• Music News
  • Band Legendaris Krakatau Siap Bersaing Lagi Di Dunia Musik

Band Legendaris Krakatau Siap Bersaing Lagi Di Dunia Musik

Fri, 10 February 2017

Krakatau is back.... Di penghujung 2016, Krakatau hadir mengobati kerinduan pecinta musik jazz dengan merilis album  Berjudul "Chapter One". 11 lagu dipersembahkan grup jazz yang kini dikenal dengan nama Krakatau Reunion.

Lagu-lagu pada album Chapter One diantara Aku Kamu Kita, Cermin Hati, Hanya Dapat Melihat, Family, Mata Ke Mata, Let My Heart Free, Moon Stone, Lingers on My Mind, Cerita Persahabatan, Seraut Wajah dan Nusa Terluka.

Butuh dua waktu dua tahun album ini selesai. Proses produksi Chapter One sendiri berlangsung di Bali, sementara mastering di New York Amerika. Dari 11 lagu, ada satu lagu lama yang diaransemen ulang berjudul "Seraut Wajah". Sementara tiga lagu ditulis dalam bahasa inggris yakni Family, Let My Heart Free dan Lingers on My Mind.

Untuk lagu "Aku Kamu Kita" menceritakan kerinduan personel Krakatau, ngeband bareng, rekaman, manggung dan jumpa Keluarga Krakatau (panggilan fans Krakatau). Album ini juga menunjukkan kedewasan Krakatau dalam bermusik.

Yang unik pada proses pembuatan album yakni personel Krakatau dipaksa menjalani karantina. Ini jalan yang ditempuh mengingat padatnya kesibukan mereka di luar band. "Jalan satu-satunya yang harus kami tempuh adalah karantina, waktu itu di Bali. Karena jika tidak dikarantina, album tidak akan kelar," kata Trie Utami seperti dikutip dari Tribunnews.com.

Secara garis besar tak ada perubahan corak dan musikalitas pada album ini. Menurut Indra Lesmana yang berbeda hanya pada proses penggarapan yang menurutnya sangat menyenangkan.

Terakhir kali Krakatau Reunion hadir pada 2006 dengan double album yakni The Rhythm of Reformation dan 2 Worlds. Masih dengan formasi yang sama dengan 24 tahun silam, Krakatau Reunion diisi musisi-musisi hebat,  seperti Trie ‘Iie’ Utami (Vocal), Dwiki Dharmawan dan Indra Lesmana (kibordis),  Pra Budi Dharma (Bass), Donny Suhendra (Gitar), dan Gilang Ramadhan (Drummer).

Krakatau Band pertama kali dibentuk tahun 1984 atas ide Pra Budi Dharma, Dwiki Dharmawan, Budhy Haryono dan Donny Suhendar. Krakatau merubah genre musiknya menjadi Jazz-Worldmusic dari sebelumnya memainkan jazz rock dan fusion jazz. Krakatau membawa warna musik baru pada era itu yang didominasi musik rock.

Atas eksistensi Dwiki Cs, Krakatau kerap tampil di festival musik jazz hingga ke Eropa, Amerika, Kanda, Asia bahkan ke Amerika latin.

Karya yang berhasil dirilis Krakatau diantaranya Krakatau 1st First Album ( 1985 ), Krakatau Second Album ( 1987 ), Mini Album Krakatau dengan hit ‘Kau Datang’ (1989 ), Kembali Satu ( 1999 ) dan Mystical Mist (1994), dan dua album ganda Magical Match (2000), Rhythm of Reformation (2005) dan 2 Worlds (2006) yang bergenre World jazz.

meta desc:

Di penghujung 2016, Krakatau hadir mengobati kerinduan pecinta musik jazz dengan merilis album  Berjudul "Chapter One". 11 lagu dipersembahkan grup jazz yang kini dikenal dengan nama Krakatau Reunion.

 

 

Source: http://www.tribunnews.com/seleb/2017/01/06/begini-kesibukan-band-krakat…

Konsep Retro, Vintage, dan Pesona Prancis di Setiap Melodi Vira Talisa

Tue, 14 July 2020
Vira Talisa dengan tampilan rambut updo sedang bercermin, mengenakan blouse putih dengan garis abu dan kuning

Cantik, unik, dan bertalenta, Vira Talisa membawa angin segar bagi musik Indonesia, terkhusus dalam musik indie. Dara kelahiran Jakarta yang satu ini ternyata merupakan lulusan Visual Art dari Universitas Rennes, Prancis.

