Mighty Oaks, Band Indie Folk-Rock dengan Anggota Multikultur - MLDSPOT
  • Music News
  • Mighty Oaks, Band Indie Folk-Rock dengan Anggota Multikultur

Mighty Oaks, Band Indie Folk-Rock dengan Anggota Multikultur

Wed, 28 December 2016

Lo pernah nonton serial televisi berjudul Red Band Society? Kalau pernah, seharusnya lo udah nggak asing lagi dengan Mighty Oaks karena salah satu lagu mereka pernah menjadi soundtrack dari serial tersebut. Dari namanya, mungkin lo udah bisa menebak kalau Mighty Oaks berbau aliran indie. Ya, Urbaners, kali ini tebakan lo sama sekali nggak salah!

 

Gabungkan Musik Indie Rock dan Folk Rock

Kalimat “berbeda-beda tetapi tetap satu jua” sepertinya cocok banget diterapkan pada Mighty Oaks. Walau cuma terdiri dari tiga anggota, ternyata mereka semua berasal dari negara yang berbeda. Vokalisnya, Ian Hooper, berasal dari US. Sedangkan, Claudio Donzelli (gitaris dan keyboardist) berasal dari Italia dan Craig Saunders (bassist) berasal dari UK. Mighty Oaks terbentuk pada tahun 2010 dan memilih Berlin, Jerman, sebagai lokasi basecamp mereka.

Tapi, kalau ada satu hal yang menyatukan ketiganya, maka itu adalah kecintaan mereka terhadap musik indie rock dan folk rock. Sebelum Mighty Oaks terbentuk, Hoopers dan Saunders telah berteman cukup lama dan bekerja sama menciptakan musik. Beberapa bulan kemudian, mereka bertemu dengan Donzelli di salah satu festival musik dan sejak saat itu selalu keep in touch.

 

Mulai Fokus Musik Sepenuhnya pada 2012

Meski telah terbentuk sejak tahun 2010, Mighty Oaks baru benar-benar total terjun ke dunia musik pada pertengahan tahun 2012. Setelah melakukan rekaman di studio, akhirnya EP pertama mereka yang berjudul Just One Day pun berhasil dirilis dan didistribusikan melalui Rough Trade Records. Sebagai salah satu langkah promosi, Mighty Oaks pun ikut tur bersama Shout Out Loud di Eropa dan menjadi opening act untuk Kings of Leon di Berlin.

 

Tulis Lirik yang Bersifat Otobiografi

Dalam menulis lagu, Mighty Oaks mengaku selalu melakukannya berdasarkan pengalaman pribadi dan fokus pada hal-hal seperti alam, keluarga, cinta, persahabatan, serta kehilangan. Lagu Brother, misalnya, ditulis Hooper berdasarkan hubungannya dengan salah satu sahabatnya dan pengalaman mereka ketika sedang traveling di salah satu negara bagian Amerika.

 

Lagu-lagu bergenre folk-rock yang diusung Mighty Oaks paling cocok didengerin sambil traveling. Tapi, nggak harus nunggu traveling juga untuk bisa dengerin suara merdu Mighty Oaks. Mau sambil nyetir, kerja, atau bahkan cuma melamun, selalu ada lagu Mighty Oaks yang bisa lo jadiin pilihan!

 

 

Sources: En.wikipedia.org, Allmusic.com

Perjalanan Joey Alexander dari Grammy sampai Sekarang

Sat, 27 February 2021
Joey Alexander

Di tahun 2016 & 2017 lalu, Indonesia sempat digemparkan dengan nama Joey Alexander – well, siapa yang nggak kenal dengan pianist muda yang berhasil masuk nominasi Grammy Awards di usianya yang masih sangat belia saat itu?

Dua tahun berturut-turut berhasil masuk nominasi Grammy Awards di umur 13 tahun, Joey Alexander berhasil membawa bangga nama Indonesia ke kancah internasional dengan single debutnya yaitu My Favorite Thing.

Setelah 5 tahun berlalu, gimana kabar Joex Alexander sekarang ya, bro? beranjak menjadi seorang remaja, pastinya udah banyak banget perkembangannya. Denger-denger, Joey juga udah ngerilis 5 album loh!

