Indonesian City Pop dan Pasang Surutnya Pop Kreatif di Indonesia - MLDSPOT
  • Music Profile
  • Indonesian City Pop dan Pasang Surutnya Pop Kreatif di Indonesia

Indonesian City Pop dan Pasang Surutnya Pop Kreatif di Indonesia

Mon, 05 April 2021
Pop Kreatif

Ngomongin musik di Indonesia emang nggak ada matinya, terlebih kalo ngomongin tentang musik pop di Indonesia. Mulai dari kemunculannya hingga perkembangannya sampai sekarang – musik pop ini emang juaranya!

Salah satu era besar bagi musik pop adalah lahirnya musik Pop Kreatif – yaitu musik pop yang menjamur di era 80-an dan berhasil menjadi musik yang dominan bagi para musisi pada masanya. Musik pop yang seringkali diyakini sebagai Indonesian City Pop di masa sekarang ini ternyata sempat mengalami pasang surut, bro!

Musik yang menjamur di saat radio masih menjadi primadona dan kaset menjadi hal yang fenomenal, pop kreatif berhasil dinobatkan sebagai lagu yang membawa semangat modernisasi. Sampai sekarang dikenal dengan Indonesian City Pop – dan gimana perannya pada kehadiran #LaguBaruDariMasaLalu?

Dari pada penasaran, langsung aja simak ulasan MLDSPOT bersama Irama Nusantara di bawah ini!

Kaset, LCLR, dan Pop Kreatif

Pop Kreatif

Credit image – KiosBukas

Di pembahasan beberapa waktu lalu, Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) yang hadir di akhir tahun 70-an dimaknai sebagai era baru kelahiran musik pop di Indonesia. Siapa sangka – ternyata hal ini yang melahirkan musik pop kreatif di era 80 hingga 90-an!

Nggak cuma kekuatan dari radio dan LCLR, kehadiran pop kreatif di saat kaset menjadi hal yang fundamental untuk dimiliki para penikmat musik pun menjadi hal yang menarik. Pasalnya, perilisan dalam format kaset dijual dengan harga yang cukup terjangkau dan hal inilah yang membuat kehadiran musik ini menjadi primadona.

Kedua hal ini – yaitu radio dan kaset, emang nggak bisa terlepas dari penyebaran musik populer Indonesia di era 80 hingga 90-an, termasuk gaya musik pop kreatif di dalamnya. Keberadaan kedua hal ini menjadi krusial karena pop kreatif nggak hanya melahirkan musik, tapi juga peran besar dari musisi-musisinya.

Pasang Surutnya Pop Kreatif

Setelah mengetahui kedua hal yang membuat pop kreatif menjadi diminati, hal ini ini membuat para penikmat musik di era 80-an hingga 90-an merasa bahwa musisi kala itu sepakat untuk membuat karyanya dengan prinsip yang sama – yaitu lagu dengan irama fusion dengan sentuhan electronica dengan lirik yang membawa semangat para pendengarnya.

Setelah LCLR, pop kreatif semakin meluas dan diminati oleh para peminatnya. Seakan menjadi ajang pembuktian kebangkitan musik pop yang baru, para musisi seperti Chrisye dan Fariz RM berhasil menciptakan karya-karyanya – yang sampai sekarang pun karyanya masih bisa dinikmati.

Perputaran waktu dalam musik emang menjadi hal yang nggak pasti – hal ini juga terjadi pada pop kreatif. Setelah menuai masa keemasannya di era 80-90-an, ternyata musik pop kreatif terkalahkan dengan musik pop yang disebut dengan pop melayu.

Kehadiran pop melayu dengan lirik yang mendayu-dayu ini ternyata berhasil menjadi waktu di mana pop kreatif menjadi surut. Pada saat inilah pop kreatif menjadi hal yang dilupakan kehadirannya oleh para penikmat musik.

Pop Kreatif dalam Balutan Indonesian City Pop

Pop Kreatif

Credit image - Arsip Irama Nusantara

Setelah pop kreatif sempat meredup di awal dekade 2000-an, namun tanpa disangka-sangka – pop kreatif kembali hadir di tengah penikmat musik dengan nama yang lebih modern, yaitu Indonesian City Pop.

