• Music News
  • Berkarya #MauLagiDimanapun bareng Hindia

Berkarya #MauLagiDimanapun bareng Hindia

Mon, 31 August 2020
Berkarya #MauLagiDimanapun bareng Hindia

Hindia hadir membawakan lagu-lagu terbaiknya dalam MLDSPOT Intimate Sound edisi Rabu, 26 Agustus 2020 lalu, untuk menghibur lo yang udah kangen nonton konser. Meski hanya bisa live lewat Instagram dan Twitter MLDSPOT, namun bagi Hindia, berkarya #MauLagiDimanapun tetap nggak masalah. Simak di sini yuk keseruannya!

 

Di Balik Lagu Rumah ke Rumah

Lagu “Rumah ke Rumahatau yang pada sesi live kemarin Hindia sebut sebagai Home to Home menjadi lagu pembuka yang dibawakan dengan petikan gitar dari sang produser, Rayhan Noor. Mereka berbagi kisah di balik pembuatan lagu Rumah ke Rumah. Ketika itu, Hindia membutuhkan satu lagu lagi untuk album perdananya, “Menari Dalam Bayangan (MDB)”. Di tengah kesibukan mereka menggarap lagu “Dehidrasi”, awalnya Hindia meminta Rayhan Noor untuk membantunya menulis bagian intro, verse dan chorus.

Namun, ada satu momen di mana Hindia berhenti di depan sebuah minimarket dan berdiam diri di dalam mobil selama 30 menit. Di situlah, Hindia atau Baskara Putra yang juga vokalis dari .Feast menumpahkan segala kebingungan yang nggak bisa disampaikannya secara lisan ke dalam tulisan. Sampai di rumah, tulisan itu terus diulang-ulang dan diperbaiki pada beberapa sisi hingga akhirnya Hindia berhasil menyerahkan satu lagu utuh kepada Rayhan.

Sementara itu, Rayhan makin semangat menggarap lagu setelah menonton “Blue Jay”, film yang mengisahkan pertemuan sepasang mantan kekasih di sebuah minimarket. Minimarket, jadi benang merah kedua musisi ini yang membuktikan bahwa ide bisa datang #MauLagiDimanapun, Bro!

 

Menanggapi Pandemi

The best thing we can do saat ini adalah jaga diri sendiri,” begitu jawaban Rayhan sebagai mantan tenaga medis menanggapi gelombang pandemi di Indonesia. Hindia menghimbau para penonton MLDSPOT Intimate Sound untuk meminimalisir kegiatan di luar rumah. Sebagai musisi, Hindia juga mencari cara untuk bisa menyelesaikan urusan maupun menghilangkan kebosanan dari rumah, misalnya dengan membuat lagu, seperti yang dilakukan bersama Rayhan.

Ketika ditanya oleh salah satu penonton live MLDSPOT Intimate Sound kapan akan manggung lagi, Hindia menjawab lebih suka ‘seperti ini’. Mereka menyukai panggung online yang bisa disaksikan tanpa perlu kehadiran fisik. Kepekaan sosialnya yang kuat memberikan Hindia beban moral jika secara nggak langsung mengajak ribuan orang berkumpul pada kondisi seperti ini. Nonton konser dari rumah aja? Nggak masalah kok, Bro!

 

Berandai Bersama Hindia

Sebuah pertanyaan kontemplatif dilempar oleh penonton, apa yang akan dilakukan Hindia andai karirnya redup di masa depan karena faktor usia dan lainnya? “Memang kita nggak bisa memaksakan untuk selalu relevan. Seperti fotografer, kami cuma bisa capture apa yang dilihat sekarang di depan mata. Kalo ada yang nanya, ‘karya lo ingin menyampaikan apa?’ Kadang-kadang nggak ada hal lain yang ingin disampaikan selain yang ditulis,” ujar Hindia yang ternyata gemar beranalogi.

Hindia menyadari akan ada masanya ketika beranjak dewasa, apa yang dipikirkannya sudah berbeda dengan generasi muda. Sarannya cuma satu, tulis sejujurnya aja. Sehingga jika meredup, lo udah merasakan ‘make the most of your time’ ketika masih aktif dan bisa berkarya dulu.

