• Music News
  • Mainkan Jazz dengan Instrumen Tradisional Tiongkok

Mainkan Jazz dengan Instrumen Tradisional Tiongkok

Tue, 23 February 2016

Jazz merupakan genre musik yang memungkinkan lo untuk melakukan improvisasi sebanyak mungkin. Tapi, jika lo perhatikan, jazz cenderung identik dengan musik barat, mengingat bahwa mayoritas pelaku dan peminatnya memang berasal dari sana. Untuk mengusung keberagaman dalam musik jazz, baru-baru ini ada sekelompok musisi asal Tiongkok yang menggabungkan jazz dan unsur-unsur kebaratan lain dengan instrumen tradisional mereka. Gimana jadinya, ya?

 

Menggunakan Instrumen Tradisional Tiongkok

Sehubungan dengan tahun baru lunar beberapa waktu lalu, sekelompok musisi Tiongkok yang tinggal di New York menggelar konser jazz di Carnegie Hall. Melalui musik yang dibawakan, mereka ingin agar orang-orang bisa lebih mengenal instrumen-instrumen Tiongkok, dengan harapan orang-orang akan tertarik untuk memahami budayanya. Feifei Yang, direktur artistik dari konser tersebut, mengatakan bahwa kini sudah saatnya bagi instrument Tiongkok untuk mencoba hal-hal baru.

Contoh instrumen khas Tiongkok yang dimainkan dalam konser adalah guzheng dan yangqin. Meski mendapat sambutan yang cukup meriah, Yang menyadari bahwa belum ada kesempatan bagi instrumen tradisional mereka untuk digunakan secara umum oleh pelaku musik barat. Hal tersebut disebabkan minimnya jumlah senar yang dimiliki instrumen Tiongkok. Padahal, musik jazz mengharuskan lo untuk bermain hingga empat atau lima oktaf. Meski begitu, Yang dan timnya tetap merasa optimis.

 

Gabungan Budaya Tiongkok dan Barat

Nggak cuma instrumen yang hadir sebagai unsur Tiongkok dalam konser tersebut, melainkan juga “cerita” di baliknya. Pada komposisi berjudul Vermilion Bird, misalnya, diciptakan oleh musisi Li Zong karena terinspirasi oleh makhluk mitologi Tiongkok yang merepresentasikan api. Musik dari komposisi tersebut pun cenderung menawarkan progression yang membuat para pendengarnya merasa berapi-api, sesuai dengan nama komposisi tersebut.

Zong juga menciptakan sebuah komposisi bernama 1966 setelah saat ia pindah ke New York dan mempelajari tentang brutalitas pada Revolusi Budaya, kampanye Mao Zedong yang berlangsung selama 10 tahun untuk mengubah Tiongkok dari akarnya. Zong mengaku merasa terkejut dengan gambar dan video yang ditemukannya, oleh sebab itu ia pun menyalurkannya melalui musik jazz. Itulah alasan mengapa konser tersebut juga dimanfaatkan sebagai edukasi bagi penduduk New York keturunan Tiongkok.

Ternyata, masih banyak orang yang menganggap bahwa instrumen Tiongkok hanya bisa digunakan untuk memainkan musik dari daerah asalnya. Dengan menggelar konser tersebut, para musisi Tiongkok yang tinggal di New York pun ingin mematahkan anggapan tersebut sekaligus menceritakan budaya tradisional mereka melalui permainan musik jazz.

Baca Juga : 4 Penyanyi Jazz Wanita Indonesia Terfavorit

 

Source: english.ahram.org.eg

Pecinta Musik Wajib Datangi Museum Musik Indonesia di Malang

Monday, February 17, 2020 - 15:41
: Bagian depan dari Gedung Museum Musik Indonesia

Kota Malang memang menjadi salah satu kota paling populer di Indonesia. Selain memiliki banyak tempat wisata alam yang menarik, di kota ini rupanya juga memiliki museum musik yang wajib didatangi oleh para pecinta musik. Museum Musik Indonesia yang terletak di Jalan Nusakambangan No. 19, Kota Malang ini merupakan satu-satunya museum seni musik yang ada di Indonesia.

 

Punya Banyak Koleksi yang Menarik

Museum Musik di Kota Malang ini memiliki banyak koleksi yang sangat menarik. Sejak tahun 2009 sampai tahun 2018 lalu Museum Musik ini diketahui memiliki lebih dari 26 ribu koleksi yang berhubungan dengan dunia musik. Mulai dari kaset, leaflet, CD, poster, buku musik, piringan hitam, peralatan audio hingga alat musik koleksi dari para musisi. Menariknya, di museum musik ini juga terdapat kostum dari koleksi para musisi.

Koleksi yang ada di Museum Musik ini rupanya sebagian besar didapatkan dari sumbangan masyarakat baik dari Malang ataupun luar Malang. Selain itu, juga terdapat beberapa musisi yang rela turut menyumbangkan barang-barangnya untuk dijadikan koleksi di museum yang satu ini. Sekitar 60 sampai 70 persen dari koleksi yang ada di museum ini berasal dari musisi Tanah Air. Sedangkan sisanya berasal dari musisi luar negeri. Koleksi di museum ini juga terdiri dari cukup banyak genre mulai dari lagu daerah, jazz, pop, rock, latin hingga lagu anak-anak.

 

Baru Diresmikan pada Tahun 2016 Lalu

Meskipun telah memiliki jumlah koleksi yang cukup banyak, Museum Musik ini baru diresmikan pada tahun 19 November 2016 lalu. Peresmian tersebut langsung dihadiri oleh pihak Badan Ekonomi Kreatif Indonesia dan bertempat di Gedung kesenian Gajayana lantai 2 di Jalan Nusakambangan No. 19 Malang.

Museum Musik ini juga telah didaftarkan ke Kementrian Hukum dan Ham. Pemerintah Kota Malang juga telah memberikan izin kepada pengelola museum untuk menempati Gedung Kesenian Gajayana. Jadi Gedung Kesenian Gajayana telah resmi menjadi lokasi dari Museum Musik tersebut. Sebelum menempati gedung tersebut, Museum Musik ini cukup sering berpindah tempat.

Sejarah Berdirinya Museum Musik

Koleksi di museum musik yang tertata rapi di display

 

Sejarah dari Museum Musik ini cukup menarik lho, Urbaners. Berawal dari koleksi yang dimiliki oleh salah satu pendirinya, Hengki Herwanto, kemudian museum ini bisa berkembang menjadi lebih besar. Sejak sekitar tahun 2009 lalu Hengki Herwanto berencana untuk mendirikan Galeri Malang Bernyanyi dan hanya memiliki sekitar 250 koleksi saja. Koleksi yang terdiri dari CD, kaset hingga piringan hitam itu merupakan milik dari Hengki Herwanto dengan teman-temannya.

Kemudian koleksi tersebut disimpan di garasi rumah Hengki Herwanto yang berada di jalan Citarum. Galeri koleksi musik itu pun semakin dikenal luas sehingga pada tahun 2013 mereka memindahkannya di sebuah rumah kontrakan di Griya Santa. Setelah itu, baru di tahun 2016 galeri musik itu pindah ke Gedung Kesenian Gajayana dan resmi disebut sebagai Museum Musik Indonesia.

Itulah sedikit ulasan mengenai Museum Musik Indonesia yang terletak di Malang. Apakah lo berencana untuk mampir ke tempat ini saat berkunjung ke Malang?

 

Sources: jawapos.com, kumparan.com, goodnewsfromindonesia.id