Selama 4 tahun menimba ilmu di negara asing, selepasnya Vira memutuskan untuk fokus bermusik. Baru saja merilis album terbaru “Primavera”, Vira Talisa siap untuk memanjakan telinga pendengar #MumpungLagiDirumah dengan lantunan lagu retro-pop yang manis.

 

Berawal dari Visual Art hingga Bermusik

Vira Talisa menyanyi dengan mic, mengenakan kemeja biru dan topi berwarna orange

Seni dan bermusik merupakan dua hobi seorang Vira Talisa. Sempat terpikir untuk mengambil jurusan musik, namun niat tersebut diurungkan karena takut malah membuat musik jadi terasa seperti “pekerjaan” yang nggak lagi bisa dinikmati dengan santai.

Walau memang seni dan musik merupakan dua hal yang berbeda, Vira merasa justru pengalamannya saat berkuliah menjadi bekal untuk ia menjadi penyanyi, sekaligus mendorongnya untuk benar-benar menggeluti musik. Menggeluti seni secara akademis, dan musik di luar aktivitas akademisnya membuat Vira merasa kedua jalan hidupnya tersebut selaras.

 

Prancis dan Setiap Kenangan di Sana

Salah satu cover single Vira Talisa, mengenakan straw hat dan sarung tangan kulit berwarna hitam

Kalau berbicara soal negara Prancis, pasti yang ada di benak lo adalah suasana romantis di sepanjang sungai Seine dan gemerlap menara Eiffel. Itu juga suasana yang ingin diciptakan oleh Vira lewat musik-musiknya, termasuk juga album terbarunya bertajuk Primavera yang berarti musim semi. Selama Vira berada di Prancis, ia juga masuk ke dalam komunitas dan pertemanan yang memiliki minat musik yang serupa.

Vira merasa klik dengan referensi musik retro-pop yang didapatkannya selama di Prancis. Begitu pula dengan hasil belajar yang ia tekuni di Prancis. Meski mengambil jurusan Visual Art, nyatanya di dalamnya juga mencakup bidang sastra dan film, di mana akhirnya Vira juga mampu mengasah pemahamannya akan musik sebagai salah satu komponen film.

 

Terinspirasi dari The Beach Boys dan Soundtrack Film Klasik

Vira Talisa sedang duduk di sofa sambil menulis di buku berwarna orange

Kiprah bermusik Vira benar-benar dimulai sejak nol, berawal dari sekadar meng-upload hasil cover lagu di platform Soundcloud. Hingga akhirnya, Vira pun berhasil merilis album self-titled di tahun 2016. The Beach Boys menjadi salah satu panutan Vira dalam bermusik dan musisi yang memperkenalkan Vira ke musik dengan genre retro.

Nggak hanya The Beach Boys saja, Vira juga jatuh cinta dengan konsep vintage dan genre pop-retro melalui soundtrack film garapan Jean-Luc Godard, seperti “Singing in the Rain”. Film-film klasik di era 30-an dan 60-an menjadi inspirasi bagi musikalitas Vira Talisa.

 

Dukungan Manis dari Orang Tercinta

Vira Talisa menyanyi di atas panggung dengan dress hitam

Dibesarkan di keluarga pencinta musik, Vira Talisa ternyata masih memiliki hubungan keluarga dengan legenda musik Eyang Titiek Puspa. Keluarganya sering mendengarkan lagu-lagu karya Everly Brothers dan The Beatles yang membuat Vira sebagai sosok old soul dengan kemampuan bermusik yang nggak perlu diragukan lagi.

Dalam album Primavera yang berisikan delapan lagu, ada satu lagu berjudul “He’s Got Me Singing Again” yang menceritakan sosok sang kekasih, Radityo Joko Bramantyo. Bagi Vira menulis lirik dan menggarap musik itu adalah ekspresi paling jujur yang bisa dimiliki seseorang. Sekarang, album Primavera sudah bisa didengarkan di berbagai platform streaming. Vira juga sedang fokus untuk merilis album fisik dan tetap melahirkan tembang-tembang retro-pop.

 

 

 

Sources: Medcom.id, CNN Indonesia, Liputan 6.