Home Music Mainkan Jazz dengan Instrumen Tradisional Tiongkok

Mainkan Jazz dengan Instrumen Tradisional Tiongkok

Tuesday, February 23, 2016 - 17:18
Bagikan
Facebook Twitter Email

Jazz merupakan genre musik yang memungkinkan lo untuk melakukan improvisasi sebanyak mungkin. Tapi, jika lo perhatikan, jazz cenderung identik dengan musik barat, mengingat bahwa mayoritas pelaku dan peminatnya memang berasal dari sana. Untuk mengusung keberagaman dalam musik jazz, baru-baru ini ada sekelompok musisi asal Tiongkok yang menggabungkan jazz dan unsur-unsur kebaratan lain dengan instrumen tradisional mereka. Gimana jadinya, ya?

 

Menggunakan Instrumen Tradisional Tiongkok

Sehubungan dengan tahun baru lunar beberapa waktu lalu, sekelompok musisi Tiongkok yang tinggal di New York menggelar konser jazz di Carnegie Hall. Melalui musik yang dibawakan, mereka ingin agar orang-orang bisa lebih mengenal instrumen-instrumen Tiongkok, dengan harapan orang-orang akan tertarik untuk memahami budayanya. Feifei Yang, direktur artistik dari konser tersebut, mengatakan bahwa kini sudah saatnya bagi instrument Tiongkok untuk mencoba hal-hal baru.

Contoh instrumen khas Tiongkok yang dimainkan dalam konser adalah guzheng dan yangqin. Meski mendapat sambutan yang cukup meriah, Yang menyadari bahwa belum ada kesempatan bagi instrumen tradisional mereka untuk digunakan secara umum oleh pelaku musik barat. Hal tersebut disebabkan minimnya jumlah senar yang dimiliki instrumen Tiongkok. Padahal, musik jazz mengharuskan lo untuk bermain hingga empat atau lima oktaf. Meski begitu, Yang dan timnya tetap merasa optimis.

 

Gabungan Budaya Tiongkok dan Barat

Nggak cuma instrumen yang hadir sebagai unsur Tiongkok dalam konser tersebut, melainkan juga “cerita” di baliknya. Pada komposisi berjudul Vermilion Bird, misalnya, diciptakan oleh musisi Li Zong karena terinspirasi oleh makhluk mitologi Tiongkok yang merepresentasikan api. Musik dari komposisi tersebut pun cenderung menawarkan progression yang membuat para pendengarnya merasa berapi-api, sesuai dengan nama komposisi tersebut.

Zong juga menciptakan sebuah komposisi bernama 1966 setelah saat ia pindah ke New York dan mempelajari tentang brutalitas pada Revolusi Budaya, kampanye Mao Zedong yang berlangsung selama 10 tahun untuk mengubah Tiongkok dari akarnya. Zong mengaku merasa terkejut dengan gambar dan video yang ditemukannya, oleh sebab itu ia pun menyalurkannya melalui musik jazz. Itulah alasan mengapa konser tersebut juga dimanfaatkan sebagai edukasi bagi penduduk New York keturunan Tiongkok.

Ternyata, masih banyak orang yang menganggap bahwa instrumen Tiongkok hanya bisa digunakan untuk memainkan musik dari daerah asalnya. Dengan menggelar konser tersebut, para musisi Tiongkok yang tinggal di New York pun ingin mematahkan anggapan tersebut sekaligus menceritakan budaya tradisional mereka melalui permainan musik jazz.

Baca Juga : 4 Penyanyi Jazz Wanita Indonesia Terfavorit

 

Source: english.ahram.org.eg