FUR Cover "Walking Back Home" Karya Vira Talisa - MLDSPOT
  • Music News
  • FUR Cover "Walking Back Home" Karya Vira Talisa

FUR Cover "Walking Back Home" Karya Vira Talisa

Thu, 24 October 2019
Solois Indonesia Vira Talisa tampil dengan karya musik bernuansa vintage.

Urbaners, hadir dengan gaya musik bernuansa vintage, Vira Talisa bisa dengan mudah mencuri perhatian penikmat musik di tanah air. Wanita berusia 26 tahun ini memulai debut karier bermusiknya melalui rekaman amatir di platform Soundcloud. Sejak saat itulah, namanya semakin sering diperbincangkan. Baru di tahun 2016 silam, Vira berhasil melahirkan mini album pertamanya bertajuk Self-Titled. Kerennya, lagu Walking Back Home di mini album tersebut bahkan sukses dicover oleh FUR, grup band indie rock asal Kanada.

 

Hadir dengan Sentuhan 60’s British

Kalau biasanya lo tahu musisi Indonesia mengcover lagu band luar negeri, kali ini justru berlaku sebaliknya. Musik karya musisi tanah air, Vira Talisa-lah yang justru dicover oleh FUR. Grup band asal Inggris tersebut diketahui perform membawakan lagu Walking Back Home secara live di panggung Close Encounter Club. Agak berbeda dari nuansa musik vintage ala Vira, FUR justru menghadirkan sentuhan 60’s British yang begitu kental secara akustik. Warna baru pada karya musik Vira Talisa ini pastinya bikin lo nyaman memutar penampilan musik tersebut berulang kali.

 

Terinspirasi dari Soundtrack Film Disney

suara merdu yang khas dari Vira Talisa siap membius pendengar setianya

Sebagai solois yang juga mahir menciptakan lagu, Vira Talisa mengakui kalau musik-musiknya sebagian besar terinspirasi dari soundtrack film-film Disney. Wanita lulusan pendidikan seni Universitas Rennes Prancis ini juga sering mendengarkan musik-musik retro, seperti The Beach Boys. Sementara lirik lagunya ditulis berdasarkan pengalaman pribadi seorang Vira Talisa. Nggak heran waktu lo mendengarkannya dengan seksama, lirik lagu-lagu di album Vira sangat bisa dijadikan refleksi diri.

 

Lahir dari Keluarga Musisi

Keterangan: Vira Talisa kerap tampil sebagai bintang tamu di sebuah acara musik.

Urbaners, bakat bermusik yang dimiliki oleh Vira Talisa ini ternyata menurun secara turun temurun dari keluarganya. Lo pasti bakal kaget kalau tahu ternyata Vira Talisa merupakan cucu keponakan dari musisi legendaris Titiek Puspa. Nggak heran kalau bakat bermusik yang dimiliki sudah melekat di dalam aliran darahnya.

 

Rilis Album Studio Berjudul Primavera

Sukses meraih popularitas lewat mini albumnya, pada 1 Maret 2019 kemarin Vira Talisa kembali merilis album studio pertamanya. Masih kental dengan nuansa vintage, album studio berjudul Primavera ini dirilis digital di sejumlah platform streaming musik. Di dalam album ini terdapat delapan lagu yang easy listening, seperti Primavera, Janji Wibawa, For the Time Being, Matahari, Through the Shades of Paradise, He's Got Me Singin Again, Bunga, dan Down in Vieux Cannes.

 

Jadi makin bangga ya Urbaners dengan musisi tanah air satu ini.

 

 

Source: detik.com

Kupas Tuntas Sejarah Gitar dan Perkembangnya

Tue, 13 April 2021
sejarah gitar

Buat lo penggemar musik akustik pasti udah akrab dengan alat musik yang satu ini, gitar. Gitar memang menyimpan ciri khasnya tersendiri ya, bro. Dengan rangkaian senar yang tepat, bisa menghasilkan irama harmonis dan bernada merdu. Para musisi juga mengakui kalo gitar adalah salah satu instrumen yang nggak bisa dihilangkan saat tengah bermain musik.

Alat musik petik ini memang banyak digemari karena gampang dimainkan, namun masih banyak yang belum tau asal usul gitar. Pasalnya, alat musik ini menyimpan sejarah berliku dan mengalami perubahan dari tiap zaman. Biar makin tau sejarah gitar dan perkembangannya, baca tuntas artikel ini ya, bro.

Sejarah Alat Musik Gitar

sejarah gitar

Credit image - unsplash

Sebenarnya asal usul alat musik petik ini masih menjadi bahan perdebatan bagi sejumlah pengamat musik. Banyak yang meyakini gitar berasal dari negara Spanyol pada abad ke-16 dari guitarra latina, alat musik abad pertengahan dengan desain berlekuk, serta dilengkapi empat senar berpasangan yang bisa menghasilkan bunyi berbeda-beda.

