Budaya Pop Barat dan Ekspresi Musisi di Era 70-an - MLDSPOT
  • Music Profile
  • Budaya Pop Barat dan Ekspresi Musisi di Era 70-an

Budaya Pop Barat dan Ekspresi Musisi di Era 70-an

Sun, 21 February 2021
Budaya Pop 70an

Musik pop dipandang sebagai genre musik yang easy listening dan memiliki banyak pendengar. Genre musik yang bisa dinikmati oleh semua kalangan ini akan menjadi genre yang melekat dengan masyarakat Indonesia.

Beberapa minggu lalu, MLDSPOT sempat ngebahas tentang genre AOR (Adult Oriented Rock) yang mempengaruhi kehadiran gaya musik city pop. AOR sendiri di Indonesia punya peran atas kehadiran gaya musik Pop Kreatif yang dipengaruhi oleh terbukanya akses informasi bagi masyarakat Indonesia setelah sekian lama menutup diri dari dunia luar.

Bertahun-tahun berlalu, sekarang muncul kembali gaya musik baru dengan istilah baru, yaitu Indonesian City Pop.Tapi sebelumnya, apa sih yang akhirnya membuat industri musik Indonesia menjadi lebih berkembang? Apakah murni pengaruh dari negara barat? Dari pada penasaran, mendingan simak ulasan selengkapnya di bawah ini, bro!

Informasi Terbatas yang Membuat Tidak Bebas

Budaya Pop 70an

Credit image - Historia

Pada tahun 1950 Indonesia sempat membatasi diri dengan lingkungan luar yang menyebabkan akses informasi mengenai musik pun menjadi lebih terbatas. Hal ini dikarenakan kebijakan politik yang dilakukan oleh pemerintah saat itu – yaitu melarang pemutaran musik bergenre rock dan musik-musik barat lainnya.

Nggak cuma sebatas pelarang musik dari barat, bahkan para musisi pun dilarang untuk hadir dengan lagu-lagu yang bermusik keras. Musik yang diproduksi kala itu hanya musik-musik yang memiliki irama musik lokal yang diperbolehkan – seperti keroncong.

Pembatasan informasi mengenai dunia barat ini sejalan dengan politik anti-barat yang saat itu dianut oleh Indonesia. Pada pergantian pemerintahan pada tahun 1967,  akhirnya kebijakan pun berubah. Dari perubahan inilah akhirnya arus informasi mengenai musik pun menjadi lebih terbuka.

Perubahan kebijakan ini seakan menjadi keran bagi para musisi untuk melebarkan sayapnya dalam mengakses informasi dan juga memproduksi musik. Salah satunya dengan munculnya band-band papan atas seperti Koes Bersaudara, Godbless, dan The Rollies.

Terbukanya Informasi Musik Indonesia

Beberapa tahun kemudian, musik Indonesia pun menjadi lebih berkembang. Musik nggak lagi dijadikan alat politik nasional, namun justru berkembang menjadi media ekspresi bagi masyarakat. Akhirnya, perkembangan musik Indonesia saat itu pun menjadi lebih beragam.

Hal ini juga didukung dengan mulai lahirnya banyak media cetak untuk memberikan informasi mengenai musik Indonesia. Salah satunya lewat majalah Aktuil pada 1967. Majalah ini memberitakan tentang musik dari Western Pop, salah satunya dengan kehebatan genre musik rock saat itu.

Dengan ketepatan berita dan up-to-date-nya dengan musik barat, Majalah Aktuil menjadi salah satu media yang sangat berpengaruh dalam perjalanan musik Indonesia dan para musisi dalam menciptakan karyanya. Salah satu perkembangan dunia musik yang dipengaruhi oleh Aktuil adalah kebebasan bermusik dalam musisi dalam menciptakan lagu-lagu yang memiliki lirik yang relatable bagi masyarakat.

Ekspresi Musisi dalam Balutan Konser

Budaya Pop 70an

Credit image - Historia

Keterbukaan Indonesia akan informasi mengenai musik juga semakin membuat industri musik Indonesia menjadi lebih berkembang. Terlebih sejak terbukanya informasi ini semakin membuat Indonesia menjadikan negara barat sebagai kiblat dalam bermusik, salah satunya banyaknya muncul panggung konser di Indonesia.