Rayhan Noor juga merasakan bahwa fame atau popularitas bukanlah tujuan utama. Keinginannya adalah untuk bisa menciptakan karya musik sampai tua. Tujuan ini yang dipeliharanya sekaligus untuk melindungi dari ketakutan jika karirnya meredup nanti. Hindia menanggapinya dengan sebuah statement, “Ketenaran sebenarnya adalah hasil dari apa yang kita lakukan secara konsisten”.

Berkarya #MauLagiDimanapun bareng Hindia

 

Bicara Pencapaian

Rayhan punya cerita menarik untuk menjawab pertanyaan tentang pencapaian di bidang musik yang membuatnya bangga pada diri sendiri. “Waktu manggung di Jogja, ada yang nyamperin dan bilang terima kasih udah nulis lagu ini. Karena lagu ini, dia jadi lebih sayang sama keluarga,” ingat Rayhan Noor. Lagu yang dimaksud adalah lagu yang ia tulis untuk kakeknya. Menciptakan lagu yang dapat menangkap emosi dan bisa punya impact ke orang memberikannya sebuah perasaan yang sulit dideskripsikan.

“Kalau dilihat dari perspektif yang lebih besar, hidup itu nggak cuma tentang angka,” kata Hindia. Pencapaian nggak harus muluk, Hindia mensyukuri apa yang dimilikinya. Hindia ingat momen bersama Petra Sihombing saat menulis lagu “Besok Mungkin Kita Masih”, lagu kedua yang dibawakan dalam MLDSPOT Intimate Sound kemarin. Petra yang ketika itu berulang tahun malah memberikan gitarnya kepada Hindia, kemudian dari gitar itu lahirlah single lainnya, “Membasuh”.

Punya teman baik yang bisa mendukung dalam karir memang jadi kebahagiaan sekaligus rejeki tersendiri. Ya nggak, Bro?

 

Melahirkan dan Membesarkan Anak-anak Hindia

Ditanya tentang album mana yang menjadi favorit, Hindia mengaku sulit memilih salah satu. “Rilis lagu itu sama kek punya anak, nggak bisa pilih mana yang paling favorit,” ungkapnya. Hindia mengaku ketika membuat lagu-lagu dalam album Menari Dalam bayangan (MDB), ia hanya ingin menciptakan sesuatu yang bisa didengarkan kapan pun. Album tersebut bahkan diproduksi hanya dari kamar ke kamar, mulai dari kamarnya sendiri, Petra, maupun Rayhan Noor.

Lagi-lagi Hindia menggunakan analogi untuk menggambarkan konsepnya. “Ibarat masak, gue bukan mau masak lobster. Masak nasi goreng yang rasanya ya gitu aja. Affordable, bisa dibeli di mana pun, tahu rasanya ya kek gitu. Comfort food. Gue coba nulis apa yang emang bisa ditulis,” jelasnya.

Pada MLDSPOT Intimate Sound edisi ini, Hindia juga membawakan lagu andalan “Setengah Tahun Ini” dan “Evakuasi”. Setengah Tahun merupakan hasil refleksi Hindia mengenai peristiwa selama paruh pertama tahun 2020. Rayhan juga ambil andil sebagai produser pada lagu tersebut, yang penggarapannya dibantu oleh Wisnu Ikhsantama.

Hal itu sekaligus menjawab pertanyaan penonton tentang cara membungkus kesedihan menjadi karya positif yang bisa bantu banyak orang. Hindia menulis apa yang memang dirasakan tanpa mengkhawatirkan prasangka orang lain. Kesehatan mental bagi Hindia merupakan sebuah keseimbangan antara fisik dan batin. “Jangan punya target pengen bikin lagu positif. Apa pun itu, sedih, marah, bikin aja,” tegas Hindia.

Terakhir, untuk pertanyaan yang jawabannya paling ditunggu, kapan Hindia bakal rilis “Matahari Tenggelam”? Hindia menjawabnya enteng, “Kalau udah pengen.” Matahari Tenggelam adalah lagu terbaru Hindia yang diperdengarkan perdana ke publik ketika live YouTube Sun Eater pada Juli 2020 lalu.

