Menantikan Kiprah Reality Club Selanjutnya

Wed, 12 February 2020
Reality Club & Host MLDSPODCAST berfoto dengan gaya yang berbeda-beda

Di semester 2019 yang lalu, album kedua Reality Club, “What Do You Really Know dirilis. Album itu mengubah arah karir lima orang personilnya.

Reality Club terdiri dari Fathia Izzati (vokal), Nugi Wicaksono (bas), Iqbal Anggakusumah (gitar), Era Patigo (drum) dan Faiz Novascotia (gitar).

Musik yang berubah bentuk dan penggarapan visual yang lebih matang menjadi dasar kenapa Reality Club akhirnya jadi lebih sibuk dan makin menjangkau orang banyak. Keberadaannya makin penting untuk orang banyak.

Selain jam terbang panggung yang makin bertambah, beberapa penghargaan juga dikantongi lewat abum What Do You Really Know.

Kisah menarik itulah yang membuat MLDPODCAST Season 1 Episode 1 memasukkan Reality Club jadi salah satu band yang perlu untuk diajak ngobrol dan berbagi. Obrolan mendalam terjadi dan perbincangan berputar pada efek-efek lanjutan yang muncul setelah album tersebut dipresentasikan pada publik dan mendapatkan respon luas.

Reality Club berfoto dengan vibe lampu berwarna kuning dan background bertuliskan MLDSPODCAST

Salah satu yang menarik adalah tentang perjalanan keliling Indonesia yang harus mereka lakukan mengikuti berbagai macam pekerjaan yang memanggil.

Sambil bercanda, Fathia bilang, “Gue benci banget ke airport sekarang. Dulu tuh ngelihat airport kayak, ‘Waaahhh...’ Ada melankolisnya gitu ya, tapi sekarang sedih beneran.” Bandara menjadi tempat yang harus dilalui berkali-kali setiap kali berpindah kota.

Jika kuantitasnya banyak, itu jadi hal yang tidak menyenangkan untuk dilakukan. Bukan apa, dalam kehidupan anak band, perjalanan sering kali dimulai pagi-pagi buta, karena harus mengejar jadwal sound check di kota tujuan. Secara fisik, itu sangat sulit untuk dijalani terus menerus, perlu ketahanan fisik yang prima. Kondisi yang tersisa, pasti kurang tidur dan tidak pernah tuntas beristirahat.

Namun, di balik ujian fisik dan mental model begitu, respon penonton yang ditemui di banyak pertunjukan menghapus seluruh keletihan yang ada.

Reality Club dan host MLDPODCAST sedang menertawakan suatu hal

Ketika bermain dan bertemu dengan penonton yang rela mengeluarkan energi untuk merespon pertunjukan yang disajikan oleh Reality Club, seolah seluruhnya bertemu jadi satu kesatuan.

“Gue baru menyadari, transfer energi itu real banget. Ketika kita kasih energi dan mereka kasih energi balik, itu show-nya udah mantep banget. Kita turun panggung juga senang,” kata Fathia lagi.

Cerita Reality Club, baru ada di tahap awal. Sangat mungkin tahun ini mereka makin sibuk. Peluang-peluang baru juga mampir. Misalnya, main di SXSW Festival di Austin, Texas pada bulan Maret 2020 mendatang. Jelas itu merupakan sebuah peluang untuk membuka kiprah internasional bagi perjalanan mereka.

Mari kita menantikan hal selanjutnya bersama-sama.

The Panturas yang Selalu Bersenang-senang

Thursday, February 13, 2020 - 16:36
The Panturas berfoto di ruang MLDPODCAST yang penuh dengan poster musik

Perjalanan The Panturas makin hari, makin sip. Dari sudut Jatinangor, Jawa Barat, mereka mulai merambah banyak tempat di Indonesia. Pelayaran—itu istilah yang digunakan—makin luas dan penggemar makin menggurita.

The Panturas beranggotakan Acin pada vokal dan gitar, Kuya di drum, Rizal di gitar dan Gogon yang bermain bas. Di balik keriuhan yang sering ditampilkan, sesungguhnya empat orang personil The Panturas punya sisi introvert yang muncul ketika diajak berbincang-bincang dengan intensitas yang tinggi.

Mereka merilis karya “Mabuk Laut pada 2018. Itu merupakan rilisan kedua mereka bersama label asal Jakarta, Lamunai Records. Rilisan mereka, mini album “Fisherman’s Slut mencuri perhatian setelah dirilis dalam bentuk kaset.

Seluruh personel The Panturas sedang tertawa saat ngobrol di MLDPODCAST

Mereka cenderung tidak banyak omong, lebih memilih untuk berbicara dengan penampilan panggung dan karya yang berisik tapi menohok. Walau, kadang juga tidak menggunakan lirik. Tidak banyak band instrumental yang bisa membuat orang crowdsurf dan bersenang-senang.

The Panturas memainkan surf rock, genre yang tidak begitu populer tapi punya pengikut setia di Indonesia. Secara khusus, mereka juga mengaku terpengaruh oleh The Southern Beach Terror, band surf rock Indonesia asal Jogjakarta yang sudah tidak aktif bermain lagi.

“Kita nggak pernah nyangka The Panturas yang dibikin di teras doang bertiga, sekarang bisa sebesar ini,” kata mereka di salah satu bagian MLDPODCAST Season 1 Episode 3.

Acin berfoto dengan gaya menopang dagu bersama personel The Panturas lainnya

Pengaruh yang mereka sebar, dampaknya luas. Pergerakan penggemar bertambah dari hari ke hari. Dengan sendirinya juga, makin banyak orang yang dibuat bersenang-senang oleh musik yang mereka mainkan.

Perjalanannya masih jauh dari kata berhenti. Berbagai macam hal menyenangkan juga terus menerus mereka gelontorkan. Mengikuti jejak The Panturas di media sosial sungguh seru dan bisa jadi hiburan tersendiri. Bisa jadi, makin lama, mereka akan ada di mana-mana.

Time Spent
4