• Music News
  • Munthe Boyd: Akhiri Vakum dengan Single Romantis "Moonshine"

Munthe Boyd: Akhiri Vakum dengan Single Romantis "Moonshine"

Wed, 13 May 2020
Munthe berkarier di musik sejak tahun 1999/2000

Romantisme “Moonshine” sebagai single teranyar dari Munthe dianggap sebagai come back-nya Munthe Prahara atau biasa dikenal sebagai Munthe Boyd setelah sempat vakum. “Sebenarnya dari vakum 2015, gue sudah mulai ‘kembali’, diawali dengan merilis single ‘Life is Beautiful’ di 2018, ‘Free Fall’ di Februari 2019, ‘Home’ di Juni 2019, lalu ‘Moonshine’ di Desember 2019,” cerita Munthe.

Musisi asal Bandung ini mengatakan kalau dia ingin membagi pengalaman baru, proses penggarapan karyanya bersama pendengar lewat musik. “Gue ingin menunjukkan kematangan dalam bermusik,” demikian pengakuan Munthe.

 

Inspirasi Personal

Bercerita tentang single Moonshine, Munthe mengaku single itu sebenarnya ditulis sejak 2005, dan waktu itu dia lagi suka dengan seseorang, jadinya tiba-tiba saja inspirasi datang dan lahirnya Moonshine.

Kolaborasi menjadi bagian yang penting untuk tetap eksis berkarya di dunia musik saat ini

Kalau boleh jujur, Munthe nggak punya konsep yang pakem dalam penggarapan lagu ataupun albumnya. “Kadang ide yang dikonsep juga nggak selamanya flawless di proses produksi. Lebih ke mengalir aja dan menangkap ide yang tiba-tiba datang,” cerita Munthe.

Menurutnya, saat ini industri musik Indonesia lagi diramaikan dengan musisi-musisi bagus. Seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi, teknis promosi dalam berkarya juga jauh lebih mudah.

Menyikapi kondisi yang demikian, Munthe selalu menerapkan ‘menjadi diri sendiri’ dan ‘beda’ dalam berkarya. “Kemudian konsisten dan tanggap terhadap perubahan, tapi tetap sebagai diri lo sendiri sih,” tambahnya lagi.

 

Pendengar adalah Nyawa dari Karya

Munthe memberikan apresiasi dan atensi yang besar untuk pendengarnya. Makanya ia menyebut pendengar sebagai nyawa, karena tanpa pendengar musik akan mati. Interaksi juga menjadi komponen yang penting supaya audiens merasa dekat dengan musisi, terutama relate dengan karya-karya musisinya. “Pendengar yang akan selalu ‘menghidupkan’ karya-karya kita,” komentarnya.

Pengalaman personal bisa menjadi ladang inspirasi, salah satu lagu yang sangat personal adalah ‘Moonshine’

Karena itulah Munthe menganggap konser sebagai suatu yang krusial. Konser merupakan sebuah momen pembuktian dan pertanggungjawaban di dalam bermusik, bagaimana karya sebagai musisi ditampilkan dan disajikan buat pendengar.

Menjadi musisi buat Munthe nggak hanya bertanggung jawab terhadap diri sendiri, melainkan juga kepada pendengar. Pendewasaan dalam proses mematangkan karya sangat penting. “Secara musikal, karya-karya terbaru gue sekarang lebih dewasa dan matang, sound-nya sih yang terutama,” tutur Munthe. Menurutnya, sekarang-sekarang ini dia sudah semakin banyak bereksplorasi, termasuk di dalam proses produksi yang melibatkan musisi lain sebagai kolaborator.

 

Lebih Nyaman Menulis Lirik Bahasa Inggris

Buat lo yang mengikuti karya-karya Munthe sejak dulu pasti ngeh dengan lirik-lirik yang ditulisnya. Mostly memang menggunakan bahasa Inggris. Dan menurut pengakuan Munthe nih Bro, dia memang lebih nyaman dengan bahasa Inggris saat menulis lagu.

“Gue selalu merasa kesulitan menulis lirik bahasa Indonesia yang bagus, tapi gue sudah mulai menulis menggunakan bahasa Indonesia, bulan April rencananya akan rilis,” tambah Munthe. Selain dikenal kerap menggunakan bahasa Inggris, pendengar juga menyebut lagu-lagu Munthe cenderung murung, galau, dan romantis.

Menanggapi komentar demikian, Munthe nggak sepenuhnya mengiyakan. Buatnya itu adalah kebebasan berinterpretasi. Interpretasi bisa beragam, orang-orang memberikan makna terhadap sesuatu berdasarkan term of reference dan term of experience. Tentunya kita nggak bisa mematok harus A atau B. “Pendengar bisa merasakan hal yang berbeda untuk lagu yang sama. Gue sih terima-terima saja selama diapresiasi oleh pendengar,” tambah Munthe.

 

Tantangan Menjadi Independen

Konsisten dalam bermusik sangat penting di segala lini situasi

Sebagai informasi, Munthe sudah menekuni dunia musik sejak tahun 1999/2000 dan sejauh ini ada banyak suka dan duka yang dialaminya. Dan sampai saat ini tantangan yang masih signifikan buatnya adalah bagaimana mendistribusikan karyanya secara lebih luas lagi. Tentunya demi menjangkau pendengar baru dengan jalur independen.

Buatnya menjadi musisi—terutama musisi indie, sangat penting untuk tetap konsisten berkarya dan produktif. “Konsisten, menjadi diri sendiri, dan yang paling penting adalah jujur dalam berkarya. Itu sih kuncinya buat gue,” papar Munthe mantap.