Salah satu konser yang saat itu sangat melegenda adalah Woodstock. Diselenggarakan di penghujung tahun 1960-an, konser ini dianggap sebagai wadah ekspresi masyarakat yang sudah penat dengan kondisi yang melanda mereka saat itu – akhirnya, kehadiran konser ini memberikan rasa baru di Industri musik barat ketika masuk dekade yang baru, khususnya genre rock.

Seakan nggak mau kalah, Indonesia juga membuat pagelaran panggung musik yang nggak kalah kerennya dengan Woodstock dengan menghadirkan pagelaran konser musik Summer 28 pada tahun 1973 dan Kemarau 75 pada tahun 1975.

Kedua konser ini memberikan perubahan yang cukup pesat pada industri musik sebagai wadah ekspresi – hal ini merujuk tidak hanya kepada para penonton yang bebas berekspresi, tapi juga para musisi dalam menghasilkan karyanya.

Selain konser - ternyata lifestyle, tren fashion, serta apapun yang bersinggungan dengan budaya pop barat pun ikut ditiru secara langsung oleh para masyarakat Indonesia. Dari tren dan informasi budaya barat inilah yang akhirnya membukakan referensi para musisi Indonesia untuk menciptakan gaya musik yang lebih kebarat-baratan.

 Tapi – apa benar industri musik Indonesia bisa berkembang hingga saat ini karena pengaruh dari dunia barat aja? Kalau penasaran, tunggu ulasan baru minggu depan ya, bro!

 

Feature image – Arsip Irama Nusantara

Referensi:

https://supermusic.id/superexclusive/supernoize/alvin-yunata-wajah-musik-pop-dulu-dan-hari-ini

https://media.neliti.com/media/publications/11310-ID-dekonstruksi-musik-pop-indonesia-dalam-perspektif-industri-budaya.pdf

https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20190816093616-227e21856/woodstock-1969-festival-musik-yang-mengubah-amerika

https://pophariini.com/menilik-majalah-aktuil-jurnalisme-rock-indonesia-era-70an/3/

Hak Kekayaan Intelektual: Hak Cipta yang Menyelamatkan Para Musisi

Fri, 23 April 2021
HKI

Saat ini untuk menikmati musik di platform musik digital udah jadi hal yang lumrah. Sebelum memasuki era digital seperti sekarang, banyak orang yang mengalami perjalanan panjang untuk mendengarkan lagu. Era di mana lo harus membeli kaset atau CD dan memutarnya di walkman ataupun discman ini ternyata membuat para penikmat musik merasa kesulitan untuk mengakses musik yang diminati karena harus mengeluarkan kocek yang cukup mahal  hingga akhir nya mencari shortcut untuk menikmati musik – yaitu dengan cara membajak.

Perilaku yang sama sekali nggak patut untuk ditiru ini ternyata menjadi bumerang sendiri buat permusikan di Indonesia. Berawal dari musik yang populer di era 80-an dan penggunaan kaset  yang lagi masif-masifnya – Indonesia mengalami masalah besar mengenai pembajakan yang dilakukan. Dari saat itu, akhirnya hak kekayaan intelektual di Indonesia menjadi lebih ditegakkan.

Biar nggak bingung sendiri, langsung aja simak ulasan mengenai Hak Kekayaan Intelektual di Indonesia dan penerapannya hingga saat ini. Check this out, bro!

Popularitas Musik di Dekade 80-an dan Live Aid Concert

HKI

Credit image – History Id

Seperti yang udah dibahas minggu lalu – musik Indonesia di dekade 80-an sedang berjaya dengan kehadiran musik Pop Kreatif. Dengan masifnya musik yang ada dan penikmat musik yang saat itu sedang populer mendengarkan musik lewat kaset, ternyata juga membuat hadirnya kaset-kaset bajakan di pasaran.

Di waktu yang sama di Inggris sana terdapat konser Live Aid yang diadakan oleh Bob Geldof dan Midge Ure. Konser besar ini diisi oleh banyak musisi papan atas saat itu – seperti U2, David Bowie, Sting, Phill Collins, Elton John, bahkan grup band Queen yang berhasil reuni kembali pada perhelatan konser ini.

Konser yang diadakan atas dasar amal untuk membantu kemiskinan yang ada di Ethiopia ini berhasil ditonton oleh lebih dari 1,9 Miliar orang dari 150 Negara yang berbeda. esuksesan yang diraih oleh konser ini – ternyata dianggap menjadi peluang bagi pihak-pihak nggak bertanggung jawab di dunia, salah satunya juga Indonesia. Beberapa waktu setelah konser ditayangkan, ada kaset bajakan mengenai konser amal ini beredar dan diperjual belikan.

