Indonesian Rock Legend

Thu, 17 December 2015

Nggak terlalu banyak orang yang familiar dengan nama The Tielman Brothers, grup musik tertua asal Indonesia yang beranggotakan Andy, Reggy, Ponthon, Loulou, dan Jane. Mereka berempat merupakan kakak-adik dari keluarga Tielman. Ayah mereka yang bernama Herman Tielman berasal dari Kupang, sedangkan sang ibu, Flora Lorine, merupakan wanita keturunan Jerman yang lahir di Madiun. The Tielman Brothers lahir dari kecintaan Herman terhadap musik, yang lalu menurun pada anak-anaknya.

Pada susunan awal grup musik The Tielman Brothers, Herman berperan menjadi seorang gitaris. Jane, satu-satunya saudara perempuan dalam keluarga Tielman, dipercaya untuk menjadi vokalis utama. Sama seperti sang ayah, Andy juga memegang instrumen gitar. Sedangkan, Reggy didapuk untuk memainkan banjo sementara Ponthon memetik senar double bass-nya. Untuk membantu Jane, Andy dan Reggy juga berperan ganda sebagai vokalis.

 

Memulai Karir di Surabaya

Herman merupakan komandan KNIL (tentara Hindia Belanda), itulah kenapa rumahnya di Surabaya sering dijadikan tempat berkumpul bagi rekan-rekannya. Anak-anaknya yang memang pintar bermain musik pun sering unjuk kebolehan. Mereka sering mendapat sambutan yang meriah, bahkan dari para pejabat Hindia Belanda karena kagum dengan kemampuan mereka dalam membawakan tembang-tembang sulit, seperti Tiger Rag atau 12th Street Rag.

Melihat hal tersebut, Herman nggak mau membuang kesempatan. Ia menamai kelompok musik anak-anaknya dengan The Timor Rhytm Brothers, dengan dirinya sebagai manajer. Sejak saat itu, tawaran untuk tampil pada acara-acara di Surabaya pun berdatangan. Lambat laun nama mereka pun mulai dikenal di seluruh Indonesia. Mereka bahkan pernah diundang oleh Presiden Soekarno untuk tampil di Istana Negara, Jakarta, pada bulan Desember 1949.

 

Lebih Terkenal di Luar Negeri

Pada tahun 1957, The Timor Rhytm Brothers hijrah ke Belanda demi mengembangkan karir. Musik mereka disambut dengan amat baik oleh orang Belanda. Nggak lama kemudian, The Timor Rhytm Brothers berganti nama menjadi The Four Tielman Brothers atau The T4T karena Jane nggak bergabung lagi dengan mereka. Meski dilabeli sebagai grup musik rock ‘n roll, orang Belanda lebih sering menyebut musik mereka sebagai Indorock, yakni perpaduan antara Indonesia, Barat, dan akar musik keroncong.

Dari Belanda, T4T melebarkan sayap mereka ke Brussel, Jerman, dan Belgia. Mereka beberapa kali tampil dalam acara televisi internasional. Sebuah perusahaan rekaman bernama Bovema bahkan membantu mereka merilis single debut yang berhasil menjadi salah satu hits dalam sejarah pop Belanda. Pada tahun 1960, mereka berganti nama menjadi The Tielman Brothers. Ada satu personil baru yang bergabung, yakni Franky Luyten yang memainkan rhytm guitar.

 

Source: bimbimbimbim.wordpress.com, ensiklo.com

Hidup untuk Hari Ini, Refleksi Diri Hindia dalam Karya-Karyanya

Thu, 13 August 2020
Potret Baskara Putra dengan kaos putih bertuliskan Hindia dan kacamata

Vokalis band .Feast, Daniel Baskara Putra, atau juga dikenal dengan nama panggung Hindia telah cukup banyak mengeluarkan karya, mulai dari beragam proyek kolaborasi bersama musisi lainnya hingga mengeluarkan debut album. Baru-baru ini, Hindia kembali mengeluarkan single terbarunya berjudul “Setengah Tahun Ini” yang merupakan catatan narasi mengenai pandangannya dalam hidup selama pandemi COVID-19.

