• Music News
  • Guyon Waton, Cara Menikmati Musik Dangdut Khas Anak Muda

Guyon Waton, Cara Menikmati Musik Dangdut Khas Anak Muda

Mon, 08 June 2020
Band Guyon Waton yang terbentuk dari kebiasaan nongkrong dan cover lagu bersama

Dari dulu sampai sekarang, genre dangdut telah memberikan warna berbeda di dunia musik Indonesia. Band bernama Guyon Waton pun berupaya mengubah image dangdut yang sering dipandang sebagai musik ‘kampung’. Enam sekawan asal Yogyakarta ini mengeluarkan karya-karya dangdut akustik dan berhasil mempopulerkannya di kalangan anak muda.

Bagaimana awal mula terbentuknya Guyon Waton? Apa saja cerita menarik yang telah ditemui selama perjalanan bermusik mereka? Yuk, simak ulasannya di bawah ini!

 

Berawal dari Hobi Iseng Cover Lagu

Guyon Waton berpose dengan salah satu rekan sebelum manggung

Berangkat dari hobi nongkrong dan meng-cover lagu-lagu populer, sekelompok anak muda Yogyakarta ini memutuskan membentuk Guyon Waton pada tahun 2015. Personelnya ada Faisal Bagus Ibrahim (vokal), Ahmad Arifin (gitar), Hieronimus Ferry Widiyatmoko (gitar), Ndika Rosmaya (ukulele), Andreas Wahyu (ketipung), dan Yuli Hamdani (bass). Menariknya, mereka sepakat mengusung aliran musik yang belum begitu familiar di telinga masyarakat, yaitu dangdut akustik.

“Biasanya, setelah meng-cover lagu, kami pasti mengunggahnya ke media sosial Instagram. Lalu, banyak berdatangan respon positif dari teman-teman follower. Kami pun mulai coba-coba membuat karya lagu sendiri dengan genre dangdut akustik. Lirik yang kami gunakan adalah lirik Bahasa Jawa,” ungkap Faisal, sang vokalis.

Guyon Waton menilai bahwa musik dangdut adalah musik yang paling merakyat di kalangan masyarakat. Tapi, dangdut yang dibikin akustik masih jarang sekali ditemukan. Karena itulah, Faisal dan kawan-kawan mengemas karyanya dengan sentuhan akustik yang khas. Nuansa musik akustik yang santai dengan iringan gitar dan bass, ditambah dengan pukulan ketipung dan petikan ukulele yang dinamis, membuat para penggemar Guyon Waton menyukai jenis musik baru ini.

Penampilan Guyon Waton ketika manggung di Yogyakarta

Selain berkarya, Guyon Waton juga punya cita-cita keren, Bro, yakni ingin melestarikan bahasa daerah. Karena semua anggotanya berasal dari Yogyakarta, mereka pun memilih membawakan lagu-lagu ciptaan dengan Bahasa Jawa sebagai identitas diri yang sebenarnya. Meski begitu, banyak penggemar Guyon Waton yang berasal dari luar Jawa juga, lho.

Selama lima tahun serius menggeluti dunia musik, tampil dari panggung ke panggung, setiap personel Guyon Waton tentu punya kesan tersendiri. Siapa sangka, karir musik yang dimulai dari panggung sederhana kini bisa membawa mereka ke event musik berskala nasional.

"Kami merintis band ini dari bawah, dari panggung-panggung di kampung yang selesai manggung cuma dibayar dengan gorengan atau nasi kotak, sampai sekarang kami bisa tampil di panggung-panggung besar dan bisa keliling ke beberapa kota di Indonesia. Kami akan terus berkarya dan memberikan yang terbaik untuk masyarakat pencinta musik dangdut," tutur Faisal.

 

Identik dengan Lagu Galau dan Patah Hati

Faisal Bagus Ibrahim, vokalis Guyon Waton, selalu menghayati ketika menyanyikan lagu bertema cinta

Hal yang khas dari grup band yang mulai meroket di pertengahan tahun 2017 ini adalah lirik lagunya yang selalu bertema tentang patah hati, galau ditinggal kekasih, dan harapan-harapan yang nggak pernah kesampaian ketika menjalin hubungan. Sampai sekarang, Guyon Waton sudah mengeluarkan 7 single lagu dangdut dengan bahasa Jawa, di antaranya yaitu: ‘Ora Masalah’, ‘Karma’, ‘Penak Konco’, ‘Takkan Kembali’, ‘Lungaku’, ‘Korban Janji’ dan ‘Perlahan’.

Dari 7 single tersebut, Faisal mengaku ada beberapa yang menjadi hits di kalangan pencinta musik di Yogyakarta dan Jawa Tengah, salah satunya adalah Korban Janji. Single ini menceritakan tentang seseorang yang sedang sayang-sayangnya dengan kekasih, tapi malah ditinggal pergi karena sang kekasih jatuh hati pada orang lain.

Lagu Karma juga banyak di-request setiap kali Guyon Waton manggung. Lagu ini menceritakan tentang buah simalakama yang menimpa seseorang yang melanggar janji setia dan menyesali perbuatannya. Sang mantan menolak balikan karena terlanjur sakit hati. Kalau dipikir-pikir, lagu Korban Janji dan Karma adalah dua lagu yang saling bersambung kisah!

Dalam waktu dekat, Guyon Waton berencana merilis single baru berjudul ‘Ajur Mumur’. Dalam lagu terbarunya, band ini akan membuat video klip dengan konsep animasi agar bisa menyajikan suguhan yang berbeda dan nggak membosankan para penggemar.

