• Music News
  • Filosofi "Martabak Spesial" ala Jagoan Pemandu Karaoke Oomleo

Filosofi "Martabak Spesial" ala Jagoan Pemandu Karaoke Oomleo

Wed, 22 July 2020
Filosofi "Martabak Spesial" ala Jagoan Pemandu Karaoke Oomleo

Sebelum dikenal sebagai pemandu karaoke handal, Oomleo alias Narpati Awangga menjadikan karaoke berjamaah sebagai karya instalasi yang dibawanya ke pameran-pameran seni rupa. Brazil, Jepang, Malaysia, Singapura, Malaysia, dan Jakarta adalah tempat-tempat di mana Oomleo bersama group exhibition-nya memamerkan karya instalasi dengan format karaoke.

Dari karya seni rupa yang hanya dinikmati komunitas, format karaoke massal ini mendapat perhatian massa yang lebih luas dan menjadi cara baru menikmati musik. Simak perjalanan Oomleo di dunia kreatif, yuk!

 

Iseng Jadi Serius

“Gue cuma iseng-iseng sih, dulu format karaoke massa ini awalnya menjadi proyek instalasi gue, tapi akhirnya jadi asyik juga kalau dibawa ke ranah publik dan ternyata diterima di masyarakat,” cerita Oomleo.

Konsep karaoke yang dibawakan Oomleo seperti karaoke pada umumnya, tetapi venue-nya lebih luas, bahkan bisa memuat antara 5.000-10.000 orang. Interaksi dengan orang yang nggak dikenal, menyanyikan lagu favorit bareng-bareng adalah pengalaman yang ingin dihadirkan Oomleo lewat konsep karaoke massal ini.

“Kalau karaoke biasa kan kita nyanyi hanya di depan keluarga atau teman, kalau di karaoke massal kita nyanyi di depan orang yang nggak kita kenal dan feel-nya itu beda banget,” tambah pria yang juga menjadi vokalis Goodnight Electric ini.

Interaksi di karaoke massal juga lebih beragam, nggak hanya nyanyi bareng tapi juga request lagu, serta hal-hal spontan yang bisa saja terjadi di venue yang ramai. “Nah, tugas pemandu karaoke adalah meng-handle crowded supaya tetap ‘hidup’ dan menikmati momen,” jelas Oomleo.

Sampai saat ini, Oomleo sudah mengoleksi 40.000 lagu sebagai bank lagu untuk diputar saat perform, mulai dari genre pop, jazz, Melayu, sampai Korea. “Terkadang menjadi pemandu karaoke itu kita harus bisa mendeteksi crowd seperti apa, kalau tampilnya di venue A, kira-kira musik yang cocok diputar yang bagaimana,” ceritanya lagi.

 

Ditonton Satu Sama Serunya dengan Ditonton Seribu

“Gue nggak pernah milih-milih sih kalau menerima job, mulai dari acara anak sunatan, partai, gathering kantor, pernah juga acara di kapal pesiar, macam-macam sih,” kata Oomleo. Pun, massa yang hadir juga nggak selalu banyak, kadang hanya satu dua orang saja, bahkan pernah juga ketika tampil di kelab, yang ada hanya bartender dan waitress-nya saja. Tapi, semua tetap terasa menyenangkan buat Oomleo, ketika penonton--berapapun jumlahnya, ikut bernyanyi, merasakan kegembiraan, berbagi energi yang sama.

Sebenarnya kalau ngomongin soal pengalaman menjadi pemandu karaoke, Oomleo punya segudang cerita yang memorable. Ketemu penonton yang suaranya bagus banget sampai booth jadi rame dan disawer penonton pernah ia alami. “Buat gue semuanya menyenangkan sih, gue mendapat banyak pengalaman-pengalaman seru, ketemu dengan orang-orang baru, membangun vibe, mendapat aplaus kemudian ribuan orang sing along itu luar biasa rasanya,” komentar Oomleo.

Ia memaknai profesi sebagai pemandu karaoke sebagai pekerjaan yang bertujuan untuk menghibur. Jadi, ketika melakukannya juga harus dengan mood yang positif. “Kalau kita membawa dengan mood negatif, hasilnya juga pasti nggak bisa dinikmati. Seberapa nggak enaknya suasana ataupun penonton saat itu, kita harus tetap positif, kan profesinya memang sebagai penghibur,” jelas Oomleo.

 

Filosofi “Martabak Spesial” dan Rencana Masa Depan

Saat ini, Oomleo memang belum bisa kembali manggung karena adanya pandemi Covid-19. Hampir semua kegiatan harus dilakukan secara online. Menariknya, buat pekerja kreatif seperti Oomleo, momen ini justru menjadi ajang penggalian ide-ide baru, percobaan-percobaan yang nggak terpikir sebelumnya.

“Pandemi jadi bikin kreatif sih. Semenjak pandemi, mau nggak mau aktivitas serba online, termasuk karaoke massal. Nah, itu kita mesti mengolah otak untuk bikin karaoke tetap asyik walaupun di rumah aja,” terang Oomleo.

