Metamorfosa Chet Faker Alias Nick Murphy - MLDSPOT
  • Music News
  • Metamorfosa Chet Faker Alias Nick Murphy

Metamorfosa Chet Faker Alias Nick Murphy

Fri, 14 September 2018
Metamorfosa Chet Faker Alias Nick Murphy

Kalau nggak terlalu familiar dengan nama Nick Murphy, lo mungkin mengenal musisi satu ini dengan nama Chet Faker. Yup, Urbaners, keduanya merupakan orang yang sama. Chet Faker memang merupakan nama panggung dari Nick Murphy. Namun, sejak 2016, ia memutuskan untuk kembali menggunakan nama aslinya. Seiring dengan metamorfosanya dari Chet Faker ke Nick Murphy, musisi asal Australia ini juga hadir dengan materi-materi baru!

 

Ubah image

Ubah image

Seperti yang sudah dibilang sebelumnya, Chet Faker adalah nama panggung dari Nicholas James Murphy. Musisi kelahiran 23 Juni 1988 ini sukses malang melintang sebagai penyanyi sekaligus penulis lagu. Namun, 13 September 2016 lalu pemilik album Thinking in Textures ini memutuskan untuk mengubah image-nya secara total. Musisi yang juga direkrut Downtown Records Amerika Serikat ini memilih untuk menggunakan nama aslinya, Nick Murphy.

 

Sempat ragu

Awalnya Murphy sempat ragu untuk melepas image Chet Faker, tapi dia berpikir lagi dan memutuskan untuk menggunakan nama pemberian orang tuanya itu. Menurut Murphy, ini adalah perbedaan kecil tapi awal dari terbukanya banyak pintu baru, sekaligus meruntuhkan semua dinding yang tidak dia sadari.

Peraih 100 juta viewers YouTube untuk official video musiknya yang berjudul Gold ini menyadari bahwa perubahan image memerlukan waktu dan proses yang tidak singkat. Lagi pula, ternyata dirinya lebih senang disapa menggunakan nama Nick daripada Chet.

 

Awal proyek bermusik

Awal proyek bermusik

Nick menyebut jika keinginan mengganti image Chet Faker sebenarnya sudah lama dia pikirkan dengan matang. Setelah hampir setengah dekade, baginya Chet Faker hanya merupakan awal dari proyek bermusik yang dimulainya.

Album debutnya Built on Glass yang dirilis tahun 2014 memang membuatnya menjadi salah satu musisi paling menarik dan inovatif di dunia musik di seluruh dunia. Tapi menurutnya Nick Murphy is more than Chet Faker!

 

Rilis materi baru

Dengan memproduksi musik di bawah nama aslinya, pilihan ini menandai sebuah evolusi dalam karier bermusik Nick Murphy. Lo bisa mendengar sendiri perbedaannya melalui single berjudul Fear Less dengan ketukan down tempo dan timbrenya yang khas. Lo juga wajib mendengarkan lagu lain berjudul Medication yang mengundulkan unsur gospel-powered vocals, chunky synths, dan melodi vokal yang halus.

Melepas image Chet Faker yang melambungkan namanya dan mengganti dengan Nick Murphy tentu menimbulkan berbagai pertanyaan. Namun, baginya metamorfosis ini bukan mengubah spektrumnya dalam bermusik, tapi justru memperluas spektrumnya.

 

 

 

Source : https://www.nme.com/, https://www.pedestrian.tv/, https://noisey.vice.c…

Perjalanan Joey Alexander dari Grammy sampai Sekarang

Sat, 27 February 2021
Joey Alexander

Di tahun 2016 & 2017 lalu, Indonesia sempat digemparkan dengan nama Joey Alexander – well, siapa yang nggak kenal dengan pianist muda yang berhasil masuk nominasi Grammy Awards di usianya yang masih sangat belia saat itu?

Dua tahun berturut-turut berhasil masuk nominasi Grammy Awards di umur 13 tahun, Joey Alexander berhasil membawa bangga nama Indonesia ke kancah internasional dengan single debutnya yaitu My Favorite Thing.

Setelah 5 tahun berlalu, gimana kabar Joex Alexander sekarang ya, bro? beranjak menjadi seorang remaja, pastinya udah banyak banget perkembangannya. Denger-denger, Joey juga udah ngerilis 5 album loh!

