Musik dan Gaya Hidup: Sebenarnya Terkoneksi atau Cuma Personifikasi? - MLDSPOT
  • Music Profile
  • Musik dan Gaya Hidup: Sebenarnya Terkoneksi atau Cuma Personifikasi?

Musik dan Gaya Hidup: Sebenarnya Terkoneksi atau Cuma Personifikasi?

Thu, 21 January 2021
Selera musik mempengaruhi gaya hidup lo, bro! simak selengkapnya disini!

Musik emang nggak pernah bisa lepas dari aktivitas kita sehari-hati. Bahkan dari kecil pun pasti udah diajarin ataupun diajakin nyanyi sama bokap-nyokap lo. Sampai sekarang mungkin kalau mau beraktivitas lo masih mendengarkan lagu untuk membangkitkan mood – musik rasanya udah jadi gaya hidup yang nggak bisa lo tinggalin ya, bro.

Musik dan gaya hidup memang seringkali disangkut-pautkan. Pasalnya, musik sekarang emang udah jadi kebutuhan sehari-hari. Mulai dari zaman dulu yang mendengarkan lagu harus beli kaset, cd, tape, walkman, diskman, dan sebagainya – sampai sekarang lo harus berlangganan aplikasi musik untuk menikmati musik sehari-hari.

Selain udah jadi gaya hidup, ternyata musik juga jadi salah satu pengaruh buat lo dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Tanpa lo sadari, genre musik atau musik yang lo sukai memiliki pengaruh pada kehidupan lo. Jadi, sebenarnya musik itu beneran terkoneksi atau cuma personifikasi? Simak jawaban selengkapnya di bawah ini!

Musik Sebagai alat Komunikasi dan Bahasa

Selera musik mempengaruhi gaya hidup lo, bro! simak selengkapnya disini!

Credit image - Rebloggy

Untuk mendengarkan sebuah lagu, lo pasti akan memilih lagu yang sesuai dengan selera telinga lo – yang dimana pastinya setiap orang punya selera yang berbeda-beda. Ternyata, selera musik bukan cuma sekedar preferensi – tapi musik juga sebagai alat untuk lo berkomunikasi, bro!

Dari musik, lo bisa merepresentasikan diri sebagaimana lo ingin terlihat. Musik udah jadi bahasa tersendiri yang hanya dimengerti oleh inner-self. Dari sini akhirnya terbangunlah komunikasi yang terjadi di dalam diri dan terbentuk sebuah kepribadian.

Simple-nya, ketika mendengarkan lagu yang happy, secara tidak langsung akan terbentuk mood yang happy juga – meskipun mungkin situasi sedang nggak bikin happy, tapi secara nggak langsung otak lo menstimulan energi dari musik itu.

Sederhana sih, tapi musik ternyata memang punya pengaruh besar untuk hidup lo, bro!

Musik Bukan Personifikasi, Tapi Memang Terkoneksi

Genre musik emang udah jadi hal yang pribadi dan pastinya berbeda-beda setiap orang. Dari preferensi inilah pembahasan di atas bermula – karena memang bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi dengan diri sendiri pasti berbeda.

Dari musik, lo juga mengungkapkan emosi yang ada dalam diri secara tidak langsung. Jadi kadang, kalau memutar playlist sama orang lain, secara tidak langsung lo juga menuangkan emosi yang ada dari dalam diri lo ke orang tersebut – nggak heran lagi kalo sekarang orang suka buatin playlist ya.

Selain itu, pengaruh preferensi musik dalam gaya hidup lo juga akan tertuang dari gaya berpakaian. Kalau lo pecinta musik jazz, pasti lo lebih suka tampil secara kasual kemanapun lo pergi. Pastinya event musik atau tempat nongkrong lo juga akan berbeda dengan mereka yang lebih suka musik EDM.

So, Embrace It, Bro!

Selera musik mempengaruhi gaya hidup lo, bro! simak selengkapnya disini!

Credit image - Wtax

Setelah membaca keduanya di atas, pastinya lo jadi mencoba mencocokan antara genre musik dengan gaya hidup yang sekarang lo jalani. Pasti ada koneksinya kan, bro?

Mau itu emosi, irama, atau dari lirik dari lagu yang lo dengarkan, pasti ada salah satu hal yang memang erat dengan diri lo – baik itu dari gaya hidup, maupun dari kepribadian lo.

Untuk menunjukkan preferensi musik, banyak orang yang masih takut atau malu buat terbuka. Entah takut nggak masuk dengan lingkungan sosial karena berbeda dari yang lain, atau se-simple karena merasa selera musiknya jelek.

Tapi setelah membaca artikel ini, lo harus belajar untuk mulai memberanikan diri dalam menunjukkan selera musik yang memang lo suka. Believe me, dengan cara menunjukkan selera musik lo – pasti lo akan lebih pede dan lebih menikmati gaya hidup yang lo jalanin!

Dari musik bisa jadi gaya hidup, berpakaian, bahkan sampai menyampaikan emosi – pasti lo nggak akan sadar ternyata musik punya pengaruh sebesar ini untuk hidup lo, kan? Jadi, jangan malu lagi buat nunjukin diri lo lewat musik ya, bro!

 

Feature image - Freepik

Budaya Pop Barat dan Ekspresi Musisi di Era 70-an

Sun, 21 February 2021
Budaya Pop 70an

Musik pop dipandang sebagai genre musik yang easy listening dan memiliki banyak pendengar. Genre musik yang bisa dinikmati oleh semua kalangan ini akan menjadi genre yang melekat dengan masyarakat Indonesia.