Pada masa itu, gitar hanya memiliki nada dasar, yaitu C – F – A – D’, penyeteman dari empat bagian tengah lute dan vihuela. Gitar abad ke-16 juga memiliki ukuran relatif lebih kecil, serta lubang suara yang belum melebar seperti gitar masa kini.

Selain itu, terdapat empat rangkaian senar yang membentang dari pegbox mirip biola ke jembatan tegangan yang direkatkan ke papan suara, atau belly penopang tarikan langsung dari senar. Di bagian perut gitar terdapat lubang suara melingkar, yang biasanya dihiasi dengan ukiran kayu mawar.

Proses Reinkarnasi yang Panjang

Seiring perkembangan zaman, gitar mengalami banyak perubahan pada instrumennya. Senar kelima ditambahkan sebelum tahun 1600, lalu pada akhir abad ke-18, berjumlah enam senar dengan sistem penyeteman yang masih sangat standar. Dari sinilah, lo bisa mengenal beberapa kunci nada seperti E – A – D – G – B – E’.

Sementara di abad ke-19, sekrup logam diganti dengan pasak penyetelan. Fret awal yang diikat diganti dengan fret gading atau logam bawaan pada abad ke-18. Fingerboard gitar juga dinaikkan sedikit di atas tingkat perut dan dibuat melebar hingga ke tepi lubang suara. Bagian tubuh gitar pun dibuat lebih luas dan lebih dangkal dengan papan suara yang sangat tipis, sehingga menghasilkan peningkatan sonoritas.

Secara internal, batang melintang yang memperkuat papan suara diganti dengan batang radial yang menyebar di bawah lubang suara. Pada bagian leher gitar yang sebelumnya dipasang pada balok kayu, dibentuk menjadi menyerupai penahan atau sepatu yang menonjol ke dalam tubuh, dan direkatkan ke belakang fungsinya untuk memberikan stabilitas terhadap tarikan senar.

Inovasi Besar pada Abad 19

sejarah gitar

Credit image - unsplash

Selama abad ke-17, keberadaan gitar semakin dikenal karena popularitas lute dan vihuela menurun. Pada saat itu juga ada beberapa gitaris virtuoso menjadi terkenal di Eropa, diantaranya; Gaspar Sanz (1674-an), Robert de Visée (1650–1725), Fernando Sor (1778–1839), dan Joseph Kaspar Mertz (1806–56).

Namun akhir abad ke-19 popularitas gitar justru menyusut, tapi untungnya ada perubahan besar melalui tangan Antonio Torres, ia berhasil membuat perkembangan gitar semakin pesat. Instrumen yang dihasilkan adalah gitar klasik, dirangkai dengan tiga gut dan tiga senar sutra yang dipintal logam.

Buat lo yang belum tau, sebagian inovasi gitar pada abad ke-19 merupakan hasil karya Torres, bro. Ia menggunakan bahan nylon atau plastik untuk menghasilkan suara lebih nyaring dan merdu. Jenis gitar yang dihasilkan yaitu gitar 12-senar atau double-course, jaranan Meksiko dan charango Amerika Selatan, keduanya gitar kecil dengan five-course. Seiring berkembangnya zaman, alat musik gitar juga semakin beragam, mulai dari ukulele, gitar akustik, gitar listrik, sampai bass. Perubahan besar dimulai dari sini, bro!

Perkembangan Gitar di Indonesia

Pasti lo juga penasaran bagaimana alat musik gitar masuk ke Indonesia kan, bro? Untuk pertama kalinya masyarakat Indonesia mengenal gitar dari orang-orang Portugis yang saat itu menjadi tawanan kolonial Belanda. Biar nggak bosan di dalam tahanan, mereka berbicara dengan musik dan alat musik yang digunakan adalah gitar.

Sejak saat itu, perkembangan gitar di Indonesia semakin popular dan mulai dimainkan bersama dengan kesenian tradisional lainnya, termasuk musik keroncong. Setelah kemerdekaan, muncul beberapa gitaris tanah air seperti Linda Sukamta dan Andre Irawan, mereka berhasil memenangkan The First South East Asian Guitar Festival pada tahun 1977 dan 1978.

Meski kolonialisme meninggalkan rasa sakit, tapi melahirkan sebuah karya seni. Well, sebelum menjadi alat musik popular dan berpengaruh di dunia musik, gitar harus melalui perjalanan yang cukup panjang dan rumit ya, bro. Nah, sekarang lo udah tau kan bagaimana asal usul sejarah gitar?

 

Featured image - unsplash