Alhasil, Indonesia dituntut oleh Bob Geldof. Sebagai orang yang mengadakan konser ini dengan niat beramal, Bob Geldof seakan marah besar dengan kejadian ini. ‘Musibah nasional’ yang dihadapi oleh industri musik Indonesia saat itu membuat para musisi kesulitan untuk bergerak. Hal yang dianggap biasa di Indonesia ternyata bisa merugikan negara sendiri!

Perkembangan Hak Kekayaan Intelektual di Indonesia

HKI

Credit image - Medcom

Pembajakan Live Aid Concert diakui sebagai produk yang ‘Made In Indonesia’ ini membuat kondisi Indonesia menjadi terbelenggu. Sebelum terjadi kasus ini, Indonesia sudah terlebih dulu keluar dari Perjanjian Hak Cipta Internasional – yang di mana atas kasus ini, Indonesia nggak bisa dituntut secara hukum dan juga belum ada UU Anti Pembajakan di dalam negeri.

Meskipun begitu, Indonesia tetap dianggap mencuri dan perbuatan ini sudah melanggar etika hukum yang ada.Hingga akhirnya pada tahun 2000-an, , Indonesia lebih sadar dengan Hak Kekayaan Intelektual yang dimiliki. Berawal dari Undang-Undang No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta, lalu Undang-Undang No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, dan saat ini yang sedang hangat-hangatnya adalah Peraturan Pemerintah No. 56 Tahun 2021 tentang Pengelolaan Hak Cipta Lagu dan/atau Musik.

Hak Cipta Musisi yang Perlu Diketahui

Nggak asal dibuat, ternyata Hak Kekayaaan Intelektual diatur sedemikian rupa supaya nggak merugikan pihak-pihak yang terlibat – baik produsen, musisi, dan juga penikmat musik. Belajar dari kesalahan di masa lalu, saat ini Indonesia punya hak cipta atau lisensi yang punya peruntukannya masing-masing. Sebenarnya ada banyak hak cipta yang dilindungi, tapi di bawah ini merupakan hak cipta bagi para musisi yang penting untuk lo ketahui.

Ide dan kreativitas merupakan hal yang berharga dan patut untuk dilindungi. Contohnya lo buat lagu dan berniat merilis baik itu secara fisik ataupun digital. Maka ada 2 hak cipta yang perlu lo ketahui, di antaranya – yaitu Master Rights dan Mechanical Rights. Hak cipta yang pertama adalah Master Rights. Master merupakan rekaman suara yang asli dan mengandung keseluruhan lagu dalam satu album ataupun sekedar satu lagu. Master rights ini biasanya dipegang oleh label rekaman atau studio rekaman karena mereka adalah pihak yang melakukan mastering.

Mechanical rights sendiri merupakan hak eksklusif pemegang hak cipta yang diberikan pada label rekaman untuk melakukan penggandaan mekanikal komposisi musik, lagu, atau album rekaman yang nantinya akan diedarkan ke pasaran. Kalo lo pencipta lagu, hak ini pasti dikasih sama label rekaman lewat kontraknya.

Selain kedua hak cipta di atas, hak cipta yang juga perlu untuk lo ketahui  adalah Synchronization Rights – yaitu hak eksklusif yang dimiliki pemegang hak cipta untuk mengeluarkan lisensi atas karya musik yang diciptakannya untuk digunakan dalam tayangan audio visual seperti film, program TV, iklan komersial.

 Misalnya hasil lagu ciptaan lo tadi ditawar oleh seorang sutradara untuk menjadi soundtrack dalam film yang sedang ia buat. Maka lo berhak untuk mendapatkan royalti dari synchronization tersebut Biar hak cipta lo nggak asal digunakan buat hal yang berbau komersial, bro!

Emang masalah hak cipta dan kekayaan intelektual ini jadi hal yang rumit. Setelah mengetahui ini, jangan sampai lo salah arah dan ternyata memakai karya orang untuk dikomersialkan – apalagi sampai mengkonsumsi bajakan, bro!

 

Feature image – Roland Corp

Referensi:

https://majalah.tempo.co/read/musik/40082/menyala-bob-kita-orang-malu-menyala-bob-kita-orang-malu

https://www.musicbed.com/knowledge-base/types-of-music-licenses/28