Penyajian Ulang ala Deredia

Wed, 30 November 2016

Menyajikan ulang musik di salah satu era keemasan Indonesia memerlukan keberanian, termasuk di dalamnya konsekuensi untuk berdandan lawas. Deredia memilikinya.

Menjelang maghrib, salah satu panggung Jazz Goes to Campus ke-39 (JGTC) kedatangan Deredia, quintet asal Jakarta. Sedikit nyeleneh dari konsep jazz yang konservatif, band ini mempertontonkan interpretasi mereka dari serangkaian riset perjalanan ke masa lalu mengulik musik Indonesia di era 50-an.

Beberapa waktu yang lalu, Deredia merilis debut album mereka, Bunga & Miles. Selain itu, mereka juga berpartisipasi di album kompilasi OST. Tiga Dara yang dibuat untuk merayakan film musikal legendaris Indonesia, Tiga Dara, yang dirilis ulang versi restorasinya.

Secara khusus, band ini bisa memotret musik Indonesia 50-an yang ingin mereka tampilkan kembali. Selain dengan dandanan lawas, pilihan instrumen juga mendukung. Mereka menggunakan kontra bas dan grand piano, beberapa microphone yang digunakan juga bermodel lawas. Lalu, bagaimana dengan musiknya?

Deredia bisa dibilang mampu untuk mempertanggungjawabkan pilihan yang mereka ambil. Musiknya berhasil memprovokasi orang untuk berdansa mengikuti nada-nada yang dilantunkan. Kadang ada swing, kadang ada chacha dan kadang ada bossanova juga dimainkan. Perpaduan yang gado-gado ini, sesuai sekali dengan image keseluruhan yang coba ditampilkan.

Menyaksikan Deredia memainkan lagu-lagu mereka meninggalkan kesan yang mendalam.

Buat generasi sekarang, bisa jadi, musik-musik seperti Deredia bisa menjadi penyambung yang baik bagi perkenalan lebih dalam dengan sejarah masa lalu musik Indonesia yang memang penuh gelora. Dari literatur-literatur yang tersedia –namun terbatas— memang musik Indonesia di era itu penuh dengan eksplorasi dan bisa membuat definisi yang baik tentang negeri ini dari kacamata seni suara.

Pilihan JGTC untuk mengajak band ini bermain juga bisa dianggap cerdas. Musik-musik penuh eksplorasi seperti ini, memang sudah sepantasnya dapat tempat yang lebih besar untuk bisa diketahui dan dinikmati oleh orang banyak. Video di halaman ini rasanya bisa menjawab kenapa mereka perlu untuk didengarkan oleh orang banyak, kan? 

Marilyn Manson Siapkan Album Baru "We Are Chaos"

Tue, 04 August 2020
Marilyn Manson mengenakan topi koboi putih dengan setelan jas hitam di depan background hitam

Lama nggak terdengar di blantika musik, Marilyn Manson akhirnya merilis album terbaru bertajuk “We Are Chaos”. Musisi rock asal Amerika Serikat ini mengumumkan lewat media sosial bahwa album terbarunya bisa dinikmati tanggal 11 September via Loma Vista.

Bertepatan dengan memoriam tragedi menara kembar, tampaknya Marilyn Manson ingin menunjukkan sisi gelap kemanusiaan melalui album barunya.

 

Dirilisnya Single Utama dari Album

Tiga kepala Marilyn Manson yang mengenakan tampilan eye shadow hitam sambil menyeringai

Menyusul kesuksesan album “Heaven Upside Down” yang dirilis tahun 2017 lalu, Marilyn Manson mengumumkan tanggal rilis album terbarunya di hari Rabu (29/7) bersamaan dengan perilisan music video untuk single utamanya.

Berjudul sama dengan albumnya, We Are Chaos memasukkan adegan-adegan yang khas dengan gaya eksentrik Manson. Meski dipenuhi dengan metafora yang dark, secara mengejutkan Manson justru memainkan gaya akustik untuk single terbarunya ini.

Album ini diproduksi sebelum pandemi COVID-19 menyerang dunia. Namun, Manson mengungkapkan kalau albumnya justru berhasil merepresentasikan kondisi dunia terkini. “When I listen to ‘We Are Chaos’ now, it seems like just yesterday or as if the world repeated itself,” ujar Marilyn Manson.

 

Sebuah Kritik atas Kemanusiaan

Marilyn Manson di atas panggung memegang mikrofon sambil mengangkat tangannya

Tema-tema lagu yang selama ini dinyanyikan oleh Marilyn Manson memang selalu mengungkap sisi gelap dunia. Satu hal yang membuat album ini unik adalah cara Manson dalam menyampaikan opini dan perasaannya secara lebih “lembut,” yakni dengan fokus pada lirik ketimbang kerasnya instrumen musik yang digunakan.

We Are Chaos secara nyata menjadi cermin yang memperlihatkan segala keburukan dari kemanusiaan, di mana Manson mengatakan bahwa kemanusiaan adalah hal terburuk yang ada di kehidupan. Manson mengibaratkan jiwa manusia sebagai sebuah museum yang dipenuhi oleh ruangan, lemari, brankas, dan laci.

Shards and slivers of ghosts haunted my hands when I wrote most of these lyrics,” ungkap Manson. Nggak seperti penggarapan album-album sebelumnya, Manson memilih untuk menjinakkan sisi gila miliknya dan menunjukkan tampilan yang lebih dewasa untuk album We Are Chaos.

 

Tersedia dalam Beberapa Versi

Marilyn Manson dengan coat hitam dan kacamata berlensa hijau

Marilyn Manson menggaet Shooter Jennings, seorang produser musik pemenang Grammy, untuk bersama-sama menggarap albumnya. Manson mengungkapkan bahwa selama proses rekaman, tidak ada seorang pun yang boleh mendengarkan hasilnya sebelum seluruh lagu selesai diproduksi. Album We Are Chaos merupakan sebuah konsep album berisikan 10 lagu.

Dikabarkan juga kalau Manson menggandeng A$AP Ferg untuk berkolaborasi musik. Album ini akan tersedia dalam Side A dan Side B, masing-masing bisa didapatkan dalam wujud vinyl, CD, dan kaset dengan sistem pre-order. Nggak hanya itu, Manson juga menggunakan lukisan yang ia buat sendiri sebagai cover album We Are Chaos yang bisa lo beli secara eksklusif.

 

 

 

Sources: Rolling Stone, NME, Billboard