Menjadi musisi di era sekarang masih menjanjikan, apalagi kalau jalur kariernya sudah jelas dan punya banyak audiens. Makanya Munthe memberi saran buat lo yang sedang meniti karier di dunia musik untuk tetap konsisten dan tetap berkarya bagaimanapun kondisinya.

“Gue berharap semoga musik gue semakin luas tersebar ke pendengar dan makin banyak manggung terutama ke luar negeri,” Munthe menghaturkan harapan. Sebagai informasi tambahan buat lo nih Bro, sejak 2003 Munthe sudah memproduksi banyak lagu. Ada sekitar 15 lagu yang sudah direkam ke dalam album, single, dan dirilis.

Semua lagu berkesan, buatnya. Hanya saja, single terbaru berasa lebih spesial. Menurutnya, lagu tersebut lebih matang secara musikal dan wujud eksekusi perkembangan kreativitas terbaru dari sosok Munthe.

Home bisa jadi salah satu yang istimewa. Lagu ini menjadi commercial soundtrack PT KAI. Konten video lagu Home menarasikan tentang perjalanan pulang seseorang menuju kampung halamannya dengan menggunakan transportasi kereta.

Melankolis sekaligus tangguh adalah mood yang seketika tercipta ketika lo mendengarkan dan melihat video dari lagu ini. Untuk menambah sentuhan artistik, ada soundscape kereta api yang membuat Home semakin relevan dengan makna pulang itu sendiri.

Mari dukung karya musisi-musisi handal Indonesia, Bro! Yuk, pantengin feed Munthe di @muntheboyd untuk update karya teranyarnya!

The Chainsmokers akan Jadi Host untuk Festival EDM Virtual Pertama

Fri, 29 May 2020
Salah satu penampilan panggung The Chainsmokers

Di tengah pandemi, banyak banget festival musik yang dibatalkan dan para musisi dengan kreatifnya menghadirkan konser virtual yang bisa lo nikmati #MumpungLagiDirumah saja. Konser virtual EDM yang diselenggarakan oleh Sirius XM ini diberi judul DisDance. Sekilas terdengar seperti “distance,” sesuai dengan kondisi terkini kita semua. Festival EDM virtual pertama ini dibawakan langsung oleh The Chainsmokers.

 

Akan Berlangsung Selama Tiga Hari

Andrew Taggart dan Alex Pall tersenyum ke kamera dalam salah satu panggung mereka

Keseruan dari festival virtual DisDance ini berlangsung selama tiga hari. SiriusXM secara eksklusif menunjuk Andrew Taggart dan Alex Pall dari The Chainsmokers untuk meramaikan festival EDM ini dari rumah mereka. Festival EDM ini berlangsung pada 22 hingga 24 Mei 2020 lalu. Disiarkan secara langsung dari saluran BPM milik SiriusXM.

Festival virtual ini sukses jadi obat rindu para pecinta musik EDM dan yang nggak bisa kemana-mana, apalagi seru-seruan di festival dalam waktu dekat. Apalagi set musik EDM dimainkan dalam waktu yang cukup panjang, yakni tiga hari di akhir pekan. Waktu yang tepat Bro buat bersenang-senang dan melepas penat sejenak.

 

Jadi Bentuk Support untuk Industri Musik

Penampilan spektakular The Chainsmokers dengan tembakan kembang api dari sisi panggung

Festival virtual ini juga dilengkapi dengan set eksklusif milik Avicii di tahun 2011. Sedikit banyak dapat mengobati para penggemar musisi dengan nama asli Tim Bergling yang meninggal di tahun 2018 lalu. Set yang dijadikan penghormatan pada musisi EDM yang satu ini disambut positif para penggemar musik EDM.

Nggak hanya itu, panggung EDM virtual ini juga akan menyumbangkan keuntungan serta sejumlah donasi bagi MusicCares. Tujuannya untuk dapat mendukung para pekerja di industri musik yang membutuhkan dan terdampak dari adanya pandemi ini. Apalagi mengingat nggak ada lagi konser dan festival yang diadakan, beberapa pekerja di industri musik juga ikut merugi tanpa ada pekerjaan selama pandemi.

 

Line Up Musisi EDM Terbaik

Alex Pall dan Andrew Taggart berpose dengan apparel serba hitam

Nggak hanya dibawakan oleh musisi EDM terbaik seperti The Chainsmokers saja, Bro. Festival EDM virtual yang sudah berlangsung ini diramaikan jejeran musisi EDM yang nggak kalah keren dan eksklusif pula. Termasuk juga musisi-musisi EDM dengan nama besar seperti Afrojack, Alesso, Armin van Buuren, Gryffin, Kaskade, Krewella, Kygo, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Nggak lupa juga musisi EDM yang populer dan lagu-lagunya banyak jadi hits, seperti Major Lazer, Marshmello, Martin Garrix, Steve Aoki, juga Tiësto. Ada juga set ekslusif milik Avicii yang tadi sempat disebutkan di atas. Ini adalah penampilan Avicii dalam acara eksklusif milik SiriusXM di tahun 2011.

Kebayang ya betapa serunya festival EDM yang disiarkan dari set masing-masing line up musisi EDM ini. Tujuannya pun nggak semata-mata untuk menghibur lo yang ada di rumah atau mengobati kerinduan lo akan ramainya suasana festival EDM. Tetapi sekaligus juga membantu dan memberi kontribusi berarti di tengah pandemi yang sedang berlangsung ini.

 

 

 

Sources: The Billboard, TicketNews, SiriusXm