Nah, semoga Hindia bisa jadi inspirasi lo buat berkarya ya, Bro. Sekarang saatnya kita beradaptasi untuk tetap produktif dan kreatif #MauLagiDimanapun, termasuk di rumah aja, nggak masalah!

Jangan lupa follow Instagram @MLDSPOT biar lo bisa terus up-to-date dengan berita inspiratif dan perkembangan terbaru skena musik Indonesia, Bro!

Rich Brian: DOA - Suasana Baru Dari Rapper Andalan?

Fri, 18 September 2020
Cerita dibalik video musik Rich Brian DOA

Ada suasana segar yang dibawa oleh Rich Brian di album terbarunya, 1999 – di lagu DOA. Beatnya yang dinamis, Brian seperti membawa energi baru di mana para penikmatnya, mungkin dibuat terkejut dengan musik di lagu ini. Lo sudah dengar belum bro?

Dari beberapa lagu yang termasuk di dalam album 1999, DOA menjadi salah satu lagu favoritnya. Dilansir dari tirto – DOA adalah sebuah singkatan dari Dead On Arrival. Brian menceritakan kalau lagu ini adalah tentang persaingan dengan seseorang yang memiliki peluang nol di tempat pertama.

Kalau dari segi musik, melodi yang ada di dalam lagu DOA mengingatkannya kepada salah satu grup kesukaannya, yaitu Gorillaz. Lagu ini adalah lagu yang Brian nyanyikan ketika iya merasa mesti lebih baik daripada sebelumnya secara umum.

 

DOA Jadi Energi Tersendiri Dari Brian

rich brian DOA

Credit Image: cultr.com

Mungkin kalau rapper lain bisa saja meminta mobil Lamborghini, Ferrari atau mobil sport lainnya – tapi Brian? Oh my god – dia malah pilih Civic baru. Ini cukup jadi pembeda antara Brian dan rapper lainnya.

Di dalam video musik DOA, diperlihatkan kalau Brian menghabiskan waktunya berada dengan mobilnya. Baik saat dalam perjalanan dan saat mobilnya mogok juga. Tingkah dari Brian sendiri juga menyesuaikan dengan beat dari DOA ini sendiri.

Sehingga di video musik DOA kali ini, Brian terlihat lebih ‘pecicilan’ daripada video musik lainnya. Tidak apa, sih – justru hal ini jadi penyegar dan pembeda serta warna tersendiri dari Brian untuk video musik DOA ini.

Jika ditelisik dari musiknya sendiri, Brian menceritakan kalau DOA berasal dari sesi jamming dirinya, Jacob Ray, dan Diamond Pistols, lalu dengan random Louis Bell juga datang. Brian mengaku ia menjadi penggemar musiknya walau sudah mengenalnya lama dan pada hari itu ia bekerja untuknya.

Selain DOA, di dalam album 1999, setidaknya ada beberapa lagu andalan lainnya seperti ‘Don’t Care’, ‘Love in My Pocket’, ‘Long Run’, ‘When You Come Home’, dan ‘Sins’. Nah selain DOA, ‘Sins’ juga jadi lagu andalan Brian.

Dalam pengerjaan album ini, sebagian besar materi di sini diproduksi sendiri oleh Brian. Namun tetap ada yang ia kerjakan bersama dengan Bekon & The Donuts, Diamond Pistols dan Louis Bell. Dari album 1999, ada video musik yang cukup menarik perhatian, yaitu video musik dari Love in My Pocket.

Brian menceritakan kalau video musik ini jadi favoritnya sementara ini. Video musik dari Love in My Pocket menceritakan tentang bagaimana mencoba menjadi sempurna tidak akan berhasil di sebagian besar waktu.

Bro, apakah lo tahu album 1999 ini adalah album ke berapa dari Brian? Tahun 2019 lalu, Brian merilis albumnya yang berjudul The Sailor, 2018 Head in the Clouds dan ditahun yang sama juga yaitu Amen. Ketenaran Brian berangkat ketika ia mengeluarkan single Dat $tick dan langsung direkrut oleh label 88Rising.

Wah bagaimana nih bro? Dari segala penjelasan di atas – apakah lo sendiri sudah menonton dan menikmati video musik DOA dari Rich Brian? Kalau belum, langsung saja gas dan nonton di sini ya bro!

 

Feature Image – whiteboardjournal.com