Club Eighties: Secukupnya, Sesuai Visi

Tue, 21 July 2020
(kiri ke kanan) Sukma Perdana Manaf, Cliffton Jesse Rompies, Lembu Wirowo, Jati

Keterangan: (kiri ke kanan) Sukma Perdana Manaf, Cliffton Jesse Rompies, Lembu Wirowo, Jati

Sudah nyaris dua puluh tahun sejak debut album fenomenal yang juga berjudul “Club Eighties resmi dirilis tahun 2001. Sepanjang dua dekade itu, Club Eighties berhasil tetap hidup kendati ada banyak persoalan melanda.

Album penuh kelima mereka, “80 Kembali dirilis 2009. Berarti sudah sekitar sebelas tahun yang lalu. Tapi, selama itu absen, selama itu pula mereka dirindukan.

Dengan rentang karir yang panjang, bisa dipastikan penggemar-penggemar mereka bertumbuh bersama. Tiga orang personil yang tersisa dari line up original mereka, Lembu (vokal), Cliff (gitar), dan Yton (keyboards) masih bermain bersama. Kendati tidak sering muncul, tapi Club Eighties tidak pernah undur diri dari panggung megah industri musik Indonesia.

Musik mereka tetap sama, memainkan influence berat dari pop 80-an. Kendati sebenarnya, masing-masing personil tetap membuka diri pada perkembangan musik di sekitar.

“Kita belajar banyak tentang trend musik. Gue sempat bilang sama anak-anak, ‘Lupakan bahwa dulu kita pernah ada di sana. Karena itu yang membuat kita merasa nyaman’,” kata Lembu mewakili dua lainnya.

Personel Club Eighties berpose dengan latar berwarna biru

Sebagai band dengan usia karir yang panjang, begitu banyak hal mampir ke dalam tubuh Club Eighties. Termasuk perpisahan dengan dua orang personil lama, Vincent dan Desta. Di 2019 kemarin, kedua personil lama ini sempat naik panggung di dua pertunjukan penting yang dimainkan oleh Club Eighties. Tidak sedikit pula yang menyangka bahwa mereka akan kembali beranggotakan lima orang di dalam line up-nya.

Kedua penampilan itu, berhasil membawa romantika masa lalu kembali ke tengah-tengah industri musik Indonesia. Meskipun sifatnya hanya temporer. Banyak yang menduga bahwa kedua penampilan itu didasari oleh angka ekonomi yang banyak. Yang kemudian dengan cepat ditampik oleh Lembu.

“Kita sebenarnya akan susah kalau main gara-gara uang. Kita dari awal satu visi, yang sama-sama menyamakan kita adalah visi kita nggak di musik,” katanya melanjutkan penjelasan.

Itu juga kenapa kemudian kita tidak akan sering-sering mendengar kabar baru dari Club Eighties. Visi bahwa musik bukan pilihan utama sekarang, sepertinya perlu dihargai. Masing-masing personilnya punya kehidupan lain yang sedang dijalani.

Main sekali-kali, rasanya jadi pilihan yang cocok. “Zaman nggak bisa dilawan, tapi harus diajak berkawan,” kata Lembu di MLDpodcast. Itu rasanya kenapa kabar dan jejak langkah Club Eighties sekarang ini, terkesan secukupnya saja.

Ardhito Pramono – Craziest Thing Happened in My Backyard

Tue, 21 April 2020
Ardhito Pramono – Craziest Thing Happened in My Backyard

“Craziest Thing Happened in My Backyard” adalah EP keempat Ardhito Pramono yang dirilis secara digital di penghujung Februari 2020 yang lalu. Secara sebuah rekaman, bisa jadi ini kali pertama ia menampilkan sisinya yang penuh dinamika.

EP ini dibuka dengan sebuah lagu upbeat lengkap dengan lirik ber-expilicit language yang di luar kebiasaan sebelumnya, judul lagunya “Trash Talkin’. Inisiatif ini menjadi menu pertama yang memberi janji bahwa EP ini menyenangkan.

Telah memproduksi empat EP, sesungguhnya membuat Ardhito Pramono mengukuhkan dirinya sebagai seorang musisi yang terus menerus memproduksi karya. Terlepas dari image sosialnya yang juga makin populer. Membuat dirinya sebagai seniman yang juga punya karya menonjol dan tidak hanya mengendarai popularitas, adalah pernyataan yang sama menyenangkannya.

Ada progresi dari caranya berkarya. Yang sekarang, lebih berani mencoba bermain-main ke tema yang nakal, aransemen yang juga tidak begitu-begitu saja, tapi tetap mengandalkan keyboard dan sisi manis musik pop. Ramuan ini, tidak baru, tentu saja. Tapi, ketika diaplikasikan seiring dengan perkembangan zaman, ternyata masih cocok-cocok saja. Bisa jadi, yang dibilang orang bahwa musik pop memang selalu berkembang mengikuti waktu, benar adanya.

Yang menarik juga adalah pattern merilis karya dalam bentuk EP. Di masa sekarang, merilis album sebagai sekumpulan lagu adalah pertanyaan efektivitas yang penting; masih atau malah tidak perlu dilakukan sebagai upaya untuk menyebarluaskan karya. Tapi, Ardito Pramono terus melakukan itu. Menderetkan lagu dalam sebuah kesatuan, jelas merupakan upaya untuk memberi gambaran musik yang lebih dalam ketimbang merilisnya sebagai single yang lepas. Narasi yang coba diberikan, jelas punya amunisi dan durasi yang lebih panjang, jika pendekatannya adalah album.

 

Ardhito Pramono – Craziest Thing Happened in My Backyard

Ketika melakukannya hingga empat kali–dan rasanya akan dipertahankan kebiasaannya—, berarti pula Ardhito Pramono menemukan format EP ini sebagai sesuatu yang layak untuk dikejar. Ia tidak sepanjang album penuh, tapi juga tidak sependek single lepasan.

Berguna sekali untuk memberikan kesempatan pendengar kenal lebih dalam dengan si musisi dan juga membuka ruang untuk bisa lebih memahami apa yang ingin disampaikan olehnya lewat lagu yang ditulis.

Masa terus bergerak, kita sama-sama mengetahuinya. Kemungkinan besar juga, kita akan menyaksikan Ardhito Pramono makin liar dari hari ke hari. Lewat karya, tentunya. 

 

 

Kredit foto:
Dok. Sony Music Indonesia