Dengan terbukanya akses informasi, para generasi muda akhirnya membangkitkan kembali Pop Kreatif sebagai gaya musik baru yang disebut dengan ‘Indonesian City Pop’.Istilah ini merujuk pada gaya musik City Pop yang berasal dari Jepang dan direlasikan oleh para generasi muda saat ini dengan referensi musik lokal yang serupa.

Di tahun 2010-an, kelahiran Indonesian City Pop ini dimaknai sebagai hal yang baru. Meskipun sebenarnya hanya menciptakan #LaguBaruDariMasaLalu, nama Indonesian City Pop berhasil membawa pop kreatif ke industri musik hingga sekarang ini.

Banyaknya playlist dan juga musisi dengan gaya musik City Pop ini menandakan bahwa lagu ini mendapat apresiasi yang besar dari para pendengar musik saat ini. Lagu-lagu seperti “Sesaat Kau Hadir” dari Utha Likumahuwa, “Kau” dari Chandra Darusman, dan “Dimabuk Asmara” oleh Cici Sumiati masih merajai anak tangga lagu Indonesia saat ini.

Kehadiran #LaguBaruDariMasaLalu yang membalutkan lagu pop kreatif ke dalam Indonesian City Pop ini menjadi fenomena yang unik dalam industri musik. Kalo lo sendiri, punya playlist andalan dengan lagu Indonesian City Pop belum, bro?

 

Feature image - Kaset Lalu

Referensi:

http://www.widiasmoro.com/2015/04/08/musik-pop-indonesia/

Alvin Yunata: Wajah Musik Pop, Dulu dan Hari Ini

Hak Kekayaan Intelektual: Hak Cipta yang Menyelamatkan Para Musisi

Fri, 23 April 2021
HKI

Saat ini untuk menikmati musik di platform musik digital udah jadi hal yang lumrah. Sebelum memasuki era digital seperti sekarang, banyak orang yang mengalami perjalanan panjang untuk mendengarkan lagu. Era di mana lo harus membeli kaset atau CD dan memutarnya di walkman ataupun discman ini ternyata membuat para penikmat musik merasa kesulitan untuk mengakses musik yang diminati karena harus mengeluarkan kocek yang cukup mahal  hingga akhir nya mencari shortcut untuk menikmati musik – yaitu dengan cara membajak.

Perilaku yang sama sekali nggak patut untuk ditiru ini ternyata menjadi bumerang sendiri buat permusikan di Indonesia. Berawal dari musik yang populer di era 80-an dan penggunaan kaset  yang lagi masif-masifnya – Indonesia mengalami masalah besar mengenai pembajakan yang dilakukan. Dari saat itu, akhirnya hak kekayaan intelektual di Indonesia menjadi lebih ditegakkan.

Biar nggak bingung sendiri, langsung aja simak ulasan mengenai Hak Kekayaan Intelektual di Indonesia dan penerapannya hingga saat ini. Check this out, bro!

Popularitas Musik di Dekade 80-an dan Live Aid Concert

HKI

Credit image – History Id

Seperti yang udah dibahas minggu lalu – musik Indonesia di dekade 80-an sedang berjaya dengan kehadiran musik Pop Kreatif. Dengan masifnya musik yang ada dan penikmat musik yang saat itu sedang populer mendengarkan musik lewat kaset, ternyata juga membuat hadirnya kaset-kaset bajakan di pasaran.

Di waktu yang sama di Inggris sana terdapat konser Live Aid yang diadakan oleh Bob Geldof dan Midge Ure. Konser besar ini diisi oleh banyak musisi papan atas saat itu – seperti U2, David Bowie, Sting, Phill Collins, Elton John, bahkan grup band Queen yang berhasil reuni kembali pada perhelatan konser ini.

Konser yang diadakan atas dasar amal untuk membantu kemiskinan yang ada di Ethiopia ini berhasil ditonton oleh lebih dari 1,9 Miliar orang dari 150 Negara yang berbeda. esuksesan yang diraih oleh konser ini – ternyata dianggap menjadi peluang bagi pihak-pihak nggak bertanggung jawab di dunia, salah satunya juga Indonesia. Beberapa waktu setelah konser ditayangkan, ada kaset bajakan mengenai konser amal ini beredar dan diperjual belikan.

