• Music News
  • Fidelitas Cinta, Album Tentang Pandemi dari Harlan Boer

Fidelitas Cinta, Album Tentang Pandemi dari Harlan Boer

Tue, 16 June 2020
Harlan Boer sedang memegang gagang telepon di depan telephone booth khas UK

Mantan personil The Upstairs, Harlan Boer, merilis album terbaru bertajuk Fidelitas Cintapada hari Senin lalu (8/6). Berbeda dari album-album sebelumnya, Fidelitas Cinta punya segudang keunikan yang secara sempurna menggambarkan situasi lo dan banyak orang lainnya di tengah pandemi COVID-19 ini. #MumpungLagiDirumah saja, lo bisa dengerin Fidelitas Cinta sambil rebahan, Bro.

 

Double Album dengan 20 Tracks

Dua artwork untuk kedua album Fidelitas Cinta didominasi warna merah dan ilustrasi rumah

Kondisi yang nggak mendukung seperti sekarang ini malah terbukti menjadi ladang kreativitas bagi banyak musisi, nggak terkecuali Harlan Boer. Satu album saja nggak cukup, sampai ia akhirnya merilis double album yang dibagi menjadi Fidelitas Cinta 01 dan Fidelitas Cinta 02. Ke-20 lagu di double album ini bernada lo-fi, pastinya cocok jadi teman manis selagi lo beraktivitas.

Kalau soal genre lagu, Fidelitas Cinta jadi album lengkap dengan track bergenre pop, post-punk, anti-folk, avant-garde, hip hop, downtempo, hingga dangdut. Nggak heran, karena Harlan sendiri mengakui kalau penggarapan Fidelitas Cinta dipengaruhi oleh musisi-musisi lain, sebut saja Rhoma Irama, The Cures, Beastie Boys, Bob Dylan, dan Miles Davis.

 

Karya Bebas Serba Terbatas

Harlan Boer sedang bermain gitar di sebuah pentas di atas panggung

Nggak bisa dipungkiri ya kalau kualitas suara rekaman jadi salah satu nilai penting dalam sebuah album. Tetapi, album Fidelitas Cinta menggebrak statement itu. Siapa sangka, dari segala keterbatasan Harlan dalam menggarap album ini, lagu-lagu yang diproduksi pun jadi terdengar lebih otentik, bahkan sensasi lo-fi jadi begitu terasa.

Dalam pembuatannya, Harlan nggak menggunakan software sound mixing canggih ataupun mic profesional. Semuanya dilakukan dari rumah dengan alat seadanya. Bermodal handphone dan alat musik “tua” yang nganggur di rumahnya, Harlan akhirnya sukses menggarap Fidelitas Cinta.

Harlan bercerita kalau ia menggunakan alat musik seadanya di rumah. Mulai dari gitar milik sang istri, harmonika pemberian teman, drum machine Roland tahun 1987 lengkap dengan adaptor yang menghasilkan noise. Ditambah amplifier bass Cort, Casio SA-5, glockenspiel, tamborin, dan baby tambourine yang kondisinya lumayan rusak.

Jadi, jangan kaget Bro saat lo bisa mendengarkan ambience noise di dalam double album ini. Saat proses rekaman di rumah, Harlan memutuskan untuk nggak memotong suara hujan ataupun background noise yang ada. Hal terpenting buat Harlan adalah ekspresi dan pesan lagu-lagu tersebut tersampaikan lewat momentum random yang bahkan manusia sendiri nggak bisa rencanakan.

 

Dirilis dalam Bentuk Mixtape Online

Rupanya, Fidelitas Cinta dicetuskan secara nggak sengaja. Semua berkat minimnya kemampuan Harlan dalam menggunakan teknologi, alias gaptek. Berawal dari VJ>Play yang mengajak Harlan untuk berkontribusi di mixtape Visual Jalanan.

Lirik-lirik dalam album ini diambil langsung dari buku kumpulan puisi Harlan yang berjudul sama, sayangnya belum diluncurkan karena pandemi. Fidelitas Cinta menceritakan segala aspek kehidupan yang sebelumnya nggak terlihat, semakin jelas di kala pandemi. Jarak, pengangguran, kumpul bersama orang terkasih, sulitnya bertahan hidup, dan rencana masa depan jadi topik-topik yang dibungkus ke dalamnya.

Fidelitas Cinta sudah bisa lo dengarkan secara online melalui website Visual Jalanan dalam judul “DIY Sound Lab Media.”

