MLD Spot Stage Bus Jazz Tour 2015: Pentas yang Ringkas - MLDSPOT
  • Music News
  • MLD Spot Stage Bus Jazz Tour 2015: Pentas yang Ringkas

MLD Spot Stage Bus Jazz Tour 2015: Pentas yang Ringkas

Tue, 06 October 2015

Setup panggung yang ringkas menjadi salah satu kelebihan MLD Spot Stage Bus Jazz Tour 2015. Berpindah dari satu kota ke kota lainnya, ternyata bukan jadi isu besar.

Berjalan keliling di dalam sebuah rangkaian tur di satu sisi nampak menyenangkan; melihat banyak pengalaman baru dari proses bertemu orang-orang di kota yang dikunjungi, mencoba ragam kuliner di sela-sela agenda resmi atau memainkan karya di depan publik yang antusias. Mungkin banyak yang lupa bahwa persiapan teknis memegang kendali penting. Memasang dan mencopot piranti tur bisa jadi permasalahan tersendiri yang berat dan membosankan untuk dilakukan.

Apalagi kalau jadwal yang harus dijalani jumlahnya 32 pertunjukan di 23 kota. Tentu saja tidak mudah. Tapi, ada pemandangan seru melihat bagaimana crew MLD Spot Stage Bus Jazz Tour 2015.

Lebih kurang satu jam setelah pertunjukan selesai, seluruh piranti sudah siap untuk dikemas lanjut ke kota berikut. Hal yang sama kurang lebih terjadi ketika memasang seluruh peralatan. Bukan hanya sistem tata suara, termasuk di dalamnya adalah sistem tata lampu dan set pendukung meja dan kursi yang dijadikan tempat duduk penonton.

Setup panggung yang ringkas ini menjadi kelebihan tur yang seringkali terlewatkan. Pemahaman yang baik dari seluruh crew yang bertugas juga mutlak dipenuhi. Jadi, seluruh jadwal yang memang padat setiap akhir pekan, terasa tidak berat untuk dijalani.

Di sela-sela pertunjukan, sejumlah crew seringkali terlihat tertawa dalam obrolan di area pinggir panggung. Suasananya lumayan hangat. Mereka rasanya tahu persis apa yang harus dilakukan untuk membuat pertunjukan ini bagus.

Sekedar catatan, di rangkaian tur ini, maksimal perjalanan darat yang harus dilakukan di tengah-tengah rangkaian tur adalah empat-lima jam. Jadi, seluruh peralatan biasanya baru tiba di venue pertunjukan setelah makan siang. Lalu, proses setup berlangsung setelahnya. Sementara, menjelang matahari terbenam, acara sudah berlangsung.

Cepat, bukan? Keringkasan yang dimiliki oleh stage bus yang berkeliling sepanjang tiga bulan ini, merupakan salah satu keunggulan yang mendukung makin memasyarakatnya musik jazz ke banyak penjuru Indonesia.

Perjalanan Joey Alexander dari Grammy sampai Sekarang

Sat, 27 February 2021
Joey Alexander

Di tahun 2016 & 2017 lalu, Indonesia sempat digemparkan dengan nama Joey Alexander – well, siapa yang nggak kenal dengan pianist muda yang berhasil masuk nominasi Grammy Awards di usianya yang masih sangat belia saat itu?

Dua tahun berturut-turut berhasil masuk nominasi Grammy Awards di umur 13 tahun, Joey Alexander berhasil membawa bangga nama Indonesia ke kancah internasional dengan single debutnya yaitu My Favorite Thing.

Setelah 5 tahun berlalu, gimana kabar Joex Alexander sekarang ya, bro? beranjak menjadi seorang remaja, pastinya udah banyak banget perkembangannya. Denger-denger, Joey juga udah ngerilis 5 album loh!

Di artikel ini, MLDSPOT bakalan mengulik gimana kabar Joey Alexander setelah 5 tahun berlalu dari Grammy Awards dan gimana kesehariannya sekarang. Langung aja selengkapnya simak di bawah ini ya!

