantis di sepanjang sungai Seine dan gemerlap menara Eiffel. Itu juga suasana yang ingin diciptakan oleh Vira lewat musik-musiknya, termasuk juga album terbarunya bertajuk Primavera yang berarti musim semi. Selama Vira berada di Prancis, ia juga masuk ke dalam komunitas dan pertemanan yang memiliki minat musik yang serupa.

Vira merasa klik dengan referensi musik retro-pop yang didapatkannya selama di Prancis. Begitu pula dengan hasil belajar yang ia tekuni di Prancis. Meski mengambil jurusan Visual Art, nyatanya di dalamnya juga mencakup bidang sastra dan film, di mana akhirnya Vira juga mampu mengasah pemahamannya akan musik sebagai salah satu komponen film.

 

Terinspirasi dari The Beach Boys dan Soundtrack Film Klasik

Vira Talisa sedang duduk di sofa sambil menulis di buku berwarna orange

Kiprah bermusik Vira benar-benar dimulai sejak nol, berawal dari sekadar meng-upload hasil cover lagu di platform Soundcloud. Hingga akhirnya, Vira pun berhasil merilis album self-titled di tahun 2016. The Beach Boys menjadi salah satu panutan Vira dalam bermusik dan musisi yang memperkenalkan Vira ke musik dengan genre retro.

Nggak hanya The Beach Boys saja, Vira juga jatuh cinta dengan konsep vintage dan genre pop-retro melalui soundtrack film garapan Jean-Luc Godard, seperti “Singing in the Rain”. Film-film klasik di era 30-an dan 60-an menjadi inspirasi bagi musikalitas Vira Talisa.

 

Dukungan Manis dari Orang Tercinta

Vira Talisa menyanyi di atas panggung dengan dress hitam

Dibesarkan di keluarga pencinta musik, Vira Talisa ternyata masih memiliki hubungan keluarga dengan legenda musik Eyang Titiek Puspa. Keluarganya sering mendengarkan lagu-lagu karya Everly Brothers dan The Beatles yang membuat Vira sebagai sosok old soul dengan kemampuan bermusik yang nggak perlu diragukan lagi.

Dalam album Primavera yang berisikan delapan lagu, ada satu lagu berjudul “He’s Got Me Singing Again” yang menceritakan sosok sang kekasih, Radityo Joko Bramantyo. Bagi Vira menulis lirik dan menggarap musik itu adalah ekspresi paling jujur yang bisa dimiliki seseorang. Sekarang, album Primavera sudah bisa didengarkan di berbagai platform streaming. Vira juga sedang fokus untuk merilis album fisik dan tetap melahirkan tembang-tembang retro-pop.

 

 

 

Sources: Medcom.id, CNN Indonesia, Liputan 6.