Menjadi pemandu karaoke buat Oomleo sebenarnya adalah pekerjaan sampingan. Pekerjaan utamanya adalah visual digital artist dan musisi di Goodnight Electric. Diakuinya kalau dia punya banyak passion yang dilakukan berbarengan. “Tapi kalau suatu saat pekerjaan sebagai pemandu karaoke ini sudah terlalu menyita waktu, mungkin gue akan pensiun,” kata Oomleo yang saat ini sibuk membuat karya seni rupa dan lagu untuk Goodnight Electric.

Sebelum menutup perbincangan, Oomleo menyelipkan pesan buat anak-anak muda yang sedang mencari jati diri dan mengejar passion-nya: “Lakukan apa yang lo suka, kalau lo punya banyak kesenangan, ya kerjakan, kalau lo hanya suka di satu hal, ya diseriusi,” tegasnya.

Pria yang sempat mengecap pendidikan di ISI Yogyakarta ini berpendapat kalau semua orang adalah spesial. Sama seperti ilmu martabak, di mana pun martabak yang lo temui pasti mengusung kata spesial. Yang membedakannya adalah “kespesialan” dari masing-masing gerai. “Nah, itu yang mesti lo cari dari diri lo dan lo kembangkan!” pungkasnya mantap.

Buat lo yang pengen ikutan sesi karaoke massal online bareng Oomleo, langsung aja pantengin Instagram-nya di @Oomleo, Bro!

 

The Chainsmokers Tuai Kontroversi Usai Gelar Konser Drive-In

Fri, 07 August 2020
Duo DJ The Chainsmokers mengenakan kemeja hitam dan putih di atas panggung sambil memegang piala

Pandemi COVID-19 yang masih belum berujung ini tampaknya mulai membuat banyak orang merasa bosan. Wajar saja, berbagai industri hiburan dunia mengalami hiatus sementara, mulai dari perfilman hingga musik. Itu sebabnya tercipta ide untuk menggelar konser drive-in yang menjanjikan pengalaman konser yang nggak kalah seru.

Walaupun sudah ada di era new normal, namun lo tetap saja harus mematuhi aturan social distancing #MauLagiDimanapun. Itu sebabnya konser drive-in cocok karena para peserta konser bisa duduk nyaman dan jauh dari peserta konser lainnya. Konsep drive-in ini juga dianut dalam konser The Chainsmoker. Namun sayangnya, konser ini malah menuai kontroversi.

 

Sebuah Konser Amal di Hamptons

The Chainsmokers di atas panggung sambil memegang mikrofon

Konser yang digelar oleh sebuah agensi travel dan lifestyleIn The Know Experiences” mengundang duo DJ ternama, yaitu The Chainsmokers dan DJ D-Sol. Sebanyak 2.000 orang memadati sebuah lapangan di kawasan elit Hamptons, beberapa di antaranya ada Cuba Gooding Jr., Connor Kennedy, Tyler dan Cameron Winklevoss.

Satu tiket masuk dibanderol dengan harga yang fantastis, berkisar mulai dari USD1,250 sampai USD25,000. Seluruh profit dari konser ini diamalkan ke badan No Kid Hungry, Southampton Fresh Air Home, dan Children’s Medical Fund New York. Kabarnya, The Chainsmokers juga akan menggelar konser dengan konsep drive-in di Miami, Los Angeles, Nashville, Chicago, dan Atlanta.

 

Sudah Menjalankan Prosedur Kesehatan

Penampilan drive-in concert dengan panggung megah dan rentetan mobil yang terparkir rapi

Potongan video para penonton konser ini mulai viral di Twitter dan akhirnya malah menimbulkan kontroversi. Menanggapi kritikan pedas netizen, penyelenggara konser akhirnya mengeluarkan pernyataan yang menyebutkan protokol kesehatan apa saja yang dilakukan untuk menjamin konser drive-in ini aman bagi masyarakat.

Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa suhu setiap peserta dicek sebelum memasuki konser, kemudian masing-masing diberikan masker sebelum diperbolehkan untuk memarkir mobil di depan panggung konser. Para peserta juga nggak diperbolehkan untuk meninggalkan spot berukuran 20 x 20 inci tersebut.

Berdasarkan video yang beredar, sayangnya ada beberapa kontradiksi dari pernyataan tersebut. Sebagian besar peserta terlihat seru menari tanpa mematuhi physical distancing, beberapa bahkan nggak memakai masker. Konser drive-in yang seharusnya dinikmati dari dalam mobil malah justru menyerupai konser pada umumnya sebelum pandemi.

 

Dikecam Publik dan Pemerintah

Andrew Cuomo Gubernur New York mengenakan jas hitam, tampak bendera Amerika Serikat

Walaupun digadang sebagai konser amal, konser drive-in yang dibintangi The Chainsmokers ini dikecam publik, khususnya para pengguna Twitter. Nggak sedikit dari mereka yang mengkritik sikap acuh tak acuh dari para peserta konser yang pastinya berasal dari kalangan menengah ke atas. Netizen juga menyayangkan keputusan peserta konser untuk mengabaikan kesehatan hanya demi menonton The Chainsmokers.

Nggak hanya mengambil perhatian publik, berita ini juga sampai ke kuping Gubernur New York, Andrew Cuomo. Saat ini, konser drive-in tersebut sedang dalam tahap penyelidikan karena Cuomo bersikeras bahwa konser tersebut ilegal dan tidak mematuhi protokol kesehatan yang sudah ditetapkan pemerintah.

 

 

 

Sources: GQ, Vulture, Variety.