Film Dokumenter The Beatles Terbaik

Wed, 29 June 2016

The Beatles, band legendaris asal Inggris satu ini memang udah nggak diragukan lagi kemahsyurannya di bidang musik. Mereka bahkan masih punya penggemar berat hingga sekarang. Udah beberapa dekade sejak band ini didirikan, udah banyak juga film-film documenter yang mengisahkan cerita epic tentang pembentukan band ini, mulai dari sisi kontroversial hingga keromantisan hubungan satu sama lain. Dari puluhan film dokumenter tentang The Beatles, berikut ini adalah daftar yang terbaik.

 

The Compleat Beatles (1982)

Film dokumenter yang berdurasi 2 jam ini menceritakan kisah perjalanan karir the Beatles. Disutradarai oleh Patrick Montgomery, film ini dilengkapi dengan banyak rekaman-rekaman wawancara dari berbagai sumber. Tak hanya The Beatles, orang-orang yang bekerja di sekitarnya seperti manajer hingga penulis lagu pun tak lepas dari sorotan film dokumenter ini.

 

Imagine: John Lennon (1988)

Film ini nggak menceritakan The Beatles secara umum, melainkan salah satu anggotanya yang paling terkenal, John Lennon. Film ini dibuat berdasarkan rekaman pribadi dari Yoko Ono, istri setia Lennon. Tak ayal, film ini terkonsentrasi di masa-masa Lennon bersama dengan Ono. Kisah mengenai Lennon yang mendukung gerakan anti perang sangat jelas diceritakan disini.

 

The Beatles Explosion (2008)

Untuk film dokumenter yang satu ini, bukan The Beatles atau hanya John Lennon yang dikisahkan dalam film. Film dokumenter ini lebih menceritakan bagaimana meledaknya Beatlemania, sebutan khusus untuk pecinta The Beatles. Kisah-kisah mengenai bagaimana John, Paul, George, dan Ringo menjadi selebritis besar di dunia diceritakan secara lengkap disini.

 

Let It Be (1970)

Film yang berjudul sama dengan salah satu lagu The Beatles ini disutradarai oleh Michael Lindsay-Hogg. Sesuai judulnya, film ini menceritakan bagaimana proses rekaman lagu berjudul Let It Be dibuat, mulai dari latihan, tampil, bahkan adegan dimana mereka berdebat satu sama lain. Salah satu adegan terkenal di film ini adalah ketika The Beatles bermain secara live di atas gedung.

Cukup menarik, kan? Mana nih yang jadi film dokumenter The Beatles favorit kalian Urbaners? Memang sih sama-sama menceritakan The Beatles, tapi dengan sudut pandang yang berbeda satu sama lain. Jadi, yang mana yang paling menarik menurut lo?

 

Source: Wikipedia.org, rottentomatoes.com

Hidup untuk Hari Ini, Refleksi Diri Hindia dalam Karya-Karyanya

Thu, 13 August 2020
Potret Baskara Putra dengan kaos putih bertuliskan Hindia dan kacamata

Vokalis band .Feast, Daniel Baskara Putra, atau juga dikenal dengan nama panggung Hindia telah cukup banyak mengeluarkan karya, mulai dari beragam proyek kolaborasi bersama musisi lainnya hingga mengeluarkan debut album. Baru-baru ini, Hindia kembali mengeluarkan single terbarunya berjudul “Setengah Tahun Ini” yang merupakan catatan narasi mengenai pandangannya dalam hidup selama pandemi COVID-19.

 

Arti Nama Hindia Baginya

Baskara Putra atau Hindia mengenakan kemeja coklat sedang ada di atas panggung

Nama Hindia ini dipilih bukan karena iseng atau sekadar mau bergaya keren di tengah banyaknya penyanyi indie Indonesia. Pasalnya, ada banyak pemikiran yang tertuang dalam pemilihan nama panggung tersebut.

Baskara mengungkapkan bahwa ide nama panggung Hindia sendiri tertanam sejak usia sekolah, tepatnya ketika field trip dan melihat tulisan “Hindia Belanda” di bawah sebuah lukisan. Muncul angan-angan untuk memasukkan diri ke dalam sejarah Indonesia dengan penggunaan nama Hindia.

Kalau sebelumnya lo akan melihat rentetan kisah penjajahan Belanda terhadap Indonesia saat mengetik “Hindia” di Google, Baskara berharap generasi selanjutnya malah akan menemukan sosok penyanyi Indonesia bernama Hindia dengan karya-karya bahasa Indonesia yang dipersembahkan untuk orang Indonesia juga.

Selebihnya, nama Hindia ini juga ditujukan untuk memisahkan persona diri ketika ada di atas panggung dengan di luar panggung. Nama Hindia kini memiliki makna tersendiri bagi Baskara, yakni layaknya samudera yang membasuh banyak orang agar mendapat kebahagiaan di tengah proses mencapai tujuan. Di dalamnya juga ada kesan androgynous dan familiar.

 

Menutup Debut Album dengan “Setengah Tahun Ini”

Baskara Putra atau Hindia dengan kedua tangan terangkat mengenakan jaket putih

Debut album bertajuk “Menari dengan Bayangan” sudah direncanakan dengan matang oleh Hindia. Sudah menjadi keinginannya untuk memiliki tambahan track ke-16 atau ke-17 dalam album ini. Sebelumnya, lagu “Evaluasi” menjadi penutup manis dari debut album yang dijadikan narasi hidup ini, namun Hindia berkata bahwa ternyata hidup nggak melulu sesuai rencana manusia.

Adanya pandemi ini menyebabkan Hindia harus memutar otak dalam melengkapi debut albumnya sesuai dengan keinginannya dulu. Walau pandemi adalah tantangan baginya dalam bermusik, tetapi juga berperan sebagai inspirasi. Akhirnya, dimulailah proses menulis lagu Setengah Tahun Ini yang jadi refleksi dirinya selama karantina di tengah pandemi 6 bulan belakangan ini.

Mau nggak mau, pandemi mengubah persepsi Hindia mengenai album dan hidup pribadinya. Ia mengungkap bahwa sebelum pandemi, manusia seringkali fokus ke masa depan dan menyesali yang ada di masa lalu. Namun pandemi membuatnya tersadar bahwa ia harus hidup untuk hari ini, nggak harus memusingkan masa depan secara berlebihan

 

Nggak Siap untuk Jadi Terkenal

Baskara Putra atau Hindia mengenakan pakaian serba hitam ada di atas panggung

Baik dalam karirnya bersama .Feast atau proyek solo sebagai Hindia, nyatanya Baskara mengungkap ketakutannya menjadi seorang public figure. Hindia sendiri ia buat untuk menuangkan pikiran dan kreativitasnya, menjadikan pengalaman pribadi serta interaksi individu sebagai sumber utama. Sedangkan .Feast yang arahnya lebih ke rock adalah tempat ia menuangkan opini dan kritik berdasarkan pengalamannya dalam hidup bermasyarakat.

“Kehilangan privasi itu berat, berat banget. Rasanya seperti diperhatikan terus dan seakan gue nggak bisa mengekspresikan apa pun tanpa hal itu jadi konsumsi publik,” ungkap Baskara. Kondisi mental dari Baskara yang seringkali terserang anxiety juga menantangnya ketika ada penggemar yang secara sadar maupun nggak sadar menjajah lahan privasinya.

Meski begitu, Baskara tetap termotivasi untuk membantu lo dan pendengar lainnya meluapkan emosi bersama lagu-lagu Hindia.

 

 

 

Sources: Popbela, Siasat Partikelir, Republika