• Music News
  • Gitar Koleksi Gugun (Gugun Blues Shelter)

Gitar Koleksi Gugun (Gugun Blues Shelter)

Thu, 16 March 2017

Gugun adalah pentolan dari band Gugun and The Blues Shelter. Sesuai namanya, band yang seringkali dipanggil Gugun Blues Shelter ini merupakan band asal Indonesia yang beraliran blues. GBS dibentuk di Jakarta pada tahun 2004 dengan anggotanya Gugun (gitar), Jono (bass) and Bowie (drum).

Gugun Blues Shelter terinspirasi Jimi Hendrix, Stevie Ray Vaughan, Betty Davis, dan Led Zeppelin. GBS pada awal kelahirannya bernama The Blues Bug. Kemudian berganti nama menjadi Blue Hand Gang dan selanjutnya menjadi Gugun Blues Shelter.

Sampai saat ini Gugun Blues Shelter telah menelurkan album dengan tajuk Get The Bug (2004), Turn It On (2007), Gugun Blues Shelter (2010), Satu Untuk Berbagi (2011), Far East Blues Experience (2011-compilation album), Solid Ground (2011), Soul Shaker (2013) dan Hitam Membiru (2016).

Sebagai gitaris, Gugun memiliki skill yang tinggi dan perpindahan chord serta melodi yang intensif menghasilkan lengkingan gitar yang menakjubkan. Untuk mendukung musikalitas yang berkualitas, Gugun tentu memiliki gitar dan efek gitar yang memadai. Berikut gitar yang dipakai Gugun:

 

Artrock Gugun GBS Custom Signature Series

Gitar yang dibuat oleh Artrock Guitar ini merupakan gitar signature series untuk Gugun. Gitar ini memiliki penampilan yang mirip dengan gitar Stratocaster dari Fender namun dengan headstock yang terbalik. Gitar ini memiliki body yang berbahan alder dan neck yang berbahan Canadian Hard Maple dalam konstruksi penyambungan gitar Bolt-on.

Pada fingerboard menggunakan material maple dan terdapat 21 medium fret yang dihiasi Abalone dot inlay. Gitar Artrock Gugun GBS Custom Signature Series ini dipersenjatai dengan tiga pickup single coil Alnico Custom by G&B. Gitar dari Artrock ini hadir dalam 1 varian warna black saja.

 

Artrock Gugun Signature Series

Gitar signature series untuk Gugun ini diperkenalkan pada sekitar tahun 2010. Factory setting dari gitar ini berdasarkan referensi dari Gugun sendiri, baik dari truss rod, kelurusan neck, dan ketinggian pickupnya. Dengan kata lain, Gitar Artrock Gugun Signature Series ini sudah langsung di tingkat playbility yang sangat baik dan sudah ready stage.

Gitar dari Artrock ini hadir dalam tiga varian warna yakni Olympic White (OW), 2T Sunburst Satin (2T.S), Vintage Gold (VGD). Harga di pasaran, dijual dengan kisaran Rp 3.700.000 per unit.

Gitar Artrock RTL 101 Custom Tele

Gitar RTL 101 Custom Tele ini merupakan hasil kerjasama antara Artrock dan Gugun. Tampilan gitar ini menyerupai gitar Telecaster milik Fender namun memiliki perbedaan pada headstock, tanpa pickguard dan warna yang mencolok.

Gitar Artrock RTL 101 Custom Tele ini dipersenjatai dengan 2 pickup singlecoil dari G&B yaitu, Alnico Tele Custom covered-F-Gold pada posisi neck dan Alnico Tele Custom open pada posisi bridge. Gitar ini hadir dalam satu varian warna fiesta Red dan dijual dengan kisaran harga Rp 2 jutaan.

 

Gitar Gibson Standard SG

Ketika Les Paul berevolusi menjadi Les Paul / SG Standard pada tahun 1961, evolusi diwujudkan menjadi Les Paul dengan body gitar yang ramping, kuat, kontemporer solidbody gitar listrik. Gitar ini langsung menjadi ikon dari musik bergenre rock dan blues. Gitar yang bermodel klasik ini memiliki fitur dual ’57 classic humbucking pickup, dan perangkat keras Gibson yang inovatif. Semuanya dikemas dalam desain yang tetap menjadi salah satu gitar legendaris yang paling fleksibel saat ini.

Gitar ini memiliki beberapa varian warna yaitu Heritage Cherry, Ebony, White Klasik, dan Natural Burst, semua di finishing dalam high-gloss lacquer nitroselulosa. Keindahan ini juga dihiasi inlays trapesium yang terikat elegan pada 22-fret rosewood fingerboard sementara mother-of-pearl Gibson logo dan holly inlay menghiasi pada headstock gitar. Gitar ini dijual dengan harga US$2,039 dilengkapi dengan hardcase dan sertifikat.

