• Music News
  • Selama 16 Tahun Akhirnya Sheila on 7 Memutuskan Indie

Selama 16 Tahun Akhirnya Sheila on 7 Memutuskan Indie

Mon, 29 August 2016

Tahun 2014 lalu, Sheila on 7 secara mengejutkan mengumumkan bahwa album terakhir berjudul Musim yang Baik (2014) adalah album terakhir So7 di bawah label. Tepatnya selama 18 tahun berkarya dari tahun 1996 sampai 2014, Sheila on 7 berada di bawah label Sony Music Entertainment. Dibawah Sony, So7 berhasil menelurkan 10 album dimana hampir seluruh albumnya tersebut berhasil mendapatkan tempat tersendiri di mata penggemarnya.

 

Label vs Indie

Sheila on 7 adalah salah satu band yang beruntung karena mereka langsung mendapatkan kontrak jangka panjang dari label. Padahal banyak sekali band di luar sana yang sebenarnya memiliki potensi besar tetapi harus tertatih-tatih di jalur indie. Indie vs Label adalah perdebatan cukup lama di dunia musik, bahkan sekarang ada sebutan bahwa band yang ikut label dapat dicap sebuah band yang nggak idealis. Karena selera bermusiknya akan ditentukan oleh pasar, berbeda dengan indie yang bebas.

So7 pun merasa demikian. Enaknya ketika berada di bawah sebuah label adalah para personel So7 hanya fokus dalam bermusik. Promosi, konser sampai penggarapan album sudah ada yang mengurusi. Tetapi kompromi yang dirasakan oleh para personel So7 dalam setiap penggarapan album juga nggak kalah beratnya. Dan sekarang Sheila on 7 berada di titik jenuh, lalu kemudian memutuskan untuk keluar dari label.

 

Para personel Sheila on 7 sudah berkomitmen kuat

Memutuskan untuk terjun di jalur indie bukan perkara mudah. Para personel So7 yang sebelumnya hanya fokus untuk bermusik, sekarang harus mikir bagaimana rekaman sampai bagaimana cara untuk promosi album. Duta dan Adam ternyata sudah memikirkan hal tersebut. Duta dan Adam sekarang akan menggarap hal-hal yang berbau administrasi, sedangkan Erros akan fokus kepada penggarapan musik.

Yogyakarta dan Jakarta adalah dua tempat yang tepat untuk menggarap label indie. Yogyakarta dikenal dengan iklim indie yang bagus, sedangkan Jakarta dapat dijadikan ajang marketing. Wajib ditunggu, album terbaru So7 dibawah indie label.

The Chainsmokers Tuai Kontroversi Usai Gelar Konser Drive-In

Fri, 07 August 2020
Duo DJ The Chainsmokers mengenakan kemeja hitam dan putih di atas panggung sambil memegang piala

Pandemi COVID-19 yang masih belum berujung ini tampaknya mulai membuat banyak orang merasa bosan. Wajar saja, berbagai industri hiburan dunia mengalami hiatus sementara, mulai dari perfilman hingga musik. Itu sebabnya tercipta ide untuk menggelar konser drive-in yang menjanjikan pengalaman konser yang nggak kalah seru.

Walaupun sudah ada di era new normal, namun lo tetap saja harus mematuhi aturan social distancing #MauLagiDimanapun. Itu sebabnya konser drive-in cocok karena para peserta konser bisa duduk nyaman dan jauh dari peserta konser lainnya. Konsep drive-in ini juga dianut dalam konser The Chainsmoker. Namun sayangnya, konser ini malah menuai kontroversi.

 

Sebuah Konser Amal di Hamptons

The Chainsmokers di atas panggung sambil memegang mikrofon

Konser yang digelar oleh sebuah agensi travel dan lifestyleIn The Know Experiences” mengundang duo DJ ternama, yaitu The Chainsmokers dan DJ D-Sol. Sebanyak 2.000 orang memadati sebuah lapangan di kawasan elit Hamptons, beberapa di antaranya ada Cuba Gooding Jr., Connor Kennedy, Tyler dan Cameron Winklevoss.

Satu tiket masuk dibanderol dengan harga yang fantastis, berkisar mulai dari USD1,250 sampai USD25,000. Seluruh profit dari konser ini diamalkan ke badan No Kid Hungry, Southampton Fresh Air Home, dan Children’s Medical Fund New York. Kabarnya, The Chainsmokers juga akan menggelar konser dengan konsep drive-in di Miami, Los Angeles, Nashville, Chicago, dan Atlanta.

 

Sudah Menjalankan Prosedur Kesehatan

Penampilan drive-in concert dengan panggung megah dan rentetan mobil yang terparkir rapi

Potongan video para penonton konser ini mulai viral di Twitter dan akhirnya malah menimbulkan kontroversi. Menanggapi kritikan pedas netizen, penyelenggara konser akhirnya mengeluarkan pernyataan yang menyebutkan protokol kesehatan apa saja yang dilakukan untuk menjamin konser drive-in ini aman bagi masyarakat.

Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa suhu setiap peserta dicek sebelum memasuki konser, kemudian masing-masing diberikan masker sebelum diperbolehkan untuk memarkir mobil di depan panggung konser. Para peserta juga nggak diperbolehkan untuk meninggalkan spot berukuran 20 x 20 inci tersebut.

Berdasarkan video yang beredar, sayangnya ada beberapa kontradiksi dari pernyataan tersebut. Sebagian besar peserta terlihat seru menari tanpa mematuhi physical distancing, beberapa bahkan nggak memakai masker. Konser drive-in yang seharusnya dinikmati dari dalam mobil malah justru menyerupai konser pada umumnya sebelum pandemi.

 

Dikecam Publik dan Pemerintah

Andrew Cuomo Gubernur New York mengenakan jas hitam, tampak bendera Amerika Serikat

Walaupun digadang sebagai konser amal, konser drive-in yang dibintangi The Chainsmokers ini dikecam publik, khususnya para pengguna Twitter. Nggak sedikit dari mereka yang mengkritik sikap acuh tak acuh dari para peserta konser yang pastinya berasal dari kalangan menengah ke atas. Netizen juga menyayangkan keputusan peserta konser untuk mengabaikan kesehatan hanya demi menonton The Chainsmokers.

Nggak hanya mengambil perhatian publik, berita ini juga sampai ke kuping Gubernur New York, Andrew Cuomo. Saat ini, konser drive-in tersebut sedang dalam tahap penyelidikan karena Cuomo bersikeras bahwa konser tersebut ilegal dan tidak mematuhi protokol kesehatan yang sudah ditetapkan pemerintah.

 

 

 

Sources: GQ, Vulture, Variety.