Home Music Melestarikan Cerita Jazz dari Masa Lampau dalam Sebuah Museum

Melestarikan Cerita Jazz dari Masa Lampau dalam Sebuah Museum

Wednesday, November 30, 2016 - 14:14
Bagikan
Facebook Twitter Email
Font Size

Museum adalah tempat banyak orang bisa menjaring informasi tentang masa lalu. Ia merekam banyak sejarah yang bisa menjadi pintu pada pengertian akan asal-usul tradisi yang sedang berlangsung.

Di JGTC ke-39 tahun ini, keberadaan museum jazz menjadi salah satu atraksi yang dipertahankan keberadaannya. Wahana ini diperkenalkan pertama kali pada penyelengaraan tahun 2012.

Dengan membuka sebuah museum di dalam kompleks venue penyelenggaraan festival, JGTC sebenarnya secara tidak langsung telah meneruskan sebuah tradisi kecil untuk melestarikan penyebaran literasi tentang masa lalu yang layak diteruskan ke generasi kini yang memenuhi berbagai macam festival jazz.

Museumnya sendiri tidak luas, tapi informasi yang diberikan cukup mendasar dan berguna. Tidak heran, antrian pun mengular di waktu-waktu tertentu. Wahana ini bisa menjadi jeda antar performer atau mereka yang sedang berpindah dari satu panggung ke panggung lainnya. Idenya bagus.

Di dalamnya terdapat banyak kisah menarik dari sejarah jazz Indonesia yang disajikan secara ringkas untuk orang yang membaca. Hanya dalam waktu lima belas menit, ada banyak informasi yang bisa diserap.

Kisah-kisah inspiratif dari keluarga jazz model Lesmana, Likumahuwa dan Dauna, misalnya, ditampilkan di sana. Jejak keluarga yang secara konsisten merekam jejak beberapa generasi memainkan musik jazz dan berkeliling Indonesia menampilkan karya-karya mereka, ada di sana.

Lalu, beberapa legenda jazz Indonesia juga terpampang kisahnya di sana. Mulai dari Bill Saragih sampai Benny Mustafa van Diest ada di sana. Lengkap dan berhasil menjangkau berbagai macam generasi serta kisah-kisah menarik di dalamnya.

Kalau dipikir, jasa paling besarnya adalah menguak literatur banyak talenta legendaris yang pernah dan masih mewarnai industri jazz Indonesia. Fungsi dasar ini sangatlah berguna, minimal sebagai pengantar bagi mereka yang bisa saja baru bersentuhan dengan jazz untuk kali pertama. Terlebih lagi, memang kenyataan bahwa pendokumentasian arsip masih menjadi persoalan besar untuk industri musik jazz Indonesia.

Semoga saja, tradisi ini terus berlangsung di masa yang akan datang. Bagaimanapun juga, mengutip kata-kata lama, bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai sejarah dan pendahulunya.