Di artikel ini, MLDSPOT bakalan mengulik gimana kabar Joey Alexander setelah 5 tahun berlalu dari Grammy Awards dan gimana kesehariannya sekarang. Langung aja selengkapnya simak di bawah ini ya!

Grammy Awards: Bukti Pribadi Joey Rendah Hati

Joey Alexander

Credit image – Liputan6

Di 2016 hingga 2017 lalu, keberhasilan namanya dalam menjadi nominasi di Grammy Awards emang menjadi titik balik dari karir seorang Joey Alexander. Gimana nggak – di usia yang belum genap 13 tahun saat itu, Joey berhasil menjadi musisi termuda yang masuk ke dalam nominasi kategori Jazz dan meraih nominasi dua sekaligus – pertama dari Indonesia!

Joey sendiri mengaku, momen masuk sebagai nominasi dengan pencapaiannya ini – ia nggak berharap banyak untuk menang. Ketika dinominasikan untuk pertama kali, pastinya Joey kaget dan nggak nyangka sama sekali. Tapi ketika pada hari pengumuman dan ternyata nggak menang – Joey nggak berkecil hati, karena baginya inilah hal yang harus dikembangkan olehnya untuk menciptakan karya yang lebih baik lagi.

Dengan keberhasilannya ini, Joey mengatakan bahwa keberhasilannya dalam meraih Grammy Awards ini bukanlah hal yang mudah. Namun ia bersyukur memiliki lingkungan yang supportif – baik menang atau kalah, itu semua hanya menjadi bagian dalam hidupnya untuk menjadi lebih baik dan berkembang.

Musik Jazz bagi Joey Alexander

Awal mula perjalanan musik Joey dimulai dari kecintaan ayahnya dalam bermusik – meskipun nggak secara profesional. Namun sejak bersama ayahnya, kecintaan Joey akan musik pun menjadi tumbuh. Menurut Joey, ketika ia memainkan musik ia merasakan sesuatu yang menyenangkan dalam dirinya tumbuh.

Memulai perjalanan bermusiknya di Bali, Joey mengaku nggak nyangka kalau hidupnya akan menjadi berada dalam lingkup musik – apalagi di genre Jazz. Musik Jazz sendiri bagi Joey punya kekuatan sendiri yang nggak dimiliki oleh genre musik lainnya.

Bagi Joey, musik Jazz seakan punya bahasa tersendiri dalam musik yang bisa menyampaikan pesan serta menyatukan orang yang berbeda dari seluruh dunia – Jazz udah whole different level deh buat Joey!

Dari Bali hingga New York

Joey Alexander

Credit image – Spotify

Seperti yang diketahui, Joey melebarkan sayapnya lebih besar di negeri paman sam – tepatnya New York, dibandingkan di tanah kelahirannya sendiri. Meskipun begitu, Joey tetap Bali spesial tersendiri di dalam hatinya.

Bali dan New York sama-sama membawa inspirasi bagi Joey dalam bermusik, namun kedua tempat ini memiliki sisi yang berbeda dalam diri Joey dalam menciptakan musik. Hal ini dibuktikan dengan 5 album yang telah dirilis oleh Joey.

4 album dengan berbahasa Inggris dan 1 album dengan bahasa Indonesia ini sebenarnya tidak memiliki makna yang spesifik. Karena pada dasarnya dalam menamakan album Joey berdasarkan komposisi asli dari album Live-nya.

Album terakhir Joey – Warna, dibuat untuk menceritakan kepribadian, suara, dan gaya seorang pemusik yang bermain dengannya. Di album terbarunya ini Joey juga mencoba gaya musik dan komposisi yang berbeda. Seakan ingin memberikan warna baru, di album ini Joey mencoba menghadirkan nuansa ‘lokal’ dalam albumnya.

Karier bermusik Joey emang udah nggak perlu diragukan lagi. Bukan cuma Grammy Awards aja, bahkan Joey juga pernah menjadi TED Speaker dalam acara TedX Talk, bro!

Di usia muda dan pencapaian yang dimilikinya ini jadi kisah inspiratif banget buat dikulik ya. Dari Joey kita juga belajar – nggak perlu berpikir panjang untuk mencoba hal baru, yang penting – mulai aja dulu!

 

Feature image - NPR