Beberapa minggu lalu, MLDSPOT sempat ngebahas tentang genre AOR (Adult Oriented Rock) yang mempengaruhi kehadiran gaya musik city pop. AOR sendiri di Indonesia punya peran atas kehadiran gaya musik Pop Kreatif yang dipengaruhi oleh terbukanya akses informasi bagi masyarakat Indonesia setelah sekian lama menutup diri dari dunia luar.

Bertahun-tahun berlalu, sekarang muncul kembali gaya musik baru dengan istilah baru, yaitu Indonesian City Pop.Tapi sebelumnya, apa sih yang akhirnya membuat industri musik Indonesia menjadi lebih berkembang? Apakah murni pengaruh dari negara barat? Dari pada penasaran, mendingan simak ulasan selengkapnya di bawah ini, bro!

Informasi Terbatas yang Membuat Tidak Bebas

Budaya Pop 70an

Credit image - Historia

Pada tahun 1950 Indonesia sempat membatasi diri dengan lingkungan luar yang menyebabkan akses informasi mengenai musik pun menjadi lebih terbatas. Hal ini dikarenakan kebijakan politik yang dilakukan oleh pemerintah saat itu – yaitu melarang pemutaran musik bergenre rock dan musik-musik barat lainnya.

Nggak cuma sebatas pelarang musik dari barat, bahkan para musisi pun dilarang untuk hadir dengan lagu-lagu yang bermusik keras. Musik yang diproduksi kala itu hanya musik-musik yang memiliki irama musik lokal yang diperbolehkan – seperti keroncong.

Pembatasan informasi mengenai dunia barat ini sejalan dengan politik anti-barat yang saat itu dianut oleh Indonesia. Pada pergantian pemerintahan pada tahun 1967,  akhirnya kebijakan pun berubah. Dari perubahan inilah akhirnya arus informasi mengenai musik pun menjadi lebih terbuka.

Perubahan kebijakan ini seakan menjadi keran bagi para musisi untuk melebarkan sayapnya dalam mengakses informasi dan juga memproduksi musik. Salah satunya dengan munculnya band-band papan atas seperti Koes Bersaudara, Godbless, dan The Rollies.

Terbukanya Informasi Musik Indonesia

Beberapa tahun kemudian, musik Indonesia pun menjadi lebih berkembang. Musik nggak lagi dijadikan alat politik nasional, namun justru berkembang menjadi media ekspresi bagi masyarakat. Akhirnya, perkembangan musik Indonesia saat itu pun menjadi lebih beragam.

Hal ini juga didukung dengan mulai lahirnya banyak media cetak untuk memberikan informasi mengenai musik Indonesia. Salah satunya lewat majalah Aktuil pada 1967. Majalah ini memberitakan tentang musik dari Western Pop, salah satunya dengan kehebatan genre musik rock saat itu.

Dengan ketepatan berita dan up-to-date-nya dengan musik barat, Majalah Aktuil menjadi salah satu media yang sangat berpengaruh dalam perjalanan musik Indonesia dan para musisi dalam menciptakan karyanya. Salah satu perkembangan dunia musik yang dipengaruhi oleh Aktuil adalah kebebasan bermusik dalam musisi dalam menciptakan lagu-lagu yang memiliki lirik yang relatable bagi masyarakat.

Ekspresi Musisi dalam Balutan Konser

Budaya Pop 70an

Credit image - Historia

Keterbukaan Indonesia akan informasi mengenai musik juga semakin membuat industri musik Indonesia menjadi lebih berkembang. Terlebih sejak terbukanya informasi ini semakin membuat Indonesia menjadikan negara barat sebagai kiblat dalam bermusik, salah satunya banyaknya muncul panggung konser di Indonesia.

Salah satu konser yang saat itu sangat melegenda adalah Woodstock. Diselenggarakan di penghujung tahun 1960-an, konser ini dianggap sebagai wadah ekspresi masyarakat yang sudah penat dengan kondisi yang melanda mereka saat itu – akhirnya, kehadiran konser ini memberikan rasa baru di Industri musik barat ketika masuk dekade yang baru, khususnya genre rock.

Seakan nggak mau kalah, Indonesia juga membuat pagelaran panggung musik yang nggak kalah kerennya dengan Woodstock dengan menghadirkan pagelaran konser musik Summer 28 pada tahun 1973 dan Kemarau 75 pada tahun 1975.

Kedua konser ini memberikan perubahan yang cukup pesat pada industri musik sebagai wadah ekspresi – hal ini merujuk tidak hanya kepada para penonton yang bebas berekspresi, tapi juga para musisi dalam menghasilkan karyanya.

Selain konser - ternyata lifestyle, tren fashion, serta apapun yang bersinggungan dengan budaya pop barat pun ikut ditiru secara langsung oleh para masyarakat Indonesia. Dari tren dan informasi budaya barat inilah yang akhirnya membukakan referensi para musisi Indonesia untuk menciptakan gaya musik yang lebih kebarat-baratan.

 Tapi – apa benar industri musik Indonesia bisa berkembang hingga saat ini karena pengaruh dari dunia barat aja? Kalau penasaran, tunggu ulasan baru minggu depan ya, bro!

 

Feature image – Arsip Irama Nusantara

Referensi:

https://supermusic.id/superexclusive/supernoize/alvin-yunata-wajah-musik-pop-dulu-dan-hari-ini

https://media.neliti.com/media/publications/11310-ID-dekonstruksi-musik-pop-indonesia-dalam-perspektif-industri-budaya.pdf

https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20190816093616-227e21856/woodstock-1969-festival-musik-yang-mengubah-amerika

https://pophariini.com/menilik-majalah-aktuil-jurnalisme-rock-indonesia-era-70an/3/