Alhasil, Indonesia dituntut oleh Bob Geldof. Sebagai orang yang mengadakan konser ini dengan niat beramal, Bob Geldof seakan marah besar dengan kejadian ini. ‘Musibah nasional’ yang dihadapi oleh industri musik Indonesia saat itu membuat para musisi kesulitan untuk bergerak. Hal yang dianggap biasa di Indonesia ternyata bisa merugikan negara sendiri!

Perkembangan Hak Kekayaan Intelektual di Indonesia

HKI

Credit image - Medcom

Pembajakan Live Aid Concert diakui sebagai produk yang ‘Made In Indonesia’ ini membuat kondisi Indonesia menjadi terbelenggu. Sebelum terjadi kasus ini, Indonesia sudah terlebih dulu keluar dari Perjanjian Hak Cipta Internasional – yang di mana atas kasus ini, Indonesia nggak bisa dituntut secara hukum dan juga belum ada UU Anti Pembajakan di dalam negeri.

Meskipun begitu, Indonesia tetap dianggap mencuri dan perbuatan ini sudah melanggar etika hukum yang ada.Hingga akhirnya pada tahun 2000-an, , Indonesia lebih sadar dengan Hak Kekayaan Intelektual yang dimiliki. Berawal dari Undang-Undang No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta, lalu Undang-Undang No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, dan saat ini yang sedang hangat-hangatnya adalah Peraturan Pemerintah No. 56 Tahun 2021 tentang Pengelolaan Hak Cipta Lagu dan/atau Musik.

Hak Cipta Musisi yang Perlu Diketahui

Nggak asal dibuat, ternyata Hak Kekayaaan Intelektual diatur sedemikian rupa supaya nggak merugikan pihak-pihak yang terlibat – baik produsen, musisi, dan juga penikmat musik. Belajar dari kesalahan di masa lalu, saat ini Indonesia punya hak cipta atau lisensi yang punya peruntukannya masing-masing. Sebenarnya ada banyak hak cipta yang dilindungi, tapi di bawah ini merupakan hak cipta bagi para musisi yang penting untuk lo ketahui.

Ide dan kreativitas merupakan hal yang berharga dan patut untuk dilindungi. Contohnya lo buat lagu dan berniat merilis baik itu secara fisik ataupun digital. Maka ada 2 hak cipta yang perlu lo ketahui, di antaranya – yaitu Master Rights dan Mechanical Rights. Hak cipta yang pertama adalah Master Rights. Master merupakan rekaman suara yang asli dan mengandung keseluruhan lagu dalam satu album ataupun sekedar satu lagu. Master rights ini biasanya dipegang oleh label rekaman atau studio rekaman karena mereka adalah pihak yang melakukan mastering.

Mechanical rights sendiri merupakan hak eksklusif pemegang hak cipta yang diberikan pada label rekaman untuk melakukan penggandaan mekanikal komposisi musik, lagu, atau album rekaman yang nantinya akan diedarkan ke pasaran. Kalo lo pencipta lagu, hak ini pasti dikasih sama label rekaman lewat kontraknya.

Selain kedua hak cipta di atas, hak cipta yang juga perlu untuk lo ketahui  adalah Synchronization Rights – yaitu hak eksklusif yang dimiliki pemegang hak cipta untuk mengeluarkan lisensi atas karya musik yang diciptakannya untuk digunakan dalam tayangan audio visual seperti film, program TV, iklan komersial.

 Misalnya hasil lagu ciptaan lo tadi ditawar oleh seorang sutradara untuk menjadi soundtrack dalam film yang sedang ia buat. Maka lo berhak untuk mendapatkan royalti dari synchronization tersebut Biar hak cipta lo nggak asal digunakan buat hal yang berbau komersial, bro!

Emang masalah hak cipta dan kekayaan intelektual ini jadi hal yang rumit. Setelah mengetahui ini, jangan sampai lo salah arah dan ternyata memakai karya orang untuk dikomersialkan – apalagi sampai mengkonsumsi bajakan, bro!

 

Feature image – Roland Corp

Referensi:

https://majalah.tempo.co/read/musik/40082/menyala-bob-kita-orang-malu-menyala-bob-kita-orang-malu

https://www.musicbed.com/knowledge-base/types-of-music-licenses/28