 

 

 

Sources: Hai, Pamityang2an, Bicaramusik

Konsep Retro, Vintage, dan Pesona Prancis di Setiap Melodi Vira Talisa

Tue, 14 July 2020
Vira Talisa dengan tampilan rambut updo sedang bercermin, mengenakan blouse putih dengan garis abu dan kuning

Cantik, unik, dan bertalenta, Vira Talisa membawa angin segar bagi musik Indonesia, terkhusus dalam musik indie. Dara kelahiran Jakarta yang satu ini ternyata merupakan lulusan Visual Art dari Universitas Rennes, Prancis.

Selama 4 tahun menimba ilmu di negara asing, selepasnya Vira memutuskan untuk fokus bermusik. Baru saja merilis album terbaru “Primavera”, Vira Talisa siap untuk memanjakan telinga pendengar #MumpungLagiDirumah dengan lantunan lagu retro-pop yang manis.

 

Berawal dari Visual Art hingga Bermusik

Vira Talisa menyanyi dengan mic, mengenakan kemeja biru dan topi berwarna orange

Seni dan bermusik merupakan dua hobi seorang Vira Talisa. Sempat terpikir untuk mengambil jurusan musik, namun niat tersebut diurungkan karena takut malah membuat musik jadi terasa seperti “pekerjaan” yang nggak lagi bisa dinikmati dengan santai.

Walau memang seni dan musik merupakan dua hal yang berbeda, Vira merasa justru pengalamannya saat berkuliah menjadi bekal untuk ia menjadi penyanyi, sekaligus mendorongnya untuk benar-benar menggeluti musik. Menggeluti seni secara akademis, dan musik di luar aktivitas akademisnya membuat Vira merasa kedua jalan hidupnya tersebut selaras.

 

Prancis dan Setiap Kenangan di Sana

Salah satu cover single Vira Talisa, mengenakan straw hat dan sarung tangan kulit berwarna hitam

Kalau berbicara soal negara Prancis, pasti yang ada di benak lo adalah suasana romantis di sepanjang sungai Seine dan gemerlap menara Eiffel. Itu juga suasana yang ingin diciptakan oleh Vira lewat musik-musiknya, termasuk juga album terbarunya bertajuk Primavera yang berarti musim semi. Selama Vira berada di Prancis, ia juga masuk ke dalam komunitas dan pertemanan yang memiliki minat musik yang serupa.

Vira merasa klik dengan referensi musik retro-pop yang didapatkannya selama di Prancis. Begitu pula dengan hasil belajar yang ia tekuni di Prancis. Meski mengambil jurusan Visual Art, nyatanya di dalamnya juga mencakup bidang sastra dan film, di mana akhirnya Vira juga mampu mengasah pemahamannya akan musik sebagai salah satu komponen film.

 

Terinspirasi dari The Beach Boys dan Soundtrack Film Klasik

Vira Talisa sedang duduk di sofa sambil menulis di buku berwarna orange

Kiprah bermusik Vira benar-benar dimulai sejak nol, berawal dari sekadar meng-upload hasil cover lagu di platform Soundcloud. Hingga akhirnya, Vira pun berhasil merilis album self-titled di tahun 2016. The Beach Boys menjadi salah satu panutan Vira dalam bermusik dan musisi yang memperkenalkan Vira ke musik dengan genre retro.

Nggak hanya The Beach Boys saja, Vira juga jatuh cinta dengan konsep vintage dan genre pop-retro melalui soundtrack film garapan Jean-Luc Godard, seperti “Singing in the Rain”. Film-film klasik di era 30-an dan 60-an menjadi inspirasi bagi musikalitas Vira Talisa.

 

Dukungan Manis dari Orang Tercinta

Vira Talisa menyanyi di atas panggung dengan dress hitam

Dibesarkan di keluarga pencinta musik, Vira Talisa ternyata masih memiliki hubungan keluarga dengan legenda musik Eyang Titiek Puspa. Keluarganya sering mendengarkan lagu-lagu karya Everly Brothers dan The Beatles yang membuat Vira sebagai sosok old soul dengan kemampuan bermusik yang nggak perlu diragukan lagi.

Dalam album Primavera yang berisikan delapan lagu, ada satu lagu berjudul “He’s Got Me Singing Again” yang menceritakan sosok sang kekasih, Radityo Joko Bramantyo. Bagi Vira menulis lirik dan menggarap musik itu adalah ekspresi paling jujur yang bisa dimiliki seseorang. Sekarang, album Primavera sudah bisa didengarkan di berbagai platform streaming. Vira juga sedang fokus untuk merilis album fisik dan tetap melahirkan tembang-tembang retro-pop.

 

 

 

Sources: Medcom.id, CNN Indonesia, Liputan 6.