 

Kolaborasi Musik Akustik dan Dangdut

Guyon Waton menambah personil untuk memberikan sentuhan akustik pada setiap penampilan

Nggak dipungkiri Bro, kekuatan grup band yang menyebut para fans-nya dengan julukan Gutoners ini terletak pada kepiawaian para personel memadukan musik akustik dengan  dangdut. Karakter vokal Faisal yang sangat pop juga memberikan warna tersendiri di setiap karya Guyon Waton.

Ketika mendengarkan lagu-lagu mereka, lo mungkin akan merasa seperti mendengarkan musik pop biasa. Namun, nuansa musik dangdut yang kental akan mulai muncul di bagian pertengahan lagu. Untuk menambah kesan akustik pada karya-karyanya, Guyon Waton sampai menambahkan additional player untuk memainkan alat musik biola dan keyboard.

Keharmonisan antara alat musik tradisional seperti ukulele dan ketipung, dipadu dengan elemen biola dan keyboard pastinya bikin musik mereka terdengar khas dan nggak ada duanya.

Biar lo nggak penasaran membayangkan seperti apa musik dangdut akustik yang dibawakan Guyon Waton, langsung aja kepoin Instagram mereka di @guyonwatonofficial!

 

Konsep Retro, Vintage, dan Pesona Prancis di Setiap Melodi Vira Talisa

Tue, 14 July 2020
Vira Talisa dengan tampilan rambut updo sedang bercermin, mengenakan blouse putih dengan garis abu dan kuning

Cantik, unik, dan bertalenta, Vira Talisa membawa angin segar bagi musik Indonesia, terkhusus dalam musik indie. Dara kelahiran Jakarta yang satu ini ternyata merupakan lulusan Visual Art dari Universitas Rennes, Prancis.

Selama 4 tahun menimba ilmu di negara asing, selepasnya Vira memutuskan untuk fokus bermusik. Baru saja merilis album terbaru “Primavera”, Vira Talisa siap untuk memanjakan telinga pendengar #MumpungLagiDirumah dengan lantunan lagu retro-pop yang manis.

 

Berawal dari Visual Art hingga Bermusik

Vira Talisa menyanyi dengan mic, mengenakan kemeja biru dan topi berwarna orange

Seni dan bermusik merupakan dua hobi seorang Vira Talisa. Sempat terpikir untuk mengambil jurusan musik, namun niat tersebut diurungkan karena takut malah membuat musik jadi terasa seperti “pekerjaan” yang nggak lagi bisa dinikmati dengan santai.

Walau memang seni dan musik merupakan dua hal yang berbeda, Vira merasa justru pengalamannya saat berkuliah menjadi bekal untuk ia menjadi penyanyi, sekaligus mendorongnya untuk benar-benar menggeluti musik. Menggeluti seni secara akademis, dan musik di luar aktivitas akademisnya membuat Vira merasa kedua jalan hidupnya tersebut selaras.

 

Prancis dan Setiap Kenangan di Sana

Salah satu cover single Vira Talisa, mengenakan straw hat dan sarung tangan kulit berwarna hitam

Kalau berbicara soal negara Prancis, pasti yang ada di benak lo adalah suasana romantis di sepanjang sungai Seine dan gemerlap menara Eiffel. Itu juga suasana yang ingin diciptakan oleh Vira lewat musik-musiknya, termasuk juga album terbarunya bertajuk Primavera yang berarti musim semi. Selama Vira berada di Prancis, ia juga masuk ke dalam komunitas dan pertemanan yang memiliki minat musik yang serupa.

Vira merasa klik dengan referensi musik retro-pop yang didapatkannya selama di Prancis. Begitu pula dengan hasil belajar yang ia tekuni di Prancis. Meski mengambil jurusan Visual Art, nyatanya di dalamnya juga mencakup bidang sastra dan film, di mana akhirnya Vira juga mampu mengasah pemahamannya akan musik sebagai salah satu komponen film.

 

Terinspirasi dari The Beach Boys dan Soundtrack Film Klasik

Vira Talisa sedang duduk di sofa sambil menulis di buku berwarna orange

Kiprah bermusik Vira benar-benar dimulai sejak nol, berawal dari sekadar meng-upload hasil cover lagu di platform Soundcloud. Hingga akhirnya, Vira pun berhasil merilis album self-titled di tahun 2016. The Beach Boys menjadi salah satu panutan Vira dalam bermusik dan musisi yang memperkenalkan Vira ke musik dengan genre retro.

Nggak hanya The Beach Boys saja, Vira juga jatuh cinta dengan konsep vintage dan genre pop-retro melalui soundtrack film garapan Jean-Luc Godard, seperti “Singing in the Rain”. Film-film klasik di era 30-an dan 60-an menjadi inspirasi bagi musikalitas Vira Talisa.

 

Dukungan Manis dari Orang Tercinta

Vira Talisa menyanyi di atas panggung dengan dress hitam

Dibesarkan di keluarga pencinta musik, Vira Talisa ternyata masih memiliki hubungan keluarga dengan legenda musik Eyang Titiek Puspa. Keluarganya sering mendengarkan lagu-lagu karya Everly Brothers dan The Beatles yang membuat Vira sebagai sosok old soul dengan kemampuan bermusik yang nggak perlu diragukan lagi.

Dalam album Primavera yang berisikan delapan lagu, ada satu lagu berjudul “He’s Got Me Singing Again” yang menceritakan sosok sang kekasih, Radityo Joko Bramantyo. Bagi Vira menulis lirik dan menggarap musik itu adalah ekspresi paling jujur yang bisa dimiliki seseorang. Sekarang, album Primavera sudah bisa didengarkan di berbagai platform streaming. Vira juga sedang fokus untuk merilis album fisik dan tetap melahirkan tembang-tembang retro-pop.

 

 

 

Sources: Medcom.id, CNN Indonesia, Liputan 6.