 

Arti Nama Hindia Baginya

Baskara Putra atau Hindia mengenakan kemeja coklat sedang ada di atas panggung

Nama Hindia ini dipilih bukan karena iseng atau sekadar mau bergaya keren di tengah banyaknya penyanyi indie Indonesia. Pasalnya, ada banyak pemikiran yang tertuang dalam pemilihan nama panggung tersebut.

Baskara mengungkapkan bahwa ide nama panggung Hindia sendiri tertanam sejak usia sekolah, tepatnya ketika field trip dan melihat tulisan “Hindia Belanda” di bawah sebuah lukisan. Muncul angan-angan untuk memasukkan diri ke dalam sejarah Indonesia dengan penggunaan nama Hindia.

Kalau sebelumnya lo akan melihat rentetan kisah penjajahan Belanda terhadap Indonesia saat mengetik “Hindia” di Google, Baskara berharap generasi selanjutnya malah akan menemukan sosok penyanyi Indonesia bernama Hindia dengan karya-karya bahasa Indonesia yang dipersembahkan untuk orang Indonesia juga.

Selebihnya, nama Hindia ini juga ditujukan untuk memisahkan persona diri ketika ada di atas panggung dengan di luar panggung. Nama Hindia kini memiliki makna tersendiri bagi Baskara, yakni layaknya samudera yang membasuh banyak orang agar mendapat kebahagiaan di tengah proses mencapai tujuan. Di dalamnya juga ada kesan androgynous dan familiar.

 

Menutup Debut Album dengan “Setengah Tahun Ini”

Baskara Putra atau Hindia dengan kedua tangan terangkat mengenakan jaket putih

Debut album bertajuk “Menari dengan Bayangan” sudah direncanakan dengan matang oleh Hindia. Sudah menjadi keinginannya untuk memiliki tambahan track ke-16 atau ke-17 dalam album ini. Sebelumnya, lagu “Evaluasi” menjadi penutup manis dari debut album yang dijadikan narasi hidup ini, namun Hindia berkata bahwa ternyata hidup nggak melulu sesuai rencana manusia.

Adanya pandemi ini menyebabkan Hindia harus memutar otak dalam melengkapi debut albumnya sesuai dengan keinginannya dulu. Walau pandemi adalah tantangan baginya dalam bermusik, tetapi juga berperan sebagai inspirasi. Akhirnya, dimulailah proses menulis lagu Setengah Tahun Ini yang jadi refleksi dirinya selama karantina di tengah pandemi 6 bulan belakangan ini.

Mau nggak mau, pandemi mengubah persepsi Hindia mengenai album dan hidup pribadinya. Ia mengungkap bahwa sebelum pandemi, manusia seringkali fokus ke masa depan dan menyesali yang ada di masa lalu. Namun pandemi membuatnya tersadar bahwa ia harus hidup untuk hari ini, nggak harus memusingkan masa depan secara berlebihan

 

Nggak Siap untuk Jadi Terkenal

Baskara Putra atau Hindia mengenakan pakaian serba hitam ada di atas panggung

Baik dalam karirnya bersama .Feast atau proyek solo sebagai Hindia, nyatanya Baskara mengungkap ketakutannya menjadi seorang public figure. Hindia sendiri ia buat untuk menuangkan pikiran dan kreativitasnya, menjadikan pengalaman pribadi serta interaksi individu sebagai sumber utama. Sedangkan .Feast yang arahnya lebih ke rock adalah tempat ia menuangkan opini dan kritik berdasarkan pengalamannya dalam hidup bermasyarakat.

“Kehilangan privasi itu berat, berat banget. Rasanya seperti diperhatikan terus dan seakan gue nggak bisa mengekspresikan apa pun tanpa hal itu jadi konsumsi publik,” ungkap Baskara. Kondisi mental dari Baskara yang seringkali terserang anxiety juga menantangnya ketika ada penggemar yang secara sadar maupun nggak sadar menjajah lahan privasinya.

Meski begitu, Baskara tetap termotivasi untuk membantu lo dan pendengar lainnya meluapkan emosi bersama lagu-lagu Hindia.

 

 

 

Sources: Popbela, Siasat Partikelir, Republika