 

Gitar Fender Classic Series ’72 Telecaster Thinline

Tahun 1972 merupakan masa keemasan untuk gitar Telecaster. Seri Klasik ’72 Telecaster Thinline memiliki konfigurasi pickup dual humbucking yang diperkenalkan pada tahun itu. Gitas ini juga dilengkapi fitur lain seperti tubuh abu semi-berongga dengan lubang F, tiga lempeng baut pada neck dengan penyesuaian Micro-Tilt.

Gitar Fender Classic Series ’72 Telecaster Thinline ini hadir dalam dua varian warna yaitu Natural dan 3 color Sunburst. Urbaners bisa mendapatkannya dengan merogoh kocek hingga Rp11.049.000 untuk setiap unitnya.

 

Source: Rollingstone.co.id

Pecinta Musik Wajib Datangi Museum Musik Indonesia di Malang

Monday, February 17, 2020 - 15:41
: Bagian depan dari Gedung Museum Musik Indonesia

Kota Malang memang menjadi salah satu kota paling populer di Indonesia. Selain memiliki banyak tempat wisata alam yang menarik, di kota ini rupanya juga memiliki museum musik yang wajib didatangi oleh para pecinta musik. Museum Musik Indonesia yang terletak di Jalan Nusakambangan No. 19, Kota Malang ini merupakan satu-satunya museum seni musik yang ada di Indonesia.

 

Punya Banyak Koleksi yang Menarik

Museum Musik di Kota Malang ini memiliki banyak koleksi yang sangat menarik. Sejak tahun 2009 sampai tahun 2018 lalu Museum Musik ini diketahui memiliki lebih dari 26 ribu koleksi yang berhubungan dengan dunia musik. Mulai dari kaset, leaflet, CD, poster, buku musik, piringan hitam, peralatan audio hingga alat musik koleksi dari para musisi. Menariknya, di museum musik ini juga terdapat kostum dari koleksi para musisi.

Koleksi yang ada di Museum Musik ini rupanya sebagian besar didapatkan dari sumbangan masyarakat baik dari Malang ataupun luar Malang. Selain itu, juga terdapat beberapa musisi yang rela turut menyumbangkan barang-barangnya untuk dijadikan koleksi di museum yang satu ini. Sekitar 60 sampai 70 persen dari koleksi yang ada di museum ini berasal dari musisi Tanah Air. Sedangkan sisanya berasal dari musisi luar negeri. Koleksi di museum ini juga terdiri dari cukup banyak genre mulai dari lagu daerah, jazz, pop, rock, latin hingga lagu anak-anak.

 

Baru Diresmikan pada Tahun 2016 Lalu

Meskipun telah memiliki jumlah koleksi yang cukup banyak, Museum Musik ini baru diresmikan pada tahun 19 November 2016 lalu. Peresmian tersebut langsung dihadiri oleh pihak Badan Ekonomi Kreatif Indonesia dan bertempat di Gedung kesenian Gajayana lantai 2 di Jalan Nusakambangan No. 19 Malang.

Museum Musik ini juga telah didaftarkan ke Kementrian Hukum dan Ham. Pemerintah Kota Malang juga telah memberikan izin kepada pengelola museum untuk menempati Gedung Kesenian Gajayana. Jadi Gedung Kesenian Gajayana telah resmi menjadi lokasi dari Museum Musik tersebut. Sebelum menempati gedung tersebut, Museum Musik ini cukup sering berpindah tempat.

Sejarah Berdirinya Museum Musik

Koleksi di museum musik yang tertata rapi di display

 

Sejarah dari Museum Musik ini cukup menarik lho, Urbaners. Berawal dari koleksi yang dimiliki oleh salah satu pendirinya, Hengki Herwanto, kemudian museum ini bisa berkembang menjadi lebih besar. Sejak sekitar tahun 2009 lalu Hengki Herwanto berencana untuk mendirikan Galeri Malang Bernyanyi dan hanya memiliki sekitar 250 koleksi saja. Koleksi yang terdiri dari CD, kaset hingga piringan hitam itu merupakan milik dari Hengki Herwanto dengan teman-temannya.

Kemudian koleksi tersebut disimpan di garasi rumah Hengki Herwanto yang berada di jalan Citarum. Galeri koleksi musik itu pun semakin dikenal luas sehingga pada tahun 2013 mereka memindahkannya di sebuah rumah kontrakan di Griya Santa. Setelah itu, baru di tahun 2016 galeri musik itu pindah ke Gedung Kesenian Gajayana dan resmi disebut sebagai Museum Musik Indonesia.

Itulah sedikit ulasan mengenai Museum Musik Indonesia yang terletak di Malang. Apakah lo berencana untuk mampir ke tempat ini saat berkunjung ke Malang?

 

Sources: jawapos.com, kumparan.com, goodnewsfromindonesia.id