Grammy Awards: Bukti Pribadi Joey Rendah Hati

Joey Alexander

Credit image – Liputan6

Di 2016 hingga 2017 lalu, keberhasilan namanya dalam menjadi nominasi di Grammy Awards emang menjadi titik balik dari karir seorang Joey Alexander. Gimana nggak – di usia yang belum genap 13 tahun saat itu, Joey berhasil menjadi musisi termuda yang masuk ke dalam nominasi kategori Jazz dan meraih nominasi dua sekaligus – pertama dari Indonesia!

Joey sendiri mengaku, momen masuk sebagai nominasi dengan pencapaiannya ini – ia nggak berharap banyak untuk menang. Ketika dinominasikan untuk pertama kali, pastinya Joey kaget dan nggak nyangka sama sekali. Tapi ketika pada hari pengumuman dan ternyata nggak menang – Joey nggak berkecil hati, karena baginya inilah hal yang harus dikembangkan olehnya untuk menciptakan karya yang lebih baik lagi.

Dengan keberhasilannya ini, Joey mengatakan bahwa keberhasilannya dalam meraih Grammy Awards ini bukanlah hal yang mudah. Namun ia bersyukur memiliki lingkungan yang supportif – baik menang atau kalah, itu semua hanya menjadi bagian dalam hidupnya untuk menjadi lebih baik dan berkembang.

Musik Jazz bagi Joey Alexander

Awal mula perjalanan musik Joey dimulai dari kecintaan ayahnya dalam bermusik – meskipun nggak secara profesional. Namun sejak bersama ayahnya, kecintaan Joey akan musik pun menjadi tumbuh. Menurut Joey, ketika ia memainkan musik ia merasakan sesuatu yang menyenangkan dalam dirinya tumbuh.

Memulai perjalanan bermusiknya di Bali, Joey mengaku nggak nyangka kalau hidupnya akan menjadi berada dalam lingkup musik – apalagi di genre Jazz. Musik Jazz sendiri bagi Joey punya kekuatan sendiri yang nggak dimiliki oleh genre musik lainnya.

Bagi Joey, musik Jazz seakan punya bahasa tersendiri dalam musik yang bisa menyampaikan pesan serta menyatukan orang yang berbeda dari seluruh dunia – Jazz udah whole different level deh buat Joey!

Dari Bali hingga New York

Joey Alexander

Credit image – Spotify

Seperti yang diketahui, Joey melebarkan sayapnya lebih besar di negeri paman sam – tepatnya New York, dibandingkan di tanah kelahirannya sendiri. Meskipun begitu, Joey tetap Bali spesial tersendiri di dalam hatinya.

Bali dan New York sama-sama membawa inspirasi bagi Joey dalam bermusik, namun kedua tempat ini memiliki sisi yang berbeda dalam diri Joey dalam menciptakan musik. Hal ini dibuktikan dengan 5 album yang telah dirilis oleh Joey.

4 album dengan berbahasa Inggris dan 1 album dengan bahasa Indonesia ini sebenarnya tidak memiliki makna yang spesifik. Karena pada dasarnya dalam menamakan album Joey berdasarkan komposisi asli dari album Live-nya.

Album terakhir Joey – Warna, dibuat untuk menceritakan kepribadian, suara, dan gaya seorang pemusik yang bermain dengannya. Di album terbarunya ini Joey juga mencoba gaya musik dan komposisi yang berbeda. Seakan ingin memberikan warna baru, di album ini Joey mencoba menghadirkan nuansa ‘lokal’ dalam albumnya.

Karier bermusik Joey emang udah nggak perlu diragukan lagi. Bukan cuma Grammy Awards aja, bahkan Joey juga pernah menjadi TED Speaker dalam acara TedX Talk, bro!

Di usia muda dan pencapaian yang dimilikinya ini jadi kisah inspiratif banget buat dikulik ya. Dari Joey kita juga belajar – nggak perlu berpikir panjang untuk mencoba hal baru, yang penting – mulai aja dulu!

 

Feature image - NPR