Di artikel ini, MLDSPOT bakalan mengulik gimana kabar Joey Alexander setelah 5 tahun berlalu dari Grammy Awards dan gimana kesehariannya sekarang. Langung aja selengkapnya simak di bawah ini ya!

Grammy Awards: Bukti Pribadi Joey Rendah Hati

Joey Alexander

Credit image – Liputan6

Di 2016 hingga 2017 lalu, keberhasilan namanya dalam menjadi nominasi di Grammy Awards emang menjadi titik balik dari karir seorang Joey Alexander. Gimana nggak – di usia yang belum genap 13 tahun saat itu, Joey berhasil menjadi musisi termuda yang masuk ke dalam nominasi kategori Jazz dan meraih nominasi dua sekaligus – pertama dari Indonesia!

Joey sendiri mengaku, momen masuk sebagai nominasi dengan pencapaiannya ini – ia nggak berharap banyak untuk menang. Ketika dinominasikan untuk pertama kali, pastinya Joey kaget dan nggak nyangka sama sekali. Tapi ketika pada hari pengumuman dan ternyata nggak menang – Joey nggak berkecil hati, karena baginya inilah hal yang harus dikembangkan olehnya untuk menciptakan karya yang lebih baik lagi.

Dengan keberhasilannya ini, Joey mengatakan bahwa keberhasilannya dalam meraih Grammy Awards ini bukanlah hal yang mudah. Namun ia bersyukur memiliki lingkungan yang supportif – baik menang atau kalah, itu semua hanya menjadi bagian dalam hidupnya untuk menjadi lebih baik dan berkembang.

Musik Jazz bagi Joey Alexander

Awal mula perjalanan musik Joey dimulai dari kecintaan ayahnya dalam bermusik – meskipun nggak secara profesional. Namun sejak bersama ayahnya, kecintaan Joey akan musik pun menjadi tumbuh. Menurut Joey, ketika ia memainkan musik ia merasakan sesuatu yang menyenangkan dalam dirinya tumbuh.

Memulai perjalanan bermusiknya di Bali, Joey mengaku nggak nyangka kalau hidupnya akan menjadi berada dalam lingkup musik – apalagi di genre Jazz. Musik Jazz sendiri bagi Joey punya kekuatan sendiri yang nggak dimiliki oleh genre musik lainnya.

Bagi Joey, musik Jazz seakan punya bahasa tersendiri dalam musik yang bisa menyampaikan pesan serta menyatukan orang yang berbeda dari seluruh dunia – Jazz udah whole different level deh buat Joey!

Dari Bali hingga New York

Joey Alexander

Credit image – Spotify

Seperti yang diketahui, Joey melebarkan sayapnya lebih besar di negeri paman sam – tepatnya New York, dibandingkan di tanah kelahirannya sendiri. Meskipun begitu, Joey tetap Bali spesial tersendiri di dalam hatinya.

Bali dan New York sama-sama membawa inspirasi bagi Joey dalam bermusik, namun kedua tempat ini memiliki sisi yang berbeda dalam diri Joey dalam menciptakan musik. Hal ini dibuktikan dengan 5 album yang telah dirilis oleh Joey.

4 album dengan berbahasa Inggris dan 1 album dengan bahasa Indonesia ini sebenarnya tidak memiliki makna yang spesifik. Karena pada dasarnya dalam menamakan album Joey berdasarkan komposisi asli dari album Live-nya.

Album terakhir Joey – Warna, dibuat untuk menceritakan kepribadian, suara, dan gaya seorang pemusik yang bermain dengannya. Di album terbarunya ini Joey juga mencoba gaya musik dan komposisi yang berbeda. Seakan ingin memberikan warna baru, di album ini Joey mencoba menghadirkan nuansa ‘lokal’ dalam albumnya.

Karier bermusik Joey emang udah nggak perlu diragukan lagi. Bukan cuma Grammy Awards aja, bahkan Joey juga pernah menjadi TED Speaker dalam acara TedX Talk, bro!

Di usia muda dan pencapaian yang dimilikinya ini jadi kisah inspiratif banget buat dikulik ya. Dari Joey kita juga belajar – nggak perlu berpikir panjang untuk mencoba hal baru, yang penting – mulai aja